Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Cucu Angkat


__ADS_3


...***...


Beberapa hari semenjak pengunduran diri Ziya, gadis itu hanya menyibukkan dirinya membantu Erna. Gadis itu selalu menampilkan senyum meskipun hatinya terluka. Saat ini perasaan bersalah Ziya kepada sepasang anak manusia tersebut sudah benar-benar hilang. Kembalinya Delfin dan Cia mampu memupus rasa bersalahnya. Yang Ziya pikirkan hanyalah ke mana ia akan pergi. Sejujurnya, waktu Ziya mengatakan akan pergi meninggalkan kota ini, belum terbersit di pikirannya akan ke mana ia melangkah. Yang ada dalam benaknya hanyalah pergi dari kota ini.


“Semangat Ziya. Semangat! Satu masalah sudah kamu hadapi dan kamu selesaikan dengan baik. Saat ini yang harus kamu pikirkan hanyalah tujuan kamu. Hari ini kamu harus mencari pekerjaan baru,” monolog Ziya pada dirinya sendiri dengan penuh semangat sambil mengepalkan kedua tangannya, seolah-olah sedang menyemangati dan memberi kekuatan pada dirinya sendiri.


Di tempat berbeda, tak jauh dari tempat Ziya. Terdapat dua pria berbeda usia yang sedang membicarakan sosok Ziya. Kedua pria itu adalah Pramono dan Burhan, asisten sekaligus orang kepercayaan Pramono yang selalu setia berada di sisi tuannya.


“Burhan, dia benar-benar gadis yang tangguh," ucap Pramono setelah menerima akta atas nama Ziya dari tangan Burhan. Pramono lega melihat nama Ziya ada dalam dokumen tersebut.


“Benar, Tuan. Nona Ziya memang gadis yang sangat tangguh,” jawab Burhan jujur.


“Burhan, antarkan aku menemui gadis itu. Bawa semua berkas kepemilikan Panti Asuhan Kasih Bunda. Aku ingin menyelesaikan semua urusanku yang belum terselesaikan dengannya hari ini juga. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama,” titah Pramono dengan tegas. Membuat Burhan mengangguk patuh.


“Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan mobil untuk Anda.” Burhan pun menunduk hormat dan pergi menyiapkan segala hal yang dibutuhkah oleh Pramono untuk menemui Ziya. Gadis yang ia tugaskan untuk menghancurkan hubungan Delfin dan Cia. Gadis yang membuat segala rencana yang ia buat menjadi hancur berantakan. Namun, gadis itu pula yang secara tidak langsung telah menyadarkan Pramono dari kesalahannya.


...***...


Teriknya kota Jakarta siang ini tidak dapat memupuskan langkah Ziya untuk menyusuri daerah kota tersebut. Iya, Ziya memilih keluar dari panti untuk mencari udara segar setelah beberapa hari ini, gadis itu merasakan udara di sekitarnya begitu membuatnya sesak.


Tiba-tiba langkahnya membawa Ziya ke kafe Lenggah, kafe di mana dulu Ziya mengais rezeki di sana. Ziya sadar sudah terlalu lama mengabaikan tempat itu. Karena kesibukannya mengurus keperluan Delfin, hingga Ziya tidak mempunyai waktu untuk mengunjungi tempat tersebut.


"Hai, Zi!" Teriakan sesorang dari sudut kafe membuat Ziya menoleh.


"Tumben siang-siang begini kemari. Angin apa yang membawamu?" Lelaki yang begitu Ziya kenal datang menyambut Ziya. Begitu pula dengan beberapa pegawai kafe yang masih mengenal Ziya. Mereka menyapa meskipun kafe dalam keadaan ramai.


"Aku kangen tempat ini, Kak," jawab Ziya dengan senyum ramahnya.


"Wah, suatu kehormatan seorang manajer artis ternama bersedia mengunjungi tempat ini. Ardan, tolong bawakan minuman kesukaan Ziya, ya!" perintah Arsen kepada pegawainya.


