Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Pulang


__ADS_3


...***...


Setelah menyelesaikan konser tur selama satu bulan di berbagai kota, akhirnya malam ini Delfin kembali ke Jakarta usai mengakhiri sesi tour-nya di kota Malang.


“Ziya, ambil penerbangan tercepat malam ini!” titah Delfin, saat baru saja berganti kostum. Entah mengapa hatinya sangat gelisah pasca melihat foto kemesraan Cia dan Farel. Maka dari itu, Delfin tidak ingin berlama-lama di sini dan ingin segera kembali ke ibu kota. Padahal dirinya masih punya waktu dua hari untuk berlibur sebelum kembali ke Jakarta.


“Oke, Fin,” sahut Ziya menaikkan jempol tangannya. Ziya tahu Delfin saat ini sedang resah memikirkan permasalahan rumah tangganya. Untuk itulah dia berinisiatif memperbaiki hubungan artisnya bersama Cia. Ziya juga ingin menjelaskan semuanya kepada Cia bahwa semua yang mereka lakoni selama ini hanya sebatas profesionalisme pekerjaan. Tidak lebih dari itu. Sebagai perempuan ia tidak ingin dicap sebagai pelakor, perusak rumah tangga orang. Apalagi ini menyangkut rumah tangga artisnya, maka dari itu sampai di Jakarta Ziya ingin menjelaskan semuanya kepada Cia.


Delfin bersama timnya bertolak dari hotel menuju bandara. Seperti biasa Ziya selalu bisa diandalkan. Buktinya mereka masih mendapatkan tiket penerbangan cepat ke Jakarta. Delfin yang baru saja mengakhiri konsernya tadi, tidak peduli dengan rasa lelahnya. Justru yang ada dia ingin cepat-cepat sampai ke Jakarta.


...***...


Setelah menempuh perjalanan satu jam 30 menit di udara, akhirnya Delfin dan rombongan sampai di Jakarta pukul 04.00 pagi. Tidak lupa, Delfin pamit dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim yang membantu menyelesaikan tour konsernya.


“Ziya kamu langsung kembali saja ke rumahmu. Tidak usah mengantarku. Aku akan langsung ke apartemen,” kata Delfin saat keduanya berada di lobi bandara.


“Baiklah, Fin. Kamu baik-baik, yah. Kalau butuh sesuatu hubungi saja aku!”


Delfin mengangguk. Keduanya berpisah setelah menaiki mobil masing-masing. Sampai di apartemen, Delfin langsung merebahkan diri di sofa lebar ruang tengah. Ia tidak peduli lagi membersihkan diri, sebab saat ini tubuhnya sangat lelah dan butuh istirahat. Walau selama perjalanan tadi Delfin sempat tidur, tetapi itu tidak berlangsung lama karena pesawat segera mendarat.


...***...


Terik matahari yang masuk di ke dalam apartemen Delfin, membuat sang pemillik membuka mata. Pantas saja cuaca sangat panas, ternyata hari sudah pukul sebelas siang. Delfin beranjak dari sofa lekas masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Dengan mengenakan kaos hitam polos dengan celana abu-abu sebatas lutut, Delfin kembali ke sofa. Dia pun mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja berniat menghubungi sang istri.


Namun sayang, ponsel Cia tidak aktif. Hal itu membuat Delfin menutup panggilannya dan beralih memesan makanan online. Karena sejak bangun tidur, perutnya terasa lapar karena belum makana apapun. Biasanya ia memiliki stok makanan di dalam kulkas. Namun berhubung dirinya konser tur di berbagai kota selama satu bulan, akhirnya Delfin memutuskan untuk tidak mengisi kulkasnya bahan makanan.


...***...


Delfin mengendarai salah satu mobil mewahnya yang merupakan pabrikan dari Jerman menuju rumah kakek Pram. Dia ke sana bermaksud ingin menyelesaikan semua permasalahan dengan sang istri. Walau di dalam relung hatinya masih sakit karena pengkhianatan yang dilakukan Cia bersama Farel terus mengusiknya, Delfin berusaha untuk tenang karena sebagai suami ia meninggalkan tanggung jawabnya selama satu bulan. Wajar saja jika Cia merasa kesepian. Namun, hal itu ia lakukan sebagai introspeksi diri terhadap permasalahan rumah tangganya yang selalu ribut.


