PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #35


__ADS_3

"Aku mungkin akan pulang sedikit terlambat hari ini," ujar Henry.


"Kau tidak ingin sarapan dulu," ujar Henrietta.


"Aku akan sarapan di kantor saja, aku akan ada meeting penting hari ini," balas Henry sambil mengecup bibir istrinya.


"Kalau begitu jangan lupa makan," ucap Henrietta.


Henrietta masih dengan posisinya yang memeluk erat tubuh kekar Henry.


"Kau tidak ingin melepaskan aku?" ujar Henry.


"Sebentar saja seperti ini," pungkas Henrietta.


"Dari semalam kau selalu memelukku dan tidak melepaskanku," Henry terkekeh melihat tingkah lucu istrinya.


"Apa kau harus pergi ke perusahaan?" lirih Henrietta.


"Tentu saja, aku ada meeting penting, jika saja aku tidak ada meeting aku juga tidak akan pergi," ujar Henry sambil mencubit hidung mungil Henrietta.


Dengan sangat terpaksa Henrietta melepaskan pelukannya dari tubuh Henry, sekali lagi Henry mengecup bibir istrinya.


"Hati-hati," kata Henrietta.


Henry keluar dari kamar dan meninggalkan mansionnya menuju perusahaan.


Henrietta berjalan kearah nakas, dia melihat kalender yang berada di atas nakas dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di jelaskan.


"Haruskah aku mencobanya," gumam Henrietta.


Henrietta mengambil sesuatu yang ada di laci samping tempat tidurnya, dia membawa benda itu dan masuk kedalam kamar mandi.


Setelah beberapa saat menunggu, dengan jantung yang semakin berdegup Henrietta melihat benda itu dengan kedua bola matanya.


Matanya mulai berkaca-kaca melihat hasil yang di tunjukan oleh benda kecil itu, tangannya terulur menyentuh perut ratanya.


"Welcome dear," ujar Henrietta dengan suara bergetar dan tangis yang tidak bisa di bendung lagi.


"Mommy akan menjagamu, sayang ..." ucap Henrietta.


Henrietta memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap akan pergi kerumah sakit, guna memeriksakan kandungannya.


Henrietta juga menghubungi Lucy dan mengajaknya untuk bertemu setelah dari rumah sakit.


Henrietta memakai pakaian tebalnya sebelum keluar dari kamarnya.


"Kita akan kemana nyonya?" tanya sang sopir yang akan mengantarkan Henrietta kemanapun.


"Kita kerumah sakit," jawab Henrietta.


"Baik nyonya,"


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang karna jalanan yang lumayan licin.


Tidak sampai 20 menit mobil yang membawa Henrietta pun sampai di sebuah rumah sakit besar di kota New York.


"Kau bisa kembali, aku akan pulang naik taksi," ujar Henrietta.

__ADS_1


"Tapi nyonya tuan akan marah jika tahu," ucap sopir itu dengan ragu-ragu.


"Aku akan menelpon Henry dan memberitahunya," jelas Henrietta.


Setelah mendengar nama Henry sopir itu pun memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Henrietta di rumah sakit.


Henrietta sudah membuat janji terlebih dahulu dengan dokter kandungan yang di rekomendasikan oleh Lucy.


Dia masuk kedalam ruangan dokter itu dan duduk di depan sang dokter.


"Selamat pagi nyonya Rietta," sapa dokter tersebut.


"Selamat pagi juga dokter," sapa balik Henrietta sambil menyunggingkan senyum ramahnya.


"Apa anda datang sendiri?" tanya dokter tersebut.


"Iya ... Suami saya sedang ada meeting jadi tidak bisa menemani saya," jelas Henrietta.


Setelah selesai memeriksakan kandungannya Henrietta mulai mengirim pesan pada Lucy.


Dia memberhentikan taksi yang lewat di depannya.


Henrietta menyebutkan nama restoran yang akan dia datangi.


Sepanjang perjalanan mata Henrietta selalu tertuju pada selembar foto yang dia cetak saat memeriksakan kandungannya, dia terlihat tersenyum senang dan sesekali akan mengusap perutnya yang masih rata.


"Kita sudah sampai nona," kata sopir taksi tersebut.


Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih Henrietta keluar dari dalam taksi dan berjalan masuk kedalam restoran tersebut.


Henrietta memilih tempat duduk di dekat jendela agar sahabatnya itu dengan mudah melihatnya.


Tidak lama kemudian Henrietta dapat melihat kedatangan Lucy berama Matthew, suaminya.


