
Setelah mengantarkan kedua anaknya beserta Aiden, Henrietta mampir sebentar ke salah satu pusat perbelanjaan yang dia lewati.
Henrietta berjalan masuk kedalam mall tersebut setelah dia memarkirkan mobilnya.
Dia masuk kedalam toko dengan merek terkenal dan memilih beberapa dress yang menurutnya cocok.
Setelah membayar dan mendapatkan apa yang dia mau, Henrietta bergegas untuk pulang ke mansion milik keluarganya.
Sementara itu dari kejauhan Henry melihat Henrietta yang baru saja keluar dari toko pakaian bermerk terkenal.
Henry tahu Henrietta lebih dari mampu membeli pakaian dengan merek itu, mengingat Henrietta memiliki restoran yang terbilang selalu ramai dengan pengunjung.
Henry tidak mengikuti Henrietta, dia akan memberikan Henrietta waktu sehari lagi, setelah itu dia akan menemuinya sendiri. Lagi pula pekerjaannya disini belum selesai dan dia akan menyelesaikan dulu pekerjaannya baru menemui istrinya.
Henrietta masuk kedalam mobilnya dan menaruh tas belanjaannya di kursi belakang.
Henrietta memarkirkan mobilnya setelah tiba di halaman mansion milik pamannya.
Dia mengambil tas belanjaannya dan berjalan masuk kedalam mansion.
Di ruang tamu terlihat sang bibi yang sedang mengobrol dengan dua orang temannya.
"Sayang, kau sudah kembali?" tanya Imelda yang sadar akan kedatangan Henrietta.
"Iya aunty," jawab Henrietta sambil memperlihatkan senyumannya pada kedua teman sang bibi.
"Ka semakin cantik Rietta," puji salah satu teman bibinya.
"Terima kasih nyonya Reid ... Anda juga semakin cantik, sudah lama anda tidak berkunjung kemari," ucap Henrietta.
"Kau padai memuji wanita tua ini," ujar nyonya Reid diiringi dengan kekehan.
"Oh ya, dimana si kembar aku tidak melihatnya," tanya teman bibi Imelda yang lain.
"Mereka sudah bersekolah dan sekarang sedang pergi karna ada acara sekolah," jawab Imelda.
"Aunty, aku akan ke kamarku dulu," ucap Henrietta dan pamit pada kedua teman bibinya.
"Dia wanita yang cantik dan baik ... Jika saja anakku belum menikah akan aku jodohkan dia dengan keponakanmu itu," ucap nyonya Reid.
"Lagi pula Rietta sudah punya suami dan sekarang suaminya sedang berada di Spanyol ... Biasa masalah rumah tangga," sahut Imelda.
"Ahh sayang sekali, aku pikir dia janda karna tidak pernah melihat suaminya," ucap yang lainnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau anakku saja? Aiden masih sendiri sampai sekarang, dia belum punya kekasih," ujar Imelda yang menawarkan putra pertamanya.
"Sayang sekali aku tidak punya anak perempuan," sahut yang lain.
"Bagaimana kalau dengan keponakan suamiku, dia gadis yang cantik dan baik," timpal nyonya Reid.
"Benarkah?" ujar Imelda dengan semangat.
"Iya, dia juga seorang guru di taman kanak-kanak," ucapnya lagi.
"Kalau anda mau saya akan bilang pada suami saya nanti," ujar nyonya Reid.
"Boleh ... Kita bisa atur pertemuannya nanti untuk mereka," sahut Imelda dengan wajah senang dan semangatnya.
Dan jadilah pertemuan itu membahas tentang Aiden dan juga keponakan dari nyonya Reid.
Sementara itu di kamar, Henrietta sedang melihat kembali pakaian yang di belinya barusan.
Beberapa kali Henrietta mencoba pakaian itu untuk dia kenakan nanti.
****
Sementara itu berbeda dengan Henry yang tengah di sibukkan dengan pekerjaannya, setelah kembali dari mall Henry langsung pulang menuju apartement-nya dan menyelesaikan sisa pekerjaannya selama berada disini.