Sampai di depan rumah mewah bergaya modern, Delfin menghentikan mobilnya dan masuk ke dalam rumah.


Mendengar ada tamu yang datang, Bi Lea yang sedang di dapur lekas ke depan melihat siapa tamu yang datang siang-siang ini.


“Tuan Delfin, akhirnya Tuan datang juga. Bagaimana konsernya, sudah selesai?” tanya Bi Lea sembari mempersilakan masuk suami dari nona mudanya tersebut.


“Iya, Bi. Alhamdulillah selesai. Makanya, Aku ke mari mencari istriku,” jawab Delfin seraya mengumbar senyuman tipis.


Delfin mengerutkan keningnya mencerna ucapan Bi Lea tadi. Laki-laki jangkung itu mendaratkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tengah kediaman Pramono. Sejak tadi menjejakkan kaki ke dalam rumah mewah ini, Delfin tidak melihat keberadaan laki-laki tua itu. Mungkin menurutnya, Kakek Pram sedang ke kantor mengurus perusahaan.


“Maksud Bi Lea apa dengan Cia berbadan dua?” tanya Delfin penasaran.


“Tuan Delfin belum tahu, kalau Nona Cia saat ini tengah mengandung. Bibi kira Tuan sudah tahu sebelum berangkat tur, karena selama Tuan di luar kota, Non Cia selalu muntah dan nggak enak badan. Sampai-sampai dokter datang secara khusus atas perintah tuan besar,” terang Bi Lea berlalu. Wanita tua itu kembali ke dapur membuatkan minuman untuk majikannya.


Raut wajah Delfin berubah cerah usai mendengar penjelasan asisten rumah tangga Kakek Pram. Akhirnya selama dua tahun pernikahannya apa yang ia nantikan akhirnya terkabul juga. Jujur saja hatinya berbunga-bunga bagaikan ada kupu-kupu yang beterbangan memenuhi rongga dadanya. Dirinya tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri lalu memeluknya dan meluapkan rasa kerinduan yang lama ini tidak bertemu.


Bi Lea kembali dengan membawa nampan yang berisi minuman untuk tuannya. “Silakan di minum, Tuan. Sembari menunggu kepulangan Nona Cia dari pemeriksaan di rumah sakit, apa Tuan ingin makan siang, biar sekalian bibi siapkan.”

__ADS_1


“Tidak perlu, Bi. Saya sudah makan sebelum ke mari.”


“Kalau begitu, bibi permisi ke belakang.”


Delfin mengangguk. Laki-laki berkaos hitam dengan jeans navy yang membalut tubuhnya memilih merebahkan tubuhnya di sofa. Sembari menghubungi asistennya perihal berita kehamilan Cia.


...***...


Sementara itu, di tempat lain, Ziya yang tengah rebahan bersantai di depan TV dengan cemilan yang terus masuk ke dalam mulutnya, mengangkat panggilan dari artisnya itu.


"Iya, Fin ada apa?" tanya Ziya bangun dari posisinya. Ponsel yang ada di lantai sengaja ia loud speaker.


"Zi, aku bahagia banget, Zi!" seru Delfin di seberang sana begitu senang.


"Bahagia kenapa?Aku turut bahagia kalau kamu bahagia, Fin." Ziya begitu penasaran dengan raut wajah yang berbinar.


"Nanti aja aku ceritain kalau kita sudah bertemu. Yang pasti aku tidak akan bercerai dengan Cia. Aku benar-benar bahagia, Ziya. Aku tutup dulu teleponnya, ya. Aku masih di rumah Cia, menunggu dia pulang."


Klik!


Setelah sambungan telepon itu terputus, di sisi lain Ziya senang dengan kebahagiaan Delfin yang entah apa alasannya. Namun, tidak dapat dipungkiri salah satu sudut hatinya terasa sesak dan nyeri, ketika mendengar begitu bahagianya Delfin ketika memutuskan untuk tidak jadi bercerai dengan istrinya. Berarti Delfin begitu sangat mencintai Cia, dan tidak ada tempat baginya dalam hati Delfin.


“Astaga, Ziya kamu kenapa sih! Ingat kamu harus sadar, Delfin itu suami orang. Kamu jangan terlalu menaruh hati padanya,” gumamnya menatap kosong layar TV yang sedang menyala di depannya.


...***...

__ADS_1



__ADS_2