
"Luke!" panggil James pada sang putra.
"Ya dad ..."
James berbalik dan menatap kearah putranya dengan sorot mata yang sangat serius.
Luke mengerti jika ayahnya pasti ingin membicarakan masalah yang serius dengan dirinya.
"Cari tahu kenapa Rietta bisa menikah dengan Henry," ujar James.
Henrietta dan Henry sudah pulang dari kediaman Robinson sekitar 30 menit yang lalu, dan kini James sedang berada di ruang kerja putranya.
Luke juga sempat berpikiran yang sama dengan sang ayah untuk menyelidiki alasan Henrietta bisa berakhir menikah dengan pewaris Walter.
"Daddy bukannya meragukan keluarga Walter, mereka keluarga yang terpandang dan bertanggung jawab, tapi daddy merasa janggal dengan pernikahan mereka. Kenapa Rietta bisa menjadi istri Henry, seingat daddy dia masih memiliki tunangan," pungkas James.
Seketika seperti ada bola lampu yang menyala di atas kepala Luke, dia langsung menatap sang ayah.
"Hanya ada satu alasan," ucap Luke.
"Apa?" tanya James yang seperti melupakan sesuatu.
"Marco Sergei," sungut Luke.
James ingat, dia mengingat nama yang baru saja di sebut oleh anaknya.
Suami pertama dari perempuan yang dia cintai sampai saat ini, laki-laki yang tidak pernah menghargai istri dan anaknya.
Ibu Henrietta pernah bercerita mengenai masa lalu nya dengan suami pertamanya, dia juga sudah beberapa kali melihat pria itu di acara para pebisnis ataupun media.
"Mungkin ini ada kaitannya dengannya! Julia, anak tiri dari Marco Sergei sekaligus tunangan dari Henry Walter mengalami koma sejak satu bulan yang lalu, kau ingat dad Rietta ke Amerika juga satu bulan yang lalu untuk bertemu sahabatnya," tebak Luke.
James mengangguk, tebakan putranya mungkin saja benar, jika tidak siapa lagi yang bisa menekan Henrietta untuk menikah dengan tunangan anak tirinya sendiri.
"Aku ingin kau cari tahu dengan alasan apa Marco menekan Rietta, aku tidak ingin Rietta mengalami masalah karna pria itu. Cukup sudah dia dulu mencampakkan Leona dan Rietta," james menggeram menahan amarah yang akan meledak.
"Rietta adalah harta berharga peninggalan Leona, aku akan menjaganya tanpa ada luka sedikit pun," pungkas James.
Luke mengerti perasaan sang ayah, dia tidak marah pada sang ayah yang begitu mencintai ibu Henrietta.
Karna sang ayah berpisah dengan ibunya jauh sebelum kedatangan ibu Henrietta, Luke juga tidak pernah bertemu dengan ibunya setelah kedua orang tuanya bercerai.
Ibunya pergi meninggalkan dirinya bersama dengan pria yang lebih kaya dari sang ayah. Dulu, saat kedua orang tuanya bercerai ayahnya belum sekaya dan sesukses ini.
Luke bahkan sejak kecil tidak pernah dengan ibu kandungnya sendiri, dia malah lebih dekat dengan ayahnya.
Tapi, saat kedatangan Henrietta dan ibunya kemari, Luke seperti menemukan kasih sayang seorang ibu, menurut Luke ibu Henrietta adalah wanita baik dan penyayang.
Luke juga menginginkan agar ibu Henrietta bisa menjadi ibunya, tapi saat ayahnya akan melamar ibu Henrietta selalu menolaknya dengan alasan jika dia belum siap untuk menikah lagi.
Tapi, takdir Tuhan siapa yang tahu. Pada saat ibu Henrietta akan menerima ayahnya dan mau menikah dengannya dia malah jatuh sakit dan tak lama meninggal.
"Aku akan menyelidikinya dad," putus Luke.
__ADS_1
"Mm ..."
"Orang itu terlalu licik, dia menggunakan putri kandungnya sendiri hanya untuk anak tirinya," geram James.
*
*
Sedangkan di dalam mobil sepasang suami istri hanya terdiam menikmati perjalanan, tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka berdua.
"Kau mau berjalan-jalan sebentar?" tanya Henry yang akhirnya membuka obrolan.
"Tidak," jawab Henrietta.
Henrietta terlihat malas dan sangat mengantuk, dia hanya ingin pulang dan beristirahat.