"Maaf, kami terlalu lama," sesal Lucy yang sudah ada si hadapan Henrietta.


"Tidak apa-apa duduklah," ujar Henrietta.


"Ada apa?" tanya Matthew.


Henrietta mengeluarkan selembar foto dari dalam tas kecilnya dan menunjukkannya pada Lucy dan Matthew.


Seketika Lucy menutup mulutnya dengan tangan saking terkejutnya, sementara Matthew melihat bingung kearah Henrietta.


"Apa ini?" tanya Matthew.


"Jadi itu benar? oh God, selamat Rietta kau akan segera jadi seorang ibu, aku ikut senang," ucap Lucy dan seketika Matthew membuat mengerti.


"Kau hamil?" tanya Matthew dan mendapat anggukan dari Henrietta.


Langsung saja Lucy memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Aku turut bahagia untukmu Rietta," ucap Lucy.


Lucy melepaskan pelukannya dan seketika menatap suaminya.


"Ada apa?" ujar Matthew.

__ADS_1


"Perutku sakit, aku akan ke toilet sebentar," cengir Lucy dan pamit pada mereka berdua.


Setelah kepergian Lucy, kini Matthew menatap serius pada Henrietta.


"Lalu bagaimana dengan suamimu? Apa dia sudah tahu," kata Matthew.


Seketika Henrietta menggelengkan kepalanya dan menatap Matthew. "Aku baru mengetahuinya hari ini,"


"Kau sengaja kan? kau sengaja agar hamil anak Henry," tebak Matthew.


Henrietta menundukkan kepalanya dan tidak berani melihat kearah Matthew.


"Aku hanya ingin memiliki separuh dari dirinya, jika pun nanti aku tidak bisa bersamanya, setidaknya ada bagian dari dirinya yang ikut bersamaku," lirih Henrietta.


"Kau mencintainya?" tanya Matthew.


Matthew memegang tangan Henrietta guna memberikan wanita itu sebuah kekuatan.


Tapi, di tempat lain ada yang memotret mereka dan mengirimkannya pada orang menyuruhnya.


"Iya, aku sangat mencintainya ... Tapi, aku tidak pernah berani untuk mengatakannya, bayang-bayang akan kesadaran Julia selalu saja menghantuiku," isak Henrietta.


Bahunya mulai bergetar karna menahan tangis yang sudah tidak bisa dia bendung lagi.


Matthew memutuskan untuk berpindah tempat duduk ke samping Henrietta, dia membawa tubuh Henrietta kedalam pelukannya dan mengusap-usap punggungnya.


"Kau sudah melangkah sampai sejauh ini, ini resiko yang harus kau ambil jika menikahi pria yang masih berstatus tunangan orang lain, sekarang bukannya hanya dirimu saja yang harus kau pikirkan, tapi anakmu juga," ujar Matthew.


"Mereka mungkin sudah tahu tentang masalah ini, pulanglah jika kau sudah tidak sanggup lagi menahannya," pungkas Matthew.


**


**


Sementara itu di dalam ruang kerjanya Henry terlihat mengepalkan tangannya saat ada seseorang yang mengirimkan foto Henrietta sedang berpegangan tangan dan berpelukan dengan pria lain, pria yang sangat Henry kenal.


"Berani-beraninya kau RIETTAA ..." murka Henry.


Dia berjalan keluar meninggalkan ruang kerjanya berniat untuk kembali ke mansionnya.


Dengan perasaan yang di kuasai oleh amarah dan kecemburuan, Henry mengendarai sendiri mobilnya.


Sementara itu Henrietta baru saja selesai bertemu dengan sahabatnya, dia memutuskan untuk pulang karna cuaca semakin dingin.


Henrietta memberhentikan taksi dan mengatakan alamat mansion Henry.


Entah kenapa di sepanjang jalan jantung Henrietta berdetak tidak karuan, dia merasakan seperti akan terjadi sesuatu yang menyakitkan untuknya.


Taksi yang di tumpangi oleh Henrietta mulai memasuki halaman mansion Henry.


Setelah membayar Henrietta bergegas masuk kedalam mansion, saat di depan tadi dia melihat mobil Henry sudah sampai.


"Apa tuan sudah kembali?" tanya Henrietta pada salah satu pelayan.


"Iya nyonya," jawab pelayan tersebut.


Henrietta menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamarnya, dia dapat melihat Henry yang sedang berdiri di pembatas balkon.

__ADS_1


"Kau sudah pulang?" tanya Henrietta.


"Dari mana saja kau?" tanya balik Henry dengan suara datar dan tanpa menoleh pada Henrietta.


__ADS_2