Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Pura-pura


__ADS_3


...***...


Bola mata Delfin seakan mau lompat ke luar dari tempatnya setelah mendengar penuturan Ziya. “Ma-maksud kamu apa, Zi?” Tergagap Delfin mengutarakan tanya. Ia pandang lekat wajah cantik yang terlihat lelah itu.


“Saya ingin mengundurkan diri. Terlepas dari kesalahpahaman kemarin, sepertinya Bu Cia tidak menyukai saya,” terang Ziya. Wajahnya tertunduk sendu, meski sesekali ia melempar pandang ke arah Delfin. Ziya tak kuasa membalas tatapan yang diberikan oleh Delfin. Ada rasa takut jika Delfin mampu mengendus kepura-puraannya.


“Zi, saya mohon jangan seperti ini. Istri saya memang pencemburu, jadi saya harap kamu maklum. Urusan Cia biar menjadi urusan saya. Saya tidak mungkin melepaskan manajer setangguh kamu hanya karena masalah Cia,” urai Delfin panjang lebar.


Ziya memberanikan diri menatap wajah tampan Delfin. Delfin meraih tangan Ziya, menuntunnya untuk duduk di sofa yang ada di sana. Jika tadi bola mata Delfin yang hampir ke luar dari tempatnya, kini giliran jantung Ziya yang mulai tidak terkontrol. Berpacu semakin cepat di setiap detaknya.


Ziya melihat nanar pergelangan tangannya yang ada dalam genggaman Delfin. ‘Manis’ sungguh hanya kata itu yang mampu mendeskripsikan akan perlakuan Delfin padanya. Meski Arsen pernah melakukan hal yang sama, tetapi entah mengapa semua terasa berbeda saat Delfin yang melakukan. Getar itu terasa begitu nyata. Terlebih setelah mereka duduk berdua, Delfin menggenggam kedua jemarinya dengan erat.


“Saya mohon sama kamu untuk bertahan menjadi manajer saya. Saya benar-benar minta maaf atas perlakuan Cia sama kamu. Saya pastikan itu semua tidak akan lagi terjadi.” Delfin menatap lembut netra milik Ziya.


Ada desir aneh yang hinggap dalam hati Delfin saat kedua manik indah itu bertemu. Hatinya bergejolak, tetapi ia tak mampu menebak itu apa. “Saya mohon Zi,” pintanya lagi dengan raut memelas. “Bukankah kamu perlu uang yang banyak untuk bisa mengontrak rumah? Ingat ada adik-adik panti yang menantikan hasil kerja kerasmu, apa kamu lupa?” Delfin kembali mengingatkan Ziya akan permasalahan yang tengah Ziya hadapi.


Ziya tertunduk lesu. “Aku ingat, Fin. Justru karena adik-adik panti aku bisa melakukan hal sejauh ini,” batinnya meronta. Ya, Ziya memang pernah menceritakan pada Delfin soal panti yang akan digusur, hingga ia harus bekerja keras untuk mengumpulkan pundi-pundi uang agar bisa mengontrak rumah. Namun, tentu saja Ziya tidak bercerita tentang misinya bekerja sama dengan Pram juga.


“Tetapi bagaimana dengan Bu Cia? Saya sungguh merasa tak enak jika kalian bertengkar karena saya.”


“Bukankah saya sudah bilang, biar Cia menjadi urusan saya.”


Sesaat keheningan menyelimuti. Delfin menatap lekat wajah cantik yang tengah tertunduk lesu. “Percaya sama saya, Zi!” Lagi, Delfin mencoba meyakinkan Ziya.


Entah mengapa ada rasa tak rela jika Ziya sampai mengundurkan diri. Delfin sudah merasa sangat cocok dengan cara kerja Ziya. Lagipula mencari manajer baru belum tentu bisa cekatan seperti Ziya.


“Nanti saya pikirkan lagi, Pak.” Ziya menarik tangannya dari genggaman Delfin. Ia harus menyelamatkan jantungnya yang berdebar kian tak menentu.


“Zi, boleh saya tanya sesuatu?”


“Apa?”


“Kamu gadis yang manis. Waktu kecil pasti kamu sangat menggemaskan, apa tidak pernah ada orang yang ingin mengadopsimu?”


