Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Membujuk Cia


__ADS_3

...***...


Ziya meraih satu gelas berukuran sedang untuk membuat lemon tea seperti rencananya. Ia membuka lemari pendingin dan menemukan tiga buah lemon di sana. Maka ia putuskan untuk mengambil satu buah.


Cekatan kedua mata hitam milik Ziya menemukan pisau yang tersimpan rapi di tempatnya. Ia membuang ujung buah lemon dan mengambil sisi tengahnya. Setelah itu Ziya meraih gelas yang sebelumnya sudah ia beri gula untuk menuangkan teh yang sudah tersedia sebelumnya.


‘Oh iya, es-nya lupa,’ batinnya.


Ia kembali membuka lemari pendingin itu dan ... kosong. Es telah habis.


“Kok bisa habis, sih,” ucapnya kecewa


Dengan mengembuskan napas berat, Ziya menekan keinginannya untuk membuat lemon tea dingin, agar dapat meredakan rasa kesal akibat salah paham yang dilakukan istri artisnya itu.


Kembali ia memindai flying cabinet di atasnya. Beruntung, ia menemukan beberapa sachet coklat instan di sana.


“Mmm ... coklat panas boleh kali, ya, untuk mengembalikan mood-ku.” Secerah ide untuk membuat minuman dingin hilang berganti dengan coklat panas yang ia buat dalam cangkir keramik berwarna putih.


Selesai dengan kegiatannya, Ziya mengirup aroma coklat agar rasa rileks aroma coklat dapat memberi efek positif di tengah kesibukannya.


Berjalan pelan menuju ke meja kerjanya. Ia menyesap sedikit coklat panas itu dan kembali memeriksa persiapan pertemuan Delfin pada pihak iklan untuk jadwal terdekatnya setelah ini.


Delfin keluar dari ruang pribadinya seraya membawa map file di tangan. “Zi, lagi sibuk, nggak?” tanyanya. Lebih pada pernyataan saja karena selanjutnya Delfin duduk bersekat meja tepat di hadapan Ziya, dengan mata masih fokus menelisik kata demi kata yang tertulis dalam surat kontrak kerjasama dengan pihak iklan sebuah produk parfum dari kota Bandung beberapa hari ke depan.


Ziya diam memperhatikan Delfin yang tengah serius membaca dokumen kerjasama, bersiap untuk melakukan apa saja yang menjadi kemauannya.


“Ini, Zi.” Delfin melihat sekilas pada Ziya dan kembali fokus pada isi lembar file di tangannya. “Saya agak keberatan dengan adegan yang akan saya mainkan dengan artis lain di sini. Tolong kamu urus, ya! Dan bila ada komplain dari pihak advertising lebih baik kamu tolak saja kerjasama kali ini.”


Ziya mengambil alih map file dan membacanya dengan seksama. Di dalamnya terdapat skenario yang akan dilakukan Delfin dengan sebagian tubuh terbuka dengan model cewek yang bergelayut mengelilinginya. Kening Ziya mengeryit terlihat berpikir mengingat nominal yang besar pada kontrak kerjasama itu.


“Emm ... menurut saya, ini bisa dibicarakan lagi, Pak. Asal jangan ditolak saja kesempatan besar seperti ini.” Ziya mengungkapkan pendapatnya dan membuat Delfin mengembuskan napas dengan kesal.


Delfin bersandar pada kursi yang didudukinya, sambil memijat pangkal hidungnya. Teringat akan ungkapan marah Cia beberapa waktu lalu yang dilayangkan padanya. “Mmm, bukan begitu Zi. Tapi, saya merasa tidak nyaman saja jika harus mengekspos badan saya, terlebih dalam script itu terlalu vulgar. Saya nggak mau itu,” ungkap Delfin tanpa mau mengungkapkan alasan sebenarnya karena istrinya akhir-akhir ini sedang begitu cemburu terhadapnya.


“Baiklah, Pak. Kalau begitu saya akan kembali mengonfimasi pada pihak iklan agar mau merubah skenarionya.”


