PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #19


__ADS_3

Henry dan Henrietta akhirnya sampai juga di Bandara Internasioanl Zurich setelah menempuh penerbangan lebih dari tujuh jam.


Henrietta keluar dari pesawat dan ternyata sudah malam, mengingat waktu di Swiss lebih cepat enam jam di banding New York.


"Siapa dia?" tanya Henrietta pada Henry yang ada di belakangnya.


"Salah satu pekerja ku," jawab Henry.


"Masuklah ke mobil kita akan langsung pulang kerumahmu," ujar Henry dan diangguki oleh Henrietta.


Henrietta berjalan menuruni anak tangga pesawat dan menuju ke mobil yang sudah di siapkan oleh salah satu pekerja Henry.


Henrietta masuk kedalam mobil dan begitupun dengan Henry yang mendudukkan dirinya di samping Henrietta.


"Berapa jam dari bandara kerumahmu?" tanya Henry.


"Sekitar satu jam," balas Henrietta.


Henrietta menyebutkan alamat rumahnya pada pekerja Henry yang hari ini beralih menjadi supir.


Selama di perjalanan tak ada pembicaraan di antara mereka berdua, Henry sibuk dengan laptop-nya sedangkan Henrietta sibuk melihat jalanan kota di malam hari.


Hingga tak terasa Henrietta tertidur selama di perjalanan, kepalanya bersandar di jendela mobil dan melipatkan kedua tangannya di depan dada.


Hingga akhirnya mobil yang membawa mereka sampai di depan pekarangan rumah milik Henrietta.


"Tuan kita sudah sampai," ujar pria yang sedari tadi mengemudikan mobil.


Henry melihat kearah Henrietta yang sedang tertidur pulas dan tidak merasa terganggu sedikitpun.


Henry mengambil tas Henrietta dan mencari-cari sesuatu dan setelah mendapatkan-nya dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Pasalnya Henrietta membawa kunci rumahnya sampai ke New York, padahal bisa saja dia menitipkan kuncinya pada tetangganya.


"Turunlah dan buka pintu rumahnya," suruh Henry sambil memberikan kunci rumah milik Henrietta.


"Baik tuan," pria itu pun turun dari dalam mobil dan berjalan kearah rumah Henrietta.


Sementara Henry membenarkan letak kepala Henrietta karna dia akan membuka pintu mobil yang ada di samping Henrietta.


Henry keluar dari mobil dan berjalan mengitarinya, setelah sampai di pintu mobil Henrietta dia membuka nya.


Henry memasukan setengah tubuhnya dan akan mengendong Henrietta.


Henry menutup pintu kembali pintu mobilnya menggunakan kaki kanan-nya.


Dia berjalan kearah rumah Henrietta yang pintunya sudah dibuka sambil menggendong Henrietta.


"Tolong keluarkan koper yang ada di bagasi mobil dan bawa masuk kedalam, taruh saja di ruang tamu, jangan lupa tutup lagi pintunya jika kau akan pergi," kata Henry.


"Baik tuan," ujar pria itu dengan patuh dan segera melakukan tugasnya.

__ADS_1


Henry membawa masuk Henrietta, di dalam ada dua pintu yang sepertinya adalah kamar, Henry memilih asal salah satu kamar dan membawa Henrietta kedalam.


Henry membaringkan Henrietta di atas ranjang.


Dia berjalan sekitar kamar guna mencari tombol lampu, setelah ketemu seketika ruangan menjadi terang.


Henry mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, kamar dengan cat berwarna pink dan juga lemari besar berwarna putih, banyak foto Henrietta di kamar itu, tapi tak ada satupun foto Henrietta bersama ibunya.


Henry berjalan kearah Henrietta dan membenarkan letak tidurnya, dia juga melepaskan heels yang di kenakan Henrietta dan menyelimutinya.


"Menyusahkan," gumam Henry.


Henry berjalan kearah kamar mandi guna membersihkan wajah, kaki dan tangannya.


Setelah mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil yang ada di sana Henry langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya yang bertugas mengawasi pembangunan hotelnya.


"Hallo tuan," sapa seorang pria di sebrang telpon.


"Besok pagi-pagi antarkan satu set pakaian untuk-ku, alamatnya akan ku kirimkan melalui pesan," ucap Henry.


"Baik tuan," sahut pria tersebut.


Henry pun langsung mematikan panggilannya dan mengirimkan alamat rumah Henrietta.


Henry membuka kaos hitamnya dan menaruhnya di keranjang cucian.


Dia keluar dari kamar mandi dengan tak memakai pakaian dan hanya mengenakan celananya, dada bidang, perut sixpack-nya tercetak dengan sempurna di tubuhnya.


