
...***...
"Papa nggak mau. Ini terlalu cepat untuk berkunjung ke rumah mereka. Bahkan perempuan itu saja belum bercerai dengan suaminya." Penolakan itu terlontar dengan tegas dari mulut papanya Farel.
Sudah setengah jam Farel duduk bersama kedua orang tuanya di rumah besar orang tuanya tersebut. Farel sengaja datang ke sana untuk menyampaikan pesan Pram yang meminta orang tua Farel agar berkunjung ke rumahnya. Dan setelah Farel mengutarakannya, ia langsung ditolak mentah-mentah oleh sang papa.
"Ini hanya pertemuan biasa, Pa. Kakeknya Cia hanya ingin bersilaturahmi dengan Papa dan Mama. Sekaligus membicarakan tentang ... acara pertunanganku dengan Cia."
"Ini mustahil. Apa kamu sudah gila?! Bagaimana mungkin kamu mau merencanakan untuk bertunangan dengan Cia? Dia masih istri orang, Farel." Sadam semakin meradang. Berkali-kali dia mengingatkan status perempuan yang dicintai oleh anaknya, tetapi sayangnya Farel terlalu dibutakan oleh cinta. Dia tidak mau memedulikan itu semua.
"Tapi Cia sudah mengandung anak aku, Pa. Mau tidak mau, Papa harus menerima dia sebagai menantu Papa."
"Kamu!"
"Pa ...."
Hampir saja Sadam melayangkan satu tamparan pada pipi mulus Farel. Andai saja sang istri tidak menghentikannya. Arisa dengan cepat menahan bahu suaminya sambil menggelengkan kepala. Ia tidak mau salah satu keluarganya ada yang terluka.
Sadam menghirup napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Berusaha menampung pasokan oksigen yang cepat terkuras dari paru-parunya saat menghadapi Farel.
"Baiklah, kami akan menemui kakeknya Cia."
Senyum merekah langsung tercetak di bibir Farel. Kepalanya yang sempat menunduk sontak mendongak. Menatap sang papa dengan sorot mata berbinar. "Makasih, Pa," ucapnya senang.
"Hmm." Sadam hanya bergumam. Ia alihkan pandangannya ke arah lain. Merasa kesal melihat pancaran ceria yang ditampilkan di wajah anaknya tersebut. Andai saja rasa bahagia itu bukan ditujukan untuk istri orang lain, mungkin Sadam akan ikut bahagia dan menerimanya dengan lapang dada.
***
Sesuai yang direncanakan, malam ini keluarga Farel akan bersilaturahmi ke rumah Pram. Farel sudah memberitahu Pram lewat panggilan telepon, jika orang tuanya sudah setuju dan akan datang nanti malam.
Tentu saja Pram tidak mau membuat calon besannya merasa tidak nyaman. Dia sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan aman, taklupa hidangan mewah untuk makan malam.
"Kenapa kamu belum bersiap, Nak? Sebentar lagi keluarganya Farel akan datang." Cia yang tengah duduk termenung di sisi ranjang sedikit tersentak. Menoleh pada kakeknya yang entah sejak kapan sudah masuk ke dalam kamar. Cia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Memikirkan nasib pernikahannya dengan Delfin yang akan berakhir sebentar lagi.
"Maaf, Kek. Cia akan bersiap sekarang." Cia tersenyum tipis. Walaupun dalam hatinya dia tengah menangis.
__ADS_1
"Dandan yang cantik, ya, Sayang. Kamu akan bertemu dengan calon mertua." Pram tersenyum melontarkan kalimat itu.
Cia membalasnya dengan senyuman pelik. Miris! Di saat dirinya masih menjadi menantu dari orang tua Delfin, Cia harus berdandan secantik mungkin untuk bertemu calom mertua barunya. Cia merasa begitu hina.
***
Suara deru mobil yang berhenti di pekarangan rumah Pram membuat Bi Lea lekas membuka pintu. Pram sudah bersiap menyambut tamunya di ruang tamu.
