
Tok ... Tok ...
Aubriella terbangun dari tidurnya, dengan langkah gontai dia berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Nona, kita sudah sudah mendarat," ujar Lucas.
Dia melihat wajah lelah Henrietta dengan mata sembab dan wajah pucatnya.
"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Lucas dengan wajah khawatir.
"Aku tidak apa-apa paman," jawan Henrietta dengan lemas.
Henrietta berjalan gontai keluar dari kamar, hingga membuatnya hampir limbung jika saja Lucas tidak memegang tangannya.
"Sepertinya anda sedang tidak baik nona, saya akan memanggil dokter," ujar Lucas.
"Tidak perlu paman, aku tidak apa-apa ... sungguh," ucap Henrietta.
Henrietta berjalan sambil berpegangan pada kursi pesawat yang ada di sampingnya.
Tapi, karna sudah tidak kuat lagi menahan tubuhnya yang lemas dan perutnya yang sakit akhirnya Henrietta jatuh pingsan dengan Lucas yang masih memegang tangannya.
Lucas segera menangkap tubuh Henrietta agar tidak mengenai lantai pesawat.
"SIAPKAN MOBIL SEGERA ..." teriak Lucas dengan panik.
Orang-orang berpakaian hitam yang berdiri di dekat pintu keluar pesawat pun bergegas mematuhi perintah dari Lucas.
Lucas mendudukan Henrietta di kursi dan seorang dokter yang sengaja di siapkan datang menghampiri mereka.
Dokter tersebut mulai memeriksa kondisi Henrietta.
"Sebaiknya kita membawa nona Rietta kerumah sakit," ujar dokter tersebut.
Lalu seorang pria berbadan tegap dengan jas hitam menghampiri Lucas.
"Semuanya sudah siap tuan," ujar pria tersebut pada Lucas.
"Hubungi tuan besar, dan beritahu beliau kalau kita membawa nona Rietta kerumah sakit," ucap Lucas.
"Baik tuan," jawab pria tersebut dengan tegas.
Lucas mulai menggendong Henrietta dan keluar dari dalam pesawat bersama dokter yang mengikuti mereka dari belakang.
Lucas menaruh Henrietta di kursi penumpang dengan sang dokter yang menemaninya, sementara dirinya duduk di samping sopir yang akan mengantar mereka.
Di belakang dan di depan Lucas juga ada dua mobil yang mengawal mereka.
Mobil melaju dengan cepat meninggalkan area bandara.
Tidak sampai 15 menit mobil yang membawa mereka sampai di salah satu rumah sakit besar, tiga orang perawat dan satu dokter sudah siap siaga di depan lobby setelah mendapat kabar dari dokter yang menemani Henrietta.
Lucas kembali menggendong Henrietta dan menaruhnya di brankar yang sudah di siapkan oleh perawat.
__ADS_1
Mereka mulai membawa brankar Henrietta kedalam ruang IGD diikuti oleh dokter yang bersama Henrietta.
Sementara Lucas menunggu di luar ruangan sambil menunggu seseorang.
Berselang sepuluh menit Henrietta masuk, muncul-lah dua orang pria dan satu wanita datang menghampiri Lucas.
"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah di usianya yang sudah senja.
Lucas sedikit membungkukkan sedikit badannya saat melihat siapa yang baru saja bertanya padanya.
"Dokter masih memeriksanya di dalam tuan," jawan Lucas.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya seorang pria lagi yang seumuran dengan Lucas.
"Saya tidak tahu, karna sejak nona naik pesawat dia langsung tertidur di kamar, dan saat bangun wajahnya sudah pucat," jelas Lucas tanpa ada keraguan sedikit pun.
Dokter yang tadi bersama Henrietta akhirnya keluar dari ruang IGD, saat melihat siapa yang ada di depannya, dia juga membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Bagaimana dengan keadaan cucuku?" tanya pria paruh baya itu.
"Nona Rietta baik-baik saja, dia hanya mengalami kekurangan nutrisi dan mengalami dehidrasi, mungkin sejak naik pesawat beliau belum memakan apapun," jelas dokter tersebut.
"Lalu bagaimana dengan kandungannya?"
"Kandungannya baik-baik saja, kami sudah menyuntikan nutrisi dan juga akan menginfus-nya sebagai ganti cairan yang hilang ... Jika memungkinkan dan nona sudah merasa lebih baik besok juga boleh di bawa pulang," ujar dokter tersebut.
