Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Frustrasi


__ADS_3


...***...


“Sebelum kamu yakin jika perasaan yang kamu simpan untuk perempuan itu hanya sebatas pekerjaan, jangan pernah menghubungi aku atau menjemputku pulang! Aku yakin kamu ada perasaan dengan perempuan itu. Jika tidak, kamu tidak akan keberatan jika harus mempunyai manajer baru.” Kalimat panjang lebar itu selalu terngiang di telinga Delfin. Walaupun beberapa hari sudah berlalu semenjak kepergian Cia dari apartemennya, kalimat itu selalu berhasil memantik api amarah hingga berkobar di dalam dada.


Kali ini sepertinya Delfin tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Delfin yang kembali dipenuhi dengan rasa marah, melempar semua benda yang ada di dekatnya. Ia sudah tidak perduli lagi akan jadi seperti apa apartemennya nanti. Setidaknya untuk saat ini, dengan melempar dan membanting semua benda yang ada didekatnya, akan membuat emosinya sedikit tersalurkan.


“Aaagrh, brengsek!” pekik Delfin.


“Kamu terus saja menuduhku berselingkuh dengan Ziya. Tapi apa yang kamu lakukan di belakangku dengan Farel, Cia. Tidak bisakah kamu mengerti dan memikirkan perasaanku saat ini,” raung Delfin memenuhi ruang apartemennya.


Tubuhnya merosot di lantai dan bersandar pada ranjang. “Kenapa harus ada laki-laki itu di kehidupan kita? Aku tahu laki-laki itu menyukaimu. Bahkan terlihat sangat mencintaimu, Cia. Sikapnya padamu juga bukan seperti sikap seorang teman. Tapi lebih kepada sikap seorang pria yang memuja seorang wanita. Apakah kamu nggak bisa melihat itu, Cia?” gumam Delfin dengan tangan terkepal, yang kemudian ia pukulkan pada lantai seolah-olah Delfin sedang memukuli Farel.


Delfin tidak hanya memikirkan tentang sikap Farel pada istrinya, tetapi sekilas kata-kata Cia padanya pun terus menari-nari di ingatannya. “Kami hanya bertemu sebentar. Dia baru pulang dari Australia, dan ingin memberikan aku hadiah. Memangnya kamu pernah memberikan aku hadiah mewah?” Delfin berusaha menekan kalimat itu agar tidak muncul di ingatannya. Namun usahanya gagal, malah membuat Delfin bertambah geram.


“Aku memang belum bisa memberikanmu barang-barang mewah. Tapi seharusnya, kamu bisa lebih bersabar lagi, Cia. Aku memang tidak sekaya kakek dan lelaki brengsek itu. Tapi setidaknya kamu bisa menghargai pengorbanan dan usahaku. Aku bekerja siang dan malam, tanpa kenal lelah. Semua itu aku lakukan demi kamu.” Delfin meraup wajahnya dengan kasar. Berharap dengan begitu ia dapat mengurangi amarahnya.

__ADS_1


Namun usahanya gagal. Kali ini Delfin benar-benar marah karena ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Cia dan Farel. Karena sampai saat ini ia memang belum mampu memberikan hadiah mewah untuk istrinya itu.


Setelah lelah melampiaskan amarahnya pada barang-barang yang ada di apartemen miliknya, Delfin beranjak lalu menyahut jaket, handphone, dan kunci mobil sportnya yang tergeletak di atas kasur. Lalu pergi meninggalkan apartemen miliknya dengan hati yang kalut. Entah ke mana dia akan pergi. Delfin hanya ingin menenangkan diri.


...*****...


Delfin mulai melajukan mobilnya tanpa arah. Bahkan terkadang ada pengendara lain yang dengan tegas membunyikan klason mobilnya berkali-kali, memaki, bahkan memberinya umpatan kasar karena cara menyetir Delfin yang terbilang urakan dan ugal-ugalan. Namun, Delfin hanya bersikap acuh dan tidak peduli. Karena saat ini yang ada dalam pikiran Delfin adalah ia harus mengeluarkan dan melampiaskan semua amarah yang saat ini masih bersemayam dalam dadanya. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya.


