PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #23


__ADS_3

Hari sudah berganti menjadi malam, sinar sang mentari kini telah tergantikan oleh sang rembulan.


Henrietta tampak keluar dari kamar lain yang ada di sebelah kamarnya, dia sudah memakai dress berwarna hitam yang melekat sempurna di tubuh ramping nya.


Rambut pendeknya dia ikat bawah dengan rapi, hingga tak terlihat helaian dari rambutnya yang keluar dari jalur.


Untuk wajahnya dia hanya memakai make-up tipis.


Semerbak wangi vanilla memenuhi kamar yang pintunya baru saja dia tutup.


Henrietta berjalan kearah ruang tamu sambil menunggu Henry.


Hingga tak lama kemudian Henry keluar dari kamar milik Henrietta, dengan memakai kemeja hitam yang lengannya di gulung sebatas siku, dan celana bahan hitam, jangan lupakan rambut yang dia sisir dengan rapi.


Seketika wangi maskulin yang terasa dingin melewati indra penciuman Henrietta, saat Henry sudah berada di depannya.


"Kita pergi sekarang?" sura bariton milik Henry seketika menginterupsi Henrietta.


Wangi mint yang keluar dari mulut Henry seketika menerpa wajahnya.


Henrietta masih terpaku di depannya, matanya menatap kagum pada makhluk ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya.


"Apa kau akan terus memperhatikan aku seperti itu? Aku tahu aku tampan," ujar Henry seketika menyadarkan Henrietta dari lamunannya.


Henrietta menggeleng-gelengkan kepalanya guna menyadarkan dirinya.


Henry menyunggingkan senyumnya melihat tingkah istrinya.


'Istrinya?' batin Henry.


"Ayo! Kenapa kau lama sekali?" gerutu Henrietta.


"Aku baru selesai menelpon Owen," balas Henry.


"Ayo!"


Henry menggandeng tangan Henrietta keluar


dari rumah, Henrietta seakan tak percaya dengan apa yang Henry lakukan padanya.


Ini adalah kali pertamanya di gandeng oleh Henry, dan itu membuat jantungnya berdebar.


Henrietta memegang dada-nya dengan tangannya yang bebas, mencoba untuk merasakan debaran jantungnya.


"Masuklah,"


Lagi-lagi suara bariton dari Henry menyadarkan kesadaran Henrietta.


Henrietta melihat kearah depan dan ternyata sudah ada mobil sport berwarna hitam metalik terparkir di depan rumahnya.


"Ini mobil siapa?" tanya Henrietta dengan wajah polosnya.


"Mobilku, aku menyuruh salah satu pegawai ku yang disini untuk membawakan mobil baru untukku," jawab Henry.


"Sekarang masuklah, waktu makan malam kita hampir terbuang," katanya.


Henrietta masuk kedalam mobil mewah yang pastinya mahal itu, setelah Henry membukakan pintu untuknya.


Henry mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi.


Henry tak perlu bertanya lagi pada Henrietta mengenai alamat rumah Luke, karna dia sudah mencaritahu-nya sendiri lewat orang kepercayaannya.


Henry melajukan mobil sport-nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, mobil mewahnya membelah jalanan kota Zurich yang tidak terlalu ramai.

__ADS_1


"Kau sudah lama kenal dengan Luke?" ujar Henry yang tiba-tiba bertanya.


"Mungkin sekitar 13 atau 12 tahunan, saat pertama kali aku dan mommy kemari," jawab Henrietta.


Sebenarnya dia merasa cukup aneh dengan Henry yang tiba-tiba bertanya seperti itu.


Hingga tidak sampai 15 menit mereka akhirnya sampai di kediaman mewah milik keluarga Robinson, walau masih tetap lebih besar dan luas rumah milik Henry.


Pintu gerbang terbuka dan muncul satu orang pria berbadan menghampiri mobil milik Henry.


Henry membuka kaca jendela mobilnya.


"Kami sudah ada janji dengan tuan James Robinson," jelas Henry.


Penjaga itu seketika melihat Henrietta. "Nona Henrietta!"


Setelah mengucapkan itu penjaga itu pun mempersilahkan mobil milik Henry masuk.


Henry membawa mobilnya masuk dan melewati beberapa penjaga.


Henry cukup tahu dengan orang-orang seperti itu, mereka bukan hanya sekedar penjaga rumah saja dan Henry tak menyangka jika Henrietta memiliki hubungan dengan orang-orang seperti itu.


Sementara Henrietta hanya menata fokus keluar jendela lewat kaca jendela yang ada di sampingnya.


Mobil berhenti tepat di dekat garasi mobil yang terdapat beberapa mobil mewah terparkir disana.


Henrietta hendak akan keluar tapi dia kalah cepat oleh Henry yang lebih dulu membukakan pintu untuknya.


"Terima kasih," ucap Henrietta.