Henry berjalan kearah ranjang dan mulai merebahkan tubuhnya, dia menarik Henrietta agar lebih dekat dengannya dan mulai mendekapnya.


Henry mulai memejamkan matanya dan segera menyusul Henrietta kealam mimpi.


*


*


Keesokan hari-nya Henrietta bangun terlebih dahulu dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan mulai mengucek matanya, dia melihat ke-sekeliling kamar.


"Ah ... Ternyata ini kamarku," gumam Henrietta dengan suara serak khas bangun tidur.


Dia mengalihkan pandangannya kesamping dan mendapati Henry yang sedang tidur sambil membelakanginya.


Henrietta menyibakkan selimut dan turun dari ranjang dengan perlahan karna tidak ingin membangunkan Henry.


Dia berjalan kearah meja rias dan mengambil ikat rambut, Henrietta mengikat rambut pendeknya dengan asal.


Dia berjalan kearah lemari dan mengambil pakaian dan membawanya kedalam kamar mandi dan akan memakainya disana.


15 menit berada di kamar mandi akhirnya Henrietta keluar dengan kaos besar berwarna putih yang menutupi celana jeans pendek-nya.


Henrietta keluar dari kamar dan berjalan kearah dapur, dia membuka lemari es dan tak menemukan apapun disana selain air putih dan susu.

__ADS_1


Henrietta melihat kemasan susu itu dan ternyata sudah expired, Henrietta membuang susu itu ketempat sampah.


Dia sudah terlalu lama meninggalkan rumah dan belum sempat mengisi dan mengganti beberapa makanan.


Henrietta memutuskan untuk pergi ke minimarket yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Dia masuk lagi kedalam kamar dan melihat Henry masih belum bangun, dia mengambil dompet yang ada di dalam tas.


Henrietta keluar dari kamar dan bertepatan dengan itu ada yang mengetuk pintu rumahnya.


Henrietta berjalan kearah pintu dan membukanya.


"Siapa?" tanya Henrietta pada seorang pria yang berdiri di depan pintu.


"Selamat pagi nona, saya hanya ingin memberikan pesanan tuan Henry," ujar pria tersebut sambil menyerahkan satu paper bag besar pada Henrietta.


"Kalau begitu saya permisi," ujar pria tersebut setelah Henrietta menerima barangnya.


"Iya ... Terima kasih," sahut Henrietta.


Henrietta kembali lagi masuk kedalam kamarnya dan menaruh paper bag besar itu di kursi yang ada di depan ranjang.


Henrietta keluar lagi dari kamar dan berjala kearah pintu, sebelum pergi dia sudah menaruh pesan untuk Henry di kertas kecil yang dia tempelkan di pintu kulkas.


Henrietta berjalan meninggalkan rumah setelah menutup pintu rumahnya.


Di pertengahan jalan dia sempat berpapasan dengan salah satu tetangganya.


"Rietta," terdengar suara wanita yang menyapa Henrietta.


"Nenek Mey?" Henrietta tersenyum saat melihat siapa yang menyapanya barusan.


"Kau mau kemana?" tanya nenek Mey.


"Aku mau ke minimarket yang ada di persimpangan jalan," balas Henrietta.


"Bagaimana kabar nenek?" tanya Henrietta karna sudah sebulan dia tak pulang.


"Aku baik, semalam aku melihatmu pulang kau bahkan di gendong oleh seorang pria, kupikir siapa yang datang ke rumahmu," tungkas nenek Mey.


"Siapa pria itu? Dia sangat tampan, apa dia kekasihmu?" tanya nenek Mey.


"Dia___"


Henrietta cukup ragu untuk mengakui Henry sebagai suaminya pada orang lain, walaupun dia mengenal nenek Mey, tapi bagi Henry nenek Mey adalah orang lain.


Nenek Mey yang melihat keraguan dia wajah Henrietta pun cukup mengerti akan situasi.


"Tak apa, nenek tak akan bertanya lagi, mungkin ada sesuatu yang tidak bisa kau katakan pada orang lain. Tapi ingat, nenek mengenalmu sudah cukup lama kau bisa mengatakannya jika kau sudah merasa siap," ujar nenek Mey.


"Nenek harap dia pria yang baik yang tak akan pernah menyakitimu," lanjutnya.

__ADS_1


Henrietta merasa tersentuh dengan kata-kata yang di ucapkan oleh nenek Mey.


Nenek Mey memang orang yang paling mengerti dirinya setelah sang ibu meninggal, nenek Mey bukan hanya sekedar tetangga bagi Henrietta, tapi dia sudah seperti nenek-nya sendiri.


__ADS_2