Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Menyesal


__ADS_3


...***...


Saling mencinta dan harus berpisah karena keadaan yang tak diinginkan oleh mereka berdua, tapi ini harus dilalui bersama, suka tak suka serta terima atau tak terima semua harus dijalani dan dilewati dengan hati yang lapang.


Delfin berniat pergi ke rumah orang tuanya, ia akan menceritakan semua keluh kesah tentang rumah tangganya yang akan berakhir dengan perceraian. Orang tua Delfin sangat menyayangi Cia. Wanita cantik kaya raya, tetapi tidak pernah menunjukan jati dirinya bila sedang berkumpul dengan keluarga besar Delfin. Maka dari itu Mahesa dan Farida sangat mendukung sewaktu anaknya ingin mempersunting Cia kala itu, walau tentangan dari keluarga Cia terlihat sangat kentara, akan tetapi mereka bisa melalui badai itu, akankah perjuangan berdua akan berakhir di meja hijau, sangat sedih sekali.


"Kita hanya bisa mendukung semua keputusanmu, Nak. Kalau memang itu yang terbaik menurut kalian, dan walaupun berat rasa hati ini melepas menantu sebaik Cia, tapi mama dan papa bisa apa. Semua sudah diputuskan secara baik-baik dan tanpa emosi. Semoga semuanya akan baik-baik saja, Nak. Mungkin memang harus saling menekan emosi agar tak ada lagi pertengkaran yang akan sangat menyakitkan hati. Doa kami akan selalu menyertaimu, Nak." Dengan sedihnya wanita paruh baya itu mengusap air bening di pipi mulusnya yang sudah menua. Rapuh yang dirasakan oleh anaknya, seperti virus yang menular dan menggerogoti hatinya juga.


Farida meraih tangan anak sulungnya, berusaha menguatkan Delfin lagi. "Ini bukanlah akhir dari segalanya, Nak. Namun, inilah langkah awal kamu untuk belajar dalam memahami kehidupan. Kamu harus melanjutkan semua mimpi-mimpimu. Fokus dengan apa yang sekarang kamu sudah raih. Jangan sampai apa yang sudah kamu usahakan menjadi sia-sia. Semuanya akan indah pada waktunya." Diusapnya penuh sayang punggung tangan Delfin oleh wanita ayu itu. Nasihat demi nasihat diberikan oleh sang mama, dengan tujuan agar sang anak menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.


Delfin hanya bergeming mendengarkan petuah dari ibunya. Dirinya sudah pasrah dengan semua yang terjadi, walaupun rasa sesal tiada bertepi semakin menggelayuti.


"Jangan terlalu terpuruk, Delfin. Apa pun yang hilang darimu, akan kembali lagi dalam wujud lain." Kali ini sang ayah gantian memberikan nasihatnya. Delfin mengangguk patuh. Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk menjadi lebih kuat dan bersabar dalam menjalani hidup.


...***...


Setelah puas mendengarkan wejangan dari kedua orang tuanya, Delfin pun pamit pergi ke kamar dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih asik bercengkrama di ruang keluarga. Namun, baru berjalan dua langkah Delfin membalikkan tubuhnya dan berkata.


“Ma, Pa. Terimakasih atas nasehatnya. Terimakasih juga karena Mama dan Papa selalu ada buat Delfin. Maaf sudah membuat Mama dan Papa sedih karena perpisahan Delfin dan Cia.” Delfin menundukkan kepalanya sedih. Pun setelah selesai mengucapkan kalimat itu, Delfin segera pergi meninggalkan kedua orang tuanya tanpa menunggu jawaban dari Mahendra dan Farida.


Sesampainya di dalam kamar, Delfin merasa sudah tidak berdaya lagi. Bahkan untuk marah pun sudah tidak mampu membanting barang seperti yang sering ia lakukan ketika ia melampiaskan amarah dan kekesalannya.

__ADS_1


Saat ini yang dilakukan Delfin hanya diam menyesali semua yang telah terjadi. Menyesali sikap abainya pada Cia yang terkadang bisa sampai satu minggu Delfin mendiamkannya, semata-mata hanya karena ingin memberi pelajaran pada sang istri agar tidak berbuat sesuka hati.


Namun, ternyata sikap diamnya Delfin pada Cia malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri karena pada akhirnya Farel-lah yang menjadi sandaran bagi Cia.


Setelah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya, Delfin berjalan ke arah meja. Di sana banyak berjajar foto-foto dirinya dan Cia sejak mereka SMA hingga tiga bulan yang lalu, sebelum akhirnya kemelut rumah tangga memisahkan mereka.


