Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Kembali ke Rumah Kakek


__ADS_3


...***...


Delfin membawa istrinya ke kamar. Mengganti baju yang bau minuman beralkohol dengan baju tidur yang nyaman. Tidak lupa ia menyeka wajah istrinya dengan handuk lembut yang dibasahi air hangat. Setelah Delfin yakin istrinya sudah benar-benar nyaman, ia menyelimuti wanitanya dengan selimut halus. Delfin tidak ingin mengusik istrinya. Dia merebahkan tubuhnya di sofa tak jauh dari ranjang.


Pikiran Delfin benar-benar capek. Beberapa hari ini tenaganya terforsir pada pekerjaan. Ditambah kesalahpahaman Cia yang membuat Delfin semakin pusing. Tujuannya untuk meminta maaf dan meluluhkan hati istrinya harus tertunda lagi. Padahal Delfin ingin segera meluruskan masalah mereka.


Beberapa menit Delfin berusaha untuk mengistirahatkan otaknya. Namun, usahanya sia-sia. Dia bangkit dan berjalan menuju balkon kamarnya. Perlahan ia membuka pintu, seketika semilir angin malam berembus menembus pori-pori kulitnya. Ia melangkah keluar, menatap langit yang gelap tanpa hadirnya bintang.


“Kenapa jadi begini, sih? Apa aku sudah keterlaluan hingga Cia menjadi begini?” gumamnya. Namun, seingin apa pun dia mendapat jawaban atas kegundahannya, nyatanya hanya sunyi yang ia temui. Delfin tidak tahu harus berbagi dengan siapa. Andai ada seorang ibu di sampingnya, pasti dia sudah meminta saran beliau atas masalah yang sedang menimpa keluarga kecilnya.


...*** ...


Pagi harinya, Delfin terbangun sebelum Cia. Lelaki itu ingin membuat sarapan spesial untuk istrinya. Delfin berharap, Cia akan segera memaafkan. Dua piring nasi goreng ayam keju andalannya sudah tertata rapi di meja makan. Tidak lupa segelas susu hangat yang akan dia bawa ke kamar. Delfin terlihat rapi meskipun ia memakai pakaian rumahan. Diambilnya susu hangat itu dan membawanya ke kamar. Dilihatnya Cia sedang duduk di ranjang sembari memegang kepalanya.


“Sudah bangun, Sayang. Kenapa? Pusing?” tanya Delfin mendekati istrinya. Ia letakkan segelas susu di atas nakas.


“Kepalaku berat banget,” rintih Cia. Tangannya memegangi kepala yang terasa sakit dan rasanya berputar.


“Itu akibat kamu mabuk semalam. Minum susunya, ya. Habis itu tiduran lagi aja,” tawar Delfin.


Cia pun menuruti kata Delfin. Ia segera rebahan lagi ketika susu hangat itu tinggal setengahnya. Cia berharap dirinya segera membaik. Namun, bukannya ia semakin tenang, bayangan suaminya bersama wanita lain itu justru semakin nyata mengoyak pikirannya. Hal itu membuat Cia marah kembali. Kali ini ia mencoba untuk tenang. Mungkin beberapa saat lagi, pusingnya akan menghilang hingga dia bisa segera membicarakan hal ini dengan Delfin.


Matahari semakin tinggi, tetapi Cia belum juga beranjak dari tempat tidurnya. Dua piring nasi goreng di atas meja telah dingin. Delfin masih bersabar menanti Cia. Lelaki itu menonton berita hari ini ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Dilihatnya Cia sudah lebih baik.


“Sudah nggak pusing, Yang?” tanya Delfin dengan mata berbinar.

__ADS_1


“Enggak,” jawab Cia singkat. Wanita itu masih menyimpan luka. Ia menghampiri meja makan dan duduk di salah satu kursinya. Delfin segera mendekat, perut lapar yang ia tahan sedari tadi hanya untuk menunggu istrinya, akhirnya bisa segera terobati.


Sesuap demi sesuap Cia melahap nasi goreng buatan suaminya, meskipun wajahnya belum menampakkan seulas senyum.


“Wanita itu sudah kamu pecat?” tanya Cia di tengah makannya tanpa menatap Delfin. Delfin yang terkejut menghentikan gerakan tangannya.


“Kita bicara sesudah makan, ya,” jawab Delfin.


“Kenapa? Kamu mau bilang kalau kamu tidak bisa melakukannya? Atau mau bilang kamu terlanjur nyaman sama dia? Begitu?” Kalimat Cia seperti peluru yang tepat menyasar di jantung Delfin.


