Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Kepergok


__ADS_3


...***...


Mobil yang dikemudikan Bagus segera melaju membelah jalanan ibukota, suasana tengah malam membuat perjalanan mereka tidak berlangsung lama. Tepat pukul 00.15 WIB Ziya sudah sampai di depan pintu gerbang panti asuhan.


"Fin, untuk besok dan lusa kita libur. Aku udah atur semua jadwal manggung kamu setelah lusa, dan juga ada beberapa job untuk jadi model iklan. Semua udah kukirim ke e-mail kamu. Besok bisa kamu pelajari sambil santai di rumah. Kalau ada yang kurang menurut kamu, segera kabari aku paling lambat lusa, ya. Supaya bisa segera aku ajukan juga ke pihak yang terkait," tutur Ziya sebelum turun dari mobil.


"Ok," jawab Delfin singkat.


"Oh, ya, satu lagi. Manfaatkan waktu liburan dua hari besok untuk istirahat. Tetap jaga pola makan dan minum kamu, ya. Tidur juga harus cukup, karena setelah lusa kita akan disibukkan dengan promosi album kamu lagi. Aku masuk dulu," tutur Ziya panjang lebar, lalu beralih pada Bagus yang menjadi sopir, "Mas Bagus, makasih, udah anter Ziya. Hati-hati di jalan dan titip Delfin, ya! Antar sampai rumah, jangan sampai Bu Cia ngamuk lagi nyari suaminya, " ucap Ziya sambil tersenyum, dan sedikit melirik ke arah Delfin.


"Beres, Mbak Ziya," jawab Bagus sambil menyengir.


"Apa, sih, Zi. Udah buruan turun sana, lama-lama kamu bawel juga." Delfin pura-pura menggerutu.


Ziya terkekeh, ia turun dari mobil dan melambaikan tangan saat mobil Bagus kembali melaju. Zia segera membuka pagar dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa dalam tas selempang miliknya


...***...


"Mas, Mbak Ziya itu baik banget, ya, udah gitu pinter juga. Manajer Mas Delfin kali ini benar-benar paket komplit, ya? Semuanya bisa diatasi, bahkan jadi model video klip dadakan juga hasilnya sempurna." Bagus berucap dengan wajah yang berbinar seolah begitu mengagumi sosok Ziya. Setelah beberapa meter mobil itu yang ia kemudikan menjauhi panti asuhan, ia baru berkomentar.


"Kamu mau bilang kalau Ziya itu cantik, kan, Gus? Dan kamu suka sama dia? Kok, pake muter kemana-mana segala?" ejek Delfin sambil tersenyum.


"Aduh, Mas bikin saya jadi malu saja. Ya, kan, Mbak Ziya perempuan, Mas. Masa iya, ganteng. Dan ... anu ... Mas, kok, bisa nyimpulin kalau saya suka sama Mbak Ziya?" Bagus berusaha mengelak dari ucapan Delfin. Padahal memang benar, selama ini Bagus begitu mengagumi sosok Ziya, tapi ia belum berani untuk berpikir terlalu jauh. Untuk saat ini lebih baik ia memendam rasa itu dalam diam, pikirnya.


Delfin tidak terlalu menanggapinya serius. Lelaki itu hanya mendengus, lalu memejamkan kedua matanya pura-pura tertidur. Entah kenapa ada perasaan tidak rela, jika Ziya sukai oleh lelaki lain seperti itu.


...***...

__ADS_1


Selama dua hari, Delfin benar-benar memanfaatkan liburan itu untuk istirahat. Awalnya Delfin ingin mengajak Cia untuk berlibur ke villa. Mengingat sudah lama sejak mereka menikah, mereka tidak pernah liburan bersama. Keduanya selalu disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Namun, rencana itu harus gagal karena kebetulan butik Cia sangat ramai pengunjung beberapa hari ini. Hingga saat Delfin libur pun, Cia masih belum bisa ikut libur. Bukan karena mengejar uang semata, tetapi karena Cia memang ingin bersikap profesional. Cia ingin menunjukkan bahwa kesuksesan karirnya berasal dari kerja kerasnya sendiri, bukan karena nama besar kakeknya.


Meski Cia sangat manja dan kekanak-kanakan, tetapi jika mengenai urusan butik Cia akan memberikan yang terbaik. Cia akan menjadi pribadi yang anggun dan begitu ramah. Cia selalu mengedepankan pelayanan dan kepuasan para pelanggan butiknya. Tak heran jika banyak di antara para pelanggan butik Cia, selalu ingin berkonsultasi langsung dengan Cia. Selain karena mereka ingin bertemu dengan Cia yang begitu cantik, juga karena sikapnya yang ramah membuat para pelanggan butik Cia selalu puas membeli pakaian di sana.


Sore itu, rencananya Delfin ingin memberi kejutan untuk Cia. Pukul 17.00 WIB, Delfin melajukan mobilnya menuju butik Cia. Hampir satu jam perjalanan, Delfin baru sampai di butik Cia. Mungkin karena bersamaan dengan jam pulang kantor membuat lalu lintas menjadi lebih padat dari biasanya. Meski begitu, Delfin tak mengeluh. Senyum manis masih selalu menghiasi wajah tampannya saat tiba di butik Cia .


"Selamat datang, Pak Delfin. Mau jemput Bu Cia, ya?" sapa seorang karyawan wanita yang berdiri di belakang meja resepsionis.


"Iya, Mbak. Cia belum pulang, kan?" tanya Delfin.


"Sayang, kamu ke sini? Ada apa?" Suara Cia dari baik pintu ruangannya menarik perhatian Delfin. Delfin pun segera menghampiri istrinya, mencium kening Cia dan merangkul pinggang ramping Cia.