Lagi-lagi Henrietta di buat terkejut saat Henry kembali menggandeng tangannya.


Mereka berjalan beriringan menuju pintu masuk mansion itu.


"Akhirnya kau datang juga," ujar pria paruh baya yang baru saja membukakan pintu.


Wajah keriputnya tak memudarkan aura ketampanan dan kewibawaan yang ada pada dirinya.


"Uncle James!" seru Henrietta dengan senang.


Dia langsung memeluk pria paruh baya itu dengan erat. Pria yang lebih baik dari pada ayah kandungnya sendiri, pria yang dengan suka rela mau menerima dirinya dan ibunya, pria yang sudah seperti ayah baginya.


"Aku merindukanmu," lirih Henrietta.


"Kau! Gadis nakal, kenapa baru kembali sekarang? Kau bilang tak akan lama disana,"


Henrietta terkekeh kecil saat mendengar James memarahinya.


James menepuk-nepuk punggung Henrietta.


"Maafkan aku, aku terlalu asik disana, uncle tahu sendiri kan kalau disana ada sahabatku," ucap Henrietta.


Sedangkan Henry hanya bisa melihat keakraban mereka berdua, jika dilihat mereka seperti ayah dan anak yang sedang melepas rindu.


Henrietta melepaskan pelukannya pada James, dan kini mata James tertuju pada Henry.


Mata yang semula menatap Henrietta penuh kasih dan lembut kini mata itu menatap tajam dan dingin pada Henry.


"Selamat datang di kediaman saya tuan Henry," ujar James dengan suara bas-nya.


Henry juga tak kalah tajam menatap James.


"Terima kasih karna sudah mengundang saya," ucapnya.

__ADS_1


"Kalau begitu masuklah, tidak baik jika kita berbicara di luar," James mempersilahkan Henrietta dan Henry untuk masuk kedalam.


"Saya tidak menyangka jika anda mengenal Rietta," pungkas James saat mereka berjalan menuju ruang makan.


"Tentu saja saya mengenalnya, karna dia istri saya," ujar Henry.


Sontak saja James langsung menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan terakhir yang keluar dari mulut Henry sendiri.


Tak berbeda dengan James, Henrietta bahkan meringis mendengar perkataan jujur dari Henry.


'Bodoh, matilah kau,' runtuk Henrietta.


"Apa yang kau katakan barusan?" ujar James agar Henry mengulangi perkataannya.


"Aku dan Rietta sudah menikah, dia istriku,' jelas Henry.


James langsung mengalihkan perhatiannya pada Henrietta.


"Apakah itu benar Rietta?" tanya James pada Henrietta.


Henrietta tampak menundukkan kepalanya dan meremas jari-jemarinya.


"Maafkan aku uncle," ujar Henrietta seperti berbisik tapi masih bisa di dengar oleh dua pria tersebut.


Seketika James terdiam dan tak mengatakan apapun, Henrietta bahkan merasa takut jika pria itu marah.


Karna selama ini James-lah yang sudah menjaga Henrietta.


Tapi yang di pikirkan oleh Henrietta seketika salah.


"Kenapa kau menyembunyikan masalah ini dari uncle? Kau bahkan tak mengundang uncle dan Luke ke acara pernikahanmu," ucap James yang tidak terlihat marah sama sekali.


"Tapi, uncle senang. Akhirnya ada pria yang akan menjagamu, uncle cukup mengenal keluarga Walter dan mereka sangat bertanggung jawab," ujar James seketika menatap kearah Henry.


Henry juga awalnya mengira jika James akan marah karna Henrietta menikah dengannya dan bukan dengan putranya, Luke.


Henrietta meringis dalam hatinya saat melihat kebahagiaan James mengenai pernikahannya dengan Henry.


"Ayo, kita harus merayakan pernikahan kalian dengan makan malam kali ini,"


James menyuruh mereka untuk duduk di kursi meja makan.


"Dimana Luke, uncle?" tanya Henrietta.


"Sebentar lagi dia akan turun, dia sedang menyelesaikan sedikit pekerjaannya," jelas James.


Dan benar saja tak berapa lama Luke muncul dari balik pintu dan masuk ke area ruang makan itu.


Dia duduk tepat di depan Henrietta dan Henry.


"Maaf, membuat kalian lama menunggu," ucap Luke basa-basi.


"Selamat malam tuan Henry," sapa Luke ramah.


"Selamat malam tuan Luke," sapa balik Henry dengan seramah mungkin.


"Apa aku melewatkan sesuatu," ujar Luke, melihat kearah Henry dan Henrietta.


"Kau melewatkan sesuatu yang membahagiakan Luke," timpal sang ayah.


"Oh, benarkah? Aku ingin mendengarnya nanti," ucapnya.


Dan akhirnya mereka pun melakukan sesi makan malam dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2