“Cia, aku mohon. Kamu jangan berpikiran seperti itu. Kami tidak ada hubungan apa-apa. Kasihan Ziya, dia harus menghidupi adik-adik di pantinya.” Delfin mencoba memberi alasan.


“Oh, dengan menggoda suami orang? Kamu bayar dia berapa untuk pekerjaan itu? Sepertinya kamu juga begitu menikmatinya,” sarkas Cia.


“Cia, cukup!” Delfin meletakkan sendoknya dengan kasar hingga suara benturannya begitu jelas. Rasa lapar Delfin menguap begitu saja. Begitu pun dengan Cia. “Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak akan memecat Ziya. Kita bekerja profesioal. Kamu terlalu kekanakan menilai hal ini!”


“Kamu kenapa jadi seperti ini, sih?” Delfin menatap istrinya dengan sorot mata kecewa.


“Itu karena perempuan itu! Bukankah sebelumnya kita baik-baik saja? Tapi sejak kehadirannya, kamu berubah. Kamu selalu membelanya. Apa pelayanan dia lebih memuaskan daripada aku?” Kalimat Cia mulai meninggi.


“Cukup! Kamu keterlaluan, Cia!” Delfin berdiri dari tempat duduknya. Emosinya mulai terpancing. Entah mengapa ada rasa tidak rela istrinya mengatakan hal ini tentang Ziya.


Baru dia melangkah, ponsel di meja ruang tengah berbunyi. Dilihatnya nama Bagus muncul di sana. Delfin segera mengangkatnya.


“Ada apa, Gus?”


Setelah beberapa saat, wajah Delfin berubah. Ia berbalik ke arah meja makan dan mendapati istrinya sudah meninggalkan tempat itu. Hatinya mulai kacau, apalagi baru saja Bagus memberi kabar jika Delfin harus segera shooting untuk video klip. Seketika pintu kamarnya terbuka. Ia melihat Cia keluar dari sana dengan baju yang lebih rapi dan koper kecil di tangannya.

__ADS_1


“Cia, kamu mau kemana?”


“Aku akan kembali setelah kamu memecat perempuan itu,” jawab Cia singkat dengan mata sembab.


“Cia, tolong jangan seperti ini,” pinta Delfin.


Namun, hati Cia terlanjur hancur. Ia mengabaikan teriakan suaminya yang berkali-kali memanggil namanya. Ia tetap keluar dari rumah mereka, dan pulang ke rumah Kakek Pram.


...*** ...


Sementara di rumah besar itu, Pramono tersenyum penuh kemenangan melihat kedatangan cucu semata wayangnya. Lelaki tua itu puas melihat cucunya datang menyeret koper di tangannya. Ia segera menenangkan Cia yang tersedu di pangkuan sang kakek.


“Cia harus bagaimana, Kek? Cia sudah tidak tahan, bahkan Delfin membentak Cia gegara perempuan itu. Delfin lebih memilihnya daripada Cia,” ucap Cia yang masih sesenggukan di pangkuan Pram.


Dengan lembut, Pram mengelus kepala Cia. Sebenarnya ia tidak tega melihat cucunya terluka. Namun, ia berpikir ini lebih bagus daripada Cia menyesal belakangan.


“Kamu yang sabar, ya. Kakek senang jika kamu masih menganggap tempat ini rumahmu untuk pulang. Kakek merasa tidak rela cucu kakek disakiti. Tenangkan dirimu, kakek akan memberi pelajaran pada mereka.” Kalimat Pram yang tulus di mata Cia begitu menenangkan.


Sementara itu, di rumahnya, Delfin sudah benar-benar kehilangan akal untuk mencegah kepergian Cia. Delfin memahami sifat keras Cia. Dia manja dan suka semaunya. Hal ini semakin membuat Delfin pusing ketika tadi Bagus memberi kabar, bahwa Ziya tidak bisa dihubungi. Padahal siang ini mereka harus segera menemui produser yang menggarap pembuatan video klip lagunya. Delfin berkali-kai menghubungi Ziya, tetapi selalu saja nomornya di luar jangkauan.


Delfin mengkhawatirkan gadis itu, apalagi teringat ceritanya akan masalah yang sedang dihadapi mereka. Delfin benar-benar takut terjadi hal buruk pada Ziya.


“Ah, sialan! Kenapa aku begitu mengkhawatirkan gadis itu, sih?” Delfin mengacak rambutnya kasar. Terbayang senyum Ziya yang selalu ceria di hadapannya. Senyum yang selalu menularkan rasa bahagia padanya, hingga tanpa sadar Delfin sudah mulai menganggap senyum itu bagian dari dirinya.


...***...


__ADS_1


...Jangan lupa like, komentar, dan favoritnya, ya ❤...


__ADS_2