Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Bersikap Dingin


__ADS_3


...***...


Langit sudah memancarkan warna jingga ketika Delfin tiba di apartemennya. Kesibukannya dengan lounching album terbaru sangat menguras tenaga dan pikirannya. Biasanya Delfin akan pulang ketika hari sudah malam, tetapi kali ini ia ingin pulang lebih awal.


Dengan malas Delfin menyeret kakinya menuju kamar. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang selama ini selalu menjadi tempat ternyaman untuk menghilangkan penat. Senyuman pelik terbesit di bibir Delfin. Dulu, saat dirinya kelelahan seperti itu, istrinya akan menyambut dengan senang hati untuk memanjakan dirinya. Kini, semuanya hanya bisa dikenang saja. Sang istri malah betah tinggal bersama kakeknya.


Delfin bukannya tidak mau menjemput Cia, tetapi kelakuan Cia akhir-akhir ini sangat keterlaluan menurutnya. Jadi, Delfin berpikir untuk membiarkan Cia agar menyadari kesalahannya.


Derit suara pintu mengiringi langkah Delfin memasuki kamarnya. Sejenak ia tertegun di ambang pintu manakala melihat seseorang sudah lebih dulu berada di dalam sana. Seseorang yang tersenyum dengan gaya yang menggoda. Ia duduk di atas ranjang milik Delfin.


"Kamu baru pulang, Sayang?" Suara itu membuyarkan pandangan Delfin. Membuatnya tersadar, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.


"Iya." Delfin hanya menjawab datar. Ia masih marah kepada Cia yang selalu bersikap kekanakan. Delfin mengabaikan keberadaan istrinya. Ia melemparkan jaket yang sebelumnya sudah ia buka ke atas ranjang dengan kasar, lalu bergegas ke kamar mandi hendak membersihkan badan.


Namun, saat tubuh Delfin hampir mencapai pintu kamar mandi, langkahnya terhenti oleh pelukan Cia dari arah belakang tubuhnya.


"Sayang, kamu masih marah sama aku?" Cia bertanya dengan manja, "maaf, aku melakukan itu karena aku sangat mencintai kamu, Delfin. Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?"


Mendengar itu Delfin menghela napas kasar, lalu berbalik badan. Kini posisi mereka saling berhadapan dan tetap berpelukan. Tanpa jarak dan sangat rapat. Cia semakin mengeratkan pelukannya, lalu mendaratkan kepalanya di dada bidang Delfin.


Tubuh Delfin membeku seketika. Sesungguhnya ia sangat senang mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya. Biasanya jika Cia sudah bersikap seperti itu, Delfin akan langsung luluh, tetapi kali ini Delfin harus tegas kepada Cia. Berulang kali dia memaafkan kesalahan Cia yang berjanji tidak akan melukai Ziya dan bertemu dengan Farel. Nyatanya Cia selalu melanggar janjinya.

__ADS_1


"Aku mau mandi." Delfin bersikap dingin, membuat kepala Cia mendongak menatap Delfin dengan heran.


"Kenapa, Sayang? Begitu sulit, kah, kamu memaafkan aku kali ini?"


"Aku mau mandi, Cia!" Delfin melepaskan pelukan Cia dengan kasar. Membuat perempuan itu tersentak lalu mundur satu langkah ke belakang.


"Kamu menolak aku, Delfin? Kenapa? Apa tubuh perempuan ****** itu lebih memuaskan daripada istrimu ini, hah?"


"Cia! Jaga bicara kamu!" Tangan Delfin hampir saja menyentuh pipi mulus Cia. Tangan itu tertahan beberapa senti dari pipi. Delfin segera menarik tangan itu dengan kasar, ketika melihat kedua mata istrinya yang terpejam karena ketakutan.


Delfin yang geram langsung berbalik dan melanjutkan niatnya untuk mandi, sedangkan Cia perlahan membuka matanya diiringi lelehan cairan bening yang mengalir di pipi. Tubuhnya merosot ke lantai, bergetar disertai isakan. Meratapi nasib rumah tangganya yang sepertinya tidak bisa lagi dipertahankan.


...***...


