
...***...
Tatapannya kosong. Wajahnya bermuram durja. Tidak ada lagi senyum bersahaja. Tidak banyak yang ia lakukan di rumah orang tuanya. Hanya mengurung diri di dalam kamar. Meratapi akhir kisah cintanya. Hanya sesekali saja ia keluar dari kamar dan itu sukses membuat orang tua serta adiknya khawatir.
“Kak Delfin beneran bakal pisah sama Kak Cia?” tanya Farah pada sang mama yang sedang mencuci piring bekas makan malam mereka.
“Mungkin itu yang terbaik.” Farida menanggapi pertanyaan sang anak tanpa melihat putrinya yang berdiri di sampingnya. Farah mendengus, membuat Farida mengalihkan atensi pada sang putri. “Kenapa?”
“Farah sudah menduga ini bakal terjadi, Ma.” Farida mengerutkan kening mendengar perkataan anak gadisnya. “Perbedaan antara Kak Delfin dan Kak Cia terlalu jauh. Terlalu jomplang rasanya. Cinta aja nggak bakal cukup untuk bisa bertahan. Harus ada rasa saling percaya dan saling mengerti. Meski kenyataannya Kak Delfin sudah berusaha untuk bisa sejajar dengan Kak Cia, tapi semua itu nggak akan pernah cukup.”
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” Sebuah tanya Farida lemparkan untuk sang putri.
“Karena memang seperti itu kenyataannya. Kak Cia sudah terbiasa hidup mewah, itu hanya akan membuat Kak Delfin terus bekerja keras agar bisa memenuhi kebutuhan Kak Cia. Itulah kenapa dari dulu aku kurang srek sama Kak Cia. Berbeda halnya dengan kak Ziya. Seandainya Kak Delfin bersama Kak Ziya, mereka berdua akan saling mengisi. Nggak tumpang seperti kak Delfin dengan Kak Cia di mana hanya Kak Delfin yang terus berusaha untuk membuat Kak Cia bahagia. Kecuali jika Kak Cia bisa lebih bersahaja dengan hidup sederhana, itu beda cerita.”
Farida termangu mendengar penuturan panjang Farah. Ia sama sekali tidak menyangka, jika sang putri sudah mampu menganalisa kehidupan rumah tangga kakaknya. “Tapi, Cia sendiri sebenarnya tidak keberatan dengan penghasilan Delfin seandainya Delfin tidak bisa mensejajarinya.” Sebuah pembelaan Farida berikan untuk Cia.
“Ya. Itu benar. Aku juga nggak menampik itu. Tapi, semuanya kembali lagi, harga diri Kak Delfin sebagai kepala rumah tangga yang dipertaruhkan. Ia akan terus diejek oleh Kakek Pram karena tidak sejajar dengan cucunya. Dan aku kenal Kak Delfin. Dia nggak akan sanggup jika harga dirinya terus diinjak.”
Hening. Farida membenarkan apa yang telah dikatakan anak gadisnya. Tanpa mereka sadari, Delfin sedari tadi mendengar perbincangan sang mama dan adik tercintanya. Perlahan ia melangkah mundur. Tanpa banyak pikir ia sambar kunci mobil lalu bergegas meninggalkan rumah.
Farida dan Farah yang mendengar suara deru mobil Delfin hanya bisa menghela napas pasrah. “Semoga kak Delfin bisa segera bangkit dari semua ini,” lirih Farah.
“Mama harap juga seperti itu.” Wajah paruh baya itu terlihat sendu. Tidak menyangka jika sang putra akan mendapat ujian seperti ini.
...***...
“Brengsek! Sial!” racaunya sembari terus menyesap minuman yang baru pertama kali ia sentuh. Meski terasa seakan membakar tenggorokan, tapi ia tetap terus meneguk. Lagi dan lagi, hingga tiga gelas vodka sudah ia habiskan. Penglihatannya sudah mengabur. Tubuhnya mulai terasa limbung.
“Ternyata cinta dan kesungguhanku nggak pernah cukup buat kamu, ya, Ci?” tanyanya lebih pada diri sendiri. Ia memejamkan mata, bulir bening itu menetes begitu saja dari sudut matanya. “Kamu keterlaluan, Cia! Kamu mengkhianati cinta dan pernikahan kita. Kamu sialan!” Umpatan itu meluncur begitu saja.