“Woy, lo bisa nyetir nggak, sih?” hardik seorang pengendara mobil CRV. Delfin mengabaikannya, masih melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


“Lo, mau mati, ya!” teriak pengendara mobil Brio.


“Gaya lo bang, ugal-ugalan di jalan. Mentang-mentang pakai mobil sport, kayak punya artis dan pejabat terkenal," teriak pelajar SMA yang mengendarai motor Supra X, yang motornya di salip Delfin.


“Awas aja lo, Bang. Tar kalau gue udah gede, terus gue bisa beli mobil kayak punya lo, pasti gue tantangin lo buat balapan,” lanjut pelajar SMA itu lagi dengan gaya sombongnya. Namun, saat ia hendak melanjutkan umpatannya, teman di belakangnya keburu menoyor kepala pelajar tersebut dan berkata,


“Udah lo, belajar aja yang bener! Kagak usah kebanyakan ngimpi. Lagian lo pengen beli mobil begitu, jajan aja lo masih minta ditraktirin gue.” Kedua pelajar tersebut akhirnya terkekeh bersama, tanpa mengambil hati sikap urakan Delfin.

__ADS_1


Namun, cacian dan makian itu dianggap bagai angin lalu bagi Delfin. Pikirannya saat ini benar-benar kalut dan kosong. Bahkan beberapa panggilan dari Ziya dan Bagus pun ia abaikan begitu saja. Saat ini yang Delfin butuhkan hanya tempat yang tenang.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Kurang lebih selama dua jam menjelajah jalanan, akhirnya mobil Delfin pun terparkir dengan rapi di tepi pantai. Semilir angin berembus menerpa tubuh, deburan ombak seakan saling berkejaran. Membuat Delfin dengan segera berlari menuju tepian laut untuk meluapkan isi hatinya.


“Aaaarrrggghh ... brengsek! Brengsek! Brengsek!” umpat Delfin penuh amarah. Di tepi pantai yang sepi Delfin berteriak seperti orang gila. Berharap rasa kesalnya bisa terbawa oleh deburan ombak dan tergulung ke lautan sana.


“Cia, aku ini suami kamu. Aku ini imam kamu, tapi kenapa kamu pergi ninggalin aku?" Delfin mulai mengutarakan isi hatinya, "seharusnya, kamu lebih memilih aku dari pada laki-laki itu. Apa hanya karena sebuah tas mewah, kamu akan berpaling dariku? Aku memang tidak sekaya laki-laki itu, tapi aku akan selalu berusaha membahagiakan kamu, Cia.” Delfin terus berteriak. Tubuhnya terduduk dan tersapu ombak. Hingga bajunya pun kebasahan. Delfin menangis sesegukan.


Cukup lama lelaki itu terdiam. Membiarkan tubuhnya ditempa oleh ombak berkali-kali. Sudah berteriak seperti itu, membuat rasa sesak di dadanya sedikit berkurang.


“Cia, aku tahu kalau sebenarnya kakek Pram tidak pernah menyukaiku. Maka dari itu aku selalu berusaha untuk memenuhi segala kebutuhanmu. Semua ini demi kamu, tapi kenapa aku selalu salah di mata kamu dan di mata kakek kamu? Bahkan hubungan pertemanan antara aku dan Ziya pun juga salah di mata kamu. Padahal Ziya, bagian dari kesuksesan aku, tanpa dia aku nggak akan jadi seperti ini.” Delfin berkata lirih setelah terdiam cukup lama. Mengusap wajahnya sendiri dengan frustrasi.


“Aku mencintai kamu, Cia. Aku sangat-sangat mencintai kamu. Kamu adalah cinta pertamaku dan kamu juga bagian dari hidup aku. Aku ingin kita kembali seperti dulu, menjadi keluarga kecil bahagia yang akan saling mendukung satu sama lain. Aku merindukan kamu yang dulu.”


Delfin beranjak berdiri, kepalanya menengadah menatap iring-iringan awan putih yang berlarian di atas sana. Di atas hamparan air laut yang membentang di hadapannya. Air matanya pun luruh kembali tanpa permisi. Ia mengingat kenangannya bersama Cia, karena pantai adalah saksi sejarah hubungan antara Delfin dan Cia semasa pacaran dulu.


...***...

__ADS_1



__ADS_2