
Henry menekan interkom yang ada di atas meja kerjanya.
"Siapkan pesawatku sekarang juga, aku akan pergi ke Spanyol hari ini juga," tegas Henry.
"Baik tuan," jawab Owen dengan patuh dari balik interkom.
Henry menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya, dia memutar kursi itu hingga dapat melihat beberapa gedung tinggi dari balik kaca besar yang ada di ruangannya.
Henry menghembuskan napasnya kasar dan memejamkan matanya.
"Akhirnya aku menemukanmu. Aku akan membawamu kembali dengan cara apapun," monolog Henry pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku Rietta," gumam Henry dengan lirih.
Seharusnya dulu dirinya tidak mengatakan kata-kata yang akan membuat istrinya sakit hati, harusnya dia mencaritahu dulu duduk permasalahannya dan bukan langsung menghakimi istrinya.
Rasa bersalah Henry pada Henrietta semakin hari semakin bertambah, apalagi saat tahu jika istrinya pergi dari rumah dan tidak pernah kembali.
Henry juga sudah tahu siapa pelaku yang mengirim pesan itu pada ponselnya.
Saat Henry sedang merenungi semua kesalahannya tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka dari luar.
"Maaf tuan, saya sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada sahutan dari anda," ujar Owen.
"Mm ... Tak apa Owen," sahut Henry.
"Apa kau sudah menyiapkannya?" tanya Henry yang kini sudah membalikkan kursinya menghadap kearah Owen.
"Sudah tuan," jawab Owen.
"Maaf tuan. Tapi, di lobby ada nona Julia, dia memaksa untuk bertemu dengan anda," ujar Owen.
Henry terlihat menghembuskan napasnya dengan lelah.
"Kalau begitu kita naik helikopter, tahan dia sampai aku pergi! Kalau perlu usir saja sekalian," tutur Henry.
"Baik tuan. Kalau begitu saya akan menyiapkan helikopter anda," sahut Owen dan keluar dari ruangan Henry sambil menelpon seseorang.
Henry memijat pelipisnya yang tak terasa pusing sama sekali.
Sambil menunggu Owen, Henry menyempatkan dirinya untuk kembali melihat foto Henrietta yang tadi di berikan oleh Sam.
"Kau tak banyak berubah, kau masih sama seperti dulu," gumam Henry sambil mengusap-usap foto Henrietta.
Sementara itu di lobby terlihat seorang wanita berpakaian kantor yang terlihat elegan memaksa untuk masuk kedalam.
"Kenapa kalian menahan ku? Aku hanya ingin bertemu dengan Henry, asal kalian tahu dia itu masih tunanganku," maki wanita itu.
Beberapa kali wanita itu terus mengumpat karna tidak ada yang membiarkannya untuk masuk.
Sementara itu beberapa karyawan wanita yang berlalu lalang disana mulai berbisik-bisik.
"Sepertinya nona Julia sudah gila," bisik seorang wanita pada temannya.
"Iya. Jelas-jelas tuan sendiri yang mengumumkan pada seluruh media bahwa mereka tidak memiliki hubungan apapun lagi dan membatalkan pertunangannya. Dan, rumornya tuan sudah menikah dengan wanita lain yang tidak pernah di ketahui oleh publik," sahut wanita tersebut.
"Sepertinya nona Julia terlalu terobsesi pada tuan Henry, gaya bicara dan penampilannya sangat tidak mencerminkan seorang pewaris perusahaan," cibirnya.
"Kau benar, aku tidak menyangka jika nona Julia memiliki sifat kasar seperti itu,"
__ADS_1
Kedua wanita itu masih saja terus membicarakan Julia hingga mereka masuk kedalam lift.
Owen datang menghampiri Julia atas perintah atasannya.
"Maaf nona Julia, di mohon jangan membuat keributan disini," ujar Owen dengan nada suara yang masih terdengar sopan.
"Aku tidak akan membuat keributan jika kalian membiarkan aku untuk bertemu dengan Henry," kata Julia dengan kesal.
"Tuan Henry tidak ada di perusahaan, beliau sedang pergi untuk menghadiri meeting penting," tutur Owen.
"Kau pasti berbohong kan?" selidik Julia.
"Jika anda tidak percaya, anda bisa memeriksanya sendiri," jawab Owen yang terlihat santai.
"Lepaskan nona Julia," perintah Owen pada dua security yang memegang tangan Julian.
"Awas kalau kau bohong," ujar Julia dan pergi dari perusahaan Henry dengan perasaan kesal karna sudah di permalukan.
Sedangkan di atas rooftop perusahaan Henry baru saja memasuki helikopternya yang sudah di siapkan oleh asistennya.
"Langsung ke bandara," perintah Henry pada pilot yang akan menerbangkan helikopter miliknya.