Delfin mencoba menegakkan kembali tubuhnya. Mengisi lagi gelasnya dengan cairan yang semakin merenggut kewarasannya. Bartender yang melayaninya hanya mendengus. Ia mengenal siapa pria yang tengah mabuk dan kini tengah duduk di depannya itu.
“Mas Delfin sudah mabuk. Cukup, Mas!” Bartender mencoba menghalangi Delfin yang akan menenggak minumannya.
“Peduli setan. Istriku saja tidak lagi peduli padaku. Dia justru hamil dengan laki-laki lain.”
Bartender tercenung mendengar perkataan Delfin, tetapi ia kembali sadar. Itu bukan ranahnya. Ia hanya akan memastikan Delfin yang ia kenal sebagai artis, juga kakak dari Farah –teman kuliahnya –pulang dalam keadaan selamat.
__ADS_1
Ia rogoh sakunya, mengambil ponsel dan mulai menghubungi Farah. Teriakan penuh keterkejutan menyapa telinga sang bartender sebelum akhirnya gadis itu menyanggupi untuk datang menjemput sang kakak.
Tiga puluh menit, Farah datang bersama Bagus dan Ziya. Farah tidak mungkin datang sendiri ke klub, karena ia pun baru kali pertama mendatangi tempat seperti ini.
“Makasih, ya, Al,” ucap Farah saat mendapati Delfin dalam pengawasan lelaki ganteng dengan senyum menawan itu.
“Sama-sama, Far.” Bartender itu tersenyum ramah pada Farah. Mereka berdua hanya saling mengenal, saling sapa tapi tidak terlalu dekat juga.
“Aku balik, ya. Sekali lagi makasih.”
“Okey. Hati-hati.”
Bagus dan Ziya hanya mengangguk sopan pada laki-laki yang dipanggil Al oleh Farah. Bagus dan Ziya membopong Delfin untuk segera ke luar dari tempat berisik itu. Sedangkan Farah hanya mengekori di belakang.
“Ini gimana ceritanya, Delfin bisa sampai mabuk kayak gini?” tanya Ziya saat sudah berada di dalam mobil Delfin bersama Farah, sedangkan Bagus berada di dalam mobil yang mereka pakai saat berangkat menjemput Delfin dan mengikuti dari belakang.
Ziya menatap sendu pada laki-laki yang ia cintai. Baru kali ini Ziya melihat sosok Delfin yang terlihat rapuh.
“Mungkin karena sebentar lagi Kak Delfin dan Kak Cia bercerai, jadi membuat Kak Delfin frustrasi,” terang Farah sembari mengemudikan mobil Delfin.
Rasa bersalah kini semakin berjejal di hatinya. Tidak dapat ia membohongi diri sendiri, bahwa dirinya adalah salah satu orang yang ikut andil dalam perpisahan Delfin dan Cia.
“Kita pulang ke apartemen Kak Delfin aja, ya. Aku takut mama dan papa sedih melihat kak Delfin seperti ini,” pinta Farah pada Ziya.
Sampai di apartemen milik Delfin, laki-laki itu kembali berulah. Ia meracau tidak jelas, tapi terdengar memilukan.
“Kamu hempaskan aku gitu aja. Kamu nggak mau lihat seberapa keras aku berjuang agar bisa sejajar dengan posisi kamu. Kamu egois, Ci. Kamu buta dengan pengorbanan aku, hingga kamu mudah berpaling pada laki-laki lain. Dan lebih menyakitkan saat aku tahu kamu hamil anaknya. Brengsek!” makinya.
Delfin meronta saat akan di bawa ke kamar, melihat Ziya dan bagus seakan tengah melihat Cia dan Farel. Bagus dan Ziya yang tidak siap di dorong oleh Delfin hingga mereka terjatuh tersungkur.
“Kak Delfin!” sentak Farah, “apa yang Kakak lakukan?” Farah membantu Ziya untuk bangkit.
