Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Harga Diri


__ADS_3


...***...


Waktu begitu cepat berlalu. Di tengah kesibukan syuting iklan dan video klip album barunya, Delfin harus membagi waktu, pikiran, dan tenaganya untuk urusan rumah tangga yang akhir-akhir ini begitu memprihatinkan. Artis yang mulai naik daun tersebut menyimpan sejuta kesedihan yang tidak diketahui orang lain. Delfin benar-benar bersikap profesional. Ia tidak suka urusan pribadinya menjadi konsumsi publik. Hal itu tentu atas campur tangan Pramono. Sebab jika berita perselingkuhan Delfin sampai menyebar, Pramono akan menjadi salah satu pihak yang dirugikan.


Sementara itu, di kantor agensi mulai disibukkan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan jadwal peluncuran album terbaru Delfin. Untuk urusan panggung, pihak agensi menyerahkan sepenuhnya kepada tim khusus yang sudah berpengalaman dalam hal ini. Begitu pula dengan penjualan tiket masuknya yang mulai dibuka hari ini. Meskipun konser peluncuran album baru masih beberapa hari lagi, tetapi penjualan tiketnya sungguh di luar prediksi.


“Fin, coba lihat! Baru kali ini masyarakat begitu antusias dengan konser garapan kita.” Sang Produser menunjukkan deretan angka di layar laptopnya ke arah Delfin.


“Astaga! Ini beneran, Bos? Salah kali.” Delfin berusaha memastikan sekali lagi.


“Salah gimana? Ini sistem yang merekap. Masak iya, salah? Jangan ngaco kamu, Fin!” ucap lelaki paruh baya yang masih terlihat segar. Tawa keduanya menggema di dalam ruangan itu. Aroma kebahagiaan mulai menguar di setiap sudut gedung agensi.


Sementara di ruangan lain, Ziya sibuk memilihkan kostum untuk sang bintang. Dengan cekatan Ziya mengambil beberapa kostum yang bakal dikenakan Delfin pada acara besar tersebut. Sejauh ini apa pun yang dipilih Ziya selalu sesuai dengan selera Delfin. Entah karena Ziya begitu memperhatikan hal sedetail itu tentang Delfin atau selera Ziya memang bagus.


Namun untuk kali ini, Ziya tidak ingin sembarangan. Konser ini adalah pencapaian terbesar dalam karir Delfin, hingga untuk urusan kostum Ziya harus melibatkan sang bintang.


“Kenapa enggak kamu saja yang pilih, sih?” cecar Delfin begitu tiba dalam ruangan itu setelah beberapa saat yang lalu menerima panggilan dari Ziya.


Ziya tersenyum menyambut kedatangan Delfin. Senyum yang menyembunyikan luka meskipun ia berusaha untuk baik-baik saja. Beberapa hari yang lalu, Delfin bercerita jika Cia sudah kembali ke apartemen. Hal itu terpancar dari sorot matanya yang terlihat begitu bahagia. Harusnya Ziya ikut bahagia mendengar kabar itu. Namun, jauh di lubuk hatinya ada rasa tidak rela jika mereka kembali bersama.


“Zi! Kok, bengong, sih.” Kalimat Delfin mengembalikan kewarasannya yang sempat menghilang sesaat.

__ADS_1


“Eh, gimana, Fin?”


“Ish! Kenapa tidak kamu saja yang milihin, Ziya?” ulang Delfin menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berada di dekat jendela.


“Kali ini beda, Fin. Ini adalah peluncuran album pertama kamu. Penampilan kamu harus benar-benar sempurna. Jadi kamu yang akan menentukan kostum mana yang akan kamu pakai dari beberapa yang sudah aku pilih,” terang Ziya sambil menunjukkan deretan baju yang sudah Ziya persiapkan.


Beberapa saat lamanya Delfin memilah baju-baju tersebut. Jujur, Delfin bingung harus memilih yang mana. Pasalnya, hal ini berkaitan dengan brand yang menjadi sponsor dalam acaran peluncuran album barunya.


“Zi, kamu sendiri pilih yang mana?” Delfin beralih pada deretan kostum wanita yang ada di sisi kirinya.


“Aku, mah, gampang. Nanti tinggal menyesuaikan,” jawab Ziya santai. Ziya berpikir bahwa Delfinlah yang harus memukau penonton, bukan dirinya. Hingga Ziya tidak begitu memedulikan kostum yang akan dia pakai, meskipun Ziya akan ikut tampil di panggung bersama Delfin di beberapa scene.


“Enggak kebalik, nih? Biasanya, tuh, cewek yang ribet. Nah, ntar aku yang menyesuaikan sama kostum kamu,” protes Delfin.


...*** ...


