
...***...
Selepas kepergian Delfin dan Cia, Farel memandang sinis ke arah Ziya. Wanita cantik yang menjadi pelakor dalam rumah tangga Cia –Wanita yang ia kagumi. Setidaknya itu yang ia tahu dari Cia.
Kedekatannya dengan Cia akhir-akhir ini membuat mereka berdua merasa nyaman, hingga tak ragu untuk berbagi cerita hidup. Melihat Cia yang terlihat sempurna di matanya membuat Farel berpikir, wanita seperti apa yang mampu mengalihkan perasaan Delfin.
Kini semuanya terjawab sudah. Ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri wanita itu. Kecantikannya sejajar dengan Cia. Tubuhnya terlihat begitu proposional dan seksi, pantas jika Delfin tergoda. Meski begitu, di mata Farel, Ziya tetap terlihat anggun dengan pesonanya. Tidak tampak aura ****** sedikit pun pada diri Ziya, tidak terlihat menye-menye dan justru terkesan smart.
“Kenapa lihat-lihat saya?” sarkas Ziya yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Farel yang tengah menilainya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Kamu cantik, kenapa harus merebut suami orang?”
Ziya termangu dengan pertanyaan lelaki yang ada di depannya. Sesaat kemudian ia tersadar, mungkin Cia telah menceritakan pada lelaki itu bahwa dirinya adalah perusak rumah tangga Cia. Ia pun tak ingin menyanggah, karena itu memang kebenaran. Hanya saja, lelaki itu tidak mengerti cerita di balik layar.
“Bukan urusan Anda.” Ziya hendak melangkah pergi meninggalkan Farel tetapi lengannya tercekal oleh Farel. “Lepas!” Ziya mencoba melepas tangan Farel. Ia menghempaskan tangan Farel dengan kasar.
“Jangan ganggu Cia!” Peringatan itu muncul begitu saja dari bibir Farel. Ia tidak ingin melihat Cia terus bersedih karena rumah tangganya. Walaupun sebenarnya ia juga senang jika seandainya Cia berpisah dari Delfin. Itu artinya peluang untuk masuk ke dalam kehidupan Cia bertambah besar.
Ziya mengernyitkan kening mendengar peringatan lelaki itu. “Anda tidak berhak ikut campur urusan saya.”
“Saya akan ikut campur jika itu berhubungan dengan Cia,” tegas Farel. Ia menatap Ziya penuh intimidasi. “Jika saya boleh mengingatkan, jangan bahagia di atas penderitaan orang lain.”
“Maksud Anda apa?”
“Saya bisa melihat sorot kebahagiaan di mata kamu saat Delfin dan Cia bertengkar,” ungkap Farel.
__ADS_1
“Dan saya juga bisa melihat Anda menikmati drama ini, bukankah begitu?” Ziya tersenyum penuh kemenangan melihat perubahan air muka Farel. Ia bangga pada dirinya sendiri yang mampu membalikkan keadaan dengan cepat.
“Maksud kamu apa?” Kini giliran Farel yang tercengang dengan perkataan Ziya. Ia tidak menyangka, wanita di hadapannya ini mampu membaca kondisi.
Kaki Ziya pun maju beberapa langkah kedepan sambil berbisik kearah telinga Farel. "Jangan pura-pura Anda tidak mengerti dengan kondisi ini. Saya melihat Anda mencintai dan begitu memuja Cia, jadi siapa di sini yang lebih paham akan hal ini?” kata Ziya dengan senyum manis nan licik.
Farel pun terkaget, terlihat jelaskah bila dia begitu memuja wanita bersuami itu? Wanita cantik dan sukses yang telah menggoyahkan jiwa kedewasaannya.
"Bagaimana? Betul bukan dugaan saya?” Lagi, Ziya tersenyum penuh kemenangan sembari kembali ke posisi semula.
Baru saja Farel ingin membalas perkataan Ziya, seseorang datang menghampiri mereka. “Ya Tuhan, Zi, nggak nyangka ketemu di sini,” ucap lelaki itu sembari mengusap lembut rambut Ziya.
“Hai, Kak. Lama nggak ketemu, tambah ganteng aja,” gurau Ziya.
“Ck! Biasa aja, nggak usah ngegombal.”
Ziya dan lelaki itu terkikik, mengabaikan Farel yang ada di sana.