Walaupun begitu, tidak ada yang terjadi di antara mereka. Semalaman hanya dilewatkan begitu saja. Perang dingin di antara mereka malah membuat suhu kamar ber-AC itu terasa sangat panas. Hingga satu sama lain tidak butuh dekapan untuk saling menghangatkan.


"Sudah kuduga, dia pasti langsung pergi." Delfin mengusap wajahnya, seraya mengembuskan napas kasar.


Delfin menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, lalu beranjak dari tempat tidur. Ia hendak bersiap untuk pergi ke studio lagi. Seharian ini, ia akan disibukkan dengan syuting iklan dan kegiatannya yang lain.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk Delfin bersiap diri. Ia keluar dari kamar dalam keadaan rapi. Kakinya melangkah menuju dapur untuk membuat sarapan seadanya. Namun, saat tubuhnya belum mencapai dapur, aroma masakan menguar menyambar indera penciumannya. Delfin mengendus perlahan mengikuti jejak aroma masakan yang berasal dari dapurnya tersebut.


"Kamu sudah siap pergi, Sayang? Aku masakin makanan kesukaan kamu. Kita sarapan dulu, ya."

__ADS_1


Kedua sudut bibir Delfin terangkat sedikit. Hampir saja dia tersenyum lebar, tetapi ia tahan. Delfin tidak menyangka jika istrinya masih ada. Bahkan memasak sarapan untuk dirinya. Namun, Delfin masih ingin memberikan pelajaran kepada Cia. Sogokan itu belum bisa menggantikan kesalahan istrinya.


"Kamu nggak perlu melakukan ini. Aku mau langsung ke studio. Nanti sarapan di sana saja."


"Makan dulu, lah. Aku sudah lelah masak ini semua." Cia menunjukkan semua hidangan yang sudah tersaji di atas meja makan.


"Aku tidak menyuruhmu memasak."


Sikap Delfin yang masih acuh membuat Cia tidak bisa menahan emosi lagi. Ia melepaskan apron yang membalut tubuhnya, lalu melemparnya serampangan. "Kamu pikir aku ini apa? Apa perempuan ****** itu benar-benar sudah menggantikan posisi aku di hati kamu, Delfin? Sampai kamu harus mengabaikan masakan aku dan memilih sarapan dengan perempuan simpanan kamu itu?"


"Cukup, Cia! Aku sudah bosan dengan tuduhan kamu yang tidak beralasan itu. Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak pernah berselingkuh dengan Ziya. Dia juga bukan perempuan ****** seperti yang kamu katakan!"


Cia mendorong tubuh Delfin sedikit kuat, membuat lelaki itu mundur satu langkah. "Aku menyesal sudah pulang ke apartemen ini. Kamu sudah berubah, tidak lagi mencintai aku seperti dulu. Aku benci sama kamu, Delfin! Aku benci kalian berdua! Akan kupastikan kalian tidak akan bahagia."


Setelah berkata seperti itu Cia bergegas pergi dari apartemen Delfin. Cia merasa kecewa dengan sikap Delfin yang mendiamkan dirinya, padahal dirinya sudah bersusah payah menurunkan ego untuk meminta maaf terlebih dahulu. Cia berpikir jika hati Delfin benar-benar sudah berpaling. Delfin tidak lagi mencintainya, jadi untuk apa ia mempertahankan rumah tangganya.


"Arghh ... sial!" Delfin menyugar rambutnya kasar. Ia tidak menyangka jika Cia akan pergi begitu saja. Dia berpikir jika Cia akan terus berusaha merayunya, sampai mereka berbaikan seperti sediakala. Delfin hanya ingin menguji kesungguhan Cia untuk meminta maaf, tetapi ternyata belum apa-apa Cia sudah menyerah. Ada sedikit rasa sesal dalam hatinya, tetapi Delfin masih enggan mengejar Cia.


Merasa tak betah didiamkan Delfin, Cia pun memilih untuk pulang ke rumah Pram, sedangkan Delfin memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya. Delfin butuh pencerahan. Tiba-tiba ia mengingat orang tuanya. Hanya mereka yang bisa membuat dirinya tenang saat ini.


...***...


__ADS_1


...Dukung terus karya othor, ya 🙏...


__ADS_2