PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #52


__ADS_3

Saat Henry disibukan dengan masakannya tiba-tiba bell apartement-nya berbunyi.


Dia berjalan kearah pintu dan membuka pintu itu.


"Kau?" ucap Henry di ambang pintu.


Henry mematung di ambang pintu melihat siapa yang datang ke apartement-nya.


"Dari mana kau tahu tempat tinggal ku?" tanya Henry setelah sadar dari rasa keterkejutannya.


"Dari seorang kenalan. Kau tidak ingin menyuruhku untuk masuk? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap wanita yang sedari tadi hanya berdiri saja.


"Silahkan masuk," ujar Henry memberi jalan pada wanita bergaun hitam itu untuk masuk.


"Rietta?" Henry dan seketika Henrietta menghentikan langkahnya.


Dia berbalik dan menatap kearah wajah pria yang masih terlihat tampan itu.


"Kenapa kau tiba-tiba datang kesini?" tanya Henry akhirnya.


"Bukankah kau ingin berbicara denganku? Dan begitupun denganku, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," tutur Henrietta.


"Pakailah bajumu dulu, aku akan menunggumu disini," ujar Henrietta yang sedari tadi tampak terganggu dengan Henry yang tidak mengenakan pakaian.


"Aku akan membuatkan minuman dulu untukmu," kata Henry dan berjalan kearah dapur yang tidak memiliki sekat antar ruang tamu.


"Biar aku saja, pakai saja bajumu," seketika Henry menghentikan langkahnya dan merubah haluannya menuju kamarnya sendiri.


Henrietta menaruh tas-nya di atas sofa dan berjalan kearah dapur untuk membuat minumannya.


Dia melihat kompor yang masih menyala dan ada ayam yang sudah gosong di biarkan begitu saja.


'Apa dia sedang membuat makan malam?' pikir Henrietta.


Lantas Henrietta membuang ayam gosong itu dan mulai membuatkan makanan yang baru untuk Henry.


Henry kembali lagi ke ruang tamu setelah dia memakai pakaiannya. Dia melihat Henrietta yang sedang memasak di dapur miliknya.


"Biar aku saja," ujar Henry yang sudah ada di samping Henrietta.


"Tidak apa, biar aku saja ..." sahut Henrietta.


"Kalau begitu aku akan membantumu," pungkas Henry.


"Dari mana kau tahu tempat tinggal ku?" tanya Henry.


"Dari anak buah ka Aiden," jawab Henrietta dengan jujur.


"Aiden?" ulang Henry.


"Mm ... Aiden Rodriguez," jawabnya.

__ADS_1


"Aku tinggal dengannya," lanjutnya lagi tanpa ada yang di tutup-tutupi.


"Jadi, kau tinggal dengannya selama ini?" ujar Henry dengan rasa tidak percaya-nya.


Seketika seluruh isi kepalanya di penuhi dengan api cemburu dan kemarahan pada Aiden.


Pria itu menyentuh kedua bahu Henrietta dan memaksanya agar melihat kearahnya.


"Kenapa kau bisa tinggal dengannya?" tanya Henry.


Sementara Henrietta masih dengan wajah tenangnya, dia tidak ingin memancing kemarahan Henry dengan kemarahan pula.


"Karna dia kakak sepupuku," jawab Henrietta yang melepaskan tangan Henry di bahunya dan kembali fokus pada masakannya.


"Pria yang kau sebut sebagai selingkuhanku juga adalah kakak sepupuku," ucap Henrietta dengan sedikit nada sindiran pada Henry.


Tiba-tiba saja Henry tertawa hambar, mentertawakan dirinya sendiri.


"Dulu, kau tidak mau mendengarkan penjelasanku dan lebih percaya pada sebuah foto ... Kau bahkan tidak pulang ke mansion, apa karna Julia pada saat itu sudah sadar?" ujar Henrietta.


"Kau tahu Julia sudah sadar?" tanya Henry.


"Mm ... Dorothy yang meneleponku, setelah kau marah-marah padaku dan meninggalkanku sendirian," jawab Henrietta.


Henrietta memindahkan makanan yang sudah jadi itu ke atas piring yang sebelumnya sudah dia siapkan.


"Makanlah! Setelah itu kita lanjutkan lagi," ujar Henrietta menyerahkan piring itu pada Henry.


Henry tidak menerima piring itu dari tangan Henrietta, lantas Henrietta membawa piring itu ke ruang tamu dan menaruhnya di atas meja.


