Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Tidak Ingat


__ADS_3


...***...


Dengan kesadaran penuh Cia menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia bekap mulutnya dengan kedua tangan saat menyadari tubuh di balik selimut itu tak memakai sehelai benang pun.


“I- ini gila,” racaunya, “Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan?” sesal Cia, menggelengkan kepala. Menolak semua yang telah terjadi.


Dengan kepala yang masih terasa berat, Cia berusaha meraih apa pun di dekatnya untuk menutupi tubuh polosnya. Ia merasa belum sanggup meraih pakaian yang tercecer di lantai. Pandangannya tertuju pada handuk yang terletak di nakas. Dengan hati-hati ia meraihnya. Gerakannya membuat selimut tebal yang membungkus tubuh keduanya tertarik ke arah Cia hingga mengusik mimpi Farel.


Gerakan Cia terhenti ketika mendengar lenguhan Farel. Cia segera menjauh dari tubuh Farel dan bersandar di kepala ranjang dengan menarik selimut hingga menutupi dadanya. Handuk itu ia pegang dengan tangan kirinya.


Farel yang merasa selimutnya ditarik segera terjaga. Ia begitu terkejut ketika merasa dirinya tidak mengenakan selembar kain. Gesekan dari selimut itu sangat terasa di kulit mulusnya. Ia terduduk dan menoleh, mendapati Cia bersandar di pojok ranjang dengan raut muka yang sulit ditebak. Sorot matanya memancarkan kemarahan, kekecewaan, dan penyesalan yang teramat dalam.


“Nih, pakai!” Cia melempar handuk di tangannya ke arah Farel.


Dengan sigap Farel menangkapnya, seketika kesadarannya kembali ketika ia melihat Cia menunduk dan memejamkan mata. Farel segera bangkit dan melilitkan handuk di tubuhnya. Memunguti baju yang berserakan dan meletakkan di sisi cia.


“Maafkan aku, Ci. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi,” ucap Farel dengan suara bergetar. Ia juga merasa bersalah atas kejadian ini. Seandainya semalam tidak meladeni Cia minum, pasti hal ini tidak akan terjadi.


“Cepat masuk kamar mandi! Jangan keluar sebelum aku izinkan!” bentak Cia tetap dengan muka menunduk.


Setelah meyakinkan diri jika pintu kamar mandi sudah terkunci, Cia bergegas memakai satu per satu pakaiannya. Suara shower dari kamar mandi seolah mengiris hatinya. Wanita itu menangis, menyesali kebodohannya. Hampir satu jam Cia menangis, ia tidak beranjak sedikit pun dari tempat itu. Kepalanya yang pusing semakin pusing akibat terlalu lama menangis.


Farel yang sudah rapi tidak berani keluar dari kamar mandi. Ia menunggu Cia memberi izin untuk keluar. Namun, sudah hampir satu jam Cia tidak kunjung datang. Farel mulai khawatir, takut terjadi sesuatu pada wanita yang ia cintai. Farel memberanikan diri membuka pintu perlahan, dilihatnya Cia masih duduk di ranjang. Hatinya sedikit lega melihat Cia tidak melakukan hal bodoh seperti dalam pikirannya.


Cia meletakkan kepalanya di atas lutut, punggungnya bergetar dan suara isak tangisnya begitu nyata di telinga Farel. Melihat hal itu, hatinya sangat sakit. Bagaimanapun Farel merasa bersalah atas kejadian semalam. Dan ia merasa ikut terluka ketika Cia terlihat seperti itu. Farel pun segera menghampiri Cia.

__ADS_1


“Ci, maafkan aku. Aku mohon, tolong maafkan aku. Aku berjanji, aku akan bertanggung jawab,” lirih Farel bersimpuh di samping Cia.


“Tanggung jawab?” Cia mengangkat kepala dan menatap mata hazel milik Farel. Wajah sembabnya tidak melunturkan kecantikan yang ia miliki. Wanita itu tersenyum sinis menertawakan dirinya sendiri, “kamu lupa aku wanita bersuami?” Kalimat lirih, tetapi penuh penekanan begitu menohok perasaan Farel. Farel seolah tersadar dari impian yang sesaat lalu bersarang di benaknya.


“Maafkan atas kelancanganku, Ci.” Hanya itu yang mampu Farel ucapkan. Cia mengambil bantal di sisinya dan melempar dengan kasar ke arah Farel.


“Pergi kamu! Pergi! Biarkan aku sendiri!” Cia histeris, air matanya kembali mengalir. Ia mengambil apa pun yang mampu ia raih dan melemparkan ke arah Farel. Sedangkan Farel hanya diam dan menunduk. Pandangannya mulai berkabut, kilau bening itu perlahan berlarian di sudut matanya. Farel membiarkan Cia meluapkan semua kekesalannya. Farel berharap setelah ini perasaan Cia lebih tenang.


