
...***...
Setelah puas menangis, Cia memutuskan untuk menyusul Delfin ke kamar setelah mencuci mukanya di wastafel. Saat pintu terbuka, terlihat tubuh sang suami yang telah tertidur pulas di pembaringan.
Perlahan langkahnya semakin mendekat pada tubuh yang tengah memeluk sebuah guling. Ditatapnya lekat wajah itu, terdapat gurat lelah di wajah tampannya. Tanpa terasa butiran kristal kembali meluncur bebas di pipinya.
“Maafkan aku yang belum bisa ngertiin kamu. Maafin aku untuk semua kekuranganku, juga kesalahanku.”
Rasa sesal kembali menghantam dadanya saat ia teringat kesalahannya bersama Farel. Setiap mengingat kejadian itu, ia seakan kesulitan bernapas. Begitu menyesakkan seolah ada batu besar yang tak kasat mata tengah menghujam ulu hatinya.
Diusapnya lembut pipi sang suami. Delfin sama sekali tidak terusik. Lelah yang mendera membuatnya tertidur dengan pulas. Cia kecup kening Delfin. Cukup lama ia daratkan bibirnya pada kening Delfin.
Air mata yang tak berhenti mengalir membuatnya harus menyudahi kecupan itu. Ia tidak mau tidur sang suami terganggu karena ulahnya. “Aku mencintaimu, Fin. Jangan tinggalkan aku dan jangan bagi cintamu untuk wanita lain. Aku tak akan pernah sanggup menanggung sakitnya bila itu terjadi,” lirihnya.
Cia beranjak, memutari ranjang berukuran king size yang menjadi tempat tidur mereka. Ia pun ikut merebahkan diri di samping sang suami. Ia peluk tubuh Delfin yang membelakanginya. Menyembunyikan wajah cantiknya di balik punggung sang suami, hingga tak berselang lama, ia menyusul Delfin ke alam mimpi.
...***...
“Pagi,” sapa Cia dengan senyum yang menawan saat mendapati Delfin mengerjapkan mata.
Delfin yang merasa bingung dengan sikap manis sang istri hanya menatapnya datar. Masih teringat pertengkaran mereka semalam. Cia yang menyadari Delfin masih marah segera menghampiri. Ia daratkan tubuhnya di bibir ranjang. Meraih tangan Delfin lalu mengecupnya. “Maafin, aku, ya!” pintanya.
Delfin bergeming. Ia masih mencerna perubahan sikap sang istri. Sadar tidak mendapatkan respons dari Delfin, Cia mengecup lembut bibir sang suami.
“Aku mengaku salah. Maaf kalau kamu merasa tidak dihargai, tapi percayalah, aku sangat mencintai kamu, Fin. Aku terima semua kekurangan kamu bukan untuk merendahkanmu, tapi karena aku benar-benar mencintai kamu. Itu bukti nyata cintaku buat kamu, Fin.”
Cia menatap lekat manik hitam milik Delfin. Ia berusaha menyelami apa yang ada di dalam sana. Masih sama besarkah cinta yang ada. Masih ada harapan, kah, untuk kisah cinta mereka? Mampukah kapal yang tengah mereka naiki berlayar hingga ke pelabuhan terakhir atau justru karam di tengah lautan hingga membuat mereka tenggelam.
__ADS_1
“A-aku terlalu takut kehilangan kamu, Fin. Maafkan aku yang terlalu egois hingga tidak memikirkan perasaan kamu.” Butiran bening itu kembali menetes. Matanya yang sembab akibat menangis semalam sudah dipastikan akan semakin sembab.
Tanpa banyak bicara, Delfin meraih Cia ke dalam pelukan. Sang istri menangis sesenggukan di dada bidangnya. “Percayalah aku juga sangat mencintai kamu. Tolong, jangan lagi cemburu pada Ziya. Aku dan dia tidak pernah memiliki hubungan lebih selain rekan kerja.”
Ada rasa yang tak bisa Delfin artikan saat mengatakan itu pada Cia. Rasa tidak rela karena faktanya ia dan Ziya hanya rekan kerja. Sebuah hubungan yang tidak akan bisa menjadi lebih dari sebuah kata sahabat.
Ziya adalah satu-satunya teman wanita yang ia miliki. Bersama Ziya, ia bisa berbagi segalanya. Ia merasakan bahagia yang tak ternilai. Sedikit rasa yang telah tumbuh itu terpaksa ia bunuh.
Delfin sadar diri, tidak seharusnya ia memiliki rasa untuk Ziya. Dia adalah laki-laki beristri. Jangan sampai apa yang dikatakan oleh Pram jika dirinya laki-laki brengsek benar terbukti.
