PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #43


__ADS_3

"Kenapa begitu? Apa pergi dengan mommy tidak seru?" tanya Henrietta yang kembali fokus pada jalanan.


"Tidak mom," sangkal mereka berdua dengan kompak.


"Lalu?" tanya Henrietta.


Maisie menautkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya tanpa melihat kearah sang ibu.


"Maisie ingin membuat miss Bella menjadi bibi kami. Mom," tutur Asher akhirnya.


Henrietta menyentuh pelipisnya dengan sebelah tangan yang bebas.


"Ohh my ..."


"Kenapa kau ingin miss Bella menjadi bibimu?" tanya Henrietta.


"Karna miss Bella baik, dan aku menyukainya. Teman-teman di sekolah juga sering mengenalkan paman bahkan ayah mereka pada miss Bella," ujar Maisie.


"Jadi, kau ingin menjadi cupid bagi paman kalian?" tanya Henrietta disertai dengan kekehan.


"Iya mom. Aku ingin miss Bella menjadi bibiku?" ujar Maisie dengan nada suara yang gembira.


Sementara itu, Asher hanya bisa melihat tingkah adiknya yang terlalu bersemangat.


"Baiklah. Tapi, kalian harus bilang dulu pada uncle kalian, jika dia tidak mau jangan memaksanya. Kalian bisa pergi dengan mommy," tutur Henrietta dengan suara lembutnya.


"Baik mom," jawab mereka berbarengan.


Hingga akhirnya mobil yang di kendarai oleh Henrietta dan kedua anaknya sudah memasuki mansion mewah tempat mereka tinggal.


Henrietta memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk mansion.


Dari dalam mobil Henrietta melihat pintu utama mansion terbuka dari dalam.


"Coba lihat siapa disana," ujar Henrietta pada kedua anaknya.


Seketika anak-anak Henrietta mengalihkan pandangannya pada pintu utama mansion, dan senyum terbit di bibir keduanya.


"Hati-hati! Jangan berlari," ucap Henrietta


melihat kedua anaknya terburu-buru keluar dari dalam mobil.


"KAKEK BUYUT!" teriak Maisie dengan mata berbinar senang.


"Jangan berlari atau kalian akan jatuh," ujarnya.


Dan benar saja, baru saja di peringati Maisie sudah terjatuh karna tersandung oleh kakinya sendiri.


Dengan sigap Asher langsung membantu adiknya itu dan juga membantunya untuk berdiri.

__ADS_1


"Sudah mommy bilang jangan berlari," tutur Henrietta yang sudah ada di belakang kedua anaknya.


"Kau tidak apa princess?" tanya pria yang sudah tidak muda lagi itu.


"Tidak kakek," ucap Maisie.


"Dia sudah sering seperti itu kakek," tutur Asher.


"Oh lihat ... Siapa pria tampan ini? Kau semakin tinggi boy," ujarnya.


"Aku juga semakin tinggi kakek, bukan hanya Asher," timpal Maisie.


"Oh benarkah? Tapi tinggi mu masih sama saat terakhir kali kakek kesini," goda Jared pada cicit perempuannya.


"Baiklah, sekarang ganti baju kalian dulu, baru setelah itu kalian bisa bermain dengan kakek buyut," pungkas Henrietta pada kedua anak kembarnya.


"Baik mom," ujar mereka dan berlalu pergi menuju kamar mereka masing-masing yang berada di lantai dua.


"Ayo grandpa," ujar Henrietta mengajak kakeknya masuk kedalam.


"Grandpa mau ku buatkan teh?" tawar Henrietta.


"Tidak, pelayan baru saja membuatkan teh untuk kakek. Duduklah, sudah lama kita tidak mengobrol," tutur sang kakek.


Henrietta pun akhirnya duduk di samping sang kakek.


"Kau baru pulang dari perusahaan," tanya Jared pada cucunya.


"Pria itu akan kemari," tutur Jared tiba-tiba tanpa melihat wajah cucunya dan langsung meminum tehnya.


Henrietta terdiam, dia tahu siapa pria yang di maksud oleh kakeknya. Tidak perlu di jelaskan pun kakek dan keluarganya sudah tahu masalah yang dia alami enam tahun lalu.


"Kenapa?" tanya Henrietta.


