Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Keributan


__ADS_3


...***...


Suara nyaring itu berhasil mengalihkan atensi Cia dan Farel, juga dengan pengunjung yang lain. Dengan sekejap, Delfin menjadi pusat perhatian. Banyak pasang mata yang mengikuti arah langkahnya. Terpesona dengan wajah tampan artis yang tengah naik daun itu, dan penasaran dengan apa yang membuat idola mereka itu terlihat begitu marah. Namun, mereka tak berani mendekat, cukup melihat dan mengagumi dari kejauhan saja. Sekalian memasang telinga untuk menyimak langsung berita besar dari idola mereka.


Terlihat wajah Delfin yang sudah tidak bersahabat. Tidak ada lagi wajah ramah yang biasa selalu ia tunjukkan pada khalayak umum. Semua itu karena rasa cemburu telah membakar hati, hingga tak bisa mengontrol diri.


Ziya yang baru mengetahui sisi Delfin yang lain, begitu terkesiap dengan sikap Delfin. Delfin terlihat begitu menakutkan saat amarah menguasai dirinya. Ziya sampai dibuat linglung dan diam saja, hanya bisa mengekori Delfin tanpa mengeluarkan sepatah kata.


Sedangkan Cia terlihat salah tingkah dengan kedatangan Delfin dan Ziya yang sudah berdiri di samping kursinya. Farel yang baru melihat Delfin menatap lelaki itu dingin. Ia tidak langsung berkomentar. Seolah menunggu penjelasan tanpa harus bertanya langsung, Farel memilih untuk diam memperhatikan.


“Apa ini kesibukan yang kamu maksud sampai mengabaikan ajakan makan malamku?” sarkas Delfin. Tangannya mengepal, ingin sekali menghantam sesuatu hingga remuk demi meredakan emosi yang bergejolak.


Ada setitik rasa bersalah di hati Cia karena sudah membohongi Delfin demi janjinya pada Farel dan Pram. Kakeknya yang sudah mengatur acara makan malam ini jauh-jauh hari. Namun, melihat Delfin datang bersama Ziya, membuat Cia juga ikut tersulut api cemburu. Dia pun berkata angkuh, tidak mau kalah dengan kelakuan suaminya yang menurutnya selingkuh.


“Ya, aku memang sibuk. Kamu lihat sendiri, kan?”


Wajah itu terlihat begitu angkuh saat mengatakan kalimat itu. Tidak terlihat sedikit pun rasa bersalah ada di sana. Hal itu membuat Delfin semakin geram. Rahangnya semakin mengeras dan itu disadari oleh Ziya. Selaku manajer, ia tak mau citra artisnya menjadi buruk. Ziya harus bisa mengendalikan Delfin agar tidak membuat masalah di tempat umum. Ziya pun nekat menegur Delfin setelah mengumpulkan segenap keberaniannya.


“Fin?” Suara lembut milik Ziya masih belum mampu meredakan emosi Delfin. Ia masih menatap nyalang istrinya yang terlihat angkuh itu. “Ini tempat umum, Delfin. Kamu nggak mau jadi pusat perhatian karena bertengkar dengan Bu Cia di sini, kan?”


Mendengar kalimat panjang milik Ziya, membuat kesadaran Delfin kembali. Dia adalah publik figur. Hampir semua orang mengenalnya, tentu ia tidak bisa ceroboh dengan mengumbar emosinya yang tengah membumbung tinggi. Delfin mencoba menguasai diri. Ia tarik napas panjang lalu mengembuskan perlahan. Dirasa cukup, ia pun menatap Ziya dengan lembut. “Makasih udah diingetin,” ucapnya.

__ADS_1


“Itu udah tugas aku.” Ziya melempar senyum manis pada Delfin, bersyukur keributan berhasil dihalau. Delfin mampu meredam emosinya yang hampir meledak karena bujukan Ziya. Lelaki itu pun membalas senyuman Ziya tak kalah manis, hal itu membuat Cia kesal dan memasang wajah sinis.


Begitu pun dengan Farel. Tanpa mereka sadari, sedari tadi lelaki itu memperhatikan sosok Ziya yang terlalu ikut campur urusan mereka. Walaupun ia masih belum tahu hubungan antara Delfin dengan Cia, ia tahu hubungan mereka pasti tidak biasa. Delfin begitu marah melihat Cia bersama lelaki lain. Sudah pasti hubungan mereka tidaklah main-main.


