
"Kenapa akhir-akhir ini Henry jarang sekali melihat Julia?" tanya Dorothy pada suaminya.
"Bukankah dari dulu juga dia seperti itu? Mungkin dia terlalu sibuk," jawab Marco.
"Ya ... Tapi kan, Henry tunangan Julia harusnya dia lebih sering melihat kekasihnya, apa mungkin wanita itu yang melarang Henry untuk melihat kondisi Julia? Atau mungkin anak itu mulai berani menggoda Henry," pikiran-pikiran buruk mengenai Henrietta mulai bermunculan di benak Dorothy.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Henry pria yang sibuk, dia memiliki banyak pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan," ujar Marco.
"Kau harus lebih sering mengawasi anak itu agar tak berani menggoda Henry," ucap Dorothy.
"Aku sudah menyuruh bawahanku untuk mengawasinya, dan dia tak melakukan apapun yang mencurigakan," tungkas Marco.
"Orang suruhanmu hanya bisa mengawasinya dari luar, kenapa kau tidak menaruh mata-mata saja di rumah Henry untuk mengawasi setiap gerak-geriknya," kata Dorothy dan mulai membuat Marco geram.
"Kau ingin Henry mengetahuinya dan membunuhku? Jika aku menaruh mata-mata dirumahnya kita akan habis," kesal Marco.
"Kau tak perlu mencemaskan soal Rietta, biar aku sendiri yang mengurusnya, lama-lama aku pusing menghadapi kecurigaanmu itu," ucap Marco.
"Aku hanya berjaga-jaga saja, aku tak mau anak itu merebut Henry dari Julia,"
"Kau pikir, jika Henry tahu Julia tidak bisa memiliki anak dia akan mau bersama Julia? Dia butuh anak untuk mewarisi hartanya," balas Marco.
Seketika Dorothy terdiam, dia baru tersadar sesuatu tentang kenyataan yang baru saja di katakan oleh suaminya.
Mana mungkin pria tampan dan kaya seperti Henry akan bertahan dengan wanita yang tidak memberikannya anak, dia butuh wanita lain untuk mendapatkan anak.
"Lalu kita harus bagaimana? Aku ingin Julia tetap bersama Henry," ucap Dorothy mulai panik.
"Aku sudah punya rencana," tungkas Marco.
"Apa itu?" Dorothy penasaran dengan rencana suaminya dan semoga saja itu bisa menguntungkan Putrinya.
"Akan ku buat Rietta hamil anak Henry,"
Seperti tersambar petir, itulah yang dirasakan oleh Dorothy, dia menatap nyalang suaminya.
'Rencana gila macam apa itu,' pikir Dorothy.
__ADS_1
"Kau gila? Itu hanya akan menguntungkan Rietta," kesal Dorothy.
"Aku hanya akan membiarkan nya hamil dan melahirkan, setelah itu aku akan mengambil anaknya, setidaknya darahku mengalir didalam tubuh anak Rietta nanti, aku punya rencana sendiri untuk memisahkan mereka nantinya," ucap Marco.
"Lalu bagaimana dengan Julia?" tanya Dorothy.
"Mereka akan hidup bersama bersama anak Rietta, Henry juga tak akan semudah itu menyukai Rietta," ucap Marco menyepelekan semuanya.
"Jika anak itu membuat ulah, aku sendiri yang akan menyingkirkannya, akan kubuat jalan Julia semakin mulus dan tak ada hambatan apapun termasuk menyingkirkan anakmu itu," kata Dorothy menatap kesal suaminya.
Dorothy memang tipikal wanita yang keras kepala dan berambisi, dia akan melakukan segala macam cara untuk menyingkirkan penghalang di kehidupannya dan juga putrinya.
Dia bahkan tega menyalahkan mantan suaminya atas kesalahan yang dia perbuat sendiri dan membuat mantan suaminya berakhir di penjara dan mengajukan cerai dengan suaminya terdahulu agar bisa mendapatkan Marco kembali.
"Aku akan ke perusahaan, akan ada meeting hari ini," ucap Marco.
"Hati-hati ... Aku akan kerumah sakit untuk menemani Julia," kata Dorothy.
Sebelum pergi Marco menyempatkan diri untuk mencium bibir sang istri.
