
“Apa kamu yakin kalau kamu baik-baik saja, Zi?” tanya Delfin khawatir karena melihat kondisi Ziya dengan rambut dan baju yang berantakan, serta sudut bibir yang luka dan berdarah karena ulah istrinya.
“Aku gak papa, Fin. Aku baik-baik aja. Cepat kamu kejar bu Cia, Fin. Sebelum mobil bu Cia pergi menjauh.” Ziya mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Delfin tersebut dengan tersenyum, walaupun terasa sangat perih di sudut bibirnya. Di lubuk hati Ziya yang paling dalam, ia ingin Delfin tetap berada di sisinya agar rencananya memisahkan Delfin dan Cia berjalan dengan lancar.
Setelah memastikan keadaan tubuh Ziya baik-baik saja, Delfin bukannya mengejar Cia, ia malah mengangkat dan membopong tubuh Ziya masuk ke dalam studio. Hal itu membuat Bagus melongo melihat tingkah Delfin.
“Eh, Fin. Aku gak papa, aku bisa jalan sendiri. Jadi kamu gak perlu ngebopong tubuhku.” Ziya berpura-pura menolak dengan tegas, tetapi Delfin tetap tidak peduli dan malah memerintah Bagus yang berada di belakangnya.
“Gus, kamu tolong angkat dan masukan semua barang-barang yang tadi dibawa Ziya ke dalam studio. Setelah itu, kamu buatkan Ziya teh hangat serta siapkan kotak P3K dan sebaskom air hangat dan handuknya juga, ya, Gus," titah Delfin pada Bagus.
“Siap, Mas Delfin.” Setelah menjawab, Bagus kemudian berjalan masuk ke dalam studio dan mengerjakan semua yang di perintahkan oleh Delfin.
Setelah masuk ke dalam studio, Delfin pun mendudukkan Ziya yang berada di gendongannya ke atas sofa yang berada di dalam studio, bersamaan dengan datangnya Bagus yang membawakan segelas teh hangat, alat kompres serta kotak P3K pesanan Delfin tadi.
“Ini, Mas, air hangat, dan kotak obat yang tadi diminta,” ucap Bagus pada Delfin.
“Oh, ya, Mas Delfin, sini biar saya bantu membersihkan lukanya Mbak Ziya,” lanjut Bagus menawarkan diri untuk membantu Delfin. Namun, Delfin menolak dengan halus.
“Makasih, ya, Gus. Saya tau kamu sangat lelah, jadi sekarang kamu boleh istirahat. Biar saya aja yang membersihkan lukanya Ziya,” ucap Delfin pada Bagus.
“Baik, kalau begitu saya pamit untuk istirahat dulu.” Setelah mengucapkan itu, Bagus pergi menuju kamarnya yang berada di belakang studio, meninggalkan dua insan manusia berbeda gender tersebut.
Delfin pun mulai membersihkan luka di bibir Ziya menggunakan air hangat yang sudah diberi antiseptik sebelum memberinya salep luka.
“Gak usah, Fin. Aku bisa melakukannya sendiri, kok.” Ziya menolak dengan halus saat Delfin mulai membersihkan lukanya.
__ADS_1
“Gak papa, Zi. Biar aku aja, anggap saja ini sebagai permintaan maaf aku, atas kesalahan Cia barusan,” ucap Delfin penuh sesal.
“Maafkan Cia, ya, Zi. Cia memang pencemburu, tapi entah kenapa akhir-akhir ini rasa cemburu Cia terlalu besar,” jelas Delfin pada Ziya. Namun, perkataan Delfin terhenti saat Ziya mendesis kesakitan karena lukanya tersentuh cairan antiseptik.
“Sakit ya, Zi?” Delfin pun dengan reflek meniup sudut bibir Ziya yang terluka. Hal itu mengikis jarak di antara mereka, yang kini hanya tersisa tidak sampai satu jengkal. Dengan begitu, mereka berdua dapat merasai deru napas dan detak jantung masing-masing. Hal itu serta merta membuat jantung Ziya berdegup begitu kencang seperti ingin berdisko.
Berbeda dengan Ziya, Delfin malah merasakan desiran aneh yang entah apa itu. Setelah puas dan merasa Ziya sudah tidak merasakan perih lagi Delfin pun mulai menghentikan tiupannya. Delfin sontak mengangkat dagu, pandangan mereka pun saling bertemu. Satu detik, dua detik, hingga detik kelima mereka termangu, hingga akhirnya Ziya-lah yang lebih dulu memalingkan pandangannya. Momen awkward itu membuat mereka berdua salah tingkah, sejurus kemudian Ziya yang memulai obrolan di antara mereka.
“Kenapa tadi kamu gak ngejar bu Cia, Fin? Saat ini bu Cia pasti sedang membutuhkan kamu,” tanya Ziya pada Delfin.
“Cia gak akan bisa dibujuk, Zi. Apalagi kalau emosinya sedang memuncak seperti tadi. Yang ada kami malah akan bertengkar hebat. Maka dari itu, aku akan mencoba menemuinya nanti, ketika emosinya sudah mereda.” Delfin mencoba menjelaskan kepada Ziya kenapa ia tidak mengejar Cia.
