Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Hamil


__ADS_3


...***...


Malam ini Cia begitu malas beranjak turun dari ranjang. Sejak tadi, Bibi Lea tak hentinya memanggil untuk makan malam. Pasalnya, Kakek Pram sudah menunggunya di bawah.


Dengan rasa malas, ia berjalan menuju walk in closet mengganti bajunya, mengambil satu setelan piyama berbahan satin berwarna maroon, Cia menuruni anak tangga bergabung ke meja makan bersama Kakek Pram yang sudah menunggunya.


“Sayang, kamu nggak enak badan?” tanya Pram saat melihat cucu kesayangannya berwajah pucat, yang baru saja mendaratkan tubuh di kursi meja makan.


“Entahlah, Kek. Mungkin hanya kelelahan saja,” jawab Cia.


Bibi Lea selaku asisten rumah tangga di rumah itu pun membantu menuangkan nasi dan lauk ke dalam piring Kakek Pram.


“Non, Cia mau lauk apa?” tanya Bibi Lea perempuan paruh baya yang berdiri di sebelahnya.


“Aku bisa ambil sendiri, Bi,” sahut Cia seraya mengangkat tangan kanannya.


Berbagai menu lauk pauk tersaji di atas meja makan. Namun, entah mengapa saat Cia mengambil sayur capcay yang ada di depannya, mendadak kepalanya pusing dan perutnya mual. Ia pun lekas menutup mulutnya.


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Pram kembali, laki-laki tua itu khawatir melihat cucunya yang tidak seperti biasanya.


Cia menggeleng. “Nggak apa-apa kok, Kek.” Cia pun kembali melanjutkan mengambil capcay dan menuangkan ke dalam piringnya. Perempuan dengan rambut hitam panjang itu pun mulai menyantap hidangan makan malam.


Namun baru suapan pertama, Cia merasa perutnya seolah diaduk-aduk. Sambil menutup mulutnya, ia lekas beranjak dari tempatnya dan berjalan cepat menuju wastafel dapur untuk memuntahkan isi perutnya.


Huwek ... huwek ....


Cia hanya mengeluarkan cairan berwarna kuning, karena sejak tadi siang perutnya belum diisi makanan sama sekali. Mendengar sang cucu muntah, Kakek Pram lekas menyusul Cia ke dapur bersama Bibi Lea.


“Kamu kenapa, Sayang? Lagi nggak enak badan?” tanya Pram berdiri di samping cucunya yang terus muntah. Bibi Lea pun membantu mengelus punggung Cia.


Setelah berhenti mengeluarkan semua isi perutnya, Cia berkumur dan membasuh mulutnya. “Kakek tidak usah khawatir. Silahkan lanjutkan makan malamnya. Mungkin, aku hanya masuk angin saja, Kek,” jawab Cia.

__ADS_1


Melihat wajah sang cucu yang sudah sangat pucat, Kakek Pram pun berkata, "Ya sudah, Bi. Tolong buatkan Cia teh hangat!"


“Baik, Tuan.”


Kakek Pram membantu memapah cucunya berjalan menuju meja makan. Baru berjalan dua langkah, tiba-tiba Cia ambruk. Untung saja, Kakek Pram cepat menangkap tubuh cucunya itu.


“Bi, Lea," teriak Pram memanggil asisten rumah tangganya.


“Iya, Tuan?" Bi Lea cepat menyahut dan sedikit tergopoh-gopoh menghampiri majikannya. Melihat nona mudanya pingsan, Bi Lea berkata, "Ya ampun, Nona. Apa yang terjadi?”


“Cepat, bantu saya membawa Cia berbaring ke sofa!”


Lekas, mereka membawa tubuh Cia ke sofa.


“Cepat hubungi dokter Rian!” perintah Pram begitu tubuh lemah Cia berbaring.


“B-baik, Tuan!”


Makan malam yang seharusnya dinikmati dengan tenang kini berubah menjadi kecemasan. Rasanya, Pram tidak bernafsu lagi melanjutkan makanannya. Ia sangat khawatir melihat sang cucu terbaring lemas di sofa.


Dokter muda itu melepaskan stetoskop yang ada di telinganya, kemudian menghadap pada Pram.


“Tuan tidak perlu khawatir. Kondisi ini biasa terjadi pada wanita hamil muda.”


“Maksud, Dokter?” tanya kakek Pram.


Dokter Rian tersenyum menatap Kakek Pram. “Selamat, Tuan, Anda akan segera menjadi kakek buyut. Nona Cia saat ini tengah hamil. Menurut perkiraan saya, Mungkin sudah sekitar enam minggu,” jelas Dokter tampan tersebut.


Di saat yang bersamaan, Cia perlahan membuka matanya. Bibi Lea sejak tadi tidak berhenti memberikan minyak kayu putih ke hidung Cia.


“A-apa yang Dokter katakan tadi? Sa-saya hamil?” tanya Cia dengan raut wajah yang kaget.


