Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Terpuruk


__ADS_3


...***...


Keesekokan harinya, di tempat syuting iklan yang sedang dibintangi Delfin, laki-laki berperawakan tampan itu sudah mengulang beberapa kali adegan. Jadwal syuting yang direncanakan selesai sebelum menjelang sore, akhirnya molor sampai jam sebelas malam, akibat Delfin yang kurang fokus.


Beberapa kali sang sutradara menegur Delfin agar kembali konsentrasi. Namun, sayang, laki-laki berbalut kaos navy dipadukan celana chinos krem itu tidak membuat sang sutradara merasa puas.


“Aduh, Fin! Kalau kamu ada masalah pribadi jangan bawa-bawa sampai ke lokasi syuting! Selesaikan dulu di rumah bersama istrimu! Kamu harus profesional di sini!” tegur sutradara yang terlihat kecewa dengan akting Delfin yang tidak menghayati. Padahal, syuting kali ini sebenarnya bisa cepat selesai. Mengingat Delfin hanya mempromosikan produk parfum laki-laki. Namun, totalitas akting yang ia perankan kurang memuaskan bagi sang sutradara.


“Maaf-maaf, Pak,” ucap Delfin kesekian kalinya. Ia merasa bersalah hari ini pada semua kru, jadi terpaksa syuting ditunda setengah jam.


Delfin kembali ke ruang tunggu yang sudah dipersiapkan untuknya. Ia mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi berbahan stainless stell dengan menutup mata sembari memijit pelipisnya.


Sebagai manajer, Ziya pun mengikuti Delfin masuk ke ruangan itu. Melihat artisnya itu sedang dalam keadaan kurang baik, Ziya mencoba menawarkan minuman dingin.


“Nih, minum dulu!” Sebuah botol minuman kaleng tepat di depan wajah Delfin.

__ADS_1


Delfin pun membuka mata lalu meraih minuman tersebut. “Thanks, Zi,” ucapnya, kemudian meneguk minuman soda tersebut sampai tandas.


Sejak tadi pagi, Ziya melihat Delfin terlihat tidak bersemangat. Bahkan sampai syuting tadi, ia beberapa kali melakukan kesalahan sampai sutradara menegurnya. Membuat Ziya merasa prihatin dengan kondisi Delfin saat ini. Ia tahu jika Delfin tidak bisa konsentrasi karena masalahnya dengan Cia.


Baru kali ini Ziya mendapati Delfin tidak konsisten dengan pekerjaannya. Padahal, biasanya walau artisnya itu sedang terlibat masalah berat dengan istrinya, Delfin selalu bersikap profesional di depan kamera. Ziya pun menyimpulkan jika masalah yang dihadapi Delfin saat ini benar-benar berat, sampai membuat sang artis mendapat teguran berkali-kali hari ini dari sutradara.


Ziya memilih diam menatap Delfin yang duduk di seberangnya. Perempuan bermata indah nan bulat itu menebak, jika masalah Delfin masih masalah yang sama setelah mendapatkan pesan singkat dari seseorang. Entah masalah apa yang membuat raut wajah Delfin berubah geram usai melihat isi dari pesan tersebut. Ziya yakin masalah ini masih berhubungan dengan rumah tangganya yang sedang Ziya permainkan.


Sejenak, Delfin mengambil napas panjang lalu mengembuskannya melalui indra penciumannya. Laki-laki dengan bahu bidang itu duduk tegap di tempatnya.


Kedua tangan Delfin menyangga kepalanya dengan bertumpu pada kedua lututnya. “Apakah aku suami yang buruk? Suami yang tidak bisa membahagiakan istri? Apakah aku pantas bersanding dengan Cia?” tanya Delfin menatap Ziya dengan mata memerah. Ya, Delfin merasa kali ini bebannya sangat berat. Ia tidak menyangka jika cobaan dalam rumah tangganya datang bertubi-tubi. Sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga, ia tidak bisa mengambil sikap yang tegas pada istrinya. pun dengan dirinya sendiri. Jadi, Delfin merasa rendah dibandingkan dengan Farel dari segi apa pun.


