
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore dan Henrietta baru kembali dari rumah Lucy.
Henrietta sudah menceritakan semuanya pada Lucy dan Matthew, kekasih Lucy. Mereka berdua kompak menceramahi Henrietta bahkan Lucy tak habis pikir dengan isi kepala sahabatnya itu.
Henrietta masuk kedalam mansion besar milik Henry, dia mengedarkan pandangan-nya ke penjuru rumah itu, tapi tak melihat satu orang pun yang berlalu lalang di dalam sana.
Henrietta berjalan kearah taman samping yang terdapat kolam berenang dan lapangan basket.
Disana dia melihat Della dan beberapa pelayan, juga tukang kebun yang membersihkan area kolam berenang.
Di tepian kolam berenang memang terdapat beberapa pohon yang tak terlalu besar dan menyejukkan tapi daun-daunnya sering berjatuhan apalagi jika musim gugur.
Setelah itu Henrietta masuk lagi kedalam dan melihat bibi Ely. "Bibi, apakah Henry belum pulang?" tanya Henrietta.
"Belum nyonya," jawab bibi Ely.
Bibi Ely melihat kearah rambut Henrietta yang berbeda. "Nyonya anda memotong rambut anda?"
Henrietta hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Dia membuka pintu kamarnya dan masuk kedalam, setelah itu dia berjalan kearah kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat. Sambil menunggu air bathtub penuh Henrietta berjalan kearah pintu balok kamarnya dan membukanya dengan kedua tangan.
Henrietta berdiri disisi balkon dan melihat kearah bawah, daru sana dia bisa melihat gerbang utama yang cukup jauh dan juga area kolam berenang.
Dia melihat mobil Henry memasuki halaman utama mansion dan menghentikan mobilnya disana, Henry keluar dari dalam mobil dan mendongakkan kepalanya.
Sekilas pandangan Henrietta bertemu dengan mata tajam milik Henry.
Henrietta memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya lagi dan membuka semua pakaiannya.
Dia berjalan kearah kamar mandi dan mulai berendam disana, Henrietta juga menambahkan wangi vanilla disana.
"Tuan anda sudah kembali? Tadi ada telpon dari nyonya besar, katanya beliau akan mampir kemari sebelum kembali ke Kanada," tungkas bibi Ely.
"Bibi sudah memberitahu Rietta?" tanya Henry.
"Belum, nyonya langsung masuk ke kamar setelah kembali," jawab bibi Ely.
"Dia keluar hari ini?" tanya-nya lagi.
"Iya tuan,"
Henry menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan langsung berjalan kearah kamarnya.
Henry melewati pintu kamar Henrietta dan berhenti sejenak lalu menatap pintu itu.
Dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dan menutup pintunya. Henry masuk kedalam kamar mandi dan membuka semua pakaiannya dan menaruhnya di tempat pakaian kotor.
Sementara itu Henrietta baru menyelesaikan mandinya setelah lebih dari lima belas menit berada du dalam kamar mandi.
__ADS_1
Henrietta turun ke lantai bawah dan melihat semua orang sedang sibuk.
"Ada apa Della, kenapa semuanya terlihat sangat sibuk?" tanya Henrietta pada Della.
"Nyonya dan tuan besar akan kemari, nyonya," jawab Della.
Henrietta pikir jika mertuanya itu akan langsung kembali dan tak akan mampir dulu kemari.
Henrietta berjalan kearah dapur, dia akan membantu bibi Ely membuat makanan untuk makan malam.
Bibi Ely sempat menolaknya, tapi Henrietta bersikeras untuk membantu dan membuat beberapa makanan.
Waktu sudah menunjukan pukul enam sore, sudah satu jam lebih Henrietta berada di dapur untuk membantu bibi Ely dan pelayan lain.
"Sudah selesai," tungkas Henrietta meregangkan otot tangannya.
"Bibi aku akan ke kamarku dulu," ujar Henrietta.
"Iya nyonya," balas bibi Ely.
Henrietta kembali masuk ke dalam kamarnya, dia ingin mengganti pakaian terlebih dahulu sebelum orang tua Henry datang.
Henrietta memutuskan untuk mandi lagi, karna tadi dia terlalu lama di dapur.
