Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Mengundurkan Diri


__ADS_3


...****...


Sepeninggal istrinya, Delfin lebih memilih kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Tidak ada gunanya mengejar Cia yang sedang emosi. Delfin sudah paham betul, jika Cia sedang marah pasti dia akan pulang ke rumah kakeknya atau menginap di butik. Delfin berpikir, akan menyusul istrinya nanti setelah amarah Cia mereda.


Sedangkan di tempat lain, Cia yang masih marah membawa mobilnya ke arah butik. Awalnya, ia hendak ke rumah kakek Pram, tetapi Cia segera sadar jika hal itu malah akan memperumit masalah. Pasalnya, Cia sudah hafal kebiasaan kakeknya. Beliau pasti akan menyalahkan Cia atas pilihannya dahulu.


Setelah melewati satu jam perjalanan, akhirnya Cia sampai di butik. Perempuan itu bergegas memasuki bangunan minimalis yang terlihat indah.


“Selamat malam, Bu. Apa ada yang sesuatu yang tertinggal?” tanya seorang gadis yang berdiri di depan kasir.


“Oh, tidak. Saya mau lembur di ruangan saya. Kalian silakan lanjutkan lagi!” jawab Cia sembari tersenyum. Ia segera melangkah menaiki anak tangga menuju ke ruangannya. Ruangan Cia lumayan luas. Di dalamnya ada kamar tidur dan kamar mandi, meskipun tidak seluas di rumahnya. Cia menghempaskan tubuhnya di atas sofa, pikirannya benar-benar kacau semenjak ia menerima kiriman foto Delfin bersama Ziya.


...***...


Delfin keluar dari kamar setelah mandi dan berganti baju. Ia berniat untuk menjemput Cia. “Bik, pintu depan dikunci aja, ya. Aku udah bawa kunci cadangan. Nggak tahu nanti sampai rumah jam berapa!” Delfin berteriak di ruang makan, melihat ke arah asisten rumah tangga yang berada di dapur.


“Baik, Pak,” jawab wanita paruh baya itu dengan hormat.


Tujuan utama Delfin adalah butik. Hari sudah gelap, meskipun keramaian ibukota tidak pernah berhenti. Delfin melaju perlahan dalam deretan mobil-mobil yang mengular. Delfin tiba di pelataran parkir butik istrinya ketika butik itu hampir tutup. Ia lega melihat mobil istrinya ada di sana.


“Malam, Mas Delfin. Mau jemput Bu Cia, ya?” sapa Pak Sarto—satpam yang bertugas di butik Cia.


“Iya, Pak. Cia bilang banyak kerjaan dan malam ini sepertinya mau lembur. Saya mau nemenin istri lembur, Pak,” jawab Delfin sambil bercanda.


“Wah, Mas Delfin memang suami the best.” Pak Sarto mengangkat kedua jempolnya ke arah Delfin sambil tersenyum. “Di tengah kesibukannya masih menyempatkan diri buat nemenin istri tercinta.”


Delfin pun ikut tersenyum, “Saya ke dalam dulu, ya, Pak.” Delfin memasuki ruangan yang hampir tutup. “Mbak, ntar dikunci saja. Sepertinya Bu Cia mau lembur,” pesannya pada beberapa karyawan butik.

__ADS_1


...*** ...


Ziya merenggangkan otot bahunya. Setelah kepergian Delfin, Ziya segera menghubungi pihak iklan untuk menyampaikan beberapa hal yang membuat Delfin keberatan. Ziya meminta beberapa adegan untuk direvisi sesuai permintaan Delfin. Setelah melalui perdebatan yang alot, akhirnya Ziya pun bisa bernapas lega. Pihak pertama bersedia merevisi dan saat itu juga Ziya menunggu kiriman email perbaikannya. Ziya harus bertindak cepat supaya Delfin besok bisa mempelajari perjanjian kontraknya.


Malam ini Ziya menginap di studio Delfin. Menyelesaikan segala urusan kontrak iklan yang mereka jalani beberapa pekan ke depan. Ziya berpikir, sayang jika kontrak bernilai fantastis itu sampai melayang.


“Mbak Zi tidak pulang? Ini sudah larut, loh.” Bagus tiba-tiba saja sudah berdiri di pintu. Saking fokusnya pada pekerjaan membuat Ziya tidak menyadari kehadiran Bagus.


“Sepertinya saya nginep di sini, Mas. Saya mau menyelesaikan berkas ini. Lagian Mas Delfin juga nggak di sini. Jadi nggak papa, kan, kalau saya nginep di sini?” tanya Ziya menatap Bagus yang hanya mematung di pintu.


“Iya, nggak papa, Mbak. Jangan lupa pintu ruangannya di kunci. Takut ada sesuatu!” saran Bagus.


“Ada sesuatu? Maksudnya apa, ya, Mas?” Ziya mengernyitkan dahinya mencoba memahami kalimat yang Bagus sampaikan.


“Eh, enggak ada apa-apa. Saya turun, ya, Mbak. Kalau ada yang Mbak Zi butuhkan, tinggal teriak saja. Saya pasti datang.” Bagus berlalu tanpa menunggu jawaban Ziya.


“Dasar orang aneh,” gerutu Ziya sembari bangkit dari kursinya. Ia segera mengunci pintu ruangan itu sesuai saran Bagus. Setelah berkas kontrak selesai Ziya cetak, gadis itu segera merapikan meja dan ruangan yang ia tempati. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ziya merebahkan dirinya di sofa dan segera terlelap.


