PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #45


__ADS_3

Pagi-pagi sekali susana mansion sudah di hebohkan oleh suara anak perempuan Henrietta.


"Mommy, kaus kaki-ku tidak ada," ujar Maisie menghampiri ibunya yang sedang berada di kamar Asher.


"Oh, tunggu sebentar baby. Mommy sedang membantu kakakmu," sahut Henrietta yang sedang mengambil sepatu milik Asher yang berada di rak atas.


"Ini!" Henrietta memberikan sepatu itu pada putra tampannya.


"Terima kasih mom," balas Asher.


"Nanti mommy akan menyuruh pelayan untuk memindahkan sepatu-sepatumu di rak bawah, agar Asher lebih mudah mengambilnya," tutur Henrietta dengan suara lembut dan juga senyumannya.


"Iya," jawab Asher.


"Sekarang mommy akan melihat adikmu dulu," ujar Henrietta dan keluar dari dalam walik in closet putranya.


Henrietta melihat putrinya sedang duduk di ranjang milik Asher.


"Ada apa?" tanya Henrietta dengan suara lembutnya.


"Rae tidak bisa menemukan kaus kaki yang grandma belikan kemarin," tuturnya dengan wajah lucunya.


"Bukankah sudah mommy taruh di tempat biasanya?" ucap Henrietta sambil mengusap pipi chubby anaknya.


"Tapi Rae tidak menemukannya," jawabnya.


"Baiklah. Ayo kita cari," ujar Henrietta menggandeng tangan putrinya dan keluar dari kamar putranya.


Mereka berdua berjalan beriringan dengan Maisie yang menggandeng tangan ibunya.


Setelah sampai di kamar putrinya, Henrietta langsung masuk kedalam walk in closet diikuti oleh Maisie yang berada di belakangnya.


Henrietta membuka salah satu laci yang khusu menaruh barang-barang berukuran kecil atau aksesoris milik putrinya.


"Ini apa?" kata Henrietta memperlihatkan kaus kaki berwarna pink pada putrinya.


"Tapi, tadi Rae tidak menemukannya," ujar Maisie dengan wajah lucu dan polosnya.


Henrietta menyerahkan kaus kaki itu pada putrinya dan Maisie langsung memakainya sambil duduk di kursi yang berada di dalam walk in closet miliknya.


Setelah selesai mereka berdua kembali ke kamar Maisie.


Maisie duduk di depan cermin dengan Henrietta yang berdiri di belakangnya.


Dengan sangat cekatan Henrietta menyisir dan mengepang rambut panjang putrinya.


"Mom, apa uncle sudah bangun?" tanya Maisie.


"Mungkin sudah," jawab Henrietta sambil terus mengepanh rambut anaknya.


"Ingat apa kata mommy. Jika, uncle kalian tidak mau jangan memaksa apalagi mengancamnya," ujar Henrietta.


"Kami tidak pernah memaksa dan mengancam uncle," kilah Maisie sambil mengedipkan matanya dengan lucu.


"Done," ucap Henrietta setelah menyelesaikan kepangan-nya.


"Mom?" panggil Maisie.


"Iya honey?" sahut Henrietta.


"Apa hari ini mommy ke kantor?" tanya-nya.


"Tidak, mommy hari ini di mansion dan akan mengantar kalian ke sekolah," pungkas Henrietta.


"Tapi, kami ingin di antar oleh uncle," jawab Maisie.


Henrietta melihat kearah putrinya dan menatapnya.


"Agar uncle kalian bertemu dengan miss Bella?" tebak Henrietta yang sudah tahu maksud kedua anaknya.

__ADS_1


Maisie menganggukkan kepalanya dengan semangat dan tersenyum.


"Bolehkan mom?" ujar Maisie.


"Tentu. Tapi, saat kalian pulang mommy yang akan menjemput kalian," ucap Henrietta.


"Mommy memang yang terbaik," sahut Maisie dengan suara khas anak kecilnya.


"Baiklah, mommy akan kebawah dan jika sudah selesai turunlah," tutur Henrietta.


"Iya mom," jawab Maisie.


Henrietta keluar dari kamar putrinya dan berjalan menuruni tangga, hingga ke lantai bawah.


Dia melihat sang kakek beserta pamannya sedang mengobrol di ruang keluarga, dan begitupun dengan sang bibi yang sedang mengontrol pelayan untuk membuatkan sarapan.


"Good morning," sapa Henrietta menghampiri kedua pria berbeda usia itu.


"Good morning," sapa sang kakek dan juga pamannya.


"Dimana si kembar? Apa mereka belum bangu?" tanya Stev, paman Henrietta.


"Mereka sudah bangun," jawab Henrietta.


Henrietta duduk di samping kakeknya sambil mengampit lengan sang kakek.


"Kau tidak ke perusahaan?" tanya Jared, kakek Henrietta.


"Tidak, aku hanya akan dirumah saja hari ini," jawab Henrietta.


"Bukan untuk menghindarinya?" tebak sang kakek.


"Tidak,"


"Menghindari siapa?" timpal Stev.


"Dia kemari?" tanya Stev.


