
...***...
Air mata Cia terus mengalir membasahi pipinya. Apa yang Cia khawatirkan selama ini akhirnya terjadi. Delfin telah mengetahui kebenarannya. Sebuah kenyataan yang selama ini Cia simpan dan tutup rapat-rapat. Namun ia tahu, sehebat apa pun ia menyembunyikannya, suatu saat pasti akan terbongkar juga. Bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Sesak yang saat ini Cia rasakan, melihat Delfin yang tak berhenti mengumpat di depannya. Bahkan Delfin menolak saat Cia mencoba mengobatinya kembali.
Cia pun semakin tak kuasa menahan rasa sesalnya. Bahkan ia tak sanggup melihat wajah kecewa Delfin. Lelaki yang masih sangat ia cintai. Ingin sekali ia memeluk tubuh suaminya. Tubuh yang begitu kuatnya menanggung beban berat selama mereka menjalin hubungan. Mulai dari desakkan kakek Pram, dan hinaan dari berbagai keluarga karena status sosial yang berbeda. Namun, Cia sadar ini adalah resiko yang harus ia terima. Ia sudah memanen apa yang ia tanam.
"Maaf ... maafkan aku, Delfin," lirih Cia. Setelah mengucap kalimat itu, Cia segera berlari menuju kamarnya. Ia seolah melupakan keadaan dirinya yang kini tengah mengandung.
Sampai di kamarnya, Cia menutup pintu dengan kencang, lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Air matanya kian deras membasahi wajah cantiknya. Pikirannya kalut. Ia benar-benar menyesal telah mengkhianati Delfin, suaminya.
Andai saja waktu bisa diulang kembali, Cia tidak ingin mengenal Farel. Ia akan lebih memilih menghabiskan waktu di butik saat bertengkar dengan Delfin, daripada harus pergi ke rumah kakeknya. Sehingga semua ini mungkin tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
Namun, semuanya sudah terlambat. Janin yang ada di rahim Cia, adalah bukti nyata pengkhianatan yang sudah Cia lakukan.
Delfin yang masih setia duduk di ruang tamu merenungi kejadian beberapa waktu yang lalu. Ia tak menyangka, Cia tega melakukan ini padanya. Selama ini, Cia yang kekeh selalu menuduhnya berselingkuh, tapi kenyataannya justru Cia yang mengkhianati pernikahan mereka.
"Aku gagal menjadi suami yang baik untukmu, Cia. Semudah itu kamu menyerah. Seandainya kamu bisa sedikit saja bersabar, aku pasti bisa memenuhi semua keinginanmu," batin Delfin, ia pun tak kuasa menahan air matanya.
Delfin pun akhirnya bangkit dari sofa. Dengan gontai ia melangkah keluar menuju mobilnya. Bi Lea yang melihat pertengkaran antara kedua majikannya terlihat begitu sedih. Ia turut merasakan apa yang Delfin dan Cia rasakan. Rumah tangga yang mereka jalani begitu banyak ditimpa musibah.
Bi Lea mengusap air mata yang ikut mengalir di pipinya, saat memandang kepergian Delfin yang terlihat sangat kacau.
Delfin melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli dengan umpatan-umpatan yang keluar dari pengendara lain, saat mobilnya yang berulang kali hampir menabrak beberapa mobil di depannya.
Setelah hampir dua jam berkendara tak tentu arah, tiba-tiba ia memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Ia berulang kali memukul kemudinya untuk sejenak melampiaskan amarah. "Hah! Miris sekali hidupku. Di saat karirku meroket, justru kisah cintaku begitu mengenaskan." Terdengar tawa sumbang dari mulutnya. "Lebih baik aku kembali ke apartemen. Aku tidak mungkin berada di tempat umum dengan wajah seperti ini." Delfin tersenyum miris melihat penampilannya dari kaca spion yang penuh warna biru.
Tiba di apartemen, Delfin langsung mengambil bingkai foto pernikahannya dengan Cia yang menggantung di dinding. "Aarghhh ...." Delfin berteriak sambil membanting bingkai foto itu hingga kacanya hancur dan berserakan di lantai. Ia kembali melampiaskan amarah yang sejak tadi ia tahan. Tak cukup dengan itu, ia juga membanting benda apa pun yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Brengsek! Bangs*t!" Delfin melayangkan pukulan ke dinding, membuat buku-buku jarinya terluka dan berdarah. Rasa sakit di tubuhnya tak sebanding dengan sakit di hatinya akibat penghianatan.
"CIA ...." Delfin berteriak dengan kencang, hingga suaranya menggema di setiap sudut ruang apartemennya. "Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu lakukan ini padaku, Cia? Selama ini aku selalu bekerja keras demi kamu, demi masa depan keluarga kita. Aku selalu berusaha membahagiakanmu dengan hasil jerih payahku sendiri. Meski kakek selalu menganggapku remeh dan rendah, aku tak pernah menyerah. Aku rela selalu dianggap hina oleh kakek, asal kamu selalu bersamaku. Kamu yang selalu mendukung dan memberiku semangat, Cia. Kamu yang dulu selalu membuatku percaya diri, setiap kali kakek menyudutkanku."
Delfin menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar. Terlihat sekali raut wajah yang begitu kecewa. Ia menyugar rambutnya dengan kasar.
"Sejak kapan, Cia? Sejak kapan kamu mengkhianatiku? Aku selama ini berjuang, Cia. Tak lagi memedulikan bagaimana lelah di tubuhku. Untuk apa? Untuk kita, Cia. Tapi kenapa sekarang kamu menghancurkan semuanya, setelah semua perjuangan yang aku lakukan? Setelah aku mampu mewujudkan cita-citaku menjadi seorang artis besar. Bahkan, setelah aku mampu meraih kesuksesanku. Kamu mematahkan impianku, impian kita, keluarga kecil kita, semuanya sudah hancur." Tangis Delfin pun pecah. Tak sanggup rasanya ia membayangkan, jika harus kehilangan Cia.
Cia adalah cinta sejati Delfin. Cia yang selalu mendukungnya saat pertama ia mulai meniti karir di dunia tarik suara. Kini, saat ia sudah di puncak karir, Cia justru membuatnya merasa tak berarti. Semua kesuksesan yang telah ia raih terasa sia-sia. Dulu, tujuan kesuksesan Delfin adalah agar bisa membahagiakan Cia dan juga agar Pramono bisa menerimanya sebagai cucu menantunya.
Namun, setelah apa yang dilakukan Cia, untuk apa semua kesuksesan itu? Pupus sudah semua impian keluarga bahagia mereka. Delfin seperti kehilangan arah. Kini masih mungkinkah Delfin bertahan, sedangkan Cia terlihat sudah menyerah, membuat hatinya benar-benar hancur. Sungguh, ingin rasanya ia tak percaya dengan kenyataan ini, tetapi janin dalam rahim Cia sudah membuktikan semuanya.
Suasana apartemen Delfin yang berantakan, menjadi saksi betapa sakit dan kecewanya hati Delfin saat ini. Tak ada lagi Delfin yang tangguh, tak ada lagi Delfin yang tampan. Delfin seakan kehilangan arah dan tujuannya. Ia seperti tak lagi punya semangat hidup, sebab hidupnya sudah hancur sejak pengkhianatan Cia.
...***...
__ADS_1