
Pagi menjelang dan Henrietta masih betah dengan tidurnya, dan begitu pun dengan Henry.
Hingga pukul sembilan pagi Henrietta baru membuka matanya, wanita itu memalingkan wajahnya dan melihat Henry masih tertidur sambil memeluk tubuh polosnya.
Henrietta menyingkirkan tangan Henry dengan pelan dari atas perutnya, agar tidak membangunkan tidur nyenyak pria itu.
Henrietta menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh polosnya dan beranjak dari ranjang, wanita itu berjalan kearah kamar dengan tubuh telanjangnya.
Saat akan membuka gagang pintu kamar mandi, Henrietta mendengar suara siulan dari arah belakangnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Henrietta yang mendapati Henry sedang melihatnya.
"Hmm ..." sahut Henry.
"Kau sangat seksi, honey," kata Henry.
"Aku tahu," sahut Henrietta dengan percaya dirinya.
"Apa kau sedang menggodaku?" ujar Henry yang melihat tubuh sang istri dari atas sampai bawah tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
"Tidak!" jawab Henrietta.
Henrietta segera masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam, sebelum Henry menyusulnya dan membuatnya semakin lama berada di kamar mandi.
Henry tersenyum dan memungut celana pendeknya dan memakainya.
Pria itu membuka gorden dan juga jendela yang ada di dalam kamarnya.
Henry berdiri di depan jendela sembari menunggu Henrietta selesai dengan mandinya.
Henry berjalan kembali ke arah ranjang dan mengambil ponselnya yang berbunyi di atas meja nakas.
"Halo mom?" ujar Henry setelah mengangkat panggilan dari sang ibu.
"Daddy dan mommy membawa anak-anak pergi, kalian terlalu lama berada di kamar dan Maisie terus saja merengek ingin pergi," kata Emma.
"Kemana kalian pergi?" tanya Henry.
"Ketaman bermain dan setelah itu menemani ayahmu memancing, Asher bilang dia ingin ikut memancing," sahut Emma.
"Jadi, terserah kalian mau melakukan apapun ... Ahh iya, tolong bilang pada Rietta untuk mengecek kesiapan pestanya," kata Emma.
"Oke mom," sahut Henry.
__ADS_1
Setelah berbicara dengan sang ibu, Henry mengakhiri panggilannya dan membuka email yang semalam di kirim oleh asistennya.
Lima belas menit kemudian Henrietta keluar dari kamar mandi dengan bathrobe dan juga handuk yang menutupi rambutnya.
"Mandilah, bukankah kau harus menemani anak-anak," kata Henrietta.
"Mommy dan daddy sudah membawa mereka pergi jalan-jalan, katanya Asher ingin ikut daddy memancing," sahut Henry.
"Benarkah?" tanya Henrietta dan mendapat anggukkan dari Henry.
"Aku akan menemani-mu untuk melihat persiapan pesta pernikahan kita," ujar Henry.
"Kalau begitu cepatlah mandi," kata Henrietta.
"Baiklah, tunggu aku di ruang makan," ucap Henry.
Sebelum masuk kedalam kamar mandi, Henry menyempatkan dirinya untuk mengecup bibir sang istri.
Henrietta hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suami dinginnya itu.
Setelah Henry masuk kedalam kamar mandi, Henrietta berjalan masuk ke dalam walk in closet besar miliknya dan Henry.
Henrietta memilih untuk memakai celana jeans dan juga kemeja berbahan satin dengan warna biru muda.
Rambut panjangnya dia ikat ekor kuda dengan make-up tipis yang menyempurnakan penampilannya.
Wanita dua anak itu melihat-lihat suasana mansion yang terbilang cukup sepi, karna beberapa pelayan sedang mengerjakan pekerjaan mereka di bagian mansion yang lain.
"Selamat pagi, bibi Elly," sapa Henrietta dengan ramah.
"Selamat pagi juga, nyonya," jawab bibi Elly tak kalah ramahnya dengan senyuman yang menghiasi wajah keriputnya.
"Anda ingin sarapan sekarang?" tanya bibi Elly.
"Tidak, aku akan menunggu Henry dulu," sahut Henrietta.
"Kalau begitu saya akan membuatkan teh kesukaan anda dulu," kata bibi Elly.
"Terima kasih, bibi," sahut Henrietta tersenyum.
Herietta mendudukan dirinya di kursi meja makan dan melihat-ponselnya sembari menunggu teh dan juga Henry.
Tak lama kemudian teh yang di tunggu Henrietta pun datang.
__ADS_1
"Terima kasih, bib," ucap Henrietta.
Henrietta meniup teh yang asapnya masih mengepul itu dan menyeruputnya dengan pelan.
"Nyonya," ucap bibi Elly.
"Iya bibi?" sahut Henrietta.
"Saya ingin bertanya sesuatu apakah boleh?" tanya bibi Elly.
"Tentu saja boleh," kata Henrietta.
"Apakah anda tahu kabar Della? Karna semenjak lulus kuliah dua tahun yang lalu dia menghilang tanpa kabar, dan tak ada yang tahu kemana dia pergi," ujar bibi Elly.
Henrietta menyunggingkan senyumnya dan terlihat sangat tenang.
"Aku tahu dia dimana, dia baik-baik saja dengan adik tirinya dan hidup dengan jauh lebih baik," jawab Henrietta.
"Jadi kau tahu dimana Della, honey?" tanay sebuah suara dari belakang Henrietta.
Henry berjalan mendekat dan duduk di samping sang istri, dia membalikkan kursi yang di duduki Henrietta agar melihat ke arahnya.
"Ya, aku tahu di mana Della. Karna aku yang membawanya," jawab Henrietta.
"Dimana?" tanya Henry penasaran.
Henrietta memicingkan matanya dan menatap suaminya.
"Kenapa kau sangat penasaran dan selalu sangat ingin tahu?" selidik Henrietta.
"Oh God ... Bukan aku, andai kau tahu bocah tengik itu selalu datang kesini setelah perginya Della, aku seperti di teror oleh anak remaja yang sedang jatuh cinta," ucap Henry dengan kesal.
Henrietta tertawa karna tahu siapa yang di maksud suaminya.
"Dia di Swiss, tinggal di rumah yang dulu di tempati oleh Milly, dan dia juga bekerja di restoran milik ibuku," jawab Henrietta.
Bibi Elly yang mendengar itu pun ikut merasa lega dan juga senang.
"Kau jangan memberitahu Leo," ucap Henrietta menatap suaminya dengan tajam.
"Kenapa?"
"Karna itu keinginan Della, mungkin sebelum kepergian Della mereka sempat ada masalah," ujar Henrietta menduga-duga.
__ADS_1
"Kenapa dia bisa bersama-mu?" tanya Henry.
"Ceritanya panjang, yang jelas setelah aku pergi aku masih memantaunya. Tapi, semenjak kelulusannya dan orang tuanya mengalami kecelakaan aku mulai memindahkannya dan juga adiknya ke Swiss," jelas Henrietta.