"Apa kami bisa menemuinya?" tanya seorang wanita yang ada disana.
"Bisa ... Tapi, setelah kami memindahkan pasien," jawab dokter tersebut.
Setelah Henrietta di pindahkan kedalam kamar inapnya, tiga orang tersebut pun sama sekali tidak beranjak sedikit pun dari posisinya.
Hingga satu jam berlalu dan Henrietta mulai membuka matanya.
Henrietta mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar bercat putih, hingga kini pandangannya terfokus pada tiga orang yang sedang menatap dirinya.
"Grandpa!" ucap Henrietta dengan lirih.
Pria yang di panggil kakek itu pun semakin mendekatkan dirinya pada ranjang Henrietta.
"Apa ada yang sakit?" tanya sang kakek dan hanya di balas dengan gelengan kepala pelan.
"Stev! panggil perawat kemari untuk membawa makanan," titah pria paruh baya tersebut.
"Baik ayah," ucap pria bernama Stev itu dengan patuh.
"Rietta!" panggil wanita yang sejak tadi berada di sana.
"Aunty," ujar Henrietta merentangkan tangannya seolah-olah ingin di peluk.
Wanita itu menghampiri Henrietta dan duduk di sisi ranjang pasien milik Henrietta, seketika saja Henrietta langsung memeluk wanita yang sudah tidak muda lagi itu.
"Aku merindukan aunty," isak Henrietta.
__ADS_1
"Aunty juga merindukanmu sayang," ucap wanita itu sambil mengelus rambut milik Henrietta.
Stev masuk kedalam kamar inap Henrietta bersama seorang perawat yang membawakan makanan.
Dia dapat melihat Henrietta yang sedang memeluk istrinya.
"Ekhmm ..." dehem Stev mengganggu dua orang tersebut.
Henrietta melepaskan pelukan mereka dan beralih pada asal suara.
Dia tersenyum senang saat melihat siapa yang baru saja datang.
"Uncle," ujar Henrietta.
Stev langsung menghampiri Henrietta dan memeluknya.
"Uncle sangat merindukanmu," ucap Stev.
"Aku juga," balas Henrietta.
"Padahal Grandpa yang lebih dulu bicara denganmu, tapi kau tidak memeluk grandpa," ujar sang kakek yang memperlihatkan wajah cemburunya.
Henrietta terkekeh kecil, kini wajahnya sudah tidak sepucat saat pertama kali di bawa kerumah sakit.
Henrietta melepaskan pelukan pamannya dan merentangkan tangannya agar kakeknya dapat memeluknya.
"Aku sangat merindukan grandpa," ujar Henrietta setelah mereka saling berpelukan.
"Grandpa juga merindukanmu ..." ujarnya.
"Dasar anak nakal, sudah lama tidak pulang ... sekarang pulang malah sakit, kau membuat semua isi mansion cemas," ucap sang kakek dengan wajah khawatirnya.
"Maafkan aku grandpa," lirih Henrietta.
"Jangan ulangi lagi," ujar sang kakek dan di angguki oleh Henrietta di dalam pelukan kakeknya.
"Ini, makanlah dulu ... Biar aunty yang suapi," ujarnya dengan suara lembut sambil mengusap lengan Henrietta.
Henrietta mengurai pelukannya dengan sang kakek, dan melihat kearah sang bibi.
Henrietta mulai menerima suapan demi suapan dari sang bibi dengan lahap.
Sedangkan dua pria yang berbeda usia itu hanya bisa melihat melihat Henrietta yang sedang makan.
"Kenapa kau tidak makan? Kau hampir membuat kami jantungan karna mendengar-mu pingsan," omel sang bibi.
"Aku hanya tidak ingin makan saja," balas Henrietta..
"Kau harus makan, sekarang yang memerlukan nutrisi bukan hanya kau saja, tapi kandungan-mu juga," ujar sang bibi.
Seketika Henrietta menyentuh perutnya dan mengusapnya, matanya mulai berkaca-kaca saat dia menyentuh perutnya.
"Maafkan mommy sayang ... Mommy melupakanmu," lirih Henrietta.
__ADS_1
"Sekarang habiskan ini setelah itu minum obatmu, kau boleh pulang besok jika sudah membaik," tutur sang bibi dengan suara lembut dan tenangnya.
Henrietta mengangguk dan memakan habis makanannya, karna dia memang sedang lapar.