“Apa seperti ini rayuan yang kamu berikan pada mangsamu, Fin? Dasar laki-laki buaya!” gerutu Ziya dalam hatinya. Pertanyaan Delfin sontak mengubah persepsinya tentang lelaki itu lagi.


“Zi, apa kamu tersinggung atas pertanyaanku?” Delfin kembali bertanya saat tak kunjung mendapatkan jawaban dari Ziya.

__ADS_1


“Ehm, pernah. Tapi saya menolaknya,” jawab Ziya pada akhirnya.


“Kenapa? Bukankah menyenangkan saat kamu bisa mendapatkan keluarga baru?”


“Lalu dengan teganya saya meninggalkan ibu panti sendirian? Saya tidak bisa. Jika hanya untuk mengejar kebahagiaan saya sendiri harus meninggalkan keluarga yang telah menyayangi saya sejak bayi.” Ziya mengembuskan napas dengan kasar. Terbesit kenangan indahnya bersama Erna.


“Bagi saya, Bu Erna bukan hanya ibu panti. Beliau sudah saya anggap ibu kandung saya sendiri. Seseorang yang tak ada hubungan darah sama sekali, tapi mau merawat dengan tulus saat saya sakit. Memberikan kasih sayang yang harusnya orang tua kandung saya berikan. Menggantikan peran orang tua yang saya butuhkan. Seandainya waktu itu saya memilih pergi, lalu kejadian seperti ini menimpanya dan saya tak ada di saat beliau membutuhkan, saya akan sangat merasa berdosa.”


Ziya tertunduk. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain, seakan menunjukkan hatinya yang terasa diremas hingga tak berbentuk saat kejadian pahit itu menimpa panti.


Delfin menatap Ziya. Tangannya terulur. Membelai lembut tangan Ziya hingga Ziya menoleh ke arahnya. “Kamu jangan khawatir. Saya ada buat kamu, dan akan membantu semampu saya.” Senyum tersungging sempurna di bibir Delfin. Mencoba memberikan ketenangan untuk Ziya.


“Kamu wanita yang hebat, Zi. Siapa pun akan beruntung kelak mendapatkan kamu. Kamu cantik, kamu dewasa, kamu pekerja keras dan kamu baik. Seandainya ....” Delfin menepuk keningnya, menghentikan pikirannya yang mulai melantur tak tentu arah. Ia tak bisa membohongi hatinya yang menyimpan kekaguman pada sosok Ziya.


...***...


Waktu merangkak dengan semestinya. Pekerjaan Ziya pun telah usai. Hari ini agenda Delfin hanya berlatih vokal saja, hingga ia masih memiliki waktu luang.


“Zi?” panggil Delfin saat Ziya hendak pulang.


“Iya, Pak?” Ziya berbalik ke arah sumber suara.


Ziya tertegun, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar. “Maksudnya?”


“Saya mau ikut ke panti tempat tinggal kamu. Boleh, kan?”


“A-apa tidak akan jadi masalah untuk Bu Cia? Saya takut Bu Cia kembali salah paham,” urai Ziya.


“Nggak akan,” tegas Delfin. “Ayo!” tanpa kata lagi, Delfin menarik tangan Ziya menuju mobilnya.


Ziya tidak lagi menolak. Ia tersenyum miring, “Selangkah lebih dekat menuju misi. Jika Cia salah paham dan mereka bertengkar kembali itu justru menguntungkanku,” batin Ziya.


Ziya lupakan debar yang kembali meraja di hatinya. Ia harus fokus akan tugasnya. Demi adik-adik panti, ia rela melakukan apa pun. Kini Ziya dan Delfin telah berada di dalam mobil milik Delfin. Bagus tak ikut serta karena pulang lebih awal tadi.


“Zi?” Delfin memecah keheningan setelah mobil mulai melaju membelah jalanan.


“Iya, Pak.”


“Apakah saya setua itu sampai kamu harus panggil saya dengan sebutan 'Bapak'?” Ada rasa geli yang menggelitik setiap Ziya memanggilnya dengan sebutan bapak dan itu membuatnya tidak nyaman.

__ADS_1


“Saya bekerja untuk Bapak, jadi sudah selayaknya saya menghormati Bapak,” terang Ziya dengan senyum manisnya.


