
...***...
Malam minggu kali ini, benar-benar hari yang berkesan untuk Ziya. Bukan karena kebersamaannya dengan Delfin, tetapi lebih karena ia merasa memiliki keluarga seutuhnya. Di rumah Delfin, Ziya seperti memiliki ayah, ibu, serta adik yang manis, seperti Farah. Ziya terus memperhatikan keakraban Delfin dan Mahendra di ruang keluarga saat bermain catur. Juga tawa bahagia Farida dan Farah, saat bersamanya di dapur untuk membuat kue. Hal itu sejenak membuatnya terdiam dan memikirkan sesuatu.
“Tuhan ... bolehkah kali ini aku berpikir untuk serakah. Bolehkah aku berharap untuk memiliki ‘dia' seutuhnya? Salahkah, jika aku menginginkannya selalu berada di sisiku?” batin Ziya dipenuhi berbagai harapan untuk memiliki keluarga bahagia bersama orang yang mulai ia sayangi. Orang yang jelas-jelas terlarang untuk ia miliki. Namun, lamunan itu seketika harus berakhir karena oven yang ada di hadapannya berbunyi, menandakan jika kue buatan mereka telah matang.
“Kak Ziya, cheese cakenya sudah matang, nih. Kakak pasti suka. Soalnya cheese cake buatan Mama adalah cheese cake terenak yang pernah aku temui,” puji Farah pada kue yang baru ia angkat dari dalam oven.
“Hemm, harum sekali. Sepertinya kue ini sangat enak,” gumam Ziya yang terdengar jelas oleh Farida dan Farah.
“Tentu saja enak, Kak, bahkan sangat-sangat enak. Ini, kan, cheese cake favorit kak Delfin. Sekali makan kak Delfin bisa habis tiga potong,” terang Farah yang terus membanggakan kue buatan Farida.
“Sudah-sudah, nggak usah bahas kue terus. Sekarang Farah sama Ziya potong kuenya, ya. Biar mama yang buat tehnya. Kasihan, tuh, Papa sama Kakak kamu pasti sudah nggak sabar pengen makan kue buatan kita.” Setelah mengatakan hal itu Farida mengambil cangkir kemudian membuat teh untuk dihidangkan. Sedangkan Ziya dan Farah mulai bergerak menyiapkan piring kecil dan memotong cheese cake buatannya menjadi beberapa bagian.
...****...
Di ruang keluarga terdapat dua pria dewasa sedang asik bermain catur dengan aura yang berbeda. Mahendra dengan semangat juangnya berusaha mengalahkan sang putra. Namun, Delfin justru terlihat tidak bersemangat, sebab otaknya saat ini sedang memikirkan pusat dunianya yang sudah seminggu tidak saling memberi kabar.
“Skakmat!” tegas Mahendra membuat Delfin terkejut. Pun untuk yang ketiga kalinya Mahendra berhasil mengalahkan Delfin.
“Ada apa, Nak? Kamu seperti tidak fokus. Ada yang bisa papa bantu?” tanya Mahendra pada Delfin. Delfin segera menggeleng menunjukkan bahwa ia sedang baik-baik saja dan mengubah topik pembicaraan. Delfin tidak ingin sang ayah menaruh curiga. Namun, sebagai soerang ayah, Mahendra bisa mencium hal buruk yang terjadi pada putranya.
“Ayo, Pah, kita ulang lagi permainannya. Kali ini Delfin pasti menang.” Delfin berusaha untuk bersikap tenang agar sang ayah tidak terus menginterogasinya. Mahendra pun tersenyum, berusaha memahami Delfin. Mahendra mulai memberikan wejangan pada putranya di sela-sela permainan mereka.
“Nak, kamu pernah dengar tentang filosofi catur?” tanya Mahendra pada Delfin yang dijawab dengan menggelengkan kepalanya.