“Oke. Saya tunggu kabar baiknya, Zi.” Delfin menegakkan duduknya dan memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Ziya dalam hal ini. Ia melirik coklat panas di samping laptop Ziya yang masih mengeluarkan uap panas dan sedikit menguarkan aroma harum pada penciumannya. “Ah, coklat panasnya boleh buat saya?” pinta Delfin dengan mata berbinar.


Sayangnya manik mata bulat kecoklatan itu membuat Ziya sedikit melupakan posisinya. Alhasil, Ziya hanya mengangguk patuh menuruti permintaan sang artis.


“Thank’s ya, Zi. Saya bawa ke ruangan saya, ya.” Delfin mengangkat cup berisi coklat panas.


Tersadar akan minuman itu, Ziya berdiri ingin menghentikan langkah Delfin. Pasalnya, minuman itu sudah ia sesap meski hanya sedikit. Namun, Delfin menghilang lebih cepat dan menutup pintu ruangan Ziya.

__ADS_1


“Duh, masa bosnya minum bekas bawahannya, sih,” gumam Ziya. Merasa tidak enak.


*


*


Sambil berjalan menuju meja kerja, Delfin menyesap sedikit demi sedikit minuman berperisa coklat itu, merasakan sensasi yang rasakan oleh indera perasanya. Rasa manis yang kuat dan sedikit pahit itu, nyatanya membuat perasaaanya lebih tenang.


Fokusnya kembali, saat minuman itu tersisa setengahnya saja. Ia raih benda pipih alat komunikasinya dan mendial nomor istri tercintanya.


Hingga dering ke sekian barulah suara ketus di seberang sana menyapa.


“Apa lagi, Fin?”


“Sayang, jangan seperti ini, dong. Aku jadi nggak fokus kerja, ini.” Selain memelas dan berkata lembut kepada Cia.


“Kenapa? Masih mau menyangkal lagi soal foto itu?” Cia masih dengan mode ketusnya.


“Sayang. Dengerin dulu. Aku rasa kamu salah paham. Aku kemarin memang ada bersama Ziya. Tapi di sana banyak orang.”


"Stop, ya, Fin! Pembelaan kamu yang sama persis dengan wanita itu ucapkan membuat aku tambah yakin, kalau ada apa-apa di antara kalian!” tukas Cia menyembur kekesalan di balik telepon Delfin.


‘Tunggu. Pembelaan? Sama persis? Apa Cia sudah menghubungi Ziya? Atau mereka sudah bertemu? Aku rasa itu tidak mungkin. Di tengah kesibukannya, apa mungkin Cia sudah mendatangi Ziya tanpa sepengetahuanku?’ batin Delfin berperang.


Sementara di seberang sana Cia masih memberikan rentetan kemarahannya dan membuat telinga Delfin berdengung.


Di luar dugaan, Cia justru memutuskan telepon sepihak dan membuat Delfin mengusap wajahnya sambil menghela napas kasar.


Melirik waktu yang hampir mendekati waktu senja. Delfin bergegas merapikan beberapa perlengkapannya seperti handphone, charger, ear phone, juga headset, lalu memasukkannya dalam tas selempang. Terakhir, ia meraih kaca mata hitam dan menggantungnya di bagian leher kaus putihnya, lantas keluar dengan tergesa.


Tujuannya adalah ruangan Ziya, ia masuk tanpa mengetuk pintu dahulu. Seolah sudah menjadi kebiasaannya mendoktrin setiap sudut ruangan adalah miliknya.


Delfin tertahan di bibir pintu saat Ziya sedang menelepon. Terlihat dari letak benda pipih dalam genggaman tangan yang menempel pada telinga.


“Eh ... Zi. Saya akan pulang dulu. Ada urusan penting. Dan saya harap kamu meng-handle-nya dulu, jika itu berhubungan dengan saya.”


“Ah, iya. Baik, Pak,” jawab Ziya. Tangannya menutup akses microphone pada ponselnya, agar orang yang di seberang telepon tidak mendengar perkataannya barusan.


*


Pulang ke rumah tanpa Bagus, bukan pilihan sulit. Delfin bisa sesuka hati mengemudikan mobil sesukanya. Jalanan cukup padat, tetapi Delfin mengemudi dengan lincah. Dapat membelah dan mencari celah di antara pengendara yang lain.