Selama menjalani dua tahun usia pernikahan, ujian rumah tangganya kali ini sangat berat. Berawal dari restu Kakek Pram yang tidak pernah mengakuinya sebagai cucu menantu. Selama ini Delfin tidak terlalu pusing dengan hal tersebut. Baginya, selama Cia mencintainya, ia akan tetap mempertahankan pernikahannya.


Namun, sepertinya di balik diamnya Pram selama ini, pria tua itu mempunyai rencana licik yang sangat besar untuk memisahkan cucunya dari laki-laki yang tidak masuk kriterianya tersebut. Bukannya Delfin menutup mata dan berdiam diri saat menyadari rencana jahat Kakek Pram. Hanya saja, dia tidak ingin mengambil langkah salah yang akan merugikan rumah tangganya. Ia berpura-pura tidak tahu apa-apa selama Cia masih mempercayainya. Namun, sepertinya kepercayaan Cia padanya sekarang sudah mulai luntur seiring seringnya dia mendapatkan hasutan dari kakeknya tersebut.


"Kamu ngomong apa, sih, Fin?" Ziya merasa iba dengan keadaan Delfin. Perkataan tersebut terdengar begitu miris di telinga Ziya.

__ADS_1


"Aku memang bukan orang yang terlahir dari keluarga kaya raya. Aku juga hanya seorang artis yang baru muncul ke permukaan, tapi aku sedang berusaha untuk memantaskan diri untuk Cia. Apa salah aku, Zi? Kenapa Cia tidak bisa melihat itu? Aku sedang membuktikan pada kakeknya kalau aku juga mampu untuk membuatnya bahagia. Harusnya dia dukung aku, bukannya berkencan dengan laki-laki pilihan kakeknya itu!" Delfin geram. Kedua bahunya bergetar menahan rasa kesal. Amarah yang selama ini dia tahan akhirnya pecah dengan sebuah tangisan.


Ziya sempat ternganga melihat artisnya menangis tersedu sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Hingga tanpa Ziya sadari tangannya dengan berani merengkuh tubuh gemetar itu agar masuk ke dalam pelukannya. Delfin semakin terisak dalam pelukan Ziya. Rasa sedihnya sedikit melebur dalam ketenangan yang ditawarkan oleh perempuan itu.


Delfin benar-benar terpuruk. Mengingat sikap istrinya yang sudah berubah akhir-akhir ini. Sekarang ini, jangankan bersikap manja, untuk berbicara dengan Cia saja, Delfin harus perang urat syaraf dengan istrinya. Kini, tidak ada lagi ketenangan dan ketentraman dalam biduk rumah tangganya. Yang ada hanya pertengkaran dan kesalahpahaman yang terus terjadi di antara keduanya, tanpa ada yang mau mengalah salah satunya.


Delfin sejenak berfikir. Apakah selama menjadi suami Cia dirinya sudah memberikan yang terbaik untuk istrinya? Apakah ia pantas bersanding dengan istrinya itu. Berbagai pikiran kolot memenuhi otaknya membayangkan yang tidak-tidak jika dirinya berpisah dengan Cia. Dia tidak sekuat seperti apa yang orang lain lihat di depan kamera. Hati Delfin lemah jika menyangkut dengan sang istri. Ia sudah menjadi ‘budak cinta’ Cia sejak dulu saat mereka pacaran.


Delfin merindukan hari-hari di mana mereka berdua selalu romantis dalam situasi apa pun. Baik Cia maupun dirinya selalu mendukung satu sama lain. Namun, akhir-akhir ini guncangan yang menimpa rumah tangganya mungkin terlalu berat. Delfin belum menyadari awal dari masalahnya adalah kedatangan Ziya. Ia hanya berpikir jika hati Cia sudah mulai tergoda dengan bujukan kakeknya, agar mau meninggalkan Delfin.


Delfin bingung sekaligus takut jika hal itu benar-benar terjadi. Apakah ia sanggup melewati badai yang menerpa kehidupan rumah tangganya dan kembali romantis seperti sedia kala? Atau malah kehilangan istrinya di tengah badai yang melanda?


Ziya masih diam sambil memeluk Delfin. Memberikan usapan lembut di punggung lelaki itu seolah memberinya kekuatan agar bisa bersikap tenang. "Kamu kuat, kok, Fin. Aku tahu itu," ucap Ziya lirih.


...***...


__ADS_1


__ADS_2