“Dalam bermain catur kita perlu langkah yang jelas. Melangkahlah ke depan. Setiap langkah yang kita ambil menentukan kehidupan kita. Akan jadi seperti apa dan bagaimana. Hidup itu harus punya tujuan. Sebab dengan adanya tujuan, kita akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Entah sadar atau tidak, apa yang kita lakukan saat ini akan menjadi penentu masa depan kita," lanjut Mahendra lagi.
__ADS_1
“Papa tahu kamu merindukannya. Papa rasa satu minggu sudahlah cukup untuk kalian saling introspeksi diri. Kini saatnya kamu kembali padanya. Jangan buat dia menunggumu terlalu lama.” Delfin berusaha mencerna setiap kalimat yang diucapkan Mahendra, hingga kehadiran Farida, Farah, serta Ziya memecah fokusnya dari kata-kata sang ayah.
“Lagi diskusi apa, sih, kok kayaknya serius banget?” tanya Farida pada kedua pria kesayangannya tersebut. Sementara Ziya dan Farah sedang menata kue serta teh buatan mereka di atas meja.
Delfin yang mulai memahami perkataan Mahendra mulai beranjak dari kursinya dan menghampiri papanya.
“Pah, sekarang Delfin tahu apa yang harus Delfin lakukan. Delfin akan jalan di depan seperti pion yang akan terus melindungi rajanya, agar posisinya tidak akan pernah berubah,” ucap Delfin membalas filosofi Mahendra. Pun Mahendra hanya membalas dengan senyum dan anggukan. Membuat Farida, Farah dan Ziya menatap heran karena tidak memahami kalimat Delfin tersebut.
“Ziya, nanti kamu pulangnya diantar sama Farah, ya. Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Mah, Pah, Delfin pergi dulu, ya. Doakan semoga Delfin berhasil. Oh, ya, Dek, kakak titip Ziya, ya. Tolong antarkan Ziya sampai ke rumahnya dengan selamat!” Setelah mengucapkan kalimat panjang tersebut Delfin kemudian berlari menuju nakas dan mengambil kunci mobil yang ia taruh di atasnya.
...*****...
Saat ini Delfin akan pulang ke apartemen untuk menemui Cia—istri tercintanya. Pusat dunia yang selalu ada di hatinya. Ia memutuskan untuk mengalah dan menekan egonya dengan meminta maaf pada Cia terlebih dahulu. Delfin berusaha memperbaiki semua agar rumah tangganya tetap utuh. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Delfin agar sampai ke apartemen, dengan skil mengemudi yang cukup handal Delfin mampu menyalip mobil-mobil yang menghalangi jalannya.
Setelah tiga puluh menit, akhirnya sampailah Delfin di unit apartemennya. Namun, Delfin terkejut karena ia tidak menemukan keberadaan Cia di sana. Setelah memperhatikan dengan seksama, Delfin pun berpikiran kalau selama seminggu ini Cia tidak pulang ke apartemen. Karena apa yang dilihat Delfin saat ini, masih sama seperti yang ia lihat seminggu yang lalu, tidak ada satu pun benda yang berpindah. Itu artinya Cia memang tidak pernah pulang.
“Kamu di mana Sayang? Kenapa kamu nggak pernah pulang? Apa selama ini kamu tinggal di butik, atau kamu pulang ke rumah kakekmu?” Delfin mulai mempertanyakan keberadaan Cia pada dirinya sendiri. Delfin menyesal pernah membentak Cia di akhir pertemuannya beberapa hari yang lalu. Setelah berpikir cukup lama akhirnya Delfin mulai mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi butik tempat Cia bekerja. Namun, staf butik berkata jika selama seminggu ini Cia tidak pernah datang ke butik.
Mobil sport milik Delfin telah sampai di depan pagar rumah milik Pramono. Satpam yang mengenali dirinya pun lekas membukakan pagar untuknya.
“Eh, Tuan Delfin. Udah lama, ya, bapak enggak pernah ngelihat Tuan. Tuan makin ganteng aja.” Puji pak satpam yang juga mengagumi suami dari cucu majikannya tersebut.