“Apakah kamu akan memecatku, Fin, seperti keinginan bu Cia?” tanya Ziya dengan wajah sedihnya. Akting, tentu di sini Ziya hanya berakting sedih.
“Gak. Aku gak akan memecatmu, Zi. Aku membutuhkanmu sebagai menejerku, dan anak-anak panti juga membutuhkanmu sebagai tulang punggung mereka. Jadi kamu gak perlu khawatir, Zi,” terang Delfin. Membuat Ziya menyunggingkan senyum pada Delfin.
“Kamu gak perlu berterimakasih, Zi. Aku ikhlas, kok, melakukan semua ini. Sekarang kamu istirahat dulu di kamar kamu yang ada di atas dan jangan terlalu banyak berpikir. Masalah Cia biar aku yang urus,” ucap Delfin seraya mengelus pucuk kepala Ziya. Yang membuat jantung Ziya kembali berdetak kencang.
“Seandainya, kamu bukan milik orang, Fin. Mungkin aku akan jatuh hati padamu,” batin Ziya gamang.
“Baiklah, Fin. Kalau gitu aku istirahat dulu. Kamu juga, jangan lupa istirahat ya, karena besok pagi kita akan ada pertemuan dengan Pak Lukman di kantor star production," jelas Ziya. Walaupun sedang dalam kondisi tidak baik Ziya tetap bersikap profesional sebagai menejer artis.
*
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah apartment mewah, Cia sedang menangis tersedu dan menghancurkan semua barang yang ada di hadapannya. Sedari tadi, yang Cia lakukan hanya memaki dan mengeluarkan kata-kata kasarnya yang ia tujukan kepada Ziya, wanita yang terus saja menempel pada suaminya, seperti parasit.
“Dasar perempuan sialan! Perempuan murahan! Jangan lo pikir lo bisa ngambil Delfin dari gue. Gue gak akan tinggal diam. Delfin suami gue, cuman punya gue. kalau lo berani lebih dekat sama Delfin, lihat apa yang bakal gue lakuin ke lo, nanti," maki Cia sambil memandangi foto Ziya bersama Delfin yang berada di layar ponselnya, yang dikirimkan oleh Dea. Setelah puas memaki, Cia kemudian membanting benda pipih yang ada di tangannya itu ke lantai. Setelah itu, Cia pun mulai menangis tersedu menenggelamkan dirinya di atas tempat tidur hingga tanpa sadar dirinya pun mulai terlelap.
__ADS_1
...****...
Keesokan harinya di Star Production
“Gimana, Fin, tidur kamu semalam nyenyak?” tanya Zia pada Delfin.
“Aku masih kepikiran soal Cia, Zi. Mungkin setelah dari sini, aku akan menemuinya di butik. Semoga saja dia mau mendengarkan semua penjelasanku,” terang Delfin yang memang benar-benar sangat merindukan istrinya.
“Semangat ya, Fin. Kamu pasti bisa membujuk dan memberi pengertian pada Cia.” Ziya berusaha memberi semangat pada Delfin, walau semangat yang Ziya berikan sebenarnya tidaklah tulus, karena pada dasarnya yang Ziya inginkan adalah kehancuran rumah tangga Delfin dan Cia.
Delfin dan Ziya tengah asik bercerita, dan tanpa sengaja Ziya melihat Dea sedang memata-matai Delfin dan dirinya. Bahkan Ziya melihat jika Dea juga memotretnya dari kejauhan. Ziya yang merasa janggal dengan ulah Dea memanfaatkan moment tersebut. Ziya berpura-bura sedang kelilipan dan membuat Delfin panik. “Aduh, Fin, mata aku.” Ziya memekik sehingga membuat Delfin terkejut.
“Kamu kenapa, Zi?” tanya Delfin panik.
“Mata aku kelilipan, Fin. Kamu bisa tolong tiupin mata aku, gak?” Ziya berakting, tetapi Delfin tetap percaya, karena apa yang dilakukan perempuan itu sangatlah natural.
“Sini, biar aku tiupin!" Ziya sengaja memanfaatkan momen itu, sehingga jika orang lain melihatnya termasuk Dea, pasti akan mengira jika Delfin sedang berciuman dengan Ziya. Dan sepertinya cara yang dilakukan Ziya pun cukup berhasil. Dari kejauhan sana, Ziya dapat melihat jika Dea yang sedang menontonnya tampak sangat kesal.
“Hem ... jadi selama ini kamu ya, De, orang yang sudah menghasut Cia dengan mengirimkan foto aku dan Delfin untuk membenci aku? It’s oke, gak masalah. Itu malah lebih bagus. Dengan begitu, aku akan lebih cepat menyelesaikan tugasku dari tuan Pramono,” batin Ziya.
“Gimana, Zi. Sudah baikan?” tanya Delfin.
“Udah, Fin. Makasih, ya. Aku udah gak pa-pa. Ayo, kita ke atas! Pak Lukman pasti sudah menunggu kita.” Kemudian Delfin dan Ziya pun pergi menuju lantai atas meninggalkan Dea dengan wajah kesalnya. Ia berdiri seorang diri di balik tembok di ujung lorong yang masih memperhatikan mereka.
...***...
__ADS_1