
...***...
Hal pertama yang dilakukan oleh Cia saat keluar dari apartemen setelah pertengkarannya dengan Delfin, adalah masuk ke dalam mobilnya dan mengeluarkan umpatan kasar. Cia memikirkan sikap Delfin yang begitu acuh sejak semalam bahkan hingga pagi ini. Ia sudah berusaha memperbaiki hubungannya dengan cara menurunkan egonya. Memulai lebih dulu daripada harus menunggu, tetapi tidak sedikit pun Delfin menghargainya.
Ingin sekali ia menghubungi Farel. Lelaki itu pasti punya cara untuk meredam emosinya. Lelaki masa lalu yang selalu mendukung Cia. Namun, sejenak Cia berpikir, apakah benar tindakannya? Ia sudah terlalu sering merepotkan Farel, menceritakan semua permasalahan rumah tangganya, yang membuatnya berakhir satu ranjang dengan Farel. Sedangkan saat ini, Cia juga memerlukan seseorang untuk bercerita. Ia butuh sandaran.
Cia sudah menggenggam ponselnya dan menampilkan kontak Farel di layarnya. Cia menimang-nimang tentang keputusannya. Ia membenturkan kepalanya pada kemudi untuk membantu mencairkan isi kepalanya.
"Halo, Cia?"
Cia tersentak mendengar suara samar-samar dari ponselnya. Ia langsung menatap layar ponselnya yang sedang dalam kondisi calling dan sudah berjalan selama lima detik.
"Mampus! Dasar jempol luknut!" umpat Cia dalam hati. Ia mengutuk jempolnya yang tidak bisa diajak kerja sama.
Dengan malas, ia mendekatkan ponsel di telinganya. "Kenapa, Rel?
"Ci, kamu yang kenapa? Kamu kenapa telpon aku? Apa terjadi sesuatu sama kamu?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Farel.
"Enggak, Rel," jawab Cia, "Eh! I-iya," lanjutnya.
"Kamu kenapa? Kamu di mana sekarang? Apa perlu aku jemput?"
"Eh, jangan! Jangan, Farel!" cegah Cia cepat. Ia tidak ingin suaminya memergokinya berdua dengan Farel, apalagi masih di wilayah apartemen Delfin.
"Ya udah. Kalo kamu takut, kita ketemuan aja, gimana?"
__ADS_1
Lama Cia berpikir tentang tawaran Farel. "Share loc aja di mana apartemen kamu, Rel. Aku yang ke sana. Aku nggak mau suamiku tahu."
...***...
Cia sudah berdiri di depan pintu sebuah unit apartemen yang ternyata terletak di lantai paling atas yang merupakan unit paling besar, karena hanya ada dua unit di sana. Ia terlihat ragu untuk memencet bel, tetapi ia sudah terlanjur mengatakan jika ia akan datang. Sejujurnya, ia tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali.
"Masa bodoh! Aku sudah terlanjur ke sini," ucap Cia lalu menekan bel pada pintu unit.
Tak berselang lama, pintu terbuka dan menampilkan Farel dengan balutan kaos polos dan celana basket. "Tersesat?" tanya Farel sambil menepikan tubuhnya untuk membiarkan Cia masuk.
Cia menggeleng. Ia lalu mengamati apartemen milik Farel. Cukup luas jika hanya dihuni oleh satu orang, bahkan terlalu luas. Ruang tamu saja dua kali lebih besar dari milik Delfin.
"Duduk dulu. Kamu mau minum apa, Ci?" tawar Farel.
"Apa pun asal tidak memabukkan," jawab Cia masih menatap kagum apartemen Farel.
Farel terkekeh mendengar jawaban Cia. "Kamu takut kita khilaf lagi?" tanya Farel dengan berjalan menuju minibar dan diikuti oleh Cia.
"Kalo kamu hamil gimana?"
Cia tertawa. "Rel, aku aja sama Delfin belum hamil sampai sekarang. Lagi pula, aku udah liat tanggal, kok, kemungkin aku tidak dalam masa subur."
Farel tersenyum, lalu memberikan segelas es jeruk di hadapan Cia. "Ya, aku harap juga begitu," jawab Farel tidak yakin. "Oh ya, kamu kenapa? Mau cerita?"
Farel mengamati Cia yang langsung meneguk es jeruk hingga tandas tak bersisa. Membuatnya kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Haus banget, ya, Ci?" Cia mengangguk lalu meletakkan kembali gelasnya.
Mungkin efek pertengkarannya dengan Delfin membuat energi Cia terkuras habis, hingga segelas es jeruk pun cukup untuk menurunkan sedikit kadar emosinya yang sudah mencapai ubun-ubun.
__ADS_1
Cia pun menceritakan kejadian di apartemen pada Farel. Tentang kekesalannya pada sikap Delfin yang tidak menghargainya, walaupun ia sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka.
"Daripada suntuk, kita nonton, yuk! Aku ada mini bioskop." Ajakan Farel pun segera diiyakan oleh Cia. Dari pada suntuk memikirkan hubungannya dengan Delfin, lebih baik ia menghibur diri.
Pertama kali masuk ke dalam mini bioskop Farel, Cia kembali dibuat kagum dengan interiornya, karena hampir mirip dengan bioskop sesungguhnya. Ia lalu berjalan menuju jajaran kaset film. Melihat koleksi film milik Farel yang sangat lengkap, Cia melirik ke arah Farel. "Ini yang kamu sebut mini? Kenapa kamu bikin bioskop di apartemen? Emang kamu mau nonton sama siapa?"
"Ya, kalo lagi mager, tapi pengen liat film, kan, bisa nonton sendiri tanpa harus keluar apartemen, Ci. Kalo nontonnya, ya, sendiri. Ini pertama