Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Check Up Kehamilan


__ADS_3


...***...


“Nanti malam aku jemput jam setengah tujuh. Pendaftaran sudah beres. Kita dapat nomor tiga. Sampai ketemu nanti malam, ya!” Farel menutup ponsel ketika mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar.


“Masuk!” perintahnya melalui intercom di atas meja kerjanya. Beberapa detik kemudian, muncullah perempuan cantik membawa beberapa berkas di tangannya.


“Selamat siang, Pak. Ini berkas yang harus Bapak tanda tangani.” Sekretaris cantik itu meletakkan beberapa map di atas meja Farel. Tanpa membuang waktu, Farel segera membubuhkan tanda tangan di atas dokumen-dokumen tersebut.


“Oya, Pak. Pihak hotel Lubis yang ada di Bali minta pengiriman ikannya diajukan. Beliau bilang minggu depan akan kedatangan tamu penting dari Jepang,” ucap sekretaris cantik tersebut sembari merapikan beberapa dokumen yang sudah ditandatangani.


“Kenapa mendadak? Tuan Pramono juga tidak mengatakan kalau tamunya akan datang minggu depan.” Farel menyelidik ucapan wanita itu.


“Mohon maaf, Pak. Mereka bilang dadakan, sedangkan saat ini stok kita hanya difokuskan untuk pengiriman ke Hotel Lubis pusat saja.”


“Ya, sudah. Kamu segera hubungi bagian pengadaan. Aku tidak mau tahu, pokoknya semua harus bisa teratasi!”


“Baik, Pak. Saya mohon diri.”


Sepeninggal wanita itu, Farel kembali mengambil ponsel yang ia letakkan di samping laptop. Ia berniat menghubungi Cia. Namun, jarinya mendadak terhenti saat ia sudah siap menyentuh tombol dial. Farel mengurungkan niatnya dan membuka galeri ponselnya di mana terdapat beberapa foto Cia di sana. Farel memandang salah satu foto yang menampakkan wajah cantik Cia. “Aku mencintaimu, Cia. Saat ini aku bahagia, semoga anak kita baik-baik saja.”


...***...


Hari ini Farel pulang dari kantor lebih awal. Pukul lima sore ia sudah memacu mobilnya menuju apartemen. Ia tidak ingin terlambat untuk mengantar Cia periksa ke dokter kandungan. Setelah membersihkan dirinya, Farel segera menuju ke kediaman keluarga Lubis.


Sementara itu, Cia masih malas beranjak dari tempat tidurnya. Sejak tadi siang Cia hanya rebahan saja di dalam kamar. Apalagi Pramono yang sejak pagi pergi ke hotel Lubis, membuat Cia kesepian di rumah itu. Pramono baru kembali sore hari dengan wajah yang terlihat lelah.


“Non, Tuan Farel sudah menunggu di bawah,” ucap asisten rumah tangga sambil mengetuk pintu kamar Cia.


“Iya, Bik. Bentar lagi Cia turun.” Dengan langkah malas, Cia bangkit dan segera mengganti bajunya. Sebenarnya ia malas untuk periksa ke dokter. Cia masih berharap bahwa Delfinlah yang akan menemaninya, dan Cia juga berharap bahwa janin yang ada dalam rahimnya adalah buah cintanya dengan Delfin. Wanita itu berkhayal bagaimana bahagianya Delfin jika ia mendengar kabar kehamilannya, sebab sudah lama Delfin menantikan hal itu. Delfin begitu mengharapkan kehadiran sosok mungil yang akan menjadi pelengkap keluarga kecil mereka.


Namun, sekali lagi Cia harus menepis semua impiannya ketika sekelebat bayangan dirinya yang tidur bersama Farel muncul begitu saja. Rasa bersalah dan rasa takut yang teramat sangat telah memenjarakan dirinya dalam kubangan gelap yang membuat dirinya tidak punya keberanian untuk berkhayal tentang keluarga kecilnya bersama Delfin.


Cia menuruni satu per satu anak tangga. Dilihatnya Farel sedang berbincang bersama Pramono di bawah. Sejenak Cia tertegun, bahwa keputusannya untuk berpisah dari Delfin bukan berarti ia akan menerima Farel. Untuk saat ini, Cia hanya ingin menenangkan hatinya. Cia ingin sendiri.

__ADS_1


“Kok, lama, Sayang. Farel udah dari tadi, loh.” Pramono tersenyum menyambut cucu kesayangannya dengan senyum lebar. Pria itu mulai menampakkan gurat kebahagiaan atas kemenangan yang ia dapatkan.


“Nggak apa, Tuan-,”


“Kakek. Kamu harus mulai belajar memanggilku kakek, Rel.” Pramono memotong kalimat Farel yang ikut berdiri menyambut Cia.


“Eh, iya, Kek. Saya merasa nggak sopan saja.” Farel tertawa berusaha mengimbangi tawa Pramono yang terlihat begitu lepas.


“Cia pergi dulu, Kek.” Cia berlalu dari hadapan mereka dengan muka datar tanpa ekspresi. Melihat interaksi kedua lelaki itu, hati Cia merasa terisis. Cia kembali teringat Delfin. Mengapa kakeknya tidak pernah bisa bersikap manis seperti yang lelaki itu lakukan ketika bersama Farel. Cia mulai memahami arti harga diri yang membuat Delfin berusaha mati-matian untuk memantaskan dirinya bersanding dengan Cia. Semua hanya karena Delfin ingin diakui oleh Pramono sebagai cucu menantunya.


Dengan sopan Farel membuka pintu mobilnya untuk Cia. Memastikan wanita cantik itu duduk nyaman di samping kursi kemudi, barulah Farel mengitari mobilnya dan masuk dari sisi lain. Farel menjalankan mobil perlahan, seolah ia membawa barang berharga yang harus ia jaga. Ia takut benda itu akan lecet akibat gesekan jika ia membawa mobilnya sembarangan.


“Kamu sudah makan, Ci?” tanya Farel tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang masih padat.


“Sudah,” jawab Cia singkat.


“Pinter. Jangan sampai telat makan, ya. Kamu harus memperhatikan anak kita.” Farel mengusap puncak kepala Cia. Sesekali ia menoleh ke arah wanita cantik yang duduk di sampingnya. “Kamu sudah mengurus surat perceraian?”


“Hhhmm.”


Farel yang melihat respon Cia akhirnya memilih diam. Farel tahu jika Cia sedang tidak ingin diganggu. Itulah sebabnya Farel akhirnya hanya fokus pada jalanan yang temaram dihiasi lampu kota yang begitu indah.


...***...


Cia berdiri dan melangkah menuju ruang periksa. Sedangkan Farel yang sedari tadi duduk di sampingnya ikut bangkit dan mengekori langkah Cia. Sebelum mereka memasuki ruangan, Farel meraih tangan Cia hingga wanita itu berhenti dan berbalik menatap Farel.


“Bolehkah aku menemanimu ke dalam?” Sorot mata penuh permohonan terpancar dari netra hazel milik Farel.


Sesaat Cia bergeming. Napasnya mendadak sesak. Setelah ia mampu menguasai diri dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya, Cia mengangguk dan berbalik menuju ke ruang periksa.


“Selamat malam, Dok,” sapa Farel menjabat tangan dokter Andrew.


“Malam, Tuan Farel. Ini pasti Nyonya Cia,” tebak dokter Andrew. “silakan duduk!” imbuhnya. Cia dan Farel duduk di hadapan Dokter Andrew yang hanya bersekat sebuah meja persegi.


“Ini kehamilan pertama untuk Nyonya Falencia, ya. Melihat kondisi yang tertulis di sini, semuanya baik-baik saja. Ada keluhan yang Anda rasakan yang mungkin mengganggu aktivitas sehari-sehari?” tanya Dokter Andrew ramah.

__ADS_1


“Selama ini tidak, Dok. Saya hanya merasa cepat lelah dan malas untuk beraktivitas saja,” balas Cia.


“Mari kita cek dulu. Apakah janinnya sudah terlihat apa belum!” Dokter Andrew mempersilakan Cia untuk menaiki bed yang berada dalam ruangan itu.


Cia segera memosisikan dirinya sesuai arahan Dokter Andrew. Sesaat setelah merasakan dinginnya gel yang menyentuh peruh Cia, ia diarahkan untuk melihat layar monitor di samping Cia.


“Nah, ini janinnya sudah kelihatan,” ucap Dokter Andrew.


“Yang mana, Dok?” tanya Cia yang terlihat belum paham dengan gambar di layar monitor.


“Ini, titik hitam yang masih kecil seperti biji kacang bergerak. Ini adalah calon bayi Anda.” Dokter Andrew beberapa kali menyetel peralatan tersebut dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya tetap berada di atas perut Cia, menggeser alat itu untuk memperoleh gambar yang lebih jelas.


“Rel, lo yakin kagak mau lihat?” ucap Dokter Andrew ketika mengetahui Farel tetap diam di tempat duduknya. Kalimat itu sukses membuat Cia terkejut. Pasalnya dari nada bicara dokter itu Cia bisa menangkap jika mereka saling kenal.


“Dokter mengenal Farel?” selidik Cia.


Dokter Andrew terkejut, ia keceplosan. Lelaki itu hanya tersenyum melihat sorot curiga dari tatapan Cia. “Iya, saya teman SMA yang kebetulan pernah satu kampus dengan Farel. Wah, saya memang tidak pandai berbohong.” Dokter Andrew tertawa menjawab kecurigaan Cia. “Rel, kamu beneran nggak mau lihat?”


Farel pun akhirnya beranjak dari kursinya. Ia mendekat ke arah Andrew. Yang pertama ia lihat di layar monitor adalah sebuah titik hitam kecil yang bergerak. Tidak bisa dipungkiri, ia bahagia. Dalam benaknya, calon anaknya yang berada dalam rahim Cia sedang berenang meskipun bentuk itu belum terlihat seperti bayi.


“Gimana, Rel?” selidik Andrew melirik Farel yang berdiri di sampingnya. Sedangkan Cia hanya diam dengan sejuta perasaan yang campur aduk. Ia tidak bisa menggambarkan isi hatinya yang begitu kalut.


...*** ...


Sementara di apartemen Farel, Sadam Arfani dan istrinya duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi. Sudah 30 menit mereka menunggu putra semata wayangnya. Beberapa hari Farel tidak pulang ke rumah, sehingga kedua orang tuanya mendatangi apartemen mewahnya. Dengan sandi yang tidak pernah berubah, mereka berdua bisa berada dalam ruangan itu.


Pintu utama terbuka dan menampakkan wajah Farel. Setelah menutupnya kembali, Farel berbalik dan dikejutkan oleh keberadaan Sadam dan Arisa di ruangan itu.


“Mama, Papa. Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?” lirih Farel. Farel bisa merasakan ketegangan dari sorot mata Sadam. Farel paham apa yang akan Sadam bicarakan.


“Kamu dari mana? Tadi papa ke kantor tapi kamu sudah pulang.” Kalimat mengintimidasi itu mulai terlihat. Farel duduk di hadapan mereka, seolah ia seorang pesakitan yang siap menunggu hukuman.


“Kenapa kamu sebodoh itu, Farel! Tidak adakah perempuan lain yang bisa kamu kencani? Papa tidak mau tahu. Selesaikan masalah ini sebelum beritanya tersebar. Kamu mau seluruh dunia tahu bahwa kamu merusak rumah tangga orang?” Sadam yang sejak beberapa hari lalu memendam amarah akhirnya tidak tahan mendengar berita dari orang suruhannya. Ia melempar foto-foto Farel bersama Cia di atas meja dengan kasar sebelum ia meninggalkan ruangan itu.


“Rel, mama mohon, berpikirlah kembali untuk langkah yang akan kamu ambil. Kamu anak kami satu-satunya. Jangan sampai keputusanmu menghancurkan segala yang telah papa bangun. Ini semua demi masa depan kamu.” Arisa mengelus puncak kepala Farel. “Mama percaya, kamu tidak akan mengecewakan kami,” imbuh wanita anggun itu yang akhirnya berlalu menyusul langkah sang suami.

__ADS_1


...***...



__ADS_2