"Ayo, duduk di sana, Zi! Maaf, agak berantakan. Soalnya jam makan siang." Arsen mengajak Ziya duduk di teras samping yang menghadap ke taman belakang.


"Apa kabar, Kak Arsen?" tanya Ziya begitu mereka duduk.


"Baik, Zi. Kamu sendiri?" Arsen pun balik menanyakan kabar Ziya.

__ADS_1


Ziya hanya tersenyum. Ingin sekali ia menjawab jika dirinya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Namun, semua itu berhenti di kerongkongan.


"Baik juga, Kak."


"Mbak Zi, lama nggak ketemu tambah cantik aja. Sejak mbak Ziya pergi, banyak pelanggan yang kecewa, loh." Ardan ikut nimbrung sembari membawa minuman dingin untuk Ziya.


"Kamu ada-ada saja, Dan." Ziya terkekeh diikuti tawa kecil Arsen yang selalu terlihat menenangkan.


"Bener, Zi. Bahkan sebulan yang lalu, temenku yang jadi produser studio rekaman nyari kamu. Mereka mau mengajak kamu bergabung bersama mereka," terang Arsen.


"Kak Arsen bercanda, nih," timpal Ziya.


"Eh, serius. Cuma dia mundur waktu aku kasih tahu kalau kamu menjadi manajernya Delfin," terang Arsen.


"Padahal Mbak Zi mau dijadiin artis, loh. Iya, kan, Mas Arsen?" sambung Ardan.


"Hus, ngaco kamu. Sudah sana layanin yang lain. Rame, tuh, di dalam." Arsen dengan gaya santainya meminta Ardan untuk meninggalkan mereka. Sedangkan Ardan hanya senyum-senyum paham maksud atasannya.


"Silakan diminum, Mbak Zi. Saya ke dalam dulu." Ardan pun meninggalkan mereka dan bergabung kembali bersama rekan-rekannya di dalam kafe.


"Kamu beneran baik-baik saja, Zi? Aku udah lama kenal kamu. Dan wajah kamu nggak bisa berbohong." Arsen membuyarkan konsentrasi Ziya dalam menikmati es lemon tea yang sedang gadis itu nikmati.


Ziya menatap lelaki di hadapannya, memang benar, Arsen selalu bisa menebak apa yang Ziya pikirkan.


"Kamu nggak mau cerita? Apa aku sudah bukan sahabat untukmu?" cecar Arsen.


"Bohong sama kamu percuma, Kak. Karena pada akhirnya, Kak Arsen selalu bisa membaca pikiran aku," ucap Ziya memainkan minuman yang ada di hadapannya.


"Ada apa?" tanya Arsen.


"Sebenarnya aku malu, Kak. Kenapa di saat aku terpuruk selalu saja datang pada Kakak," canda Ziya dengan wajah dibuat semenyedihkan mungkin.


"Kagak usah banyak drama kamu. Apa kamu lagi belajar casting?" Arsen tertawa bersamaan dengan tawa Ziya yang begitu lepas.


Dan selanjutnya, Ziya menceritakan perihal dirinya yang saat ini sudah menjadi pengangguran dengan alasan habis kontrak kerjanya. Serta kegundahan hatinya tentang keinginannya untuk bekerja di luar kota yang hingga detik ini belum mempunyai pandangan.


Hingga akhirnya Arsen memberinya tawaran kepada Ziya untuk menjadi penyanyi kafe di kafe Lenggah cabang yang berada di Bali.

__ADS_1


...***...


Siang yang terik berganti dengan jingganya langit kota Jakarta, menandakan siang ingin berganti dengan pekatnya malam. Akhirnya Ziya pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Begitu Ziya tiba di depan gerbang panti, Ziya dikejutkan dengan adanya sebuah mobil sedan mewah yang selama ini Ziya kenal sebagai mobil milik Pramono. Pria tua yang sangat berkuasa. Pria tua yang beberapa hari lalu berjanji akan memberikan kepemilikan tanah panti ini kepada Ziya.


