Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Memilih Pergi


__ADS_3


...***...


Sejak pengakuan perasaan Ziya pada Delfin tempo hari, Ziya tidak pernah lagi menghubungi apalagi menemui Delfin. Lebih tepatnya, Ziya memilih menghindari Delfin. Ia tak ingin semakin terluka dengan perasaannya. Ia ingin berdamai dengan keadaan. Kebetulan Delfin sedang mengambil cuti untuk beberapa minggu ke depan. Jadi, Ziya tak perlu mencari alasan untuk menghindar.


"Kamu nggak kerja, Nak? Bunda perhatikan sudah beberapa hari ini kamu tidak keluar dari panti sama sekali," ucap Erna saat melihat Ziya yang duduk di kursi taman belakang panti asuhan. Erna menghampiri Ziya dan duduk di samping Ziya.


Ziya tersenyum, kemudian ia memeluk Erna ketika wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya itu duduk di sampingnya.


"Bunda, terima kasih sudah selalu ada buat Ziya," ucap Ziya. Beberapa saat kemudian ia mengurai pelukannya. "Bunda, Ziya sudah putuskan untuk berhenti menjadi manajer Delfin. Ziya ingin menebus kesalahan Ziya pada Delfin. Mungkin kalau Ziya pergi dari kehidupan Delfin, Bu Cia mau menerima Delfin kembali," tutur Ziya. Ada perasaan tak rela saat ia mengucapkan kalimat itu. Namun, kali ini Ziya harus bisa mengikhlaskan perasaannya untuk Delfin. Ziya ingin mengubur semua rasa itu dalam-dalam. Membiarkan rasa itu menjadi kenangan yang mungkin tak akan pernah sanggup ia lupakan.


"Iya, Sayang. Bunda tahu kamu anak yang baik. Bunda tetap bangga sama kamu, Nak. Semoga semua kejadian ini bisa menjadi pelajaran untuk kamu, Ziya, agar ke depannya kamu menjadi wanita yang lebih kuat dan lebih bijak dalam mengambil langkah di masa depan," tutur Erna, ia mengusap bahu Ziya penuh sayang.


"Makasih, Bunda," ucap Ziya, ia tersenyum dan kembali memeluk Erna.


...***...


Pagi yang cerah, diiringi suara kicau burung yang seolah sedang bernyanyi menyambut udara yang begitu sejuk pagi ini. Rencananya hari ini Ziya akan menemui Delfin, untuk mengajukan pengunduran dirinya sebagai manajer Delfin.


Ziya sudah siap dengan tas selempang warna hitam kesayangannya. Ziya akan menemui Delfin di kediaman keluarga Pramono. Semalam saat akan beranjak tidur, Bagus mengirimkan pesan untuk Ziya. Ia memberi kabar pada Ziya, bahwa Delfin dan Cia telah rujuk dan sekarang tinggal di rumah Kakeknya Cia. Hati Ziya sangat lega mendengar kabar bahagia itu, setidaknya itu membuat rasa bersalahnya kepada Cia dan Delfin sedikit berkurang.


...***...


Ziya sudah berada di kediaman keluarga Pramono. Ia kini duduk berhadapan dengan Delfin dan Cia.


"Apa kabar, Bu Cia?" sapa Ziya dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Ziya ikut senang melihat keadaan Cia yang tetap terlihat cantik dan elegan meskipun dalam keadaan hamil.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, Ziya. Aku sehat, apalagi sekarang Delfin begitu perhatian padaku dan calon anak kami,” jawab Cia sambil mengelus perutnya yang kini sudah sedikit membuncit.


Delfin pun tersenyum ke arah Cia, lalu mengelus pucuk kepala Cia dan mengecupnya. Entahlah, meskipun kini Delfin telah bersatu kembali dengan Cia, tetapi Delfin masih merasa kecewa dengan perbuatan Ziya. Karena Ziya, Delfin hampir saja kehilangan Cia dan juga buah hatinya. Meski, hati kecilnya juga menyadari jika Ziya hanyalah korban. Namun, tetap saja, nyatanya perbuatan Ziya sudah membuat kehidupan rumah tangganya jungkir balik dan hampir saja bubar.


"Pak Delfin, Bu Cia, maksud kedatangan saya kemari, saya ingin meminta maaf atas semua perbuatan yang telah saya lakukan. Maafkan saya, sudah menjadi duri dalam rumah tangga kalian. Sungguh saya sangat menyesal.” Ziya menjeda kalimatnya, ia berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.

__ADS_1


"Pak Delfin, terima kasih sudah memberikan saya kepercayaan selama ini. Saya senang bisa bekerja sama dengan Pak Delfin. Meskipun akhirnya, saya harus mengkhianati kepercayaan Bapak. Maafkan saya, sudah memanfaatkan Anda untuk kepentingan pribadi saya. Maafkan saya jika selama menjadi manajer Bapak, saya kurang maksimal. Mulai hari ini saya akan mengundurkan diri menjadi manajer Anda, Pak. Terimakasih untuk semua kebaikan Bapak selama ini untuk saya juga panti asuhan." Ziya tersenyum memandang Cia dan Delfin bergantian. Senyum tulus terulas dari lubuk hatinya paling dalam.


