Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Meminta Maaf


__ADS_3


...***...


Di dalam kamar bernuansa elegan di sebuah apartemen mewah, seorang wanita cantik tengah mematut dirinya di depan cermin. Memadupadankan pakaian dan tas mewah bermerek terkenal dengan harga ratusan ribu dolar, yang akan ia kenakan hari ini.


Di sela-sela kegiatannya memilih pakaian. Cia mendadak terdiam, memikirkan nasib pernikahannya dengan Delfin yang sudah berada di ujung tanduk. Sudah dua hari sejak kejadian pertemuan tidak sengaja antara Cia, Farel, dan Farah–adik kesayangan Delfin di Restoran Italia. Membuat hubungan antara Cia dan Delfin dilanda perang dingin.


Walau di satu ruangan yang sama di apartemen, mereka tampak seperti pasangan asing yang tidak saling mengenal. Karena egolah yang membuat Cia dan Delfin seperti itu. Delfin terus saja mencurigai hubungan Cia dan Farel yang diam-diam bertemu di belakagnya. Sedangkan Cia masih membenci sikap Delfin yang membohonginya dan menyangkal jika Delfin memiliki hubungan gelap dengan Ziya—manajer Delfin yang selalu Cia anggap sebagai perusak rumah tangganya.


“Huh. Sudah dua hari Delfin mendiamkan ku.” Cia berbicara pada bayangannya yang berada di dalam cermin dengan kesal, “aku benci situasi seperti ini, Fin. Aku gak suka,” gumamnya frustasi. “Jadi apa yang harus aku lakukan saat ini. Apa kali ini aku yang harus minta maaf terlebih dahulu.” Cia terus berbicara sendiri sambil mengetuk meja di hadapannya dengan jari lentiknya.


“Tapi, apa harus aku yang melakukannya duluan? Ini, kan, bukan hanya kesalahanku, tapi kesalahan Delfin juga.” Cia mulai merasa gamang dengan apa yang harus ia lakukan.


Setelah perang batin dengan apa yang harus ia lakukan, akhirnya Cia memutuskan untuk pergi bekerja ke butik kesayangannya. Alih-alih dengan bekerja ia dapat mengurangi rasa sedihnya. Namun, walaupun Cia berusaha untuk tidak peduli, ia tetap tidak bisa. Rasa rindunya pada Delfin sudah amat mendalam.


Kali ini Cia memutuskan untuk mengendarai mobil mewahnya sendiri tanpa harus menggunakan sopir. Niat hati ingin menenangkan diri ke tempat yang sepi dan tenang. Namun, di tengah perjalanan menuju butik, Cia memutuskan untuk memutar balik arah mobilnya menuju studio milik Delfin.


Cia akan berusaha berdamai dengan Delfin karena merasa bersalah. Cia sadar sikapnya selama dua hari ini memang sangat menyebalkan. Jadi, selama dua hari ini, jika Delfin mengajaknya bicara, Cia hanya menjawab pertanyaan Delfin seperlunya saja. Bahkan saat di atas tempat tidur, Cia selalu memunggungi Delfin. Seolah-olah tidak ada penghuni lain di dalam apartemen mewah tersebut. Pun kini semua perlakuan Cia terhadap Delfin tersebut, membuat Cia dilanda rasa bersalah. Delfin selalu berusaha untuk mengajaknya berbicara, tetapi Cia selalu cuek dan mengabaikannya.

__ADS_1


“Baiklah, sayang. Tunggu aku, ya. Biar kali ini aku yang mengalah dan menemuimu terlebih dahulu," gumam Cia dengan senyum berkembang karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan suami tercintanya yang sudah dua hari tidak saling bicara.


*


*


Karena hari sudah beranjak siang, Cia tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke studio Delfin. Lalu lintas kota cukup lengang di siang hari, sehingga mobil yang dikendarai Cia melaju dengan lancar.


Akhirnya Cia sampai di depan studio Delfin dengan selamat. Dengan senyum terkembang Cia turun dari mobil menuju ke dalam studio. Namun, baru membuka pintu studio, Cia sudah dibuat terkejut oleh pemandangan di hadapannya. Cia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Delfin sedang memeluk Ziya dengan penuh rasa sayang.


“Kamu, dari mana aja sih, Zi? Aku, tuh, khawatir banget sama kamu. Kamu nggak kenapa-kenapa, kan, Zi?" Delfin mencecar Ziya dengan berbagai macam pertanyaan di tengah-tengah pelukannya. Delfin tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya kepada Ziya. Namun Ziya hanya tertegun menerima pelukan dan perhatian dari Delfin tersebut. Ziya merasakan ada gelayar aneh yang ia rasakan saat Delfin memeluknya. Rasa ingin memiliki Delfin sepenuhnya.