Beberapa saat, Cia mulai lelah. Sudah tidak ada lagi barang-barang yang bisa ia lemparkan. Farel bangkit dan merengkuh tubuh Cia dalam pelukannya. Awalnya Cia berontak, tetapi dekapan Farel semakin kuat. Kata maaf yang berulang kali Farel ucapkan perlahan menyurutkan emosi Cia.


Farel yang merasa gerakan Cia semakin lemah mulai mengendurkan pelukannya. Ia tepuk perlahan punggung Cia berusaha untuk saling menguatkan. Farel melihat betapa rapuhnya seorang Cia. Tiba-tiba, Farel merasakan pelukan di pinggangnya. Ya, Cia memeluk lelaki itu. Cia merasa nyaman berada dalam dekapan Farel, ia merasa dilindungi dan disayangi seperti dulu perlakuan Delfin kepadanya. Farel mengelus rambut panjang Cia dan mencium puncak kepalanya. Sedangkan Cia semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku sudah tidak punya muka di hadapan Delfin. Aku malu bertemu dengannya. Aku sudah mengkhianatinya. Aku harus bagaimana, Rel?” Cia kembali terisak. Sebenarnya Farel juga bingung, lelaki itu sama sekali tidak mengingat kejadian semalam. Terakhir yang dia ingat adalah ketika mereka berciuman. Ciuman yang terasa begitu menuntut satu sama lain. Selanjutnya ia sama sekali tidak ingat.


“Kamu tenangkan diri dulu, Ci. Nanti kita pikirkan jalan keluarnya.” Farel melerai pelukannya, “kita makan dulu, ya! Aku hubungi resepsionis dulu untuk mengantarkan makanan ke sini.” Farel menghapus air mata Cia yang membasahi pipinya sebelum ia meraih pesawat telepon di atas nakas.


“Ada apa Ci? Kamu masih pusing?” tanya Farel ketika melihat Cia memijit keningnya.


“Udah mendingan,” jawab Cia. Sebenarnya Cia masih pusing ketika bayangan Delfin memeluk Ziya muncul dalam pikirannya. Jika sudah begini, rasa bersalah Cia menguap begitu saja. ‘Kenapa aku harus merasa bersalah? Bisa saja Delfin sudah melakukan hal ini dengan j***** itu, kan?’ Sisi hatinya berusaha membenarkan sikapnya.


“Makan dulu, Ci!” Farel menata makanan di meja kemudian membantu Cia bangkit.


“Aku bisa sendiri,” tolak Cia. Ia menuju meja di mana makanan sudah tertata di atasnya.


“Maaf kita makan dalam suasana seperti ini. Kakekmu pasti akan marah jika tahu cucunya kuperlakukan seperti ini. Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan di bawah, tapi kita tidak mungkin turun dengan wajah kamu yang seperti itu. Aku takut ada seseorang yang mengenalimu.” Farel mengambil sarapannya setelah mempersilakan Cia.


Cia hanya mengangguk, Cia berpikir apakah lelaki sebaik Farel bisa melakukan hal rendah pada dirinya? Cia makan sembari berusaha mengingat kejadian semalam. Sekeras apa pun ia berusaha, yang terekam dalam ingatannya hanya berakhir dengan ciuman mereka. Tanpa sadar Cia memukul kepalanya sendiri mengingat kebodohannya semalam. Bagaimana ia bisa mencium Farel hingga terjadilah ciuman panas di antara mereka.

__ADS_1


“Kenapa, Ci? Perlu aku carikan obat untuk mengurangi pusingmu?” tawar Farel yang melihat wajah Cia memerah. Farel mengira Cia pusing padahal saat itu Cia sungguh merasa malu.


“Aku mau pulang ke rumah Kakek.” Cia berdiri begitu selesai sarapan.


“Dengan kondisi seperti itu?”


“Iya. Memang kenapa?” tanya Cia menatap Farel yang mengernyitkan dahinya.


“Aku antar. Sebaiknya kamu cuci muka dulu. Mobilmu biar nanti diurus sama orangku!” kalimat Farel tidak mau dibantah.


“Aku bisa pulang sendiri,” tolak Cia.


“Aku merasa bertanggung jawab. Aku harus memastikan kamu aman tiba di rumah Kakek.”


...*** ...


Selama perjalanan, tidak ada satu kata yang mereka ucapkan. Hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing ataukah takut dengan kenyataan yang terjadi? Tidak terasa mobil Farel sudah memasuki pelataran rumah mewah milik Pramono. Farel menahan tangan Cia ketika wanita itu hendak membuka pintu mobil.


“Sekali lagi maafkan aku, Ci. Aku akan menikahimu jika suamimu tidak menerima kamu lagi,” ucap Farel menatap Cia penuh cinta.


...***...



...Gimana tanggapan kalian buat Cia dan Farel, readers? Apa kita jodohin aja mereka berdua?...


...Jangan lupa dukungannya 🙏...

__ADS_1


__ADS_2