Sementara itu di apartemen, wanita cantik nan anggun sudah menanti kedatangan sang suami. Hari ini Cia sengaja pulang lebih awal dari butiknya untuk menyiapkan makan malam. Cia ingin memberi kejutan kepada Delfin dengan mempersiapkan makan malam romantis di apartemen. Dengan panduan video youtube, Cia berusaha memasak makanan yang berbeda. Mereka yang sibuk tidak pernah mempermasalahkan tentang makanan sehingga kali ini timbul inisiatif Cia untuk membuat kejutan bagi suaminya.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Delfin tiba di apartemen. Hal pertama yang ia lihat adalah nyala lilin dalam temaramnya ruangan itu. Delfin melangkah perlahan, mendekati meja makan yang tertata apik. Meskipun sederhana, kesan romantis dapat ia rasakan. Dalam hati ia berkata, bahwa meja ini ditata dengan penuh cinta.


Delfin tersenyum ketika mendapati Cia tertidur di sofa. Ia segera menghampiri istrinya dan berlutut untuk menyejajarkan posisinya. Ada rasa sesal menatap wajah polos Cia ketika tertidur. Delfin menyesal sebab ia belum bisa memberi perhatian lebih kepada Cia.


“Maafkan aku, Ci.” Delfin mencium kening sang istri dan membelai pipinya yang mulus. Sedangkan Cia yang merasakan sentuhan di pipinya mulai terusik.

__ADS_1


“Kamu baru pulang?” Cia langsung bangkit dan merapikan bajunya. Kesadarannya perlahan kembali, ia menolah pada jam yang menempel di dinding.


“Maafkan aku pulang terlambat, Sayang,” lirih Delfin sebelum Cia marah. “Kamu pasti belum makan. Ayo kita makan!” Delfin menuntun sang istri menuju meja makan. Namun, baru beberapa langkah tangan genggaman tangannya ditepis oleh Cia. Delfin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Cia.


Sorot mata penuh kekecewaan tersirat dari netra cantik Cia. Samar mulai tampak genangan yang membuat mata indah itu terlihat begitu menyedihkan. Cia sungguh kecewa. Makan malam romantis yang ia persiapkan sejak sore sudah tidak berarti. Mood-nya lenyap seketika ketika tadi selepas magrib Delfin memberi kabar jika ia pulang terlambat. Ya, lagi-lagi urusan persiapan peluncuran albumnya menjadi alasan. Bukannya Cia tidak percaya, tetapi Cia merasa kecewa karena Delfin lebih sering bersama Ziya ketimbang dirinya.


“Ci, maafkan aku!” Delfin bersimpuh di depan Cia. Lelaki itu menggenggam tangan lembut tangan Cia dan menciumnya.


“Sampai kapan akan seperti, Fin?” lirih Cia, ia sudah lelah menghadapi situasi seperti ini.


“Maaf, Sayang. Aku masih harus latihan untuk beberapa hari ke depan. Semua ini demi masa depan kita, Sayang. Tolong beri aku kepercayaan!” Delfin memohon, tetapi Cia yang terlanjur kecewa seolah tidak menggubris ketulusan Delfin.


“Aku tidak mengharapkan semua itu, Fin. Aku hanya ingin kita hidup tenang seperti dulu. Bukankah hasil dari butik sudah cukup untuk kita hidup bahagia?” ujar Cia menatap netra hazel milik Delfin. Delfin tersentak, ternyata Cia tidak memahami perjuangannya selama ini.


“Bukan masalah itu, Ci. Butikmu memang lebih dari cukup untuk kehidupan kita. Tapi justru disitulah masalahnya. Kamu ngerti nggak, sih?” Delfin meremas kasar rambutnya. Ia berdiri dan memegang bahu Cia, “Justru karena butikmu semakin besar membuat kakek semakin memandang rendah aku, Ci. Tolonglah mengerti! Hargai aku sekali saja sebagai suamimu. Harga diri seorang suami adalah ketika ia mampu memberikan kehidupan yang layak untuk istrinya. Selama aku masih biasa-biasa saja, Kakek tidak akan pernah menganggapku sebagai cucu menantunya.”


Kali ini bukan hanya Cia yang menangis. Kilau bening itu meluncur begitu saja dari sudut mata Delfin. Berkejaran dengan degup jantung yang naik turun. Sekali lagi lelaki itu kecewa, bahwa apa yang ada dalam pikiran Cia hanya cemburu. Cia sama sekali tidak memikirkan harga diri suaminya di depan Pramono.


“Aku lelah, Ci. Aku mau istirahat.” Delfin berbalik menuju kamar dan menutup pintunya. Cia tercenung mendengar pengakuan Delfin yang begitu menusuk hatinya. Di situlah Cia sadar, bahwa selama ini dirinyalah yang membuat hidup Delfin susah. Ia menjatuhkan tubuhnya di lantai, menelungkupkan wajah cantiknya di sofa dan menangis sepuasnya. Baru kali ini ia menyadari kebodohannya.


...***...


__ADS_1


__ADS_2