Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Petuah Mama


__ADS_3

...Happy Reading...


...***...


Sampai di rumah orang tuanya, Delfin bergegas mencari keberadaan mama dan papanya.


“Tuan, sudah pulang?” sapa Bi Ani yang baru saja keluar dari dapur. Mendengar bunyi mobil majikannya, wanita ringkih itu tergopoh-gopoh membukakan pintu rumah.


“Mama sama papa di mana, Bi?” tanya Delfin menapakkan kaki masuk ke dalam rumah yang bergaya minimalis, tetapi tetap asri dan sejuk, karena di sepanjang halaman terdapat beberapa pohon cemara yang menjulang tinggi.


“Nyonya sedang keluar, Tuan. Kalau Tuan besar, sedang ke kampus,” jawab Bi Ani mengikuti dari belakang.


“Kalau Farah?” Delfin menanyakan keberadaan adik semata wayangnya.


“Non Farah ada acara ke luar kota sama teman-temanya,” terang Bi Ani.


“Ya, sudah kalau gitu. Aku ke kamar dulu,” pamit Delfin berangsur melangkahkan kakinya naik menuju kamar.


Tiba di dalam kamar yang dominan warna abu-abu muda, Delfin langsung merebahkan tubuhnya di ranjang yang selama dua tahun ini jarang ia tempati.


Semenjak menikah dengan Cia, keduanya memilih tinggal di apartemen yang sudah Delfin beli sebelumnya saat mereka masih berpacaran.


Tak butuh waktu lama, kedua matanya pun ikut terpejam. Mengingat permasalahan rumah tangganya yang berada di ujung tanduk beberapa hari ini membuat Delfin jarang tidur.


***


Entah sudah berapa lama, Delfin tidak pernah tidur senyenyak ini. Saat baru bangun tidur, matahari sudah berganti warna gelap. Padahal, seingatnya tadi ia sampai di rumah sebelum makan siang.


Pantas saja cacing-cacing di perutnya meminta segera diisi. Sejak tadi pagi, ia belum sempat sarapan karena sempat bertengkar dengan Cia—istrinya. Ia pun lekas bangun dan membersihkan tubuh, lalu segera turun. Ia yakin, mama dan papanya sudah ada di rumah.


Tak butuh waktu lama, Delfin lekas menuruni anak tangga menuju meja makan yang sudah penuh dengan aneka menu makanan yang sudah tersaji.

__ADS_1


Mahendra yang baru saja menduduki kursinya, melirik sekilas pada sang anak yang sudah mendaratkan tubuh di kursi sebelahnya.


Paham dengan maksud suaminya, Farida pun melirik suaminya sembari memberi kode agar tidak menanyakan apa pun kepada anaknya sampai mereka selesai makan.


Delfin sejenak melirik mamanya yang sedang menuangkan nasi dan lauk ke piring papanya. Ia pun merasa kasihan kepada dirinya. Karena sudah lama, Cia tidak pernah menjalankan perannya sebagai istri yang baik.


Ia mengingat kembali masa-masa awal pernikahan mereka yang sangat indah. Hampir setiap hari, Cia selalu memanjakannya dan memenuhi kebutuhannya dengan penuh cinta. Delfin kangen masa-masa itu. Melihat kemesraan kedua orang tuanya di depan matanya, Delfin merasa miris pada kehidupan rumah tangganya.


Bukannya menutup mata dan tidak tahu dengan kehidupan rumah tangga anaknya, Mahendra maupun Farida sudah sepakat tidak akan mencampuri urusan rumah tangga Delfin, selagi sang anak mampu mengatasinya.


Namun, melihat anaknya pulang ke rumah sendirian dengan raut wajah yang suram, Farida yakin sesuatu yang besar terjadi di antara Delfin dengan menantunya.


Buktinya, baru kali ini Cia tidak ikut ke rumah mertuanya bersama Delfin, walaupun mereka biasanya ke mari meski hanya sebentar tidak sampai bermalam.


Usai makan malam, Mahendra dan Farida menuju ruang tengah, tempat mereka bersantai seperti biasa usai melakukan makan malam. Biasanya mereka menonton sinetron atau berita di tempat ini.


Tak lama kemudian, Delfin pun menyusul mama dan papanya ikutan duduk di salah satu sisi sofa.


“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Mahendra membuka suara sekedar berbasa-basi.


“Ya, masih disibukkan dengan aktivitas promo dan konser,” jawab laki-laki berkaos putih polos dipadukan celana pendek berwarna krem.


“Mama bangga, loh, kamu bisa mencapai titik sejauh ini. Bukankah ini impian kamu sejak dulu? Menjadi penyanyi terkenal dengan banyak fans yang menyukaimu.”


Delfin yang bersandar pada sisi sofa lantas menarik sudut bibirnya. “Yah, begitulah, Mah,” sahutnya singkat.