“Maaf, Fin. Karena hari ini aku terlambat. Tadi aku ada perlu sebentar dengan pemilik lahan panti.” Ziya menjawab dalam pelukan Delfin. Ziya terus berusaha ingin melepaskan diri, tetapi Delfin terus saja memeluknya dengan erat.


Melihat Delfin yang tengah memeluk Ziya dengan sayang. Sontak hal itu membuat Cia berang, Cia langsung diselimuti amarah, lalu berjalan menghampiri Delfin dan Ziya yang sedang berpelukan. Tak pelak aksinya membuat Ziya dan Delfin tercekat. Cia menarik rambut Ziya dengan sangat keras sehingga membuat kepala Ziya sontak mendongak, lalu memutar tubuh Ziya agar menghadap ke arahnya. Tanpa belas kasihan, Cia menampar pipi mulus Ziya dengan sangat kuat, dan memaki Ziya dengan umpatan kasar.


“Dasar perempuan murahan, berani-beraninya kamu memeluk suamiku! Kamu pikir kamu siapa, hah?” Cia berteriak dengan kerasnya membuat Ziya yang ada di sana membeku dan pucat pasi.


“Bu Cia.” Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut manis Ziya. Namun, berbeda dengan Delfin yang nampak sangat kesal dengan perbuatan Cia.

__ADS_1


“Cia! Kamu apa-apaan, sih? Kenapa kamu menyakiti Ziya? Memangnya salah Ziya apa sama kamu?” Delfin membentak Cia dengan sangat keras, membuat Cia terlonjak kaget karena selama Cia mengenal Delfin, belum pernah sekali pun Delfin membentaknya.


“Kamu masih bertanya aku ngapain? Seharusnya aku yang bertanya, Fin. Ada hubungan apa kamu dengan dia?” Cia menunjuk wajah Ziya dengan penuh rasa marah.


“Kenapa kamu masih bersama perempuan murahan ini? Bahkan tadi kamu memeluknya. Setelah memeluknya, apa, Fin? Kamu akan menciumnya lalu menidurinya, begitu? Itu, kan, mau kamu?” Dengan air mata yang terus membasahi pipi, Cia terus meluapkan rasa marahnya kepada Delfin dan Ziya. Namun, hal tersebut tak lantas membuat Delfin tenang. Delfin malah dengan kerasnya membentak dan mengusir Cia dari studio miliknya.


“Cia, Cukup, berhenti bersikap kekanakan-kanakan! Tuduhan yang kamu berikan pada Ziya sungguh nggak beralasan. Ziya hanya manajer sekaligus teman baikku. Tapi kamu selalu menganggapnya wanita murahan. Apa yang tadi kamu lihat nggak seperti apa yang kamu bayangkan!” Semua kata-kata yang diucapkan oleh Delfin membuat Cia tercengang. Bukannya Delfin membela dirinya. Delfin malah dengan gamblang membela Ziya.


“Delfin, kamu membela wanita murahan ini?” tanya Cia dengan air mata yang terus mengalir.


“Iya, aku membelanya. Aku membela gadis yang selalu kamu bilang murahan, dan sekarang aku minta kamu untuk pergi dari tempat ini. Untuk sementara kita gak usah saling bertemu dulu. Kita perlu sama-sama introspeksi diri.” Delfin berkata dengan tegas.


“Kamu ngusir aku, Fin dan membiarkan dia tetap berada di sini. Aku ini istri sah kamu, Fin. Tapi di mata kamu, aku seperti tidak ada artinya. Aku benci kamu, Fin. Aku sangat membencimu.” Setelah mengucapkan kalimat itu Cia meninggalkan Delfin dan Ziya dengan sejuta luka.


Saat terjadi pertengkaran antara Delfin dan Cia. Ziya gadis yang menjadi dalang dalam pertengkaran antara sepasang suami istri tersebut pun hanya diam saja. Seolah sedang menikmati detik-detik kehancuran rumah tangga pasangan muda tersebut. Namun, berbeda dengan Delfin yang merasa bersalah pada Ziya karena ulah istrinya. Ziya gadis yang baik hati tersebut menjadi korban kebencian istrinya.


“Tolong maafkan semua kesalahan Cia, Zi. Aku tau dia egois dan salah.” Delfin pun memohon pengampunan atas diri Cia pada Ziya.


“Aku baik-baik saja, Fin. Aku juga minta maaf karena selalu membuat Bu Cia salah paham padamu."

__ADS_1


...***...



__ADS_2