
...***...
Sementara di tempat lain, Delfin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia masih menahan segala hal yang membuatnya terbakar. Tanpa sadar, sedari tadi ia begitu kuat menekan kemudi mobil sebagai tempat pelampiasannya.
Mulut masih terkunci rapat. Namun, tidak dengan rahang yang terus mengeras. Gemeletuk giginya seolah sedang memangsa apa saja yang ada di hadapannya.
Kata-kata dari Ziya masih terekam jelas dalam ingatannya. Seorang publik figur akan menjaga segala atitude-nya di depan umum dan di mana pun tempatnya.
Walaupun kini ia sedang berdua saja dengan sang istri. Ia masih menjaga kewarasannya agar tak mengeluarkan sepatah katapun saat ini. Menurutnya, sepatah kata yang keluar saat diri dalam keadaan bergelung emosi akan memercikkan bara lain yang membuatnya semakin terbakar. Terlebih, ia masih berada di dalam perjalanan.
Cia yang duduk di samping kemudi pun demikian. Ia memilih menoleh ke samping jendela. Memperhatikan objek-objek yang telah di lewati.
Jalanan malam masih ramai lancar. Kota yang tak pernah sepi itu, masih menyuarakan keramaian berbagai aktivitas di dalamnya. Namun, begitu sunyi dengan suasana di dalam mobil sang bintang.
Hanya sesekali Delfin mengumpat. Bilamana ada pengendara yang kebut-kebutan dan berjalan tidak selaras. Cia pun tidak berani menegur sang suami akan hal itu. Ia hanya melirik dengan sudut matanya. Saat melihat penampilan sang suami yang terlihat kacau, Cia pun merasa bersalah.
Keheningan masih berlanjut hingga mobil yang mereka tumpangi memasuki carport. Dalam keadaan marah, Delfin masih menyempatkan untuk membukakan pintu untuk sang istri.
Sedikit perhatian itu membuat perasaan Cia kembali di selimuti rasa bersalah.
"Masih ada acara keluar, Pak?" tanya satpam rumah. Dengan berlari kecil ia menghampiri sang majikan.
"Tidak, Pak. Hanya saja, jangan terima tamu untuk malam ini."
"Baik, Pak."
"Ingat, Pak. Siapa pun orangnya!” tegas Delfin. Sikap ramah yang biasa ia terbitkan mendadak menguap entah ke mana. Hal itu tentu di sadari oleh satpam rumahnya.
Cia sudah berjalan terlebih dahulu sejak tadi. Ia adalah orang yang anti berbasa-basi. Terlebih, keadaan di kafe tadi masih menyisakan segudang kesal yang teramat.
Kaki berbalut highels sebelas sentimeter itu, menghentak kesal pada setiap lantai keramik yang ia lewati. Ia segera meletakkan asal sepatunya. Melanjutkan langkah pada pembaringan dan melemparkan tas jinjing dengan harga fantastis itu terbang bebas melewati ranjang king size-nya dan berakhir di lantai.
__ADS_1
Ia mendudukkan dirinya kasar dan meluapkan kekesalan dengan mengusap wajahnya kasar. Saat handel pintu tergerak menandakan penghuni lain yang akan memasuki kamar, dengan cepat Cia menghindarinya dengan berlalu ke kamar mandi.
Delfin mendapati sepatu yang tergeletak asal di dekat sofa kamar. Dengan menghela napas berat ia meraih dan meletakkannya pada rak sepatu. Ia sangat menyukai kerapian.
Delfin mengedarkan pandangan mencari sosok sang istri. Suara gemericik dari dalam kamar mandi seakan sudah dapat memberikan jawaban untuknya.
Dengan lunglai ia melepaskan beberapa kancing kemeja berwarna marun yang masih melekat di badan. Setelah itu ia menggulung asal lengan kemejanya sampai siku. Meskipun pendingin udara selalu menyala, tetapi itu tak membuat pikirannya dingin. Ia merebahkan tubuhnya pada pembaringan. Tak peduli dengan alas kaki yang masih membalutnya.
Cukup sepuluh menit, dan Cia sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Dress tidur juga sudah membalut tubuhnya. Ia melirik sinis pada suaminya yang telah terpejam dengan lengan menutupi sebagian wajah. Tak memedulikan itu, Cia mulai duduk dan membersihkan wajah. Lalu, ia mengoleskan beberapa rangkaian skincare pada wajah mulusnya dan nyaris tanpa noda sedikitpun.
Tanpa ia sadari, Delfin kini memandangnya dengan tatapan sendu dan penuh rasa rindu. Ia merindukan Cia yang dulu. Cia yang lembut dan penuh perhatian. Namun entah mengapa, kelembutan itu kini semakin memudar tertelan kesibukan. Bukan hanya untuk istrinya, ia pun juga perlahan mulai menyadari kesalahannya. Sampai ia lengah, dan akhirnya sang istri justru mencari perhatian dari orang lain.
Delfin menarik napas dalam-dalam. Ia duduk dan memandang wajah sang istri dari pantulan kaca meja riasnya. "Sayang," panggilnya dan hanya mendapat lirikan melalui kaca yang sama.
