Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Pengaruh Alkohol


__ADS_3


...***...


Cia terus melajukan mobilnya tanpa arah. Seharian gadis itu melaju tanpa tujuan. Entah sudah berapa kali putaran ia mengelilingi kota Jakarta hingga hari mulai beranjak gelap, akhirnya ia kembali ke parkiran butik. Dalam kemelut masalah rumah tangganya yang tiada ujung, rasanya seperti menemui jalan buntu. Ia terdiam lama di pelataran parkir butiknya. Pikirannya terus berputar tentang perubahan Delfin semenjak mempunyai manajer baru.


"Ya. Sejak Sakti resign dan hadirlah j***** itu, kehidupan rumah tanggaku tidak pernah damai," ucap Cia. Tangannya mengepal erat kemudi. Matanya nyalang melihat keadaan butik yang masih ramai. Ia ingin masuk dan bekerja untuk melupakan sejenak bayangan Delfin yang mengusir dirinya dan lebih memilih sang manajer.


Sakit, itu yang kini tengah ia rasakan. Seandainya melenyapkan satu nyawa tidak ada hukuman yang akan ia tanggung, maka hal itu sudah ia lakukan sejak dulu. Sampai kapan pun, Pela**r tidak akan pantas menggeser sang pemilik sah. "Hhaaaaaaaaaaaaarrrghh. Brengsek kau, Ziya!!!!" Teriakan Cia terdengar memenuhi seisi mobil mewahnya.


Beruntung, dalam mobilnya telah dilengkapi peredam suara. Jika tidak, pasti ia akan menjadi objek perhatian sekitarnya. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Hanya satpam butik yang sedari tadi sudah mencurigai Cia yang tidak juga keluar dari mobilnya. Padahal, butik sedang ramai pelanggan.


Tidak ada lagi air mata yang keluar dari kedua mata indah Cia. Semua sudah habis sedari tadi. Yang ada, hanya tatapan nanar, sendu dan kosong.


Lama ia diam dalam mobilnya, mata Cia memindai sepasang calon pengantin yang pagi tadi sempat berkonsultasi dengannya. Keduanya berjalan mesra dan saling melindungi. Begitulah gambaran kehidupannya dulu, sebelum prahara rumah tangga datang dan siap merusak sucinya ikatan pernikahan.


Dering ponsel berdering berkali-kali. Diikuti syair suara yang tak lain adalah suaminya sendiri, bahkan tak membuatnya terganggu. Cia semakin sakit mendengar suara lembut nan dalam milik Delfin. Perlahan, tangannya memutar kontak mobil dengan kaki bersiap menginjak tuas gas. Ia keluar dari area butik. Jalanan malam yang masih ramai lancar tak mengusik Cia sama sekali.


Sesekali ia memacu lebih cepat tuas gas. Kembali, bayangan sang suami memeluk manajernya berputar-putar. Wajah rupawan manajer sang suami, nyatanya harus membuat Cia mengaku jika sosok itu sungguh cantik. Ya, cantik. Namun, feeling kuat seorang istri sungguh peka. 'Seberapa cantiknya rupa bila kenyataannya telah sengaja merusak pernikahan suci orang lain. Maka, tiada hukuman yang pantas kecuali mempermalukannya di depan semua orang.''


Senyum smirk terulas hadir di wajah ayu Cia. Otaknya berputar mencari rencana apa saja yang akan ia lakukan. Bukan lagi mengamuk atau menjambak j***** itu di depan umum. Ia akan bermain dengan tak kalah sadis, sampai wanita bernama Ziya itu enggan menampakkan diri lagi di depan umum.


Cia tertawa begitu ia menemukan rencananya. Ia juga menghubungi seseorang untuk ia jumpai malam ini. Usai melakukan panggilan itu ia semakin mengarahkan laju kendaraannya dengan cepat. Sampai ia berhenti di depan sebuah club malam yang ada di pusat kota. Ia harus mendinginkan pikirannya agar tak meledak. Memikirkan suaminya berada di pelukan orang lain membuatnya teriris-i***, tersayat-s****. Terluka, tetapi tak terlihat. Ia merasa sendirian.


Ia tak tahu harus seperti apa mempertahankan kapal rumah tangganya. Terus bergerak menerjang ombak dan badai yang terus menghantam kapalnya, atau harus menyerah, karena nahkodanya sudah tak searah dengannya? Jikapun ia harus selamat sampai dermaga, harusnya ia berjuang bersama-sama dengan sang suami. Bukan berjalan sendiri-sendiri seperti ini!


"Hahhhhh. Lupakan, lupakan sejenak! Aku harus mendinginkan kepalaku. Tidak bisa begini. Aku tak selemah ini sebelumnya. Aku harus tetap menjadi pusat dunianya Delfin." Cia memegang kepalanya yang semakin berat di rasa.


Perlahan ia turun dari mobil dan meraih tas selempang yang berada di atas dasboard.