“Mereka jahanam, Far. Mereka berdua biadab.” Delfin semakin meracau. Ia mendekati Ziya menatapnya dengan tajam. “Kamu wanita murahan, Cia!” Detik berikutnya semua orang dibuat melongo oleh ulah Delfin. Ziya hanya bisa berdiri terpaku dengan apa yang tengah Delfin lakukan. Kedua tangannya mengepal kuat. Pria itu kini tengah mencecap dengan rakus bibir ranumnya.
Delfin semakin liar, ia semakin meluapkan rasa marah dan kerinduan pada bibir tipis Ziya. Bahkan Delfin menggigit bibir Ziya hingga berdarah dan itu membuat kesadaran Ziya kembali. Ia memberontak, mencoba lepas dari Delfin. Bagus dan Farah yang melihat itu langsung membantu.
Delfin yang sudah hilang kewarasan memberi bogem mentah pada Bagus yang ia kira adalah Farel. “Laki-laki jahanam! Bagaimana bisa kamu berani meniduri istriku. Hah?” Delfin bersiap kembali menyerang Bagus, tetapi satu tamparan mendarat sempurna di pipinya. Membuat kesadarannya sedikit kembali.
“Kamu nampar Kakak, Far?” tanyanya lunglai.
__ADS_1
“Kakak pantas mendapatkan itu. Lihat apa yang sudah Kakak lakukan!” Farah menunjuk Ziya yang kini luruh ke lantai karena terkejut dengan ulah Delfin.
“Zi,” panggilnya lirih saat netranya menangkap sosok Ziya yang tengah bersimpuh di lantai.
“Dan lihat juga apa yang sudah Kakak lakukan pada Mas Bagus!”
Delfin menatap ke arah Bagus yang tengah menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah.
“Argh!!!” teriaknya frustrasi sambil menjambak rambutnya sendiri. Tidak lama kemudian ia limbung, jatuh tak sadarkan diri.
...***...
Delfin mencoba menghubungi Ziya pagi ini. Ia bermaksud untuk meminta maaf atas kejadian semalam. Hingga Suara bel terdengar, tanda bahwa ada orang yang akan berkunjung. Gegas ia membuka pintu apartemennya.
“Zi,” suaranya tercekat saat melihat sosok itu berdiri di depan pintu.
“Boleh aku masuk?”
“Ayo. Aku juga mau bicara sama kamu.”
Delfin dan Ziya duduk berseberangan di ruang tamu. “Farah?” tanya Ziya.
“Sudah pulang habis subuh tadi.”
Ziya mengangguk mengerti. “Ada yang mau aku bicarakan.”
“Zi, a-aku minta maaf untuk apa yang telah aku lakukan semalam,” lirih Delfin, “kumohon, jangan tinggalkan aku untuk kesalahanku semalam. Aku butuh kamu, Zi,” lanjutnya.
Ziya termangu, menatap sendu pada wajah tampan yang kini kewarasannya telah kembali pulih sepenuhnya. “Bukan kamu yang harus minta maaf, tapi aku.”
Delfin menatap lekat wajah Ziya. Masih terasa hangat ciuman semalam, meski kesadarannya menipis, tapi ia bisa merasakan betapa manis rasa itu. Saat tatapannya jatuh pada bibir tipis itu, entah setan mana yang merasukinya hingga terbesit keinginan untuk mengulangi.
“Maafin aku, Delfin. Gara-gara aku kamu dan Bu Cia harus berpisah.” Bulir bening jatuh begitu saja di pipi mulusnya.
“Itu bukan kesalahan kamu, Zi.” Ingin sekali ia beranjak untuk menghapus air mata itu di pipi Ziya tetapi ia urungkan mengingat kesalahannya semalam.
“Enggak, Fin. Itu salahku. Aku memang sengaja menggoda kamu agar kamu berpisah dari Bu Cia. Aku orang utusan dari kakek Pram yang sudah merencanakan semua dengan matang. Maaf. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku terpaksa melakukan itu semua. Adik-adik panti butuh tempat tinggal dan hanya Kakek Pram yang bersedia membantu dengan imbalan aku membantunya memisahkan kamu dan Bu Cia,” terangnya.
Delfin termangu menatap sosok yang ada di hadapannya. Ia berusaha keras mencerna setiap kata yang ke luar dari bibir tipis yang telah ia nikmati semalam. Lalu kemudian tawanya membahana memenuhi apartemennya.
__ADS_1
...***...