“Benar, Nona Cia. Saat ini, Anda memang tengah hamil. Jadi kondisi yang ada alami saat ini hal yang wajar bagi setiap perempuan yang tengah hamil trimester pertama. Untuk lebih jelasnya, silahkan anda ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut," jelas Dokter Rian.

__ADS_1


... *** ...


Sejak tadi Cia mondar mandir di dalam kamar. Kabar tentang kehamilannya kini membuatnya merasa gelisah. Bukan karena ia tidak senang dengan kehamilannya saat ini, melainkan yang membuatnya khawatir adalah janin yang ada di dalam perutnya ini anak siapa? Pasalnya, sudah sejak lama ia tidur terakhir kali dengan Delfin. Lalu dengan cerobohnya, ia tidur dengan Farel. Apa yang dikatakannya nanti pada Delfin jika suaminya itu tahu ia hamil saat ini. Tentu Delfin akan mempertanyakan perihal kehamilan tersebut. Walaupun sudah sejak lama, Delfin mendambakan seorang anak lahir dari rahimnya untuk mengisi hari-hari mereka, tetapi tidak serta merta juga ia akan terima jika anak yang lahir tersebut bukan dari darah daging Delfin.


“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Cia seraya menggigit kukunya. Merasa tidak punya solusi, akhirnya Cia meminta pendapat kakeknya perihal kehamilannya saat ini.


Sementara itu, kakek Pram yang duduk di kursi ruang kerjanya kini tersenyum menatap pigura yang ada di tangannya.


“Kamu akan segera menjadi seorang kakek, Hendri. Saat ini anakmu tengah mengandung pewaris keluarga ini.” Kedua netra Pram mengeluarkan cairan bening yang membasahi wajah keriputnya. Semenjak Cia kehilangan kedua orang tuanya, Pramlah yang merawatnya sampai sekarang. Bahkan, saat cucunya itu sudah menikah pun, Pram selalu menjaga Cia dari orang-orang yang jahat demi melindungi sang cucu tersayang. Suara pintu membuatnya cepat menghapus air matanya itu.


“Masuk!” ucap Pram.


Ceklek!


Dengan raut wajah yang suram, Cia masuk ke dalam ruang kerja kakeknya dan langsung mendaratkan tubuhnya di sofa yang ada di depan meja kerja Pram.


Melihat raut wajah sang cucu yang tidak bersemangat dengan berita kehamilannya, Kakek Pram pun beranjak dari posisinya menuju samping Cia.


“Ada apa, Sayang? Apa kamu tidak bahagia dengan kehamilanmu saat ini?” tanya Pram seraya mengelus rambut panjang sang cucu.


Cia menatap Kakek Pram di sampingnya. “Kek ...," panggil Cia pelan. "Em ... a-pa yang harus aku lakukan ji-jika anak yang aku kandung ini ternyata bukan anak Delfin?"


Mendengar ucapan cucunya, Pram mengerutkan keningnya. "Maksudnya?" tanya Pram.


"Sudah sangat lama sejak terakhir kalinya aku tidur dengan Farel, aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Delfin. Dan kalau sampai anak yang kandung bukan anak Delfin dan ia tahu, pasti ia akan marah besar dan menceraikan aku, Kek.” Cia menggelengkan kepalanya, “Aku tidak menginginkan hal itu sampai terjadi. Aku sangat mencintai Delfin, Kek," ujar Cia menangis menunduk seraya memegang perutnya yang masih rata.


Kakek Pram merangkul tubuh Cia ke dalam pelukannya untuk menyembunyikan smirknya. “Kamu tidak usah khawatir, Sayang. Katakan saja kalau kamu hamil anak Farel. Dan jika Delfin menceraikanmu, itu tidak akan menjadi masalah yang besar. Bukankah ia tengah dekat dengan manajernya itu? Jadi, ini kesempatan kamu terbebas darinya. Dan ingat, janin yang ada di dalam perutmu itu kakek yakin adalah anak Farel. Bukankah selama ini, saat kamu berhubungan dengan Delfin, kamu belum pernah hamil? Sedangkan setelah bersama Farel?" ucap Pram menguraikan pelukannya.


Pram mengusap pipi Cia. "Cia Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Pokoknya setelah kalian bercerai, Kakek akan mengurus pernikahanmu dengan Farel. Kamu jangan khawatir lagi soal anak itu. Yang terpenting sekarang, kamu harus happy, makan makanan yang bergizi agar anak kamu dan Farel yang ada di dalam perutmu berkembang dengan baik," pesan Kakek Pram.


Pram pun tersenyum semakin lebar. Ia begitu senang, karena saat ini anak yang dikandung Cia adalah anak Farel. Itu berarti, anak yang lahir dari rahim cucunya itu nantinya akan mewarisi dua grup besar perusahaan.


...***...

__ADS_1



...Yok, tebak! Kira-kira Cia hamil anak siapa? Tulis di kolom komentar, ya 😂...


__ADS_2