"Halo, Tuan Sadam. Selamat datang." Pram mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan tamunya tersebut, "apa kabar Tuan dan Nyonya?" tanyanya berbasa-basi.
"Seperti yang Anda lihat, Tuan Pram. Kami dalam keadaan sehat. Hanya saja kesehatan jantung kami sempat terganggu gara-gara—"
"Pa, kamu udah janji nggak akan bikin masalah." Arisa kembali memperingati suaminya dengan nada pelan, tetapi penuh penekanan. Tangannya meremas pergelangan tangan suaminya sedikit kencang.
Sadam menatap wajah istrinya sejenak, lalu berdecak sebal karena istrinya sudah berani memotong perkataannya.
"Gara-gara apa, Tuan? Apa sudah diperiksa ke dokter?" Pram terlihat penasaran dengan kelanjutan kata-kata Sadam.
Pandangan Sadam beralih lagi pada Pram. "Oh, bukan apa-apa. Hanya gara-gara kerjaan saja," jawabnya sambil tertawa sumbang. Pura-pura terlihat baik memang sangat menyebalkan. Farel pun melakukan hal yang sama, selalu menampilkan senyuman terbaik yang dia punya. Walaupun dia tahu sang papa selalu berusaha menggagalkan rencananya, dia punya mama yang masih berpihak kepadanya.
"Oh, ya, silakan duduk. Kalian pasti lelah kelamaan berdiri." Pram mempersilakan tamunya duduk.
"Tuh, lihat kelakuan anak kamu, Ma. Segitu tergila-gilanya dia sama istri orang. Sampai matanya seperti mau keluar melihat perempuan itu. Apa istimewanya dia? Masih banyak perempuan lajang yang lebih cantik dari dia." Sadam berbisik di telinga istrinya. Tatapannya terlihat tidak suka melihat kedatangan Cia.
"Diem, Pa. Kita bahas di rumah saja." Arisa membalas perkataan suaminya takkalah pelan. Hanya mereka berdua yang terlibat percakapan tanpa ada orang lain yang mendengar.
"Hai, Sayang. Ayo, sapa calon mertua kamu."
"Halo, Om, Tante." Cia menyapa kedua orang tua Farel dengan senyum yang mengembang. Kedua orang tua Farel membalasnya hanya dengan senyuman. Cia pun duduk di samping kakeknya.
"Sepertinya terlalu dini untuk mengatakan kami adalah calon mertua dari cucu Anda, Tuan Pram. Saya dengar Cia belum bercerai dengan suaminya." Sadam tidak bisa lagi menahan kalimat yang sudah mencokol di pangkal lidahnya sejak tadi. Membuat semua orang jadi bungkam, dan suasana pun berubah tegang.
"Pa—" Kalimat sanggahan dari Farel tertahan oleh gerakan tangan Sadam yang terangkat ke udara. Seolah memberikan kode agar anaknya diam saja. Sadam ingin mendengar Pram yang menjelaskan semuanya.
"Anda benar, Tuan Sadam. Cucu saya memang belum bercerai dengan suaminya. Tetapi hal itu akan segera terjadi, karena bagaimanapun anak yang dikandung Cia adalah anaknya Farel."
"Seyakin itu Anda mengatakan jika itu adalah anaknya Farel. Apa tidak mungkin jika itu adalah anak dari suaminya Cia?" Sadam masih berusaha membantah.
__ADS_1
Sedangkan Cia hanya bisa menundukkan kepala. Bagaimanapun yang dikatakan oleh papanya Farel benar adanya.
"Anak Anda sudah mengakui perbuatannya terhadap anak saya, Tuan Sadam. Apa Anda akan mengajarkan agar anak Anda tidak bertanggung jawab dengan perbuatannya tersebut. Mereka sudah mengaku melakukan hal itu ketika suaminya Cia sedang berada luar kota, dan sejak saat itu Cia belum berhubungan dengan suaminya lagi."