“Tapi saya merasa tidak nyaman.”


“Benarkah?” Ziya mengalihkan atensinya pada Delfin yang tengah mengemudi.


“Pakai bahasa formal saja seperti ini sesungguhnya saya merasa tidak nyaman. Saya lebih senang kalau kita bicara layaknya teman. Aku-kamu, gue-lo, mungkin? Asal jangan saya dan Anda aja, terlihat seakan ada jarak yang terbentang luas di antara kita. Saya tidak suka.”


Ziya mengulum senyum, “Jadi saya harus panggil apa?”


“Panggil Delfin aja, mulai sekarang kita berteman.” Senyum Delfin mengembang sempurna.


“Apa tidak berlebihan?”


“Aku rasa enggak. Secara kita juga hampir seumuran, kan?” Sesekali Delfin menoleh ke arah Ziya di sela kesibukannya mengemudi. “Gimana?” tanyanya lagi.


Hening. Ziya tidak menjawab seakan memikirkan sesuatu. “Perlahan, tapi pasti, Fin. Aku bakal bikin kamu berpaling dari Cia. Saat itu terjadi Cia akan tahu lelaki macam apa kamu ini. Jika kamu benar-benar setia, kamu tidak akan pernah masuk dalam permainan yang aku buat,” batin Ziya.


“Jangan pikirkan Cia! Itu jadi urusanku,” ucap Delfin, seakan mengerti apa yang tengah Ziya takutkan.


“Baiklah.” Penuh senyum kemenangan Ziya menyanggupi permintaan Delfin.


“Cia itu memang sangat pencemburu sejak dulu. Makanya aku tak punya banyak teman wanita. Tapi aku tak pernah mempermasalahkan sikap cemburuannya. Justru kalau dia tidak cemburu aku bakal curiga, apa dia masih mencintaiku atau tidak. Hanya saja aku harus pandai menjaga sikap dengan teman wanita yang lain. Aku tahu, sikap cemburuannya itu karena dia sangat mencintaiku, begitu pula aku. Aku sudah jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya, mungkin kamu nggak akan percaya tentang istilah cinta pada pandangan pertama,” terang Delfin panjang lebar.


Ziya hanya menarik seulas senyum membiarkan Delfin melanjutkan ceritanya.


“Tapi itulah yang terjadi padaku, Zi. Semua yang ada dalam diri Cia membuatku jatuh cinta. Hatiku tak bisa berpaling ke lain hati. Hanya ada nama Cia terukir indah di sana. Bahkan meski kakeknya Cia tidak merestui hubungan kami, aku berjuang keras untuk bisa meluluhkan hati kakek. Bersama dengan Cia, kami memperjuangkan cinta kami. Hingga akhirnya kami menikah. Meski restu belum sepenuhnya aku dapatkan dari kakeknya Cia.”


“Kenapa kakeknya Bu Cia tidak merestui kalian?” Ziya menyela cerita Delfin.


“Karena bagi kakek, aku tidak memiliki masa depan. Aku tidak akan sanggup membahagiakan Cia yang sejak kecil sudah bergelimang harta.”


“Benarkah?” Ziya meragu dengan pernyataan Delfin karena menurut informasi yang ia dapat dari Pram, Pram tidak merestui karena Delfin adalah seorang playboy.


“Iya, tapi aku pasti bisa buktikan jika aku mampu. Asal cinta antara aku dan Cia masih sama besarnya seperti dulu. Aku percaya cinta kami akan membantu kami melewati badai yang menerjang rumah tangga kami. Aku tahu berumah tangga itu tidak akan mudah. Setiap cinta pasti akan diuji dan semoga cintaku dan Cia mampu melewati itu semua.”


Diakhir kalimat Delfin membubuhkan sebuah senyum penuh kepastian membuat Ziya berpikir ulang akan tujuannya. Ada ragu menyelinap. Melalui cerita Delfin, ia bisa merasakan cinta yang begitu besarnya. Cinta dari Delfin untuk Cia. Akan tetapi, bagaimana dengan cerita yang disuguhkan oleh Pram? Entahlah, untuk sementara Ziya akan tetap berpihak pada Pram. Bagaimanapun, Pram sudah membayarnya.


...***...

__ADS_1



__ADS_2