“Mama dan papa, sih, berharap kamu tidak sombong atas pencapaianmu saat ini. Karena bagaimana pun roda kehidupan itu selalu berputar. Kadang kita di atas, kadang juga di bawah. Bahkan, tidak jarang kadang pula kita berada di tengah-tengah,


"Maka dari itu, manfaatkan karirmu saat ini dengan sebaik-baiknya. Ingat satu kesalahan saja yang kamu perbuat, maka karir yang kamu bangun dengan susah payah, akan lenyap dalam sekejap. Oleh karena itu, kamu harus tetap rendah hati. Jangan sampai tinggi hati, ” pesan Farida pada anaknya.


Delfin mengangguk. “Iya, Mah.”

__ADS_1


Melihat raut wajah anaknya yang sudah mendapatkan wejangan dari mamanya, Mahendra pun bertanya mengenai keadaan menantunya.


“Oh iya, bagaimana kabar, Cia, Fin? Tumben kamu ke mari tidak mengajak istrimu itu.”


Helaan napas panjang, keluar dari mulut Delfin. Apakah ini waktu yang tepat baginya mengutarakan permasalahan rumah tangganya dengan Cia. Jujur saja, ia hampir stres memikirkan keberlangsungan pernikahannya yang berada di ujung tanduk.


“Ada masalah apa, Fin? Kalau kamu tidak keberatan coba ceritakan pada kami. Siapa tahu, mama dan papa bisa memberi masukan,” ujar Farida yang tahu persis mimik wajah anaknya itu sedang banyak pikiran.


“Betul apa yang dikatakan mama kamu, Fin. Jika kamu kesulitan, kamu bisa mengatakannya kepada kami. Tidak usah sungkan. Kamu itu anak kebanggaan kami, Fin,” timpal Mahendra.


Delfin pun mulai menceritakan akar permasalahannya dengan Cia tanpa ada yang ditutup-tutupi. Termasuk dengan keberadaan Ziya dan Farel di tengah-tengah hubungan mereka.


Sebagai seorang perempuan, Farida pun mulai membuka suara.


“Dalam setiap kehidupan rumah tangga tidak ada yang namanya berjalan mulus. Ada kalanya kita diuji dari segi ekonomi, anak, orang ketiga, dan lain sebagainya yang menjadi penyebab keretakan rumah tangga, tetapi sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga kamu harus bijak dalam menghadapi permasalahan tersebut,


Jika kedua kepala saling keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah, maka itu tidak akan menyelesaikan masalah. Justru yang ada hanya menambah masalah. Dan itu membuat masalah kalian semakin runyam dan berlarut-larut. Oleh karena itu, harus diselesaikan dengan kepala dingin. Salah satu dari kalian harus ada yang mengalah. Mengalah, bukan berarti kalah dalam berargumen. Tidak. Kalian harus sabar. Tunggu sampai emosinya reda, baru kalian jelaskan secara perlahan. Bukan dengan emosi. Mama yakin, kalian berdua bukan anak remaja lagi yang baru mengenal cinta. Mungkin ini ujian rumah tangga kalian. Sebagai nakhoda, apakah kamu mampu melewati badai ombak yang menerjang kapalmu dan berhasil sampai di pelabuhan hati istrimu atau malah membawa kapalmu tenggelam di tengah badai yang menghantam dan akan memporak-porandakan pernikahan kalian.” Farida menghela napas, sebelum melanjutkan petuahnya. Ia tersenyum lembut menenangkan hati sang putra yang tengah dilanda gundah.


“Maka dari itu, selesaikan masalah kalian dengan baik. Bukannya lari dari masalah. Mama berharap kamu kembali kepada istrimu. Ajak ia berdiskusi dengan pelan. Mama yakin, kamu pasti bisa. Doa Mama Papa menyertaimu,” nasihat Farida panjang lebar.


Delfin merenung mendengar semua nasihat mamanya. Kedua orang tuanya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar meninggalkannya seorang diri di sofa yang masih memikirkan peliknya permasalahan yang dihadapinya.


Namun, saat akan memutar tumit meninggalkan sofa, Mahendra tiba-tiba keluar kamar karena kehausan. Ia pun ke dapur mengambil air minum lalu kembali mendekati Delfin.


“Pikirkan baik-baik pesan mamamu. Jangan sampai kamu salah mengambil langkah dan menyesal di kemudian hari. Besok kembalilah ke apartemenmu! Ajaklah istrimu bicara dari hati ke hati. Papa yakin, kalian berdua pasti bisa menyelesaikannya. Hari sudah larut malam, naiklah ke kamarmu beristirahat!” seru Mahendra seraya menepuk bahu anaknya. Laki-laki paruh baya itu pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar sembari membawa gelas berisi air minum.


Sebelum papanya lenyap di balik pintu, Delfin pun berkata, “Baik, Pa. Terima kasih.” Delfin pun melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga menuju ke atas kamar.


...***...


__ADS_1


__ADS_2