PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #15


__ADS_3

"Kalian sudah kembali?" tanya Elijah yang sedang berada di ruang keluarga dan melihat kedatangan istri dan juga menantunya.


"Iya ..." jawab Emma.


Emma menghampiri Elijah yang sedang duduk di sofa dan mengecup bibirnya.


"Aku akan ke kamar dulu," ujar Emma.


Sementara itu Henrietta sudah pergi menuju kamarnya meninggalkan suami istri itu.


Henrietta masuk kedalam kamarnya dan Henry, dia tak melihat Henry disana, saat masuk ke dalam mansion pun dia hanya melihat ayah mertuanya saja dan tidak melihat keberadaan Henry.


"Mungkin dia belum pulang," gumam Henrietta.


Henrietta menaruh membuka tasnya dan mengambil sepasang kaos kaki bayi berwarna pink pemberian ibu mertuanya itu dan menaruhnya kedalam laci yang berada di samping ranjangnya dan menatapnya sebentar.


Henrietta berjalan kearah kamar mandi, karna seharian ini dia terlalu lama berada di luar dan membuat kulitnya lengket.


Tidak memerlukan waktu lama Henrietta keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang melekat di tubuhnya dan handuk yang berada di atas kepalanya.


Henrietta berjalan kearah walk-in closet dan mulai memakai pakaiannya disana, setelah selesai dia kembali lagi kemar dan melepas handuk yang menutupi rambut basahnya.


Sebelum keluar dari kamar Henrietta mengeringkan rambut pendeknya terlebih dahulu.


Saat sedang mengeringkan rambut ponsel Henrietta berbunyi dan itu adalah panggilan dari Lucy, sahabatnya.


"Ya, Lucy ... Ada apa?" tanya Henrietta setelah mengangkat panggilan itu.


"Besok aku senggang, mampirlah kerumah sakit, kita makan siang bersama," balas Lucy di sebrang telpon.


"Kenapa tidak pergi dengan Matthew?" tanya Henrietta.


"Dia sedang ke Spanyol," jawab Lucy.


"Datanglah saat makan siang, sudah lama kita tak mengobrol, lagi pula kerjaan-mu selama disini hanya tidur, makan, baca buku, palingan cuma itu-itu saja," tebak Lucy.


Henrietta tertawa kecil mendengar perkataan sahabatnya yang tepat.


"Ya ... Dan sepertinya aku akan menggemuk karna makan tidur, makan tidur," tungkas Henrietta.


"Ya, maka dari itu, kemarilah agar kau ada kerjaan," ucap Lucy.


"Baiklah, aku akan kesana," sahut Henrietta.


Cukup lama mereka mengobrol hingga membuat Henrietta tidak sadar jika Henry sudah masuk kedalam kamar dan berjalan ke kamar mandi.


Henrietta baru tersadar saat ada yang menutup pintu kamar mandi dan itu sukses mengagetkannya.


"SIAPA?" teriak Henrietta memastikan.


"Aku ..." sahut Henry dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Henrietta bernapas lega karna yang masuk kedalam kamarnya adalah Henry, dia pikir yang baru saja masuk adalah orang lain.


"Aku tutup dulu telponnya, Henry sudah kembali," ujar Henrietta.


"Baiklah," balas Lucy.


Henrietta mengakhiri panggilan telponnya bersama Lucy, dan berjalan keluar dari kamar.


Dari pertengahan tangga Henrietta bisa melihat keharmonisan hubungan antara ibu dan ayah mertuanya.


Semua orang pasti dapat melihat betapa cintanya pria itu pada istrinya.


Henrietta berpikir andai ayahnya juga seperti itu pada ibunya dulu, mungkin sekarang Henrietta memiliki keluarga yang harmonis dan penuh cinta.


Henrietta tak menampik jika selama ini dia ingin ayahnya mau menerima dia dan ibunya dan bisa mencintai mereka berdua. Tapi sayang, itu hanya akan selalu menjadi angan-angan bagi Henrietta.


Nyatanya sang ayah malah sangat menyayangi anak tirinya, padahal mereka tak sedarah tapi ayahnya begitu memperdulikan Julia, apakah karna Julia lahir dari wanita yang di cintai ayahnya.


Dari kejauhan Henrietta dapat mendengar pembicaraan antara ibu dan ayah mertuanya.


"Apa menurutmu Rietta adalah anak Ruth?" tanya Emma pada suaminya.


"Apa yang kau katakan sayang? Mana mungkin, kalau Ruth sudah menikah dan memiliki anak pasti dia akan memberitahu kita," jawab Elijah.


