
Setelah menyelesaikan sesi makan pagi yang sedikit terlambat, Henrietta mulai membereskannya.
"Biarkan saja disana. Sebentar lagi pelayan akan datang," ujar Henry.
"Baiklah," sahut Henrietta.
Tetapi tangannya tetap membereskan itu dan membuang kotak makan itu ke tempat sampah.
"Honey!" tegur Henry.
"Aku mempermudah pekerjaan pelayanmu, aku tak suka melihat sampah di depan mataku," jawab Henrietta
"Aku akan menelpon kak Aiden dulu, dan menanyakan kapan mereka akan pulang," kata Henrietta.
"Keraskan suaranya, aku ingin mendengarnya," titah Henry.
Henrietta mengambil ponselnya yang berada di atas meja makan, dan mulai menelpon kakak sepupunya itu.
"Halo kak ..." ujar Henrietta setelah panggilan di angkat di dering ketiga.
"Iya ada apa?" tanya Aiden dengan nada malas dari sebrang telepon.
"Kenapa dengan nada suaramu itu?" tanya Henrietta.
"Lain kali, suruh saja suamimu itu untuk menemani si kembar di acara seperti ini," ujar Aiden yang malah mengeluh.
Henrietta tampak tertawa mendengar keluhan dari kakak sepupunya itu.
"Kau harus belajar dari sekarang kak. Kau akan merasakannya nanti jika sudah punya anak," ucap Henrietta.
"Kau sedang bersamanya sekarang?" tanya Aiden yang mendengar suara tawa seorang pria.
"Iya, kami akan menjemputmu dan anak-anak di sekolah mereka," jawab Henrietta.
"Kami akan tiba siang nanti," ujar Aiden.
"Ah satu lagi ... Bawalah dua mobil, anak-anakmu menyuruhku untuk mengantar guru mereka pulang," ujar Aiden.
"Baiklah," sahut Henrietta.
Panggilan itupun terputus karna Aiden mengakhirinya.
"Kenapa kau terlihat sangat senang?" tanya Henry.
"Aku hanya ingin melihat wajah memelasnya saja, dia selalu menyebalkan jika di rumah," jawab Henrietta.
"Dan dia selalu kalah dari anak-anak," lanjutnya.
"Benarkah?" tanya Henry yang mulai tertarik.
"Mm ... Mereka selalu mengancam kak Aiden dan membuatnya tak bisa berkutik dan menuruti mereka," cerita Henrietta sambil tertawa.
"Mereka juga sedang mendekatkan kak Aiden dengan guru mereka. Mereka bilang, mereka tidak mau kehilangan calon bibi seperti miss Bella," lanjutnya.
Dan itu membuat Henry tertawa seketika.
"Aku jadi ingin bertemu dengan mereka," ucap Henry.
"Maaf, karna sudah menyembunyikan mereka darimu," ujar Henrietta lirih.
Henry mendekat pada Henrietta dan mengelus pipinya.
"Aku memahaminya dan ini bukan kesalahanmu. Ini semua salahku yang membuatmu pergi dariku, maafkan aku," pungkas Henry.
"Nada bicaramu berubah sekarang. Dulu kau selalu berbicara dengan dingin padaku," ujar Henrietta.
"Berhentilah membahas masa lalu, honey," sahut Henry.
"Masih ada waktu untuk menjemput anak-anak, apa yang akan kita lakukan?" tanya Henry.
"Aku tidak tahu," jawab Henrietta mengedikan bahunya.
__ADS_1
Lalu Henrietta mendudukan dirinya di sofa dan menyalakan televisi, Henry pun mengikutinya dan mendudukan dirinya di samping Henrietta.
"Ceritakan tentang dirimu selama disini," ucap Henry.
"Tidak ada yang special, hanya seorang ibu yang merawat dua anak," jawab Henrietta.
"Kau bekerja?" tanya Henry.
Henrietta menganggukkan kepalanya.
"Dimana?" tanya Henry.
"Di perusahaan kak Aiden, hanya sebagai sekretaris sementaranya sampai dia menemukan yang baru," jawab Henrietta.
"Sudah berapa lama kau bekerja dengannya?" tanya-nya lagi.
"Delapan bulan," jawab Henrietta.
"Setelah ini kau tidak usaha bekerja lagi. Karna aku akan membawamu dan anak-anak ke New York," ucap Henry.
"Aku bahkan belum menyetujuinya," sahut Henrietta.
"Aku tetap akan membawa kalian, mau kau setuju ataupun tidak," ucap Henry.
"Pemaksa," cibir Henrietta.
"Selama kau disini, apa ada pria yang mendekatimu?" tanya Henry yang penasaran tentang masalah itu.
"Banyak," jawab Henrietta dengan wajah santainya.
"Bahkan teman bibiku ada yang berniat menjodohkan putranya denganku," lanjutnya.
"Aku semakin yakin untuk membawa kalian ke New York," sahut Henry dengan kesal.