Farel masih mengamati perlakuan Delfin terhadap perempuan yang bersamanya–Ziya. Perempuan itu sepertinya mempunyai pengaruh besar terhadap Delfin. Dilihat dari sikap Delfin yang langsung luluh hanya karena ucapan halus perempuan itu. Hal itu membuat Farel menyimpan rasa curiga. Delfin mempunyai rasa terhadapnya juga.


“Kita pergi, Rel!” ajakan Cia membuat Farel tersentak. Menatap tangannya yang digenggam oleh Cia dengan tatapan terkejut. Namun, tanpa berkata Farel pun menurut. Cia dan Farel beranjak dari duduknya, tetapi suara Delfin kembali menginterupsi.


“Mau ke mana kamu?” Delfin meraih tangan Cia yang satunya. Cia menoleh, menepis tangan Delfin, tetapi tidak bisa. Cekalan Delfin terlalu kuat, Cia pun dibuat tidak bisa bergerak.


“Aku udah gak mood makan di sini. Kamu ganggu kesenangan aku,” sinis Cia.


“Kamu pulang sama aku!” titah Delfin sedikit menyentak tangan Cia agar mendekat ke arahnya. Genggaman tangannya pada tangan Farel pun terlepas begitu saja. Cia berdiri sejajar di samping suaminya.


“Jaga bicara kamu, Ci!” bentak Delfin.


Ketegangan kembali terjadi. Kejadian itu berhasil menyita pandangan mata setiap orang yang berada di sana. Ziya pun mencoba kembali menenangkan Delfin. “Fin, udah. Sebaiknya kamu pulang sama Bu Cia. Selesaikan semuanya di rumah!”


Delfin menoleh pada Ziya. Sejenak berpikir, lalu berkata, “Kamu nggak pa-pa pulang sendiri?” tanyanya.


“Aku nggak pa-pa. Santai aja.” Seulas senyuman palsu membingkai bibir Ziya.


“Cih, pura-pura baik. Dasar tidak tahu malu!" decih Cia. Kedua matanya nyalang menatap Ziya. "Bangga kamu jadi pelakor? Apa, sih, yang kamu banggakan dengan mengambil milik orang lain? Apa emang dasarnya kamu suka sama bekas orang, hah? Betah banget kamu di samping suami orang!” sungut Cia lagi. Ia tersulut emosi melihat interaksi Delfin dan Ziya yang terkesan begitu mesra. Hingga ia tak bisa lagi membendung amarahnya.

__ADS_1


Menurut Cia, Ziya itu memang terlalu bebal untuk dikasih tahu, bahkan diancam pun tidak mempan untuk perempuan itu. Cia sampai angkat tangan. Hingga akhirnya dia percayakan semuanya pada Delfin. Berharap suaminya itu tetap setia kepadanya, walaupun selalu dikerumuni oleh perempuan cantik seperti Ziya. Namun, nyatanya tetap saja rasa cemburu itu pasti selalu ada, jika Cia melihat pelakor itu terus dekat dengan suaminya.


“Cukup, Cia! Kita pulang!” Delfin menarik Cia untuk pergi.


"Tunggu!" Baru saja Delfin dan Cia hendak melangkah, Farel berdiri di depan Delfin, menghalangi langkahnya. Ia sudah mengerti dan berhasil menghubungkan benang merah kejadian yang dia amati.


“Cia ke sini bersama saya, jadi pulang juga harus bersama saya,” tutur Farel dengan tenang, tetapi tatapannya penuh intimidasi.


“Siapa kamu, berani berkata seperti itu?” cibir Delfin, memandang remeh Farel.


“Saya orang yang diamanahi untuk menjaga Cia,” jawab Farel.


“Dan saya adalah orang yang paling berhak atas diri Cia. Saya suaminya!” Tidak mau berlama-lama Delfin segera membawa Cia pergi bersamanya. Ia menerobos tubuh Farel dengan sedikit menabrak bahu lelaki itu.


Mendengar kata 'suami', Farel tidak bisa berkutik lagi. Ia pun membiarkan Cia dan suaminya pergi.


Cia mengikuti Delfin dengan malas. Malu juga berdebat di depan umum seperti itu. Nama besarnya akan menjadi taruhan, sudah pasti akan tercemar.


...***...



...Jangan lupa dukungannya 🙏...

__ADS_1


__ADS_2