Tiba-tiba jantung Ziya berdegup dengan kencang. Ada hal mendesak apa yang membuat seorang Pramono menginjakkan kakinya di tempat yang tidak layak untuknya. Tanpa berpikir panjang, Ziya berlari menuju ruang tamu dengan pintu yang sudah terbuka.


“Assalamualaikum, Bunda,” sapa Ziya.


Kehadiran Ziya membuat Erna, Pramono dan juga Burhan refleks berdiri.


“Waalaikumusalam, kamu kenapa, Nak. Kok, lari-lari?” tanya Erna khawatir. Namun, Ziya tidak menjawab. Ziya menatap bingung kepada dua lelaki yang ada di hadapan Erna.


“Ada apa ini, Bun?" lirih Ziya dengan muka pucat. Pasalnya Ziya takut jika Pramono akan menarik kembali janjinya.


Namun, hal yang tidak terduga justru terjadi. Erna membawa Ziya untuk duduk di sampingnya. Dan beberapa saat kemudian, Pramono bangkit, lalu duduk di sebelah Ziya. Lelaki tua itu menggenggam erat tangan Ziya yang terkatup rapat. Membuat Ziya mengangkat wajahnya yang awalnya tertunduk karena takut.


“Seperti yang sudah saya katakan kemarin. Saya sangat berterima kasih sama kamu. Berkali-kali kamu mencoba untuk menyadarkan saya, tapi saya menolak kebenaran yang sudah kamu tunjukkan. Saya terlalu egois dan merasa paling benar atas keputusan yang telah saya ambil waktu itu.” Pram menarik dalam napasnya sebelum melanjutkan perkataannya, “Saya minta maaf telah memaksa kamu untuk mengikuti permainan yang telah saya buat. Saya tahu kamu gadis yang baik, semoga kamu mau memaafkan kakek tua ini.” Pram menatap sendu wajah cantik Ziya.


Kesombongan yang selama ini ada di wajah tua Pram lenyap entah ke mana. Ziya mencari kejujuran di netra tua itu dan ia menemukan keteduhan di sana.


“Tu-tuan, Pram,” panggil Ziya dengan gugup. “Saya sudah mencoba berdamai dengan keadaan saat ini. Mungkin ini memang garis takdir saya untuk dipertemukan dengan Tuan, Bu Cia, juga Delfin.”


“Sekali lagi, terima kasih, Ziya. Di usia kamu yang masih muda kamu sudah sangat bijak. Saya datang kemari hanya untuk memberikan sertifikat dan hak kepemilikan Panti Asuhan Kasih Bunda ini menjadi hak milik dan atas namamu, Khaira Ziya Zulima.” Pramono memberikan map berwarna hijau berlambangkan burung garuda yang barusan di keluarkan dari dalam tas kerja milik Burhan.


“Tu-tuan, benarkah semua ini, apa ini mimpi? Tuan benar-benar serius soal yang kemarin?” tanya Ziya pada Pramono.


“Benar, Ziya. Ini semua nyata. Panti ini sekarang menjadi milik kamu,” ucap Pramono dengan senyum lembut, tidak seperti Pramono yang Ziya kenal sebelumnya.


Hal itu seketika membuat air mata Ziya dan Bu Erna luruh tak tertahankan.


“Bunda. Panti ini sekarang menjadi milik kita. Kita akan terus tinggal di sini dan kita tidak akan takut untuk kehujanan dan kepanasan seperti yang selama ini Ziya takutkan, Bunda.” Dengan haru Ziya memeluk Erna menumpahkan seluruh air mata bahagianya.


“Terima kasih Tuan Pram. Terima kasih banyak, terima kasih banyak atas kebaikan Tuan pada kami,” kata Ziya berkali-kali dengan air mata penuh haru.


“Kakek. Panggil aku kakek, Ziya! Aku akan mengadopsimu dan menjadikanmu sebagai cucuku,” pinta Pramono. Pramono pun menangis dan memeluk Ziya dengan sayang. Membuat Bu Erna pun ikut menangis serta mengucapkan banyak terima kasih kepada Pramono dan Ziya karena Panti Asuhan Kasih Bunda tidak jadi di gusur.


...***...

__ADS_1


__ADS_2