PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #39


__ADS_3

Henry baru kembali dari rumah sakit pukul sepuluh pagi, saat Henry akan pulang Julia selalu menahannya agar terus menemaninya, dia baru bisa pulang setelah Julia tertidur.


Henry berjalan masuk kedalam mansion dengan wajah mengantuk dan lelah.


Dia masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya, hingga lama-kelamaan dia pun tertidur.


Sementara itu di ruang tamu beberapa pelayan terlihat sedang bersih-bersih.


"Kau tidak pergi ke kampus Della?" tanya salah satu pelayan yang lebih tua dari Della.


"Tidak bibi, hari ini aku libur," jawab Della.


"Apa kalian ada yang melihat nyonya?" tanya bibi Ely yang tiba-tiba datang.


"Tidak bibi, dari pagi kami belum melihat nyonya keluar dari kamarnya," jawab Della di angguki oleh pelayan yang lain.


"Memangnya ada apa bi?" tanya pelayan lain.


"Nyonya belum makan malam sejak semalam, aku takut nyonya akan sakit," ujar bibi Ely.


"Lalu, apa tuan muda sudah pulang," tanya-nya lagi.


"Sudah, tuan baru saja masuk ke kamarnya," jawab Della.


"Apa aku perlu memanggil nyonya?" tanya Della.


"Tidak perlu, ada tuan muda di dalam ... Mungkin nanti nyonya akan keluar," putus bibi Ely dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Bukankah sebentar lagi natal? Nyonya juga akan berulang tahun, apa kau akan memberinya hadiah?" tanya Sarah pada Della.


"Tentu saja, nyonya sudah terlalu baik padaku, jadi aku akan memberikannya hadiah natal sekaligus kado ulang tahun," jawab Della.


"Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli hadiah untuk nyonya," usul pelayan lainnya.


"Ide bagus," jawab ketiga pelayan lain dengan serempak.


Mereka pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka dengan sesekali di selingi dengan obrolan-obrolan ringan.


***


Pukul tiga sore Henry baru saja terbangun dari tidurnya, dia berjalan kearah kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan air hangat


Sementara itu di dapur beberapa pelayan sedang panik karna Henrietta belum juga keluar dari kamarnya.


"Bibi, apa bibi yakin nyonya ada di dalam kamar?" tanya Della.


"Aku yakin Della, karna sejak nyonya pulang kemarin siang dia belum keluar dari kamarnya," Jelas bibi Ely dengan wajah cemasnya.


"Kalaupun nyonya ada di dalam kamar pasti dia akan keluar karna lapar," pungkas Della.


Henry keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga, dia berjalan kearah ruang makan karna merasa lapar, dia sama sekali belum makan sejak kemarin siang.


Henry melihat beberapa pelayan sedang berkumpul di dapur.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kalian berkumpul disini?" tegur Henry.


Bibi Ely dengan berani menghampiri tuan mudanya.


"Tuan muda, nyonya belum keluar dari kamarnya sejak kemarin siang," tutur bibi Ely.


Henry menatap bingung pada bibi Ely.


"Rietta belum keluar dari kamar?" ulang Henry dan mendapat anggukan dari bibi Ely.


"Tapi, di kamar tidak ada Rietta," ujarnya.


Seketika Henry mulai tersadar dengan perkataanya, dia berlari menaiki tangga dan menuju ke kamar yang dulu di tempati oleh Rietta, tetapi Rietta tidak ada di sana.


Henry kembali menuju kamarnya dan tetap tidak menemukan istrinya.


Tidak mungkin Rietta ada di kamar mandi, karna dirinya baru saja dari sana.


Henry berjalan kearah ranjang untuk mengambil ponselnya, seketika pandangannya tertuju pada cincin pernikahan yang sering di pakai oleh istrinya.


"No ..." gumam Henry.


Lantas dia berjalan kearah walk in closet dan membuka lemari pakaian Henrietta, tapi semua pakaian istrinya masih utuh dan masih berada di tempatnya.


Henry kembali berjalan keluar dari kamar sambil menghubungi nomer telepon Henrietta, tetapi nomernya selalu tidak aktif.