Tiba di rumah, ia sudah di sambut oleh asisten rumah tangga yang ada. Mengetahui istrinya belum sampai di rumah, Delfin kembali menggulir ponselnya untuk melakukan panggilan.

__ADS_1


Kali ini cukup sekali dering telepon itu berbunyi dan langsung disambut suara 'halo' dengan ketus kembali di seberang sana.


“Sayang. Aku sudah di rumah,” ucap Delfin.


“Aku udah di depan,” sahut Cia cepat lalu mematikan sambungan telepon.


Delfin tersenyum dan berlalu ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Dengan cepat dan tidak sabar Delfin menyeka sisa air pada wajahnya dengan handuk.


Begitu keluar dari kamar mandi, Delfin sudah mendapati Cia duduk melipat kaki pada sofa dan melipat tangan di dada. Mata masih menyala tajam karena marah bercampur cemburu, juga perasaan takut kehilangan begitu menyelimutinya.


Delfin terus mengulas senyum mendapati sang istri masih terlihat kesal meski sekarang sudah bertemu muka. Namun, pemandangan seperti itu sungguh membuat Delfin gemas.


Delfin mendekat dan mendaratkan kecupan pada kening Cia. Tidak ada penolakan meski tangan Cia sedikit menahan, saat Delfin akan menghimpitnya ke tepi sofa. “Udah, dong, marahnya. Aku tahu kamu hanya kangen sama aku, kan?” rayunya.


Namun, kenyataannya Cia malah membuang muka. Sentuhan yang Cia rindukan sedikit mengobati amarah yang masih memuncak di ubun-ubun. “Stop, Delf. Aku mau kamu jelasin yang sebenar-benarnya.”


Delfin sedikit menjauhkan tubuhnya untuk meraih benda pipih dalam saku celananya. Ia menunjukkan foto yang sebenarnya pada Cia dan memberikan keterangan siapa saja yang hadir dalam foto itu. Foto keseluruhan orang yang hadir dalam acara makan siang bersama kru.


“Sekarang, kamu udah percaya kalau itu hanya salah paham?” jelas Delfin.


Cia beranjak dari duduknya. “AKU MAU KAMU PECAT DIA!” Cia menatap tajam manik mata Delfin yang berdiri dengan wajah terkejut.


“Apa?” tanyanya tidak percaya.


“Aku bilang pecat dia dan CARI MANAJER BARU, Delf!!”


Meskipun suaminya sudah menjelaskan kesalahpahamannya, sepercik rasa tidak suka akan kedekatan suami terhadap manajer barunya itu sungguh menganggu pikirannya.


“Itu tidak mungkin, Sayang. Ziya kerja dengan baik. Selama ini dia tidak pernah melakukan kesalahan. Bahkan hal-hal yang rumit, dapat ia handle dengan baik. Aku nggak bisa sembarangan memecat dia.”


Cia menggeleng tidak percaya. Suaminya begitu banyak membela manajernya dan tanpa sadar telah memberikan pujian terhadap perempuan itu di depan matanya.


“Apa yang sebernarnya dia lakukan, Fin? Kenapa kamu begitu membelanya!” Cia berteriak dan mendorong bahu Delfin yang akan mendekatinya.


“Aku nggak bela dia, Sayang. Aku mengatakan faktanya,” sanggah Delfin berusaha meyakinkan.


“Aku udah ketemu dengannya tadi pagi. Dan dia mengatakan hal yang sama dengan kamu. Bukannya itu sebuah persekongkolan, hah?”


Cia meraih tas jinjingnya dan berlalu dari kamar meninggalkan Delfin yang berdiri terpaku di sana. Inginnya mengejar sang istri, tetapi mengetahui watak sang istri membuatnya urung untuk melakukannya.


Sesaat ia tersadar akan perkataan Cia. “Jadi, tadi Cia sempat ke studio?” tanyanya pada diri sendiri.


“Aarghh, dia pasti marah besar pada Ziya,” desahnya.

__ADS_1


...***...


...to be continued...


__ADS_2