"Aku kangen kamu, Sayang. Apa kamu masih sibuk? Sudah lama kita nggak makan malam di luar. Apa kamu punya waktu, Sayang?" tanya Delfin setelah mereka masuk ke ruang kerja Cia


"Ehm ... Maafkan aku, Fin. Sepertinya aku tidak bisa. Aku sudah ada janji dengan klien nanti. Gimana kalau lusa, aku akan usahakan menyelesaikan pekerjaanku secepatnya." Cia mengecup sekilas bibir Delfin, berharap suaminya itu tidak kecewa karena ia tak bisa memenuhi keinginannya.


Sedikit kecewa, tetapi Delfin berusaha mengerti istrinya. Sebisa mungkin ia menghindari pertengkaran dengan istrinya lagi. Cukup baginya pertengkaran waktu itu, yang membuat Cia lepas kendali dan berbuat sesuka hati. Yang penting sekarang bagi Delfin, Cia senang dengan pekerjaannya dan tidak merasa terbebani. Dan hubungan mereka yang sudah membaik membuat Delfin lebih tenang. Cia akhir-akhir ini sudah tidak begitu mempermasalahkan tentang Ziya.


Sebelum melajukan mobilnya, Delfin berpikir sejenak. "Gimana kalau aku ajak Ziya aja untuk makan malam, aku bosan dua hari di rumah saja. Kangen juga sama Ziya. Sepertinya Cia juga tidak akan marah kalau aku pergi dengan Ziya. Coba aku hubungi dia saja, deh. Semoga dia nggak sibuk," gumam Delfin.


Delfin menelepon Ziya.


"Buka pesan dariku dan segera bersiap-siap, aku jemput kamu sekarang!” ucap Delfin saat panggilan tersambung. Ia lekas menutup panggilan teleponnya, lalu terkekeh membayangkan betapa kesalnya wajah Ziya saat mengangkat telepon darinya, dan tidak dibiarkan untuk membalas sepatah kata pun. "Itu bukan ajakan tapi sebuah perintah," batin Delfin.


Senang rasanya bisa mengerjai manajernya itu, setelah hampir dua hari mereka tak bertemu. Delfin segera melajukan mobilnya ke panti asuhan untuk menjemput Ziya.


...***...


"Hai, Farel. Udah lama nunggu, ya?" ucap Cia saat menemui Farel di sebuah restoran ternama di Jakarta.

__ADS_1


"Untuk wanita secantik kamu, tak apa aku menunggu. Duduklah! Aku sudah memesan beberapa menu untukmu," Farel berdiri dan memersilakan Cia untuk duduk.


"Terima kasih." Cia duduk di kursi kosong yang sengaja ditarik oleh Farel untuknya. "Wah ... ini semua makanan kesukaanku. Dari mana kamu tahu?" tanya Cia ketika kelopak matanya memindai semua isi piring di meja makannya.


"Aku tahu semua tentangmu, Cia. Kakek Pram banyak bercerita tentangmu," jawab Farel setelah duduk di tempatnya semula.


"Oh, ya, kakek pasti juga menceritakan tentang keburukanku," gerutu Cia sambil sembari memanyunkan bibirnya.


"Tidak Cia, justru kakek Pram sangat bangga padamu. Kamu pekerja keras katanya." Farel mencoba menghibur Cia. Cia pun tersenyum dengan wajah merona.


...***...


"Kamu nyebelin banget, sih, Fin! Enak aja main suruh-suruh aku. Untung aja tadi semua kerjaan di panti udah selesai. Kalau belum gimana? Kasian, kan, kalau adik-adik di panti yang harus melanjutkan semuanya." Selama di perjalanan, Ziya terus saja mengomel melampiaskan kekesalannya. Sedangkan Delfin hanya tertawa, ocehan Ziya seperti sebuah hiburan untuknya.


"Udah, jangan bawel. Nanti kamu semakin lapar. Kita makan di mana enaknya?" tanya Delfin saat mereka sudah melewati beberapa kafe dan restoran, tetapi masih belum juga menentukan di mana mereka akan makan malam.


Tiba-tiba notifikasi di ponsel Ziya berbunyi. Ziya mengabaikan pertanyaan dari Delfin dan segera membuka ponselnya. Rupanya pesan dari kakeknya Cia. Pram mengirimkan sebuah foto dan nama restoran di mana Farel dan Cia juga sedang makan malam. Kening Ziya sedikit berkerut, tetapi Ziya paham dengan maksud pesan itu.


"Ayo, Zi. Aku keburu kelaparan kalau kamu nggak segera bilang mau makan di mana," desak Delfin.


Ziya segera memberitahu Delfin restoran yang sama dengan tempat Cia dan Farel saat ini. Walaupun dalam hatinya sedikit khawatir, sebentar lagi hati Delfin pasti hancur berkeping-keping.


Tanpa adanya rasa curiga, Delfin segera melajukan mobilnya ke arah restoran tersebut. Setibanya di sana, Delfin dan Ziya segera masuk ke dalam. Senyuman cerah membingkai bibir Delfin pada awalnya, hingga senyum itu perlahan pudar manakala ia sibuk mencari meja yang kosong, lalu dikejutkan dengan sosok yang begitu ia kenal sedang duduk berhadapan dengan seorang pria. Mereka terlihat begitu akrab dan saling bercanda. Delfin tertegun sejenak, tetapi ia tak kuasa menahan amarah yang sudah memuncak. Dengan segera Delfin menghampiri sosok itu. Ia tak memedulikan Ziya yang berusaha membujuknya agar tidak marah.


"Cia!"


...***...


__ADS_1


__ADS_2