Henry memanggil kepala keamanan di mansionnya dan menyuruhnya untuk memeriksa cctv.


Henry dapat melihat Henrietta yang keluar dari dalam kamar sambil membawa koper miliknya saat pertama kali datang ke mansionnya, dan pergerakan Henrietta berakhir di gerbang utama mansion miliknya.


"SIAL ..." teriak Henry sambil memukul meja yang ada di depannya.


Dengan amarah yang memuncak Henry keluar dari ruangan itu sambil menghubungi sahabatnya, Sam.


"Halo--"


Belum sempat Sam menyapa Henry sudah lebih dulu memotong perkataannya.


"Temukan istriku sekarang juga, cari tahu kemana dia pergi, aku mau secepatnya," ujar Henry.


"Istrimu pergi?" tanya Sam.


"Lakukan saja tugasmu dan jangan banyak bicara," maki Henry.


Dari sebrang telpon Sam menghembuskan napasnya dengan berat.


"Baiklah, kirimkan seluruh rekaman cctv rumahmu," ujar Sam.


***


Seminggu telah berlalu sejak perginya Henrietta, Henry selalu menghubungi Sam dan jawabannya selalu sama, bahwa dia belum bisa menemukan keberadaan Henrietta.


Pagi ini Henry terlihat sedang duduk di meja makan sambil menunggu sarapannya.

__ADS_1


"Tuan ini sarapan anda," ujar seorang pelayan dan menaruh piring berisikan makanan Henry.


Tanpa banyak kata Henry langsung memakan makanan itu.


"Kenapa rasanya berbeda? Ini bukan buatan istriku, aku mau makanan yang sama persisi sepertu buatan Rietta," ucap Henry menatap tajam pelayan tersebut.


Henry langsung pergi dari ruang makan dan berjalan kearah ruang kerjanya.


Sudah seminggu ini Henry habiskan hanya dengan bekerja dan bekerja, dia juga lebih sering makan di luar, karna kalau Henry makan di rumah dia selalu menginginkan makanan yang sama persis dengan buatan istrinya.


"Apa tuan tidak mau memakannya lagi?" tanya bibi Ely dan mendapat anggukan dari pelayan tersebut.


"Bagaimana ini? Tuan selalu menginginkan masakan yang sama persis dengan nyonya," ucap pelayan tersebut.


Lantas bibi Ely mengalihkan pandangannya pada Della, selama seminggu ini Della cuti dari pekerjaannya dan fokus dengan kuliahnya, dia baru bisa masuk kerja hari ini.


"Della!" panggil bibi Ely.


"Iya bibi?" jawab Della.


"Bukankah kau memiliki resep masakan milik nyonya?" ujar bibi Ely.


"Iya ... Nyonya sendiri yang memberikannya," ujar Della.


"Baguslah, kalau begitu bawa buku resepnya kemari," titah bibi Ely.


Della pun akhirnya mengambil buku resep itu di kamarnya yang ada di paviliun belakang mansion.


Setelah mendapatkannya dia kembali lagi ke mansion utama dan memberikan buku resep itu pada bibi Ely.


Mereka yang berada di dapur pun mulai membuat masakan sesuai resep milik Henrietta.


"Semoga ini berhasil dan tuan berhenti marah-marah," gumam seorang pelayan.


***


Sementara itu di negara yang berbeda, Henrietta baru saja di perbolehkan pulang oleh dokter.


"Aku bisa sendiri, tidak perlu memakai kursi roda," ujar Henrietta.


"Tidak, tidak ... Kau harus memakai kursi roda karna kata dokter kau masih lemah," jawab seorang pria yang membantu Henrietta duduk di kursi roda.


"Kak Aiden ..." rengek Henrietta.


"Berhentilah merengek seperti anak kecil, kau tidak malu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu," sungut pria yang bernama Aiden.


"Kau menyebalkan," cibir Henrietta.


"I know ... semua orang selalu mengatakan seperti itu," balas Aiden santai.


"Pantas kau tidak laku-laku," ejek Henrietta.


Aiden mengacak-acak rambut Henrietta dan mendorong kursi rodanya keluar dari kamar inap Henrietta.

__ADS_1


__ADS_2