Ziya benar-benar ingin melupakan semuanya. Ia bahagia melihat Delfin dan Cia sudah bersatu kembali.


"Semoga keluarga kalian selalu bahagia, dan semoga kalian mau memaafkan semua kesalahan yang sudah saya perbuat. Bu Cia, Pak Delfin, saya pamit." Ziya beranjak dari duduknya berniat meninggalkan kediaman Pramono. Ada rasa lega, tetapi juga ada rasa sesak melihat perlakuan Delfin padanya yang tidak sehangat dulu.


“Zi, tunggu!” Suara Cia menginterupsi, membuat langkah Ziya terhenti. Meski ragu, tapi pada akhirnya ia kembali menoleh ke arah pasangan suami istri itu.


“Aku juga minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan.” Suara Cia begitu tulus terdengar dalam indera pendengar Ziya.


“Bu Cia tidak perlu minta maaf. Di sini saya yang salah.”


“Semua ini bukan kesalahan kalian berdua. Ini semua kesalahan saya.” Suara bariton itu terdengar menggelegar menarik atensi semua orang ke arahnya.


Pram berjalan mendekati mereka bertiga. “Saya yang sudah melibatkan kamu dalam urusan rumah tangga cucu saya. Saya bersyukur, kamu adalah orang yang baik. Seandainya saya salah memilih orang, mungkin Delfin dan Cia akan benar-benar berpisah. Dan itu akan saya sesali seumur hidup saya.” Pram menarik dalam napasnya. Ia menatap Ziya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Untuk panti asuhan, kamu tenang saja. Akte kepemilikan akan berganti atas nama kamu sehingga kalian tidak perlu pergi dari panti. Semuanya sudah diproses oleh pengacara saya.”


Ziya termangu mendengar penuturan Pram. Rasanya begitu sulit untuk mencerna kata-kata itu. Hingga suara Delfin memecah lamunan Ziya.


“Maafkan aku.” Suara Ziya bergetar menahan tangis. Suara yang ia rindukan itu tengah mengeluarkan apa yang tengah pemiliknya rasakan.


“Meski kecewa, aku sudah memaafkan kamu. Aku hargai usaha kamu untuk membantuku mengembalikan Cia padaku. Aku harap, kita masih bisa berteman.” Delfin mengulurkan tangannya sembari menatap Ziya dengan senyum yang terukir.


Ziya menyambut uluran tangan Delfin, “Terima kasih.”


Cia berhambur memeluk Ziya, “Terima kasih, Ziya.”


...***...


Hatinya kini sudah terasa sangat lega. Kini, ia tinggal memikirkan masa depannya. Ia berniat pergi dari kota ini. Meninggalkan semua kenangan indah yang pernah tercipta.


“Melamun lagi, Nak?” Erna menghampiri Ziya yang tengah berdiri di samping jendela kamarnya.

__ADS_1


“Eh, enggak, Bun.”


Erna mengernyit, tidak percaya begitu saja sedangkan Ziya tersenyum simpul.


Ziya mengajak Erna untuk duduk di ranjang. “Kata Tuan Pram, panti akan dipindah tangankan atas namaku, jadi kita tidak perlu risau memikirkan tempat tinggal lagi.”


“Hah? Benarkah?” Erna tidak mampu menyembunyikan raut keterkejutannya.


“Iya. Kemarin, Tuan Pram sendiri yang mengatakannya. Semua masih proses.”


“Syukurlah kalau begitu.” Senyum penuh kelegaan menghiasi wajah tua itu.


“Bun.”


“Iya, Nak.”


“A—aku izin pergi, ya.” Ziya berucap sedikit ragu.


“Kamu mau pergi ke mana?” Kedua kalinya dalam sehari ini Erna dibuat terkejut oleh Ziya.


“Ziya mau cari pengalaman lain ke luar kota,” ucapnya lirih, “Ziya ingin cepat melupakan semua yang pernah terjadi di sini. Ziya tidak ingin terus terpaku dengan kenangan Delfin, Bun,” lanjutnya lagi.


Erna menatap Ziya dengan sendu. Diraihnya Ziya dalam pelukannya. “Kamu yakin dengan kepergianmu akan mampu melupakan Delfin?”


Ziya terdiam sejenak. Sesungguhnya ia ragu, tetapi jika tidak dicoba mana dia tahu. “Setidaknya Ziya udah berusaha, Bun.”


“Bunda dukung apa pun yang terbaik buat kamu, Nak," ujar Erna dengan senyuman yang tersungging di bibir.


“Makasih, Bun.”


“Kamu harus tiap hari kasih kabar ke Bunda.” Meski berat, Erna mencoba mengerti dengan keputusan yang telah diambil Ziya.


...***...

__ADS_1



...Tinggal beberapa bab lagi 🤧🤧...


__ADS_2