PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #80


__ADS_3

BRAKK


Julia dan Dante di buat terkejut saat ada yang mendobrak pintu di saat mereka telah selesai mengikat Asher dan Maisie.


Kedua orang itu berbalik dan mendapati Henry yang sudah ada di ambang pintu dengan mata yang siap membunuh mereka.


Julia yang sudah berkeringat dingin mengepalkan tangannya sendiri saat melihat kemarahan dari raut wajah Henry.


"Tak ku sangka kau akan menemukan kami secepat ini," ujar Dante yang tidak memiliki rasa takut apapun saat melihat Henry.


Henry berdecak dan melangkahkan kakinya menghampiri kedua orang yang ada di hadapannya.


"Kalian sangat berani bermain main denganku dengan menculik anakku," cibir Henry.


Henry menatap tajam dan dingin pada Julia.


"Harusnya kau tidak melakukan ini Julia! Kau tahu kan bahwa aku tidak akan segan pada siapapun meski kau adalah adik dari istriku," kata Henry.


"Adik? AKU BUKAN ADIK HENRIETTA ..." teriak Julia di akhir kalimatnya saat Henry mengatakan jika dia adalah ada adik Henrietta.


"Aku tidak akan melakukan ini jika Henrietta tidak merebutmu dariku," ucap Julia.


"Wanita sialan itu sudah merebutmu dariku," kesal Julia.


"Harusnya jika kau ingin menyalahkan orang lain maka salahkan ayahmu. Dia yang mengundang Henrietta kesini untuk menggantikan mu," ujar Henry yang tidak memperlihatkan ekspresi apapun.


*


Tanpa kedua orang itu sadari, Asher dan Maisie sudah sadar.


Maisie dan Asher melihat keberadaan ayah mereka yang sedang berhadapan dengan Dante dan Julia.


"DADDY ..." teriak Maisie dengan air mata yang sudah mengalir.


Asher langsung menutup mulut saudari kembarnya agar tidak berteriak lagi.


Pria kecil itu melihat saudari kembarnya yang sudah menangis dan menggelengkan kepalanya.


"Berisik," desis Dante.


Dante akan memberikan gertakan pada Maisie dengan memberikan pukulan kecil di wajahnya.

__ADS_1


Namun ...


"Jangan pernah menyakiti putriku,"


DORR


Asher langsung menutup mata Maisie dengan erat saat suara tembakan itu terdengar.


Henry melepaskan pelatuknya dengan peluru yang melesat mengenai bahu kiri Dante.


Sedangkan Julia menutup mulutnya karena terkejut.


Dante ambruk tepat di depan Maisie sambil memegangi bahunya.


"OWEN!" panggil Henry.


Dengan cepat menghampiri Henry dan membawa Asher serta Maisie keluar dari tempat itu dan membawa mereka ke mobil.


"Aku pikir penjahat mana yang berani menculik keluarga Walter. Tapi ternyata hanya penjahat kecil yang berani menggertak anak kecil,"


Henry berjalan mendekati Julia yang sudah memundurkan langkahnya karena melihat Henry yang memegang pistol.


"Jika saja Henrietta tidak merebutmu maka aku tidak akan pernah melakukan ini," ujar Julia menatap tajam Henry.


Henry tertawa keras di depan Julia.


"Sedari tadi kau selalu membahas itu, apa pikiranmu terlalu pendek? Kau selalu mengungkit masa lalu," ucap Henry.


"Aku sudah mengatakan ini sebelumnya padamu, salahkan ayahmu,"


Dante merogoh saku celananya dan mengambil pistolnya, dia mengangkat tangannya dan menarik pelatuknya.


DORR


DORR


Peluru dari pistol Dante melesat, sedangkan peluru dari pistol Henry bersarang tepat di kepala Dante.


Henry mengacungkan pistol itu tepat di depan Julia.


"Kau tidak mungkin menembak-ku kan? Aku tahu kau masih mencintaiku," ucap Julia.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah membiarkan seorang penjahat hidup, apalagi jika itu membahayakan keluargaku," tegas Henry.


"Dan satu lagi, aku tidak pernah mencintaimu,"


DORR


Setelah membawa Asher dan Maisie ke mobil, Owen kembali lagi menghampiri majikannya.


Owen melihat Julia dan Dante yang sudah tergeletak di lantai.


"Bakar mereka berta mobil mobilnya, jangan sampai orang lain tahu," perintah Henry.


"Baik, tuan," sahut Owen.


Henry keluar dari ruangan tak terpakai itu.


Sedangakan Owen masih berada disana untuk menunggu anak buah Henry yang lain dan membantunya membereskan kekacauan ini.


*


Henry masuk kedalam mobil dan melihat kedua anak kembarnya.


"Kalian tidak apa apa? Apa ada yang terluka?" tanya Henry yang begitu khawatir.


"Kami baik baik saja, dad," jawab Asher yang masih bisa bersikap tenang.


Sementara Maisie baru saja selesai menangis karena ketakutan.


Henry mengusap pipi putrinya yang basah oleh air mata.


"Jangan ceritakan masalah pada mommy kalian, atau dia akan khawatir," ucap Henry.


Dan Maisie langsung mengusap wajahnya sendiri.


"Kalian tidak ingin melihat mommy menangis kan?" tanya Henry dan di angguki oleh kedua anaknya.


"Ini adalah rahasia kita bertiga jadi mommy tidak boleh tahu," ujar Henry.


"Sekarang ayo kita pulang karena mommy kalian sudah menunggu,"


Henry menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil itu meninggalkan gedung tua tersebut.

__ADS_1


__ADS_2