PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #20


__ADS_3

Setelah membantu membawakan barang-barang belanjaan milik nenek Mey Henrietta pun kembali kerumahnya.


Dia membuka pintu rumahnya dan melihat Henry yang sedang duduk sofa ruang tamu dan ternyata pria itu sudah rapi dengan pakaian yang sudah melekat di tubuh atletisnya.


"Kau mau kubuatkan kopi?" tanya Henrietta.


"Hmmm ..."


"Kau habis berbelanja?" tanya Henry.


"Iya, aku belum sempat mengisi persediaan makanan, dan sudah terlalu lama meninggalkan rumah," jawab Henrietta.


Henrietta membawa kantung belanjaannya ke dapur dan menaruhnya di atas meja.


Dia mengeluarkan semua bahan makanan, minuman dan beberapa bumbu dapur.


Henrietta memasukan beberapa makanan dan minuman itu kedalam lemari pendingin dan menata beberapa bumbu dapur.


Henrietta memanaskan air untuk membuatkan kopi bagi Henry.


Sambil menunggu air mendidih Henrietta menata makanan yang sudah dia beli tadi di atas piring.


"Ini kopimu," ujar Henrietta setelah kopi buatannya jadi.


"Aku hanya bisa membeli sandwich ini untuk sarapan, karna aku tak sempat untuk memasak," ucap Henrietta.


"Ya tidak apa," pungkas Henry.


"Kapan kau akan melihat restoranmu?" tanya Henry.


"Mungkin nanti siang atau besok, aku harus membersihkan rumahku dulu," jawabnya.


"Nikmatilah sarapanmu, aku akan membersihkan kamar," ujar Henrietta.


"Kau tidak sarapan?" tanya Henry.


"Tidak, nanti saja," jawab Henrietta.


"Sarapanlah dulu, kau akan sakit nanti, aku tak mau mommy menerorku karna mendengar kau sakit," kata Henry dengan wajah datar dan langsung menyeruput kopinya.


Henrietta tampak tersenyum kecil. "Baiklah,"


Henrietta berjalan kearah dapur, dia membuka lemari pendingin dan menuangkan susu kedalam gelas.


Henrietta membawa susu itu dan mendudukkannya di sofa yang berhadapan dengan Henry.


Dia mengambil satu potong sandwich yang ada di piring yang sama dengan Henry.


"Kapan kau akan melihat pembangunan hotelmu?" tanya Henrietta.


"Mungkin sebentar lagi," jawab Henry setelah mengunyah makanannya.


"Kau sering melihat Julia?"


Henrietta mencoba bertanya pada Henry tentang Julia.


"Aku jarang melihatnya, karna terlalu sibuk," jawab Henry datar.

__ADS_1


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Henrietta meminta izin terlebih dahulu sebelum menanyakan sesuatu pada Henry.


"Apa?"


"Kau mencintai Julia?" Henrietta cukup gugup untuk bertanya masalah itu, dia takut jika Henry nantinya akan marah atau tak suka karna dirinya seperti ikut campur dalam hubungan mereka.


"Mungkin," jawab Henry random.


'Jawaban macam apa itu,' batin Henrietta tak habis pikir dengan jawaban Henry.


"Ada yang ingin kau tanyakan lagi?" ujar Henry.


"Tidak ada,"


"Aku sudah selesai sarapan, aku akan membersihkan rumah dulu," Henrietta bangkit dari duduknya dan membawa gelas bekas susu yang di minumnya dan menaruhnya di atas wastafel.


Henrietta berjalan kearah kamarnya.


Dia melihat kamar itu sudah terlihat bersih dan rapi, Henrietta diam-diam menyunggingkan senyumnya karna sepertinya Henry yang merapikan bekas ranjang yang di tiduri oleh mereka.


Henrietta berjalan kearah kamar mandi dan mengambil baju kotor milik Henry, dia membawa baju itu keluar dari kamar dan memasukannya ke mesin cuci yang letaknya dekat dengan dapur.


Rumah yang selama ini di tempati oleh Henrietta adalah rumah minimalis satu lantai, jadi dia tak terlalu repot untuk membersihkan rumah sederhana-nya.


Henrietta berjalan kearah dapur dan membersihkan area dapur yang lumayan berdebu.


Henry masuk kedalam dapur untuk menaruh gelas dan piring kotornya, di ambang sekat yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu, Henry dapat melihat dengan jelas tubuh Henrietta yang hanya mengenakan kaos kebesaran di tambah celana jeansnya yang tertutupi oleh kaos, membuat paha putih mulusnya terlihat dengan jelas di mata Henry.