"Bagaimana dia mau memberitahu kita, jika dia saja menghilang tanpa jejak, kau bahkan sudah mencari kemana pun dan tak menemukan apapun," ucap Emma.


"Aku hanya merasa mereka sangat mirip, Kau tak sadar jika Rietta seperti duplikat Ruth, tapi saat aku bertanya siapa nama ibunya yang kudengar malah bukan nama Ruth tapi orang lain,"


Elijah mendekap tubuh sang istri dari samping dan menyenderkan kepalanya di dada bidangnya, dia mengusap-usap lengan sang istri guna memberikan ketenangan.


"Mungkin kau hanya sedang merindukannya," gumam Elijah dan mengecup pucuk kepala sang istri.


"Aku akan mencaritahu tentang Rietta jika itu membuatmu merasa lebih tenang," ujar Elijah.


Henrietta memutuskan untuk menenangkan pikiran nya di taman belakang, niat hati dia ingin menghampiri ibu mertuanya tapi dia urungkan.


Henrietta berjalan kearah ayunan yang ada bawah pohon besar, tempat favorit Henrietta selama dia tinggal di mansion Henry.


Dia tampak fokus melihat kearah depan yang terdapat hamparan rumput hijau yang cukup luas.


"Aku merindukan-mu mom ..." lirih Henrietta.


Air matanya mulai menetes sedikit demi


sedikit jika mengingat sang ibu.


"Kau tahu? Disini ternyata ada seseorang yang sangat merindukanmu, kau pasti akan senang jika bertemu dengannya," Henrietta mengusap air mata yang tak berhenti mengalir itu.


Cukup lama Henrietta berada di sana, hingga tanpa sadar hari sudah semakin gelap.


"RIETTA ..." terdengar teriakan yang memanggil nama Henrietta.

__ADS_1


Henrietta mengalihkan pandangannya pada seorang wanita paruh baya yang berada di ambang pintu masuk yang terhubung dengan taman belakang.


"HARI SUDAH GELAP, AYO MASUK ... SEBENTAR LAGI MAKAN MALAM," teriak wanita itu lagi.


Henrietta bangun dari duduknya dan berlari kearah wanita paruh baya yang sedang melambaikan tangannya.


Setelah sampai di hadapan wanita itu Henrietta langsung saja memeluk wanita tersebut.


"Aku menyayangi-mu mom ..." lirih Henrietta.


Wanita itu tersenyum dan membalas pelukan Henrietta.


"Mommy juga menyayangimu," jawab ibu mertua Henrietta.


"Terima kasih sudah menjadi ibu mertua yang baik untuk-ku, terima kasih karna tidak membedakan antara aku dan Henry, terima kasih karna sudah memperlakukan aku dengan baik dan menyayangiku," ucap Henrietta mengeratkan pelukannya pada ibu mertuanya.


"Kau putriku, jelas aku menyayangimu," balas Emma dan mengusap-usap punggung Henrietta.


Emma tahu jika Henrietta sedang tidak baik-baik saja, mungkin dia merindukan ibunya dan menjadikannya sedikit emosional.


"Ayo masuk ... Kau sudah terlalu lama berada di luar," ujar Emma.


Emma mengajak Henrietta untuk masuk kedalam dan membawanya keruang makan.


"Aku akan cuci tangan dan wajahku dulu mom," ucap Henrietta.


Henrietta berjalan kearah toilet yang berada di dekat ruang makan.


"Ada apa dengannya mom?" tanya Henry yang juga berada disana.


"Mungkin dia sedang merindukan ibunya," jawab Emma.


Sementara itu di kamar mandi, Henrietta tampak melihat wajahnya, matanya memerah karna habis menangis.


Dia membasuh wajahnya beberapa kali, hingga tak terlihat bekas dia menangis tadi.


Setelah dirasa cukup tenang Henrietta keluar dari toilet dan menghampiri keempat orang tersebut.


Dia mendudukkan dirinya di samping Henry dan Emma yang berada di depan Henry.


"Makanlah yang banyak," ucap Emma sembari menaruh beberapa makanan di atas piring makan Henrietta.


"Terima kasih mom," Henrietta tersenyum.hanya pada ibu mertuanya.


"Sama-sama sayang," balas Emma.


"Kau juga harus makan banyak Henry," ujar Emma.


"Terima kasih mom," tungkas Henry.


Suasana makan malam kali ini terasa lebih berbeda bagi Henrietta, kehangatan di dalam keluarga itu sungguh terasa olehnya.

__ADS_1


__ADS_2