Setelah Marco pergi Dorothy terlihat mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Baik nyonya," ujar seseorang diseberang telpon.
Setelah mengatakan itu Dorothy mengakhiri panggilan telponnya dan pergi arah mobil yang akan mengantarnya menemui putri kesayangannya.
*
*
Sementara itu di tempat lain Henrietta sedang menemani ibu mertuanya berkeliling pusat perbelanjaan.
Rencana-nya mereka akan mengunjungi sebuah panti asuhan yang di kelola oleh keluarga ibu mertuanya.
"Mom!! Aku akan kesana dulu," tunjuk Henrietta pada sebuah toko buku yang masih berada di dalam pusat perbelanjaan itu.
"Aku akan membeli beberapa buku cerita untuk anak-anak," lanjutnya.
__ADS_1
"Baiklah sayang, setelah selesai temui mommy disini lagi," ujar Emma.
"Iya mom ..." sahut Henrietta.
Henrietta pergi menuju toko buku yang ditunjuknya tadi, dia memilih buku-buku cerita yang cocok untuk anak-anak panti.
Setelah mendapatkan lebih dari 20 buku Henrietta mulai membayarnya, dan setelah membayar dia kembali ke tempat ibu mertuanya yang masih memilih beberapa pakaian untuk anak-anak.
"Mom!" panggil Henrietta.
"Kau sudah kembali? Kemari, mommy mendapatkan kaus kaki bayi yang lucu," ucap Emma penuh semangat.
"Lihat? Ini sangat lucu, cocok untuk bayi perempuan, simpanlah," ujar Emma menyerahkan kaus kaki berwarna pink itu pada Henrietta.
"Tapi, mom ... Aku sedang tidak--" ucapan Henrietta terpotong oleh perkataan Emma.
"Mommy tahu, simpan saja untuk-mu, mungkin suatu hari nanti kau akan memiliki bayi perempuan yang cantik, mommy akan sangat senang jika mengetahuinya, mommy akan menunggu sampai saat itu tiba," ucap Emma sambil mengusap perut rata Henrietta.
Seketika Henrietta merasa memiliki beban yang sangat berat mendengar perkataan ibu mertuanya yang secara tak langsung menginginkan cucu darinya dan Henry.
Henrietta tak pernah bisa membayangkan itu semua, jika suatu hari nanti dia hamil dan Julia sadar, lalu bagaimana dengan anaknya kelak?
Henrietta hanya tersenyum masam guna membalas perkataan ibu mertuanya.
"Jangan terlalu di pikirkan, mommy akan dengan sabar menunggunya," ucap Emma, yang mengerti akan kekhawatiran menantunya.
Agar Henrietta tak terlalu memikirkan ucapannya, Emma memutuskan untuk mengajak Henrietta berbelanja beberapa makanan dan camilan yang akan mereka bawa ke panti.
Sebelum pergi ke panti Emma menyempatkan diri untuk mengajak Henrietta makan siang terlebih dahulu di restoran yang masih ada di dalam pusat perbelanjaan tersebut.
Sambil menyantap makan siangnya Henrietta beberapa kali bertanya pada ibu mertuanya tentang anak-anak panti tersebut, dan dengan suka rela dan semangatnya Emma menjawab setiap pertanyaan dari menantunya.
Setelah semuanya sudah terbeli mereka keluar dari pusat perbelanjaan dan berjalan kearah basement dimana mobil Henrietta berada.
Dari kejauhan terlihat dua orang di tempat yang berbeda sedang mengawasi gerak-gerik Henrietta, satu orang yang sedang bersembunyi di balik dinding yang tak jauh dari Henrietta berada mengeluarkan ponselnya dan memotret-nya beberapa kali, lalu mengirimkannya pada seseorang.
Sementara itu di dalam mobil hitam yang berhadapan dengan mobil milik Henrietta seorang pria sedang memperhatikan Henrietta sambil menelpon seseorang.
__ADS_1
Henrietta dan Emma sibuk memasukan belanjaan mereka yang banyak kedalam bagasi mobil, dengan di bantu oleh dua orang pengawal yang di perintahkan oleh Elijah untuk menemani menantu dan juga istrinya.
Setelah semuanya sudah masuk, pengawal itupun melajukan mobilnya ke tempat yang akan di tuju oleh Henrietta dan Emma.