Selama Henrietta tinggal di mansion nya dia selalu memakai dress ataupun pakaian yang menutupi tubuhnya.


Henry adalah pria normal, tapi dia selalu menjaga pandangannya dan tak terlalu tertarik dengan wanita yang berpakaian sexy.


Henry melihat tubuh Henrietta dari atas hingga bawah, sementara itu yang sedang di tatap masih tetap fokus dengan pekerjaannya dan tak menyadari jika ada Henry di belakangnya.


Henrietta berbalik dan terkejut melihat Henry di belakangnya.


"Ohh ... Kau membuatku terkejut," Henrietta mengelus dadanya karna rasa terkejutnya.


Henry kembali ke alam sadarnya setelah mendengar suara yang cukup keras dari Henrietta.


"Ada apa?" tanya Henrietta.


"Aku hanya ingin menaruh ini," ujar Henry sambil memperlihatkan bekas gelas dan piring.


"Taruh saja disana, kenapa berdiri di belakangku," sahut Henrietta.


Henry menaruh gelas dan piring itu di atas meja dan berjalan menghampiri Henrietta.


"Apa kau selalu seperti ini jika berada di rumahmu?" tanya Henry memperlihatkan wajah datarnya.


"Seperti apa? Aku tak mengerti," bingung Henrietta.


Pandangan Henry turun ke bawah memperhatikan Henrietta, yang otomatis diikuti oleh Henrietta sendiri.


"Kau sedang tidak menggodaku kan?" ujar Henry.


Henrietta yang mengerti pun mulai mengelak. "Ten--tentu saja tidak, aku memang seperti ini jika di rumah,"

__ADS_1


"Kenapa di rumahku tidak?" ujar Henry.


"Kau gila ya? tentu saja aku tak berani jika di rumahmu," ucap Henrietta.


"Dan lagi pula aku memakai celana, apanya yang aneh," tanpa sadar Henrietta malah mengangkat ujung kaos nya dan memperlihatkan celana jeans pendeknya.


"Jangan memperlihatkan hal seperti ini di hadapan orang lain," ujar Henry penuh penekanan.


"Pakailah baju yang menutupi tuhuhmu jika di keluar," ujar Henry yang baru sadar jika Henrietta pergi keluar hanya dengan kaos kebesaran.


"Sekalipun itu di daerah tempat tinggalmu sendiri," lanjutnya.


"Aku akan melihat pembangunan hotel," ujar Henry.


Dengan tiba-tiba sebelum pergi Henry malah mengecup bibir ranum milik Henrietta dan membuat sang pemilik membeku di tempatnya dengan serangan tiba-tiba dari Henry.


Henry tersenyum miring melihat keterdiaman Henrietta dan meninggalkan Henrietta yang masih mematung di tempatnya.


Henry keluar dari rumah dan ternyata orang yang semalam menjemputnya datang lagi untuk mengantar Henry.


Setelah Henry pergi, Henrietta langsung menyentuh bibirnya.


"Ciuman pertamaku," gumam Henrietta.


"Apa yang baru saja di lakukan oleh pria itu?" gumam Henrietta yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja Henry lakukan.


Tiba-tiba ponsel milik Henrietta berbunyi dan itu adalah panggilan dari orang kepercayaannya di restoran.


"Hallo Milly, ada apa?" tanya Henrietta yang sudah mengangkat panggilannya.


"Saya hanya ingin melaporkan keadaan restoran," jawab wanita yang bernama Milly di sebrang telpon.


"Kalau begitu nanti saja, aku akan ke restoran nanti siang, setelah pekerjaan rumahku selesai," tungkas Henrietta.


"Anda sudah berada di Swiss? kapan? kenapa anda tidak bilang, kalau begitu nanti saya yang menjemput anda di bandara," ucap Milly.


"Semalam, aku datang bersama temanku," balas Henrietta.


"Aku akan ke restoran nanti siang," lanjutnya.


"Baiklah nona, apa perlu saya jemput?" tawar Milly.


"Tidak perlu," seru Henrietta.


Setelah mengatakan itu Henrietta mengakhiri panggilannya dengan Milly.


Henrietta kembali disibukan dengan acara bersih-bersih rumahnya sebelum nanti siang dia pergi untuk mengecek keadaan restoran.


*


*


*


Hay semuanya aku punya novel bagus karya dari temanku...


Jangan lupa mampir ke novelnya ya ...

__ADS_1



__ADS_2