"Baik tuan," jawabnya.
Henry akan pergi sendiri ke Spanyol dan menyelesaikan pekerjaan daddy-nya dan juga masalahnya dengan Henrietta.
Ini adalah suatu keberuntungan bagi Henry karna secara tidak langsung sang daddy membawanya pada Henrietta.
****
Sementara itu Henrietta baru saja selesai dengan pekerjaannya dan sudah waktunya memasuki jam istirahat, itu artinya dia harus segera menjemput kedua anak kesayangannya.
"Iya, kakak mau ikut?" ujar Henrietta.
"Tidak, kau pergilah. Lagipula jam kerjamu sudah selesai," pungkas Aiden.
"Kalau begitu aku pergi. Aku sudah menyelesaikan laporannya dan sudah ku kirim ke email-mu," ujar Henrietta.
"Mm, aku akan mengeceknya di mansion," ucap Aiden.
Saat sudah berada di depan Aiden, Henrietta menghentikan langkahnya dan menatap kakak sepupunya itu.
"Kak?" panggil Henrietta.
"Ada apa?" tanya Aiden.
"Apa kau tidak kesepian?" tanya Henrietta.
Aiden memicingkan matanya dan menatap Henrietta.
"Mana mungkin aku kesepian, apa lagi di mansion ada dua kurcaci-mu itu," seloroh Aiden.
Henrietta menginjak kaki Aiden dan membuat sang empunya mendesis.
"Dua kurcaci itu adalah keponakanmu kak," tutur Henrietta.
"Cepatlah menikah, agar kau bisa merasakan bagaimana rasa memiliki kurcaci yang lucu dan manis," ujar Henrietta dan pergi dari sana meninggalkan Aiden sendirian.
"Dia lama-lama seperti mommy," gerutu Aiden.
__ADS_1
Henrietta berjalan menuju lift yang akan membawanya langsung ke basement perusahaan dimana mobilnya terparkir.
Ting ...
Pintu lift terbuka dan Henrietta keluar dari sana setelah sampai di basement dan menuju kearah mobilnya berada.
Setelah masuk kedalam mobil miliknya, dia mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang dan tidak terlalu terburu-buru karna belum waktunya anak-anak keluar sekolah.
Henrietta sengaja menjemput lebih awal agar tidak terlambat menjemput dua kesayangannya.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Henrietta sampai di halaman depan tempat anak-anaknya sekolah.
Henrietta keluar dari dalam mobil dan bersandar di mobilnya sambil menunggu kedatangan anak kembarnya.
Dari kejauhan Henrietta dapat melihat beberapa anak-anak yang sudah mulai keluar dari gedung sekolah, Henrietta juga melihat kedatangan kedua anaknya.
Henrietta tersenyum senang melihat perilaku anak laki-lakinya yang begitu menjaga saudari perempuannya, Henrietta bersyukur karna Tuhan memberikan mereka di dalam hidup Henrietta.
"MOM ..." teriakan Maisie mampu terdengar oleh Henrietta.
Dia melihat anak perempuannya yang sedang melambaikan tangan pada dirinya.
"Apa hari ini menyenangkan? Kalian mengalami kesulitan?" tanya Henrietta pada kedua anaknya setelah mereka sampai di depannya.
"Sangat menyenangkan, ada sedikit pelajaran yang sulit. Tapi, Asher membantu Rae," ucap Maisie.
Walaupun semua orang memanggilnya Maisie, tapi anak itu lebih senang menyebut nama Rae karna itu lebih mudah dan pendek.
"Kakak! Maisie," ralat Asher.
"Iya, iya ... Kakak," ucap Maisie.
Henrietta hanya dapat tersenyum melihat kedua anaknya yang tumbuh dengan sehat dan pintar.
"Ayo masuk. Kita akan langsung pulang," ujar Henrietta dan membuka pintu penumpang untuk kedua anaknya.
"Mom?" panggil Asher.
"Iya sayang?" jawab Henrietta yang masih fokus pada jalanan.
"Lusa kami akan ada acara sekolah dan kita akan berkemah disana," tutur Asher.
"Oh benarkah? Apakah orang tua murid juga ikut?" tanya Henrietta.
"Iya," jawab Asher.
"Kalau begitu mommy akan mengambil cuti pada paman kalian, agar bisa menemani kalian," ucap Henrietta.
"Tidak mom!" potong Maisie dengan cepat.
Henrietta menatap bingung pada anak perempuannya dari balik spion.
"Kenapa?"
"Kami akan pergi bersama uncle saja. Iya kan kak?" tutur Maisie yang kini beralih pada Asher.
"Iya ..." jawab Asher.
"Kenapa begitu? Apa pergi dengan mommy tidak seru?" tanya Henrietta yang kembali fokus pada jalanan.
__ADS_1