"Kita perlu bicara."
"Katakan saja," jawabnya acuh. Ia masih menuangkan serum pada wajah lalu meratakannya dengan ujung jari.
"Cia, aku benci kamu dekat-dekat dengan lelaki itu."
"Aku mau, kamu jauhi dia." Delfin merasa perih saat menyinggung lelaki lain dalam rumah tangganya.
"Kalau begitu, aku juga mau kamu jauhi si ****** itu!"
Delfin tentu tahu, siapa ****** yang di maksud oleh sang istri. Namun, baginya, Ziya tak pantas disebut demikian. Manajernya itu terlalu hina mendapat tuduhan seperti itu. Ia tidak rela. Delfin menelan kata sanggahan yang harusnya ia ungkapkan. Ia tidak mau memupuk bibit pertengkaran lagi.
"Aku benci dengan keadaan ini," ungkap Delfin menunduk.
Cia yang melihat keadaan sang suami pun menjadi sedikit iba. Perlahan Cia membalikkan badannya. Namun, masih duduk di tempat yang sama. "Kamu pikir aku juga senang, dengan keadaan kita?" Cia mulai bersungut. Masih menatap sang suami dengan kesal sampai di ubun-ubun.
Delfin mulai beringsut dari tempatnya. Berjalan pelan menghampiri sang istri. Tangannya tergerak mengikuti nalurinya. Mengelus puncak kepala sang isteri lalu merasakan harum rambut yang tergerai indah dengan indera penciumannya. Ia melunakkan egonya dengan menarik sudut bibirnya. Apalagi melihat istrinya hanya diam tanpa menolak sentuhan yang ia berikan.
Perlahan, Delfin duduk di lantai dengan menautkan kelima jemari tangannya pada tangan sang istri. Menghirup aroma tubuh Cia yang selalu ia rindu. Cia memalingkan wajah, ia harus mempertahankan harga dirinya sebagai seorang istri. Ia tak mau begitu saja menerima rayuan Delfin. Terlebih, masih jelas dalam ingatannya. Sang suami begitu menuruti kata-kata Ziya untuk menjaga image-nya di hadapan umum. Baginya, tatapan itu hanya pantas untuknya saja. Ia tak rela membaginya pada yang lain.
__ADS_1
Delfin tak hilang akal, ia menarik dagu sang istri agar mau menatapnya, tanpa berpaling lagi. Terlebih, dengan pertemuannya dengan sang istri bersama pria lain, membuatnya tak rela. Miliknya berada dalam genggaman pria lain.
Kini Cia menatap penuh pada wajah sang suami. Melihat wajah sendu Delfin, perlahan membuat Cia melunak. "Kita akhiri keributan ini, Sayang. Aku nggak mau rumah tangga kita menyimpan bara yang kapan saja dapat membakar kita."
"Jika kamu masih terus mempertahankan ****** itu bekerja denganmu, maka keributan ini tidak akan ada habisnya, Fin!" Cia kembali menghadap cermin. "Kamu jauhi ****** itu, jika kamu sayang aku," lanjutnya.
"Oke, Cia," tegas Delfin. Ia mulai tersulut kembali saat Cia masih menyebut Ziya dengan sebutan yang tak pantas. Ia berdiri dari duduknya. Sedangkan Cia masih menelisik wajah sang suami dari kaca yang berdiri tegak di hadapannya.
"Oke. Kita buat kesepakatan. Kamu jauhi lelaki itu, lalu aku akan menjauhi Ziya," putus Delfin.
Keputusan Delfin membuat wajah yang semula menegang itu perlahan mereda seiring senyum manis yang tertarik perlahan. Wajah yang sedari awal sudah cantik itu, kian cantik berlipat-lipat saat seulas senyum terukir di wajahnya. Ia segera berdiri untuk berhambur pada pelukan suaminya.
"Aku setuju, Sayang." Suara Cia begitu jelas meski dalam dekapan Delfin.
Perlahan, tetapi pasti kedua insan itu larut dalam kobaran gairah. Hasrat itu menyapu semua kesadaran yang dimiliki Cia dan Delfin, hingga sentuhan demi sentuhan menimbulkan ******* yang tak terelakkan. Menghapus semua jejak pertengkaran dengan percintaan yang memabukkan. Menyatukan kembali hati yang sempat tercerai berai. Malam itu menjadi malam penuntas kerinduan sepasang suami istri yang sesaat lalu diliputi kegamangan.
...***...
Iklan dikit 😅
Tizen: Eh, ngapain mereka di part akhir?
Othor: Biasa, anu
Tizen: Anu apaan? Lagi usaha bikin baby, ya?
Othor: Kagak tau, lah. Menurut akoh si, mereka lagi nyapu lantai. Kan, abis berantem jadi barang-barang mereka berantakan semua.
Tizen: eh, jangan salah. Zaman sekarang semua masalah rumah tangga kelarnya di atas ranjang, tau 🙄
Othor: Iya, kah? 🤔
__ADS_1
... Eh, jangan lupa like dan komentarnya. Tabur bunganya sekalian, atau kopi juga nggak apa-apa. Alhamdulillah 😗...