Henry duduk di samping Henrietta dan memakan makanan yang di masak oleh Henrietta dengan lahap.


"Kau berubah menjadi semakin dewasa sekarang," ucap Henry setelah menyelesaikan makannya.


"Mm ... Aku menyesuaikan diriku setelah menjadi seorang ibu," pungkas Henrietta.


"Kau sudah punya anak?" tanya Henry tak percaya.


"Ya, dua anak sekaligus," jawab Henrietta.


"Aku bahkan tidak menceraikan-mu. Tapi, kau sudah punya anak?" ujar Henry yang menahan kekesalannya.


'Mereka itu anakmu, dasar bodoh,' runtuk Henrietta dalam hatinya.


"Laki-laki mana yang berani menghamili-mu, tidak sadarkah kau? Jika kau masih berstatus sebagai istriku," marah Henry mencengkram kedua bahu Henrietta.


"Istri? Aku bahkan hanya sebagai istri pengganti untukmu, perjanjian pernikahan kita sudah berakhir setelah Julia sadar dari koma-nya," pungkas Henrietta.


"Tidak ada yang berakhir di pernikahan kita, aku sudah mendaftar pernikahan kita di catatan sipil negara. Asal kau tahu," balas Henry.


"Dan sekarang berani-beraninya kau hamil anak pria lain," maki Henry.

__ADS_1


Segala sumpah serapah Henry keluarkan karna merasakan amarah dan juga cemburu.


Membayangkan bagaimana Henrietta di sentuh oleh pria lain selain dirinya.


Dan di saat Henry sedang mati-matian menahan amarahnya agar tidak menyakiti Henrietta. Tapi, tiba-tiba ponsel wanita itu berbunyi.


Henrietta mengangkat panggilan yang ternyata dari kakak sepupunya.


"Halo kak? Ada apa?" tanya Henrietta.


Henry langsung memfokuskan dirinya pada Henrietta yang sedang menerima telpon.


"Tidak! Anak-anakmu dari tadi menyuruhku untuk menghubungimu," ujar Aiden.


"Uncle ... Uncle biar aku yang berbicara pada mommy," terdengar suara Maisie di sebrang telpon.


"Halo mom," ucap Maisie dengan suara lucunya.


Henrietta dengan sengaja menekan tombol speaker yang ada di ponselnya agar Henry dapat mendengar suara Maisie.


Saat mendengar suara anak perempuan dari ponsel Henrietta membuat perasaan Henry seketika mencelos, seperti ada sesuatu yang dia rasakan.


"Iya sayang," jawab Henrietta.


"Aku, Asher, dan uncle akan pulang besok ... Apa mommy sudah bertemu dan berbicara dengan daddy?" tanya Maisie.


"Mm ... Mommy sudah bertemu dan sekarang sedang berbicara dengan daddy," jawab Herietta yang seketika menghapus air matanya yang mulai membendung.


"Kakak ... Mommy bilang, mommy sedang berbicara dengan daddy," teriak Maisie memanggil saudaranya.


"Benarkah itu mom?" tanya Asher.


"Iya," jawab Henrietta.


"Aku ingin berbicara dengan daddy bolehkan?" ujar Maisie penuh harap.


"Sebentar," sahut Henrietta.


Henry menatap bingung pada Henrietta yang memberikan ponsel padanya.


"Anakmu ingin berbicara denganmu," ucap Henrietta dengan pelan.


Seketika saja rasa marah dan cemburu yang sedari tadi dia tahan berganti menjadi rasa bingung.


"Halo!" ucap Henry.


"Dad? Apa itu kau?" ucap Maisie dengan suara lucu yang terdengar sangat gembira.


Sementara Henrietta menahan tangisannya agar tidak terdengar oleh kedua anaknya.


"Mommy bilang besok dia akan membawa daddy untuk bertemu dengan kita. Oh ya, aku dan kakak sedang berkemah sekarang, uncle Aiden juga ikut," ucap Maisie.

__ADS_1


Henry tak mampu untuk mengatakan apapun, di kepala penuh akan pertanyaan yang ingin dia lontarkan pada wanita yang duduk di sebelahnya.


"Dad? Kenapa daddy diam saja? Apa daddy tidak senang akan bertemu denganku dan kakak?" terdengar nada sendu dari sebrang telpon dan itu membuat hati Henry merasa tidak senang.


__ADS_2