“Sama mama, kamu?” Arsen balik bertanya, hingga ia baru menyadari sosok laki-laki yang dan di depan Ziya. “Kalian lagi kencan?” Ada serbuan nyeri yang menghantam ulu hati saat pertanyaan itu keluar dari bibirnya yang tebal dan seksi.
“Eh, enggak! Enggak kenal juga.”
Arsen mengernyit, tak percaya.
Mengabaikan Arsen sesaat, Ziya mengalihkan atensinya pada Farel. “Oh, ya, hampir lupa. Boleh saya ingatkan sesuatu? Jangan jadi pebinor, Anda tampan dan sepertinya mapan, lebih baik cari janda atau perawan, jangan menjadi duri dalam daging di rumah tangga orang,” tutur Ziya panjang lebar. Tanpa ia sadari sesungguhnya ucapannya itu juga berlaku untuk dirinya sendiri.
“Seriously? Kamu yakin bicara seperti itu? Nggak merasa tertampar dengan perkataan kamu sendiri?” ejek Farel.
__ADS_1
Sesaat Ziya membenarkan itu, tetapi ia harus segera menguasai keadaan. Sedangkan Arsen hanya diam melihat aura menegangkan di antara Ziya dan lelaki di depannya. Ia tidak tahu-menahu permasalahan yang sedang terjadi antara Ziya dengan lelaki yang ada di hadapannya. “Saya tidak seperti yang kamu pikirkan!” tegas Ziya.
“Oh, ya? Sayangnya saya tidak percaya. Kamu terlalu naif. Kamu tidak bisa menyembunyikan rasa kagummu pada Delfin yang terpancar jelas lewat sorot matamu,” terang Delfin dengan senyum seringainya.
Sekali lagi Ziya termangu atas ucapan lelaki yang ada di depannya. Sebegitu jelaskah hingga orang yang baru bertemu dengannya saja mampu membaca sorot matanya. Lagi, Ziya harus bisa menguasai keadaan. “Anda terlalu sok tahu!” Ziya menatap tajam Farel yang tersenyum menyeringai. “Kak Arsen, Ziya duluan, ya. Lama-lama Ziya bisa gila ngadepin orang nggak waras ini.”
Arsen hanya bisa mengangguk canggung. Ia tidak bisa mencerna apa yang tengah terjadi sekarang. “Aku juga mau kembali ke kursi mama,” kata Arsen.
“Sampai ketemu lagi.” Ziya pergi meninggalkan Arsen dan Farel. Tidak berselang lama Arsen pun pergi meninggalkan Farel tanpa pamit karena merasa tidak saling kenal. Hanya seutas senyum tanda sopan ia suguhkan pada Farel.
“Menarik,” batin Farel setelah kepergian Ziya dan Arsen. Ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.
...***...
Sepanjang perjalanan pulang Ziya terus saja kepikiran akan kejadian tadi. Ia mengulik hatinya kembali. Apakah benar ia telah jatuh cinta dan memantapkan hatinya untuk Delfin.
Ziya takut dengan perasaannya sendiri yang tak bisa diajak berdamai dengan keadaan. Kondisinya tidak memungkinkan untuk bermain hati dengan Delfin. Andai benar ia sudah jatuh cinta pada Delfin, ia harus bisa mengubur rasa itu sebelum benar-benar menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Tak terasa taksi online pun telah sampai di depan panti asuhan Kasih Bunda. Ziya berjalan gontai menuju teras panti dan membuka pintu dengan perlahan agar penghuni yang lainnya tidak terbangun.
"Baru pulang, Nak?” tanya Bu Erna sambil memandang Ziya lekat. Ia pun berjalan mendekat ke arah anak asuhnya tersebut.
"Ibu, bikin aku kaget aja," seru Ziya sambil meraih tangan Bu Erna, kemudian mencium punggung tangan wanita tangguh di depannya.
"Iya, Bu. Maaf jadi membuat ibu terbangun.” Ziya lalu duduk di bawah sofa dan menidurkan kepalanya di pangkuan ibu asuhnya tersebut. Serta bercerita sedikit tentang banyak hal hanya untuk menghindari tatapan curiga wanita paruh baya itu.
Setelah puas bercerita, Ziya mohon pamit hendak membersihkan diri karena malam semakin larut. Ia harus mengistirahatkan tubuhnya guna menyambut pekerjaannya esok.
__ADS_1
...***...