Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Pergi


__ADS_3


...***...


Air mata Cia kini telah membasahi kedua pipi mulusnya, entah perumpamaan apa yang bisa menggambarkan betapa kecewanya hati Cia sekarang. Ia tak menyangka, jika semua sumber masalah yang terjadi dalam rumah tangganya selama ini adalah campur tangan dari kakeknya sendiri. Pramono, orang yang selalu Cia sayangi dan banggakan, ternyata tega melakukan semua ini.


"Nona,"


Cia mengangkat tangan kanannya, sebelum Bi Lea melanjutkan kata-katanya lagi. "Jangan membela Kakek, Bi. Kenapa Kakek tega sekali melakukan semua ini padaku." Isak tangis Cia semakin terdengar di ruang tamu keluarga Pramono.


"Apa Kakek tidak bisa melihat ketulusan hati Delfin? Kakek jahat, Bi. Apa Kakek tidak mau melihat aku bahagia? Sekarang, aku merasa malu. Delfin suami yang baik, Bi. Benar yang dikatakan orang tua Farel kemarin, aku ini memang istri yang tidak baik. Tidak bisa menjaga kehormatan keluarga terutama suami. Istri macam apa yang tidak mau percaya dengan suaminya sendiri, dan malah mencari kenyamanan dari laki-laki lain?" Cia semakin terisak, mengingat betapa mudahnya ia menuduh Delfin selingkuh. Betapa mudahnya ia meragukan cinta Delfin, suaminya sendiri.


Cia mengambil surat pemberian dari Ziya yang tadi terjatuh di pangkuannya, Cia membaca kembali kata demi kata yang tertera dalam surat itu. Hati kecilnya masih berharap semua ini hanya mimpi, atau mungkin dia salah membaca isi surat itu. Bibir Cia bergetar saat lagi-lagi ia membaca nama Agung Lubis Pramono sebagai pihak pertama dalam surat perjanjian kontrak itu.


Cia mengusap dengan kasar air matanya. Kali ini Cia benar-benar marah kepada Pramono, melebihi rasa bencinya kepada Ziya. "Kakek benar-benar tega!" batin Cia bergerumuh penuh emosi.


Cia segera beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menuju ke kamar. Tak berselang lama Cia kembali membawa tas selempangnya, dan berlalu begitu saja melewati Bi Lea tanpa sepatah kata pun.

__ADS_1


"Nona mau kemana? Nona belum makan dari pagi, nanti Nona sakit. Nona, jangan pergi, Nona! Tuan Besar pasti marah kalau tahu Nona pergi dalam keadaan seperti ini." Bi Lea mencoba mengejar langkah lebar Cia dan membujuknya agar tidak pergi. Namun, Cia tak peduli. Sikap kakeknya kali ini sudah keterlaluan, ia tak bisa memaafkannya. Sampai di parkiran, ia segera masuk dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Penjaga pintu gerbang yang tak tahu apa-apa segera membukakan pintu pagar untuk Cia, karena itu adalah tugasnya.


"Aduh, kenapa dibukain pintunya, Pak? Apa yang harus saya katakan pada Tuan Besar nanti?" protes Bi Lea sembari menatap badan mobil Cia yang menghilang dengan cepat dari pandangannya. Langkah rentanya tidak sanggup menghentikan aksi nekat Cia yang pergi dari rumah kakeknya.


"Memangnya kenapa, Bi?" tanya penjaga gerbang yang seringkali dipanggil Pak Man. Lelaki itu tampak bingung melihat raut khawatir yang tercetak jelas di wajah asisten pembantu seniornya itu.


Namun, alih-alih menjelaskan, Bi Lea malah merogoh ponsel di sakunya mengabaikan Pak Man. Ia berniat untuk menghubungi majikannya—Pramono. Belum sempat Bi Lea menghubungi nomor kontak Pramono, mobil Pramono sudah terlihat memasuki halaman. Mobil itu langsung masuk begitu saja lantaran gerbangnya sudah terbuka bekas Cia keluar dengan mobilnya tadi.


Bi Lea lantas berlari menghampiri tuannya sebelum lelaki tua itu keluar dari mobil. "Maaf, Tuan Besar. Nona muda ...." Bi Lea sedikit ragu untuk mengadu.