Sadam mengernyitkan keningnya, lalu menatap Cia dengan tatapan sinis. "Jadi Cia bermain serong ketika suaminya bekerja di luar kota? Istri macam ap—"
"Papa cukup! Kita ke sini untuk membahas acara pertunanganku dengan Cia, dan acara pernikahan setelah Cia melahirkan. Kenapa Papa bahas hal lain?" Farel yang tidak suka dengan kelakuan sang papa akhirnya geram.
"Maaf, Tuan Sadam. Sebenarnya saya tersinggung dengan perkataan Anda barusan. Tetapi sepertinya saya harus meluruskan kesalahpahaman yang menganggu pikiran Anda terhadap cucu saya. Dia adalah istri yang baik, hanya saja suaminya yang sudah berkhianat. Lalu Farel datang memberikan pundaknya untuk menjadi sandaran Cia. Siapa yang menyangka hal ini bakal terjadi? Nyatanya kedua anak kita saling jatuh cinta. Mungkin ini yang disebut jodoh."
Sadam terdiam. Mencoba mencerna penuturan panjang lebar dari Pram. Tidak ada lagi yang bisa dia sanggah. Akhirnya dia pun mengalah.
***
Acara makan malam itu pun selesai setelah melewati drama yang menegangkan. Kedua orang tua Farel akhirnya menyetujui acara pertunangan Farel dan Cia, yang akan dilakukan setelah Cia resmi bercerai dengan suaminya. Ini adalah pilihan anak mereka. Mereka hanya ingin anaknya bahagia.
"Kamu sedang apa? Sudah malam bukannya tidur." Pram menegur cucunya yang malah termenung dengan raut sedih di pinggir kolam ikan. Tangannya tanpa henti menaburkan pakan ikan dengan pikiran yang menerawang. Setelah kepergian keluarga Farel, Cia tidak bisa beristirahat dengan tenang.
"Kakek?" Cia tercekat, lalu tersenyum melihat kakeknya.
Pram duduk di pinggir kolam di samping cucunya. "Kamu kenapa? Wajahmu terlihat sedih? Harusnya kamu senang, karena orang tua Farel sudah memberikan restu untuk kalian," tanyanya sambil mengusap kepala Cia dengan lembut.
"Aku sedang memikirkan perkataan Om Sadam, Kek. Dia benar, aku memang istri yang tidak baik. Yang selingkuh ketika suamiku tidak ada di rumah," jawab Cia dengan dengan lirih. Raut wajahnya masih terlihat sedih.
"Dia juga selingkuh, Cia. Kamu hanya membalas perbuatannya saja."
"Lalu apa bedanya aku dengan Delfin, Kek? Harusnya aku tidak membalas hal yang sama. Aku merasa nggak punya harga diri di depan orang tua Farel. Mungkin mereka khawatir, jika anaknya akan mengalami nasib yang sama dengan Delfin."
Pram seperti tertampar dengan perkataan cucunya tersebut. "Farel lelaki yang baik, Cia. Dia tidak akan berbuat hal bodoh seperti Delfin, dan kamu tidak perlu membalas hal bodoh juga kepada Farel."
"Tapi, Kek—"
"Sudah! Kakek tidak mau mendengar kamu membahas Delfin lagi. Sudah cukup rasa sakit hati yang dia berikan sama kamu. Lupakan dia, dan pikirkan masa depan kamu dengan Farel!" Pram beranjak dan melangkah meninggalkan Cia, tetapi sejenak langkahnya terhenti dan berkata lagi, "tidurlah, Nak! Pikirkan bayi yang ada dalam kandunganmu! Kamu harus banyak istirahat agar kalian tetap sehat."
"Iya." Cia mengangguk lalu berdiri, dan menyusul kakeknya yang lebih dulu meninggalkan taman belakang tempatnya sekarang. Ia menghela napas lalu mengusap perutnya sambil berjalan, "kamu sehat-sehat, ya, Sayang. Mama janji akan memberikan yang terbaik buat kamu," ucapnya lirih dengan penuh ketulusan.
...***...
__ADS_1