...***...
Waktu bergulir bagaimana mestinya. Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Delfin. Panggung itu terlihat begitu megah. Para penggemar Delfin sudah tidak sabar melihat idolanya tampil dan beraksi. Cia pun turut hadir. Ia duduk di kursi VVIP dengan sangat manis. Cia tidak menyangka jika sang suami bisa berada di posisi ini. Begitu juga dengan Delfin.
Season pertama diisi dengan pembukaan sesama rekan artis yang menjadi bintang tamu. Hingga kemunculan Delfin membuat para fans menjerit histeris. Delfin memberikan sambutan sebelum menyanyikan sebuah lagu.
“Sekali lagi terima kasih atas dukungan yang telah kalian berikan. Tanpa kalian, aku tidak mungkin bisa berdiri di sini. Di panggung megah ini. Lagu ini kupersembahkan untuk kalian DelLover dan untuk orang yang teramat istimewa di hatiku.”
“Ziya ...,” teriak mereka bersamaan. Sejak kemunculannya di dalam video klip Delfin, Ziya menyedot semua perhatian warganet. Ia menjadi idola baru. Delfin turut terpukau dengan kecantikan Ziya malam ini.
Ziya lambaikan tangannya pada para penonton yang terus meneriakkan namanya. Suara merdu milik Ziya mengalun begitu lembut. Menyihir setiap insan yang mendengar. Ziya tampil dengan begitu cantik dan memukau. Warna gaunnya yang senada dengan Delfin membuat mereka terlihat seperti pasangan yang sesungguhnya.
Ziya berjalan ke arah Delfin yang berada di tengah panggung. Penonton semakin histeris saat Delfin menaruh tangan kanannya di pinggang ramping milik Ziya. Mereka saling menatap mesra.
Suara Delfin dan Ziya yang saling bersahutan membuat hati Cia seketika panas. Terlebih tatapan mereka terlihat saling memuja. Ia pun segera bangkit, meninggalkan area. Hatinya tak sanggup melihat semua adegan mesra itu.
“Mencintaimu, tanpa batas waktu ....” itulah akhir dari lirik yang dinyanyikan Delfin dan Ziya. Sebuah lagu tentang pemujaan pada sang kekasih hati. DelLover sangat antusias dengan duet romantis Delfin dan Ziya.
Jarum jam terus berputar, acara pun selesai di waktu yang sudah ditentukan. Konser itu berlangsung dengan sukses. Rasa lelah yang mendera membuat Delfin memutuskan untuk tidur di studio. Cia sudah mengabarinya lewat pesan singkat bahwa ia sudah pulang terlebih dahulu. Padahal ia berniat memperkenalkan Cia di akhir acara. Sayang itu tidak terjadi.
__ADS_1
...***...
Amarah yang masih menyelimuti hati Cia pagi ini membuatnya menerima tawaran Farel untuk bertemu. Sebuah kafe di dekat apartemen menjadi pilihan untuk bertemu setelah seminggu tak bersua. Farel tengah melakukan kunjungan bisnis di Australia.
“Sudah lama?” tanya Farel saat menghampiri Cia yang sedang menyesap capuccino kesukaannya.
“Enggak, baru aja.” Cia bangkit dari duduknya untuk menyambut Farel. “Gimana di Ausi? Lancar?” tanyanya.
“Lancar dong. Kapan-kapan aku ajak kamu ke sana.”
Mereka asyik berbincang, menceritakan sesuatu yang menarik menurut mereka. Farel menyodorkan sebuah paper bag saat hendak pamit.
“Apa ini?” Cia mengernyitkan alis.
“Oleh-oleh buat kamu.”
“Wah ... makasih.”
“Sama-sama. Aku pulang, ya.”
“Hati-hati.”
Usai kepergian Farel, Cia kembali ke unit apartemennya. Tidak disangka, Delfin sudah menunggunya di ruang tamu. “Dari mana?”
“Dari bawah habis ketemu Farel,” jawab Cia tanpa rasa bersalah. Delfin mendengus tidak suka.
“Fin, lihat, deh! Farel baik banget sama aku. Dia dari Ausi kemarin terus nggak lupa kasih oleh-oleh,” ujarnya sembari membuka paper bag. “Wah ... ini kan tas yang udah aku incer dari kapan hari. Limited edition. Farel tahu banget, sih, kesukaanku,” cerocos Cia tanpa memperhatikan raut muka Delfin yang sudah memerah.
...***...
__ADS_1