"Ehm ... anu, Tuan. Nona muda pergi dalam keadaan emosi. Nona muda pergi setelah Mbak Ziya tadi ke sini. Maaf, Tuan Besar saya tidak bisa membujuk Nona muda untuk tetap tinggal. Saya tidak bisa mencegahnya," terang Bi Lea sambil terisak, bukan hanya karena takut akan kemarahan tuannya, tetapi karena ia khawatir dengan keadaan Cia. Ia takut terjadi sesuatu dengan Cia, karena kondisi Cia yang sedang hamil dan juga emosinya yang sedang tidak stabil.


Pram sejenak terdiam, berusaha mencerna keterangan yang dijelaskan oleh asisten rumah tangganya tersebut. Beberapa detik kemudian air mukanya tampak tegang. Sepertinya dia sudah bisa menarik benang merah kenapa Cia bisa marah. Lekas ia masuk ke dalam mobilnya lagi, menyuruh sopirnya menuju ke suatu tempat.


...***...


Cia menghentikan mobil di sebuah taman yang tidak jauh dari butiknya. Untuk beberapa detik Cia tidak turun dan hanya melihat beberapa pasangan muda mudi yang juga berada di taman itu. Mereka semua terlihat begitu bahagia bercengkerama dengan pasangannya masing-masing.

__ADS_1


Air mata Cia kembali menetes, mengingat masa lalu ketika masih SMA. Cia dan Delfin juga sering mendatangi taman ini. Entah hanya sekedar melepas penat dari banyaknya tugas sekolah, atau hanya sekedar duduk-duduk sambil menikmati permen gulali. Banyak kenangan yang mereka lalui sebelum akhirnya Delfin mampu meluluhkan hati kakek Pram untuk merestui hubungan mereka.


Cia senang akhirnya Pramono mau menerima Delfin menjadi cucu menantunya. Mungkin karena rasa sayangnya kepada sang kakek yang begitu besar, membuat Cia tak pernah sedikit pun berpikiran negatif pada Pramono.


Kini, terlihat jelas gurat penyesalan di wajah Cia. Kata andai dan andai yang sekarang ini memenuhi pikirannya. Andai Cia selama ini mau mendengar ucapan Delfin. Nyatanya ia selalu mengabaikannya, ia tak pernah mau mendengarkan pendapat Delfin tentang kakeknya. Cia begitu percaya jika sang kakek benar-benar sudah berubah. Malah justru Cia yang mudah terpengaruh oleh ucapan kakeknya tentang perselingkuhan Delfin.


"Maafkan aku, Fin! Semua ini salahku. harusnya aku percaya padamu. Aku terlalu naif mengakui kelicikan kakekku, Fin." Isak tangis Cia semakin tak tertahankan.


"Kakek, kenapa Kakek sejahat ini padaku. Di dunia ini hanya Kakek yang aku punya. Harusnya Kakek senang, akhirya aku bisa menemukan Delfin yang begitu tulus mencintaiku tanpa memandang harta yang aku punya. Delfin selalu berusaha dan bekerja keras demi membahagiakan aku, Kek. Dia tak pernah mau menerima sepeser pun uang dari orang tuanya, demi tanggung jawabnya padaku. Tapi, kenapa Kakek justru menghancurkan keluargaku seperti ini. Apa sebenarnya yang Kakek cari? Sekarang, aku sudah mengkhianati Delfin. Dia pasti sangat kecewa. Delfin pasti sudah tidak sudi lagi menerima aku. Aku sudah menghancurkan impian dan harapannya, Kek. Rasanya aku jijik dengan diriku sendiri." Cia semakin terisak meratapi nasib rumah tangganya.


Sungguh tak pernah terbesit dalam pikirannya, jika Kakek Pram akan berbuat sejauh itu untuk memisahkan ia dan Delfin. Kini, semua sudah terjadi, Cia tak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Ia masih sangat mencintai Delfin, tetapi di rahimnya ada janin dari pria lain. Masih mungkinkah Cia dan Delfin bisa merajut cinta mereka kembali, setelah semua kegaduhan yang dibuat oleh Pramono?


...***...



...Othor minta dukungan like dan komentarnya, ya, Readers. Mamacih 🥰...

__ADS_1


__ADS_2