"Ayahnya mengajukan kerjasama pada perusahaan keluarga kita, dan dia mengutus anaknya untuk datang kesini. Mungkin juga dia sudah tahu jika kau ada di Spanyol," jelas sang kakek dengan ekspresi yang biasa-biasa saja.


"Temui-lah dia, jika kau ingin menemuinya. Bagaimana pun juga dia adalah ayah dari kedua anakmu," lanjutnya.


Henrietta tidak mengatakan apapun, dia hanya terdiam dengan pandangan yang lurus kedepan.


"Kalian menikah juga bukan karna kesalahannya, itu semua sudah takdir yang digariskan Tuhan untuk kalian. Mungkin dengan cara seperti itulah Tuhan mempertemukan kalian berdua," ujar kakek Jared dengan kata-kata bijaknya.


Dia sama sekali tidak menghakimi Henry, karna memang dia sudah tahu duduk permasalahannya dan itu semua di akibatkan oleh ulah seseorang yang sangat dia benci, seseorang yang sudah menyakiti putri kesayangannya.


Sementara itu di belakang mereka, tanpa mereka ketahui. Kedua anak Henrietta mendengar perkataan kakek buyutnya.


"Kau dengar itu Asher? Kakek buyut bilang daddy akan ke Spanyol," bisik Maisie.


"Mm aku tahu," jawab Asher.

__ADS_1


"Itu tandanya kita akan segera bertemu daddy," bisik Maisie dengan binar bahagia di kedua matanya.


Asher melihat adiknya yang sangat bahagia saat mendengar bahwa ayah mereka akan datang ke Spanyol.


Sementara itu Maisie melihat wajah Asher yang biasa saja, berbeda dengan dirinya yang sangat bahagia.


"Ash! Kau tidak senang kita akan bertemu dengan daddy?" tanya Maisie.


"Tidak!"


"Kenapa?" tanya Maisie dengan raut wajah yang sudah berubah.


Asher melihat kearah saudarinya. "Mommy saja tidak senang saat mendengar daddy akan ke Spanyol," tutur Asher.


"Tapi, aku ingin bertemu dengan daddy," ujar Maisie yang matanya hampir berkaca-kaca.


"Aku ingin pergi sekolah di antar daddy, aku ingin pergi berkemah dengan daddy," tutur Maisie.


"Apa kau tidak ingin seperti itu Ash?" tanyanya.


Asher menghembuskan napasnya dengan kasar dan mengusap air mata saudarinya yang sudah menetes.


"Baiklah, setelah ini kita akan bertanya pada kakek buyut tentang daddy," ujar Asher.


Pria kecil itu sangat tidak ingin melihat kembarannya menangis, dia akan melakukan apapun yang dapat membuat Maisie bahagia.


"Benarkah?" tanya Maisie yang menatap Asher dengan mata bulatnya.


Asher menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearah saudarinya.


"Terima kasih kak, kau memang kakak yang baik," Maisie memeluk Asher saking senangnya.


"Kenapa kalian duduk disini?" tanya Imelda yang tiba-tiba sudah ada di hadapan dua bocah itu.


Kedua anak itu saling melihat satu sama lain sebelum akhirnya Maisie membuka suaranya.


"Kaki Rae sakit karna tersandung di depan tadi," pungkas Maisie dengan suara khas anak kecilnya.


"Oh benarkah? Kalau begitu, sini biar grandma gendong," ujar Imelda.


"Tidak perlu grandma, Maisie bisa berjalan sendiri. Grandma akan sakit jika menggendongnya," timpal Asher.


"Ash! Jadi menurutmu Rae gendut dan akan membuat grandma kesakitan begitu?" kesal Maisie sambil berkacak pinggang dan menatap kakaknya tajam.


Imelda terkekeh melihat wajah marah Maisie yang terkesan lucu.


"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang grandma akan kesakitan jika menggendong-mu, aku tidak bilang kau gendut," kilah Asher dan berlalu dari sana untuk menghampiri ibu dan juga kakek buyutnya.


Sambil menghentak-hentakan kakinya Maisie menyusul kakaknya. Sementara itu, di belakang mereka Imelda tidak henti-hentinya tertawa melihat tingkah lucu dua bocah tersebut.

__ADS_1


"Ohh ... Aku jadi ingin menambah cucu lagi," gumam Imelda yang gemas sendiri.


"Aku harus segera menyuruh Aiden menikah," lanjutnya dan menyusul si kembar.


__ADS_2