15 menit kemudian Henrietta baru menyelesaikan sesi mandinya, dia berjalan ke arah lemari besar miliknya dan memakai pakaian dalamnya.
Henrietta memutuskan akan memakai dress berwarna navy berbahan satin dengan panjang selutut, berlengan pendek dan menutupi dadanya, sangat terlihat anggun.
Karna sudah selesai Henrietta memutuskan untuk keluar dari kamar, saat akan menutup pintu Henry juga terlihat baru keluar dari kamarnya.
Henry melihat kearah Henrietta. "Kau memotong rambutmu?" tanya Henry datar.
"Iya," jawab Henrietta.
"Tuan, nyonya dan tuan besar sudah datang," kata seorang pelayan yang datang menghampiri mereka.
Tanpa mengatakan apapun Henry berjalan dan melewati Henrietta, sedangkan Henrietta mengikuti Henry dari belakang.
"Kupikir daddy dan mommy akan langsung kembali dan tidak mampir kemari," ucap Henry menyambut kedatangan orang tuanya.
"Kami hanya ingin melihat menantu kami sebelum kembali," ucap Emma, ibu Henry.
Emma melihat kearah Henrietta dan berjalan menghampirinya.
"Kau betah tinggal disini?" tanya Emma yang memeluk Henrietta.
"Iya, pelayan disini sangat baik," jawab Henrietta menampilkan senyum cantiknya.
"Kau sangat cantik, kenapa Marco bisa menyembunyikan keponakan secantik ini," ucap Emma.
__ADS_1
Henrietta tak menjawab apapun dia hanya tersenyum saja.
Elijah, ayah Henry juga menghampiri Henrietta dan menyentuh pipinya. "Kau sangat mirip dengan seseorang,"
Elijah melihat kearah istri tercintanya dan di balas dengan senyuman hangat sang istri.
"Kalian memiliki senyum dan wajah lembut yang hampir sama," sambungnya.
Sedangkan Henry hanya melihat kelakuan kedua orang tuanya.
Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan mengangguk kedua orang tua itu yang sedang melihat wajah Henrietta.
"Tuan, nyonya, makan malamnya sudah siap," kata pelayan tersebut dengan sopan.
Henrietta bernapas lega saat pelayan itu datang, dia hampir menahan napas karna kedua mertuanya sangat fokus memperhatikan wajahnya.
"Sebaiknya kita malam dulu," Henrietta mengeluarkan suaranya agar mereka cepat-cepat pergi makan.
"Kau benar, setelah makan kita bisa mengobrol lagi," ujar Emma dan membawa Henrietta keruang makan.
Mereka berempat sudah duduk di kursi masing-masing, bibi Ely sedang menuangkan minuman untuk keempat orang tersebut.
"Rasa makanan-mu sedikit berbeda Ely, ini seperti masakan seseorang yang aku kenal," ucap Emma setelah memasukan sesendok makanan kedalam mulutnya.
"Makanan itu bukan saya yang membuatnya nyonya," balas bibi Ely.
"Lalu?" timpal Elijah.
"Nyonya Henrietta yang membuatnya," jawan bibi Ely.
Seketika Elijah dan Emma langsung menatap kearah Henrietta dan begitupun dengan Henry yang merasa aneh dengan orang tuanya.
"Sungguh?" tanya Emma dan di balas dengan anggukan oleh Henrietta.
"Apakah tidak enak mom?" bukan Henrietta yang menjawab melainkan Henry.
"Tidak ... Tidak, ini sangat enak, aku hanya merasa mengingat seseorang saat memakan ini, rasanya persis sama," ujar Emma.
"Kau pandai memasak," sambungnya menatap kearah Henrietta.
"Terima kasih aunty," ujar Henrietta.
"Panggil aku mommy, sama seperti Henry memanggilku, kau anakku sekarang," tungkas Emma.
"Kau suka memasak?" tanya Emma.
"Iya," jawab Henrietta.
"Sayang, lebih bai kita makan dulu, setelah itu kau bisa melanjutkan lagi obrolanmu," ujar Elijah pada istrinya.
__ADS_1
"Makanlah yang banyak sayang," ucap Emma pada Henrietta sambil menaruh beberapa sendok makanan ke piring Henrietta.
"Terima kasih mom," balas Henrietta menampilkan senyum menawannya.