...*** ...


“Nggak usah. Kamu kalau capek, ya, tidur aja! Siapa suruh kamu nyusul ke sini?” ketus Cia.


“Aku nggak mau kamu sakit. Apa kata Kakek nanti seandainya kamu sakit gegara lembur di butik? Pasti beliau akan marah, menganggap aku tidak becus menafkahi kamu. Please, Cia sayang. Istirahat, ya!” Delfin berlutut di samping kursi yang Cia duduki. Ia memegang tangan kiri istrinya dan menciumnya.


Dalam hati, Cia membenarkan perkataan Delfin. Kakek Pram pasti akan marah jika dirinya sampai sakit karena pekerjaan. Dan Cia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Pasti kakek Pram akan kembali meminta Cia untuk meninggalkan Delfin.


Cia mematikan laptopnya. Memutar kursi hingga posisinya berhadapan dengan Delfin yang masih berlutut. “Kamu memecat gadis itu, kan?”


Delfin terdiam beberapa saat. Ia berpikir, mungkin untuk saat ini lebih baik dia mengalah agar istri tercintanya segera beristirahat. “Akan aku pikirkan kembali, Sayang. Tapi setelah kontrak ini selesai, ya. Tolong percaya sama aku. Aku nggak mungkin bermain hati dengan wanita lain. Hanya kamu, saat ini dan selamanya.”

__ADS_1


Meskipun tidak puas mendengar jawaban Delfin, Cia tersenyum dan merasa tersanjung akan kalimat terakhir Delfin. Gadis itu akhirnya melupakan sejenak kejadian yang membuat dirinya murka. Nyatanya, rindu yang ia tahan selama ini lebih besar dari amarahnya. Dan Cia ingin mengobati kerinduannya pada sosok suaminya yang mulai sibuk akan jadwal manggungnya. Setelah ini, entah kapan lagi mereka mempunyai kesempatan untuk berduaan seperti saat ini.


...*** ...


“Zi, kita langsung ketemu di kantor manajemen, ya. Aku langsung ke sana,” ucap Delfin melalui ponselnya. Ia menatap wajah cantik istrinya yang masih terlelap. Membelai wajahnya penuh cinta. “Kamu tidak seharusnya bekerja keras seperti ini, Sayang. Sabar, ya. Tidak lama lagi aku akan menjadikanmu ratu, aku tidak akan membiarkan kamu bekerja keras.” Delfin mengecup kening dan bibir istrinya singkat sebelum berangkat menuju kantor manajemennya.


...*** ...


“Pagi, Pak. Ini berkas kontrak iklan yang sudah direvisi. Silakan dipelajari kembali, mungkin masih ada yang kurang sesuai dengan keinginan Bapak.” Ziya menyodorkan berkas yang ia kerjakan semalam.


Delfin menerimanya dan mempelajari kembali. Tidak lama kemudian, ia tersenyum. “Secepat ini, Zi?” Delfin tampak puas, senyumnya sungguh membuat jantung Ziya berpacu lebih cepat. Apalagi pagi ini Delfin terlihat lebih segar dari kemarin saat ia meninggalkan studio. Sungguh menikmati ciptaan Tuhan yang begitu sempurna ini merupakan kebagiaan tersendiri buat Ziya.


“Zi!” seru Delfin yang melihat Ziya bengong di depannya.


“Eh, maaf, Pak. Saya malah melamun. Mungkin karena semalam saya begadang untuk menyelesaikan masalah ini dengan pihak pertama. Jadi saya sedikit tidak fokus.” Ziya berusaha menutupi perasaan yang bergejolak dalam hatinya. Ia berharap, Delfin tidak menyadarinya.


“Jadi semalam kamu mendiskusikan ini semua?” Delfin seakan tidak percaya.


“Iya, Pak,” jawab Ziya.


“Kamu memang selalu bisa diandalkan, Zi. Sungguh beruntung aku dapat manajer seperti kamu.” Delfin menarik napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. “Maafkan Cia, ya, Zi. Aku tidak tahu kalau dia mendatangimu. Dalam hal ini, aku yang salah. Aku terlalu mengabaikan Cia. Sekali lagi tolong maafkan istriku, ya?”


Mendengar kata ‘istriku’ ada rasa perih menusuk hati Ziya. Kata sederhana yang sangat menegaskan jarak di antara mereka. “Tidak pa-pa, Pak. Sudah sewajarnya Bu Cia melakukan hal tersebut. Saya juga minta maaf sudah membuat hubungan Bapak dengan Bu Cia jadi seperti itu. Saya sadar posisi saya, itulah alasan saya mengapa semalam saya lembur menyelesaikan berkas itu. Saya tidak ingin kontrak ini sampai lepas dari tangan Bapak, tetapi juga tidak merugikan Pak Delfin. Saya ingin semua teratasi sebelum saya ….” Ziya menghentikan ucapannya, melirik ke arah Delfin yang fokus pada laptopnya.


“Ada apa, Zi? Kenapa tidak dilanjutkan?” Delfin memandang Ziya ketika gadis itu terdiam. Keningnya berkerut melihat gelagat Ziya yang tidak seperti biasanya.


“Saya ingin mengundurkan diri, Pak. Saya tidak ingin merusak hubungan Pak Delfin dengan Bu Cia.” Ziya berdebar ketika mengucapkan kalimat itu. Ada sebuah ketakutan besar yang tersimpan, seandainya Delfin menyetujui keinginannya.


...***...

__ADS_1



__ADS_2