"Kau harus bertanya pada anak-anak apa mereka mau pergi denganmu," ujar Henrietta.
"Mereka pasti mau ikut denganku," jawabnya.
"Apa kau tidak ingin melakukan tes DNA pada mereka? Siapa tahu aku menipumu," ujar Henry.
"Aku percaya padamu dan kau tak mungkin menipuku dengan memakai anak-anak, kau bukan orang yang seperti itu," lanjutnya sambil menangkup pipi Henrietta.
Henry mengecup bibir Henrietta beberapa kali dan menyatukan keningnya dengan Henrietta.
"I love you," ucap Henry.
"Jangan pernah lagi pergi dariku," ujar Henry.
"Aku tetap akan pergi darimu jika kau kembali menyakitiku," ujar Henrietta.
Henry menyunggingkan bibirnya dan mengecup Henrietta sekali lagi.
"Aku janji tidak akan pernah menyakitimu lagi," sahut Henry.
"Maka buktikanlah," ujar Henrietta.
Henry tersenyum dan mengecup bibir itu sekali lagi.
"Aku jadi ingin memakan mu lagi," ucap Henry.
"Kau semakin mesum," ujar Henrietta.
"Benarkah? Tapi aku tidak merasa begitu, kau membuatku berpuasa hingga enam tahun," ucap Henry.
"Kau benar-benar tidak melakukan itu setelah aku pergi?" tanya Henrietta.
"Tentu saja tidak," sahut Henry.
Cukup lama mereka mengobrol dengan kata-kata Henry yang random dan selalu di luar nalar Henrietta.
Henrietta melihat banyak perubahan pada diri Henry setelah enam tahun mereka tidak bertemu.
__ADS_1
Ponsel Henrietta berbunyi dan itu adalah panggilan dari kakak sepupunya yang mengabari jika mereka hampir sampai di sekolah si kembar.
"Mereka hampir sampai," ujar Henrietta setelah mematikan panggilannya.
"Kalau begitu ayo ..." sahut Henry.
"Kita membawa mobil masing-masing saja. Karna nanti mobilku akan di bawa oleh kak Aiden," ucap Henrietta.
"Baiklah, aku akan mengikuti mu dari belakang," ujar Henry.
Dan akhirnya mereka berdua pun keluar dari apartement milik Henry.
Mereka berjalan berdampingan dengan Henry yang terus menggenggam tangan Henrietta menuju basement.
Setelah sampai di basement Henrietta dan Henry masuk kedalam mobil mereka masing-masing.
Henry mengikuti mobil Henrietta dari belakang menuju sekolah kedua anaknya.
Hingga akhirnya mereka sampai di halaman sekolah.
Henrietta keluar dari mobilnya dan berjalan kearah mobil milik Henry yang berada di sampingnya.
Tok ...
Tok ...
Henrietta mengetuk kaca mobil Henry dan Henry pun menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa?" tanya Henry.
"Kau jangan dulu keluar, aku akan membuat kejutan untuk anak-anak," ucap Henrietta.
"Baiklah, aku akan menunggu disini dan melihat kalian dari sini," pungkas Henry.
Dan tidak lama kemudian bus yang membawa kedua anak Henrietta pun datang.
Henry kembali menaikan kaca mobilnya sedangkan Henrietta mendekat kearah bus yang sudah terparkir itu.
"MOM ..." teriak Maisie yang keluar dari bus dan menghampiri sang ibu di ikuti oleh Asher dan juga Aiden.
Dari dalam mobil, Henry melihat anak laki-laki yang juga menghampiri Henrietta.
"Anak itu sangat mirip denganku," gumam Henry menyunggingkan bibirnya.
"Kalian terlihat sangat bahagia," ujar Henrietta melihat kedua anaknya.
"Tentu saja, disana sangat seru mom. Iya kan uncle?" sahut Maisie.
"Mm ..." gumam Aiden.
"Kau terlihat sangat menderita kak?" ejek Henrietta yang menahan tawanya.
"Setelah sampai dirumah aku ingin tidur," timpal Aiden.
"Apa pria itu tidak ikut?" tanya Aiden.
"Mom, apa mommy kesini sendiri? Apa daddy tidak ikut?" tanya Maisie.
"Iya, apa daddy tidak ikut mom?" tanya Asher.
"Kalian akan tahu nanti," timpal Henrietta.
"Kak bawalah mobilku, bukankah kau akan mengantar mis Bella?" ujar Henrietta dan menyerahkan kunci mobilnya.
"Lalu kau?" tanya Aiden.
"Aku membawa mobil lain," jawab Henrietta dengan arah pandang matanya.
Aiden mengikuti arah pandang Henrietta dan mengerti jika adiknya pergi bersama Henry.
"Baiklah," sahut Aiden.
__ADS_1
"Semoga beruntung," ujar Henrietta.
Aiden tidak menanggapi perkataan adiknya dan berjalan menghampiri miss Bella yang sedang berbicara dengan salah satu orang tua murid.