Seharian membersihkan rumah dan pergi ke restoran rasanya membuat dia lelah.
"Kita langsung pulang saja, aku merasa sangat lelah hari ini," ujar Henrietta.
Henrietta bahkan sudah melepas heels nya saat dia masuk kedalam mobil.
"Sebelum pulang bisakah kita mampir ke minimarket sebentar? Ada yang ingin aku beli," ucap Henrietta.
Henry menganggukkan kepalanya.
Dan tak jauh di depan mereka ada sebuah minimarket yang masih buka.
"Rietta pakai heels-mu," tegur Henry.
Henrietta tidak menggubris kata-kata Henry dan masuk begitu saja.
"Apa dia pikir dia masih anak kecil?" gumam Henry dan menyusul Henrietta masuk kedalam.
Henrietta menyusuri rak-rak yang menjual berbagai macam kebutuhan wanita, dan mengambil beberapa pembalut.
Setelah selesai Henrietta berjalan kearah kasir dan mendapati Henry disana.
"Bayar," ucap Henrietta.
Henry menatap kearah Henrietta.
"Aku tidak membawa dompet," ujar Henrietta.
Dan akhirnya Henry-lah hang harus membayar belanjaan Henrietta.
"Terima kasih," ucap Henrietta pada pegawai yang memberikan kantong belanjaannya.
"Thanks," bisik Henrietta pada Henry dan mendahului pria itu keluar dari minimarket.
Henrietta masuk kedalam mobil dan menunggu Henry di dalam.
Henrietta melihat keluar jendela, disana Henry dia melihat Henry yang sudah keluar dari minimarket dan sedang menerima telpon.
__ADS_1
Henrietta mengotak-atik ponselnya dan terlihat sedang mengirim pesan pada seseorang.
Dirasa Henry sudah selesai dan berjalan kearah mobil, Henrietta langsung menghapus pesan-pesan yang dia kirim tadi.
"Ada yang ingin kau beli lagi?" tanya Henry yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Tidak ada! Ayo kita pulang," pungkas Henrietta.
Henry menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Hingga tidak berapa lama mereka pun akhirnya sampai di pekarangan rumah sederhana milik Henrietta.
Henrietta keluar lebih dulu dan lagi-lagi tanpa memakai alas kaki.
"Rietta!" tegur Henry.
"Aku malas memakai heels, nanti aku akan cuci kaki," seloroh Henrietta dan masuk begitu saja sambil menenteng kantong belanjaan dan Heels-nya.
Henry hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Henrietta yang seperti ini, karna selama di Amerika Henrietta selalu menjaga etikanya seperti gadis bangsawan.
Henry terkekeh dan bergumam kecil. "Bangsawan apanya? Dia bahkan sekarang seperti anak remaja,"
Henrietta berjalan masuk kedalam kamarnya dan mengambil pakaian di dalam lemarinya.
Dia membawa pakaian itu ke kamar sebelah, kamar bekas ibunya.
Saat keluar dari kamar Henrietta berpapasan dengan Henry yang berjalan kearah dapur.
"Puding siapa ini?" tanya Henry pada Henrietta dengan suara sedikit keras.
"Dari nenek Mey, aku lupa mengatakannya, makanlah jika kau ingin," pungkas Henrietta.
Lalu dia berjalan masuk kedalam kamar dan membuka pintu kamar mandi, dia membuka dress-nya dan mencuci wajah, kaki, serta tangannya.
Dia juga memakai pakaian tidurnya disana dan baru keluar saat dirasa sudah selesai.
Saat sudah keluar dari kamar bekas ibunya, Henrietta melihat Henry yang sedang duduk di ruang tamu dengan tv yang menyala.
Henry terlihat fokus dengan film dan juga pudingnya.
"Kau sudah menghabiskan setengahnya?" ujar Henrietta yang melihat puding itu tinggal setengah potong.
"Mm ..." gumam Henry sambil mengunyah puding yang masih ada di dalam mulutnya.
"Sisakan untukku," gerutu Henrietta.
"Kau bilang kau mengantuk, jadi tidur saja sana," usir Henry.
Bukannya pergi Henrietta malah duduk di samping Henry dan merebut puding yang ada di depan Henry.
Dia langsung memasukkan puding itu kedalam mulutnya dengan satu suapan besar hingga pipinya mengembung.
"Kau seperti anak kecil," cibir Henry sambil mengusap sisa puding yang menempel di bibir Henrietta.
__ADS_1