“Makasih, Pak. Oh ya, Pak, apa Cia ada di dalam?” tanya Delfin pada satpam tersebut.
“Ada, Tuan. Silakan masuk, Tuan,” jawab satpam tersebut mempersilakan Delfin.
Karena Delfin sangat merindukan Cia, akhirnya dengan tergesa ia memasuki rumah Pramono, berharap Cia wanita yang ia rindukan juga balas merindukannya. Namun, langkah panjang Delfin harus terhenti ketika melihat keakraban Cia dan Farel. Ia melihat kedua manusia itu tengah asyik duduk di taman belakang rumah menikmati heningnya malam dengan segelas coklat panas.
*
__ADS_1
*
Di taman belakang, Cia tengah asyik menyesap coklat panasnya bersama Farel. Farel terus saja memperhatikan wajah Cia. Namun, Cia tetap tidak peduli dan terus meminum minuman kesukaannya.
“Kamu kalau minum atau makan sesuatu emang kayak gini, ya?" tanya Farel
“Kayak gini gimana, maksud kamu?” Cia balik bertanya.
“Kamu kalau makan atau minum apa selalu belepotan kayak gini. Kayak anak kecil aja, sih,” kekeh Farel sambil mengelap sudut bibir Cia dari jarak dekat. Sehingga ketika ada seseorang yang melihatnya dari arah belakang, akan mengira jika Cia dan Farel sedang berciuman. Dan hal itulah yang Delfin lihat hingga membuat emosinya meningkat. Tanpa basa basi Delfin segera menghampiri Farel dan menghajarnya dengan membabi buta. Farel yang notabene pemegang sabuk hitam taekwondo, membuat perkelahian antara lelaki pun tak terelakan.
“Berhenti. Tolong berhenti!” teriak Cia. Namun, tak dihiraukan oleh kedua pria tersebut. Hingga akhirnya Cia harus memanggil empat orang satpam untuk memisahkan mereka.
Setelah berhasil memisahkan baku hantam antara Delfin dan Farel, Cia mulai menghampiri Farel dan bertanya soal keadaannya.
“Kamu nggak pa-pa, kan, Rel?” tanya Cia khawatir. Ia lebih memedulikan Farel daripada Delfin suaminya.
“Aku nggak papa, Ci. Aku baik-baik saja. Tapi aku nggak tahu kalau dia—” Farel menunjuk Delfin dengan sorot matanya.
“CIA! Kamu apa-apaan sih? Di sini, aku suami kamu, bukannya dia. Kenapa kamu lebih memperhatikan dia dari pada aku yang jelas-jelas adalah suami kamu?” teriak Delfin dengan penuh emosi kemudian berjalan ke arah Cia untuk menarik tangannya yang langsung dihempaskan oleh Cia.
“Kamu memang suami aku, Fin. Tapi kamu sadar nggak kalau selama seminggu ini kamu nggak pernah ada buat aku. Bahkan saat aku membutuhkan perhatian dari kamu, kamu nggak pernah ada buat aku. Tapi Farel beda. Aku tidak perlu meminta perhatian darinya, dia sudah memberikannya dengan ikhlas," jawab Cia dengan lantang.
“Sekarang sebaiknya kamu pergi, Fin. Aku nggak mau sampai Kakek tahu soal keributan ini. Lagi pula aku sudah mulai lelah dengan situasi ini.” Cia mengembuskan napas berat kemudian berbalik ke arah Farel dan membantu Farel kemudian meninggalkan Delfin di taman seorang diri.
“Apa lelaki itu sudah menggantikan posisi aku di hati kamu, Cia. Kali ini aku benar-benar kecewa dengan sikap kamu?"
Dengan perasaan kecewa Delfin pun pergi meninggalkan kediaman Pramono dengan hati dan wajah yang penuh dengan luka.
...***...
__ADS_1
...Dukung terus karya author, ya. ❤...