“Kamu cantik, Cia. Apa lagi saat kamu memakai gaun ini,” ucap Delfin pada foto Cia yang tengah memakai gaun putih saat ijab qobul mereka, dua tahun yang lalu.


“Kanapa perpisahan ini harus terjadi. Sekecewa itukah kamu padaku, Cia? Hingga dengan mudahnya kamu mengkhianatiku.” Delfin mengelus dadanya yang sesak dan berdenyut nyeri.


Tanpa terasa bulir bening tengah menetes di pipi mulus sang bintang yang sedang menuju puncak karirnya tersebut. Tangis penuh sesak yang baru ia rasakan saat ini.


“Maafkan aku, Cia. Semoga kamu bahagia bersamanya," ucap Delfin sedih.


“Aku sangat mencintaimu, tapi aku akan berusaha untuk mengikhlaskanmu bersamanya. Semoga cintamu padanya akan abadi.” Tangis Delfin pun semakin tumpah. Hatinya terasa sesak karena cintanya sudah tidak mencintainya lagi.


Di tempat lain, tepatnya di sebuah restoran mewah. Pramono, Cia, Farel, beserta pengacara handal mereka—Parhan Babas, tengah melakukan diskusi tentang perceraian antara Delfin dan Cia.


Parhan Babas adalah pengacara yang sudah berhasil membuat para artis dan pengusaha terkenal bercerai dengan mulus tanpa harus ada kontroversi. Maka dari itu Pramono memilihnya agar nama baik sang cucu tidak tercemar.


“Pokoknya Pak Parhan harus membuat perceraian cucu saya cepat selesai dan tanpa ada media yang tau," ucap Pramono di tengah acara makan malam mereka.


“Baik, Tuan Pram. Tuan Pram adalah klien VVIP kami. Mana mungkin kami akan mengecewakan Tuan.” Parhan Babas pun merasa senang karena telah berhasil memuaskan hati kliennya.

__ADS_1


Berbeda dengan Pramono dan Parhan Babas yang merasa bahagia dan menikmati makanan dengan lahap, Cia justru tengah termenung dan hanya mengaduk-aduk makanan yang berada di hadapannya tanpa mau memakannya. Tentu saja hal itu sukses membuat Farel khawatir.


“Kamu kenapa, Cia? Apa makanannya tidak enak?” tanya Farel pada Cia. “Apa mau aku pesankan makanan lain yang kamu suka?” tawar Farel. Namun, Cia hanya menggelengkan kepala.


“Cia, kamu harus makan yang banyak, ya. Supaya kamu dan bayi kita sehat," ucap Farel penuh kelembutan. Namun, hal itu malah membuat air mata Cia menetes. Cia memalingkan wajah agar semua orang yang berada di meja itu tidak menyadarinya.


“Maaf, Kek, Cia permisi. Cia lelah. Cia akan pulang sekarang." Setelah berpamitan pada sang kakek Cia pun pergi meninggalkan tiga orang yang berada di restoran mewah tersebut.


Farel yang melihat Cia beranjak dari tempat itu segera menyusul wanita yang ia cintai.


“Maafkan saya, Kek, Tuan Parhan, saya juga harus pergi.” Setelah itu Farel pun menyusul Cia yang sudah mendekati mobilnya.


“Cia,” panggil Farel. Namun, Cia tidak memedulikannya. “Cia ada apa denganmu?” Farel memegang tangan Cia berharap ada sedikit penjelasan dari wanita itu. Namun, hal itu justru membuat Farel terkejut, pasalnya saat ini Cia sedang menangis dalam diam.


“Aku harus pergi, Rel. Aku lelah. Dan aku ingin sendiri," ucap Cia di sela tangisannya.


“Aku akan mengantarmu, Ci. Aku akan menemanimu ke mana pun kamu pergi, dan aku tidak peduli sekalipun kamu marah atau menolak kehadiranku.” Farel membukakan pintu mobil untuk Cia dan menyuruhnya untuk masuk. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Cia segera masuk. Bukan karena ia menurut, tetapi ia lelah dengan semua masalah dalam hidupnya.


Baru kali ini Farel melihat Cia seperti itu. Biasanya, Cia akan menumpahkan semua keluh kesah padanya. Namun, kali ini wanita itu justru menangis dalam diam. Seperti seorang pesakitan yang menyesali kesalahannya.


Saat ini Cia benar-benar menyesali semua kebodohannya. Menyesali setiap perbuatannya yang membuat hubungannya dengan Delfin harus berakhir.


...***...

__ADS_1



...Penyesalan emang datangnya suka di belakang, kalau di depan namanya pendaftaran. Ya, kan, readers? 😁...


__ADS_2