Terlihat Henry sedang menelpon asisten sang ayah dan berdiri di depan balkon apartement miliknya sambil menghisap rokok yang ada di tangannya.
Sesekali Henry akan menghembuskan asap yang dia hisap dari rokok itu, setelah sambungan telpon terputus Henry kembali ke dalam apartement dan mendudukan dirinya di sofa yang berada di ruang tamu.
Henry menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan memejamkan matanya, merasakan lelah yang dia alami selama ini.
Henry membereskan meja yang penuh dengan selembaran kertas dan laptop.
Dia memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya.
Meskipun waktu masih menunjukan pukul satu siang tapi Henry sidah memejamkan matanya dan terlelap.
Saat Henry sudah tertidur nyenyak ponselnya beberapa kali berbunyi dengan nyaring, karna terlalu mengantuk Henry membiarkannya begitu saja dan tampak tidak terganggu sedikitpun.
"Sedang apa dia?" gerutu Julia yang ternyata sedari tadi terus saja menghubungi Henry tapi tidak ada yang pria itu angkat satupun.
"Harusnya disana masih jam satu siang, kenapa dia tidak mengangkatnya," kesal Julia.
Dengan wajah kesal dan hati dongkolnya Julia memasukan beberapa pakaian bermerk-nya kedalam koper besar yang akan dia bawa ke Spanyol nanti.
__ADS_1
"Kau sudah membereskan barang bawaanmu?" tanya Dorothy yang masuk kedalam kamar putrinya.
"Sebentar lagi mom," sahut Julia.
"Kenapa kau membawa banyak pakaian? Memangnya kau disana akan berapa hari?" tanya Dorothy yang melihat anaknya membawa satu koper besar dan satu koper berukuran sedang.
"Selama Henry masih disana, aku juga akan membeli beberapa pakaian disana. Jadi, aku haru membawa sedikit ruang kosong di koperku," jawab Julia.
Dorothy hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat begitu terobsesinya Julia pada Henry.
"Ingat Julia, kau sudah janji pada ayahmu hanya akan berada disana selama tiga hari saja tidak lebih," ucap Dorothy mengingatkan putri kesayangannya itu.
"Tapi mom, bagaimana jika Henry lama berada disana," ujar Julia.
" Dia tidak akan lama berada disana, dia hanya akan seminggu disana," jawab Dorothy.
"Dan satu lagi ... Jangan memberitahu Henry jika kau akan ke Spanyol untuk menyusulnya, bisa-bisa dia kabur dan kau tidak akan bisa bertemu dengannya," kata Dorothy memperingati sang putri.
"Yeah mom, i know ..." sahut Julia.
"Apa daddy sudah pulang?" tanya Julia.
"Dia sudah pulang dini hari tadi, dan sekarang sudah pergi lagi," jawab Dorothy.
"Mommy akan pergi dulu sebentar, ada urusan yang harus mommy urus," ucap Dorothy dan keluar dari kamar putrinya.
Setelah sang ibu pergi Julia kembali disibukan dengan berbagai macam jenis pakaiannya, dimulai dari yang tertutup hingga yang paling seksi, dia bahkan menyelipkan satu lingerie berwarna merah untuk di bawanya.
****
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam dan Henry baru saja terbangun dari tidurnya.
Dia menyandarkan tubuhnya di kepalan ranjang dan memegang kepalanya yang pusing karna terlalu lama tidur siang.
"Sepertinya aku terlalu lama tertidur," gumamnya.
Setelah dirasa sudah tidak pusing lagi Henry berjalan kearah kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Tidak sampai sepuluh menit Henry sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan kearah lemari, dia hanya memakai celana jeans belelnya tanpa memakai baju dan membiarkan tubuh berototnya terbuka.
Henry keluar dari kamar dan berjalan kearah dapur karna merasakan lapar, dia memasak makanan yang cepat di buat.
Saat Henry disibukan dengan masakannya tiba-tiba bell apartement-nya berbunyi.
__ADS_1
Dia berjalan kearah pintu dan membuka pintu itu.
"Kau?" ucap Henry di ambang pintu.