"Mm, ayahnya melakukan kerjasama dengan perusahaan kita," jelas Jared.


Sedangkan Henrietta hanya diam saja dan tidak ikut dengan pembicaraan paman dan kakeknya.


"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu," ujar Stev.


"Kau akan menemuinya?" kini sang paman beralih pada Henrietta.


"Aku tidak tahu," jawab Henrietta.


"Cobalah untuk menemuinya, mungkin dia menyesal berkata seperti itu padamu," tutur Stev.


"Kenapa kalian berdua seolah-olah mendukung dan membelanya?" heran Henrietta karna paman dan kakeknya selalu menyuruhnya untuk menemui Henry.


"Kenapa tidak? Bagaimana pun kalian belum bercerai," pungkas Jared.


"Lebih baik, selesaikan masalah kalian berdua dengan kepalanya dingin. Mungkin, waktu itu dia hanya sedang emosi sesaat karna melihatmu dengan Matthew dan tidak tahu ada hubungan apa di antara kau dan Matthew. Dan mungkin sekarang saatnya dia tahu siapa kau, apa lagi dia juga harus tahu bahwa dia sekarang sudah punya anak. Dia marah padamu karna di cemburu, uncle yakin pada saat itu Henry sudah mulai menyukaimu. kalau tidak, mana mungkin dia marah melihat Matthew memelukmu," jelas Stev memberikan solusinya untuk Henrietta.


"Masalah ini sudah enam tahun berlarut-larut, anak-anakmu juga harus tahu siapa ayah mereka," lanjutnya.


Henrietta melihat kearah sang kakek.


"Paman-mu benar. Lebih baik selesaikan masalah kalian, jika tak ingin di lanjutkan kau bisa mengajukan perceraian padanya," ujar sang kakek.


Henrietta menghembuskan napasnya dengan berat, dia melepaskan tangannya dari tangan sang kakek dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Akan aku pikirkan," ucap Henrietta.


"Ada apa dengan wajahnya," timpal Aiden yang baru saja datang menghampiri mereka.


"Tidak ada," sahut Henrietta dengan malas.

__ADS_1


"Kau tidak ke perusahaan?" tanya Aiden karna melihat Henrietta masih memakai pakaian rumahan.


"Tidak," jawab Henrietta.


"Kalau begitu kau akan mengantar si kembar ke sekolah?" tanya-nya lagi.


"Tidak juga, mereka ingin kau yang mengantarnya," jawab Henrietta.


"Aku lagi?" ujar Aiden.


"Kenapa? Kau tidak suka mengantar anak-anakku ke sekolah," sungut Henrietta.


"Ada apa dengannya? Kenapa di marah-marah seperti itu," tanya Aiden pada ayah dan kakeknya.


"Dia sedang dilema," timpal Stev.


"Ck ... Kau pikir kau masih gadis dan anak remaja? Pria mana yang membuatnya di Dilema?" sungut Aiden.


"Tentu saja suaminya," ujar sang kakek.


"Kakek!" rengek Henrietta.


"Kau bukan anak kecil lagi, jangan merengek seperti itu," cibir Aiden.


"DIAM KAU!" bentar Henrietta.


"Dia lebih galak dari pada singa betina," ledek Aiden.


Imelda datang dan menginjak kaki putranya sendiri.


"Awhh," ringis Aiden.


"Mom ..."


"Jangan terus-terusan meledek sepupu-mu," tegur Imelda.


"Lebih baik kau pikirkan dirimu sendiri dan segeralah bawa calon istrimu kemari," ujar Imelda.


"Mom ... Kita sudah pernah membahas ini dan aku tidak ingin membahasnya lagi," sahut Imelda.


"Aunty tenang saja. Sebentar lagi aunty akan segera memiliki calon menantu yang cantik," timpal Henrietta.


"Benarkah?" tanya Imelda.


"Mm ... Percayakan saja pada dua cupid kita," ujarnya.


"Mom ..." panggil Asher.


"Ahh itu dia, dua cupid pembawa cinta sudah datang," ujar Henrietta dengan asal.


"Dia semakin aneh," gumam Aiden.


"Uncle ..." teriak Maisie berlari kearah Aiden dan memeluk kakinya.


"Aku seperti mendapatkan firasat buruk," gumamnya.


"Hari ini kami ingin di antar oleh uncle lagi," pungkas Maisie dengan riang.


"Ahh iya, besok kami ada acara sekolah dan juga berkemah. Kami sudah bilang pada miss Bella kalau uncle yang akan menemani kami," ucapnya begitu saja.


"Apa?" kata Aiden karna terkejut.


"Honey, kenapa kalian tidak bilang pada mommy jika sudah mendaftarkan nama paman kalian?" ujar Henrietta yang juga merasa terkejut.


"Karna kami tahu uncle akan menolak," jawab Maisie dengan wajah yang sudah cemberut dan mata berkaca-kaca.


Aiden menghembuskan napasnya dengan kasar dan melihat kedua keponakannya.


"Baiklah," putus Aiden dengan pasrah.

__ADS_1


__ADS_2