Ia melangkah ke dalam bar. Wajahnya masih terlihat cantik meskipun hatinya sedang berantakan. Ia memesan satu botol vodka dan memilih duduk di sudut bar. Suara-suara bising dari disjoki tidak mengusiknya sama sekali. Malah sebaliknya, ia menikmati keadaan ini. Ramai, dia merasa tak sendirian lagi.


Seseorang datang menghampiri Cia dan membuatnya tersenyum lega. “Sudah lama?” tanyanya sembari duduk di sebelah Cia.

__ADS_1


“Enggak. Baru aja.” Cia menyodorkan segelas Vodka pada lelaki itu.


“Vodka?”


“Iya. Kenapa? Takut mabuk?” ejek Cia.


“Banci namanya kalau takut mabuk.” Tanpa menunggu lama lagi ,lelaki itu meraih segelas Vodka yang disodorkan Cia. Meminumnya hingga tandas. Cia tersenyum penuh kemenangan.


“Temani aku minum sampai mabuk, ya!” pinta Cia.


“Kamu ada masalah?” Cia tanggapi pertanyaan lelaki itu dengan senyum manisnya. “Kamu bisa curhat sama aku, Ci. Kamu juga bisa nangis di pelukanku. Aku sediakan bahuku untuk kamu bersandar. Aku siap menampung keluh kesahmu.”


“Aku nggak selemah itu, Rel.”


“Nggak perlu berpura-pura menjadi kuat kalau hati kamu sebenarnya rapuh. Kamu hanya manusia biasa yang juga perlu sandaran.”


Mendengar penuturan Farel, air mata Cia lirih begitu saja. “Wanita itu sudah merusak rumah tanggaku, Rel.” Cia kembali terlihat emosi.


Farel mendengar dengan setia semua curahan hati Cia. Ia rangkum Cia ke dalam pelukannya. Ada rasa nyaman yang menjalar di hati Cia saat berada dalam dekapan Farel.


“Apa?”


“Menurutku, di sini yang salah bukan hanya wanita itu. Delfin juga turut andil. Seandainya Delfin tidak membuka peluang, usaha wanita itu untuk menggoda Delfin akan sia-sia.”


“Jadi menurutmu Delfin juga bersalah?”


“Tentu saja. Perselingkuhan itu melibatkan dua insan, Ci. Kalau hanya satu orang tidak mungkin bisa terjadi perselingkuhan.”


Cia raup udara sebanyak-banyaknya. Benar apa yang dikatakan Farel. Delfin juga bersalah. Seandainya Delfin mau memecat Ziya dari dulu, tentu masalah ini tak akan terjadi.


“Sudahlah. Kita ke sini untuk bersenang-senang. Aku tak mau memikirkan masalah itu dulu.” Cia kembali mengisi gelas kosong dengan vodkanya. “Berani tambah?” tantang Cia.


“Siapa takut.”

__ADS_1


Kedua anak manusia itu seakan tengah berlomba menghabiskan Vodka yang mereka pesan. Kesadaran yang tak lagi utuh membuat mereka meracau tidak tentu arah.


“Aku benci sama Delfin yang sekarang,” racau Cia.


“Tinggalin aja apa susahnya?”


“Aku cinta sama dia.”


“Lupakan cintamu itu jika menyakitimu. Ada aku, Ci, yang siap membahagiakanmu.”


“Rel ….” Cia sedikit terkejut dengan perkataan Farel. Ia menatap netra hazel milik Farel.


“Aku cinta sama kamu, Ci.” Farel yang juga mulai hilang kewarasan tanpa sadar mengungkapkan isi hatinya.


Ia tatap lekat wajah cantik di sampingnya dan entah siapa yang memulai, wajah mereka semakin dekat, hingga kedua bibir itu menyatu. Saling mencecap, merasakan nikmat satu sama lain. Hingga napas mereka tersengal, ciuman itu baru terlepas.


Usai mengambil pasokan oksigen, mereka kembali mengulang hal yang seharusnya tidak terjadi. Rasa panas semakin menjalar pada tubuh kedua insan itu. Hasrat yang begitu menggebu minta untuk dituntaskan.


Pengaruh alkohol benar-benar membuat mereka lupa akan segalanya. Mereka tetap asyik dengan Vodka yang tak kunjung habis karena selalu menambah pesanan.


...***...


Silau cahaya yang memaksa masuk ke dalam ruangan membuat tidur seseorang terusik. Perlahan ia mengerjapkan mata, menyesuaikan dengan sinar yang tengah menyapa.


Kepala itu masih terasa begitu berat. Ia pegang kepalanya yang juga terasa pening. Saat kesadarannya mulai terkumpul semua, matanya membola melihat seseorang yang tengah berada di sampingnya.


Dengan kesadaran penuh Cia menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia bekap mulutnya dengan kedua tangan saat menyadari tubuh di balik selimut itu tak memakai sehelai benang pun.


“I- ini gila,” racaunya, “Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan?” sesal Cia, menggelengkan kepala. Menolak semua yang telah terjadi.


...***...


__ADS_1


...Jangan lupa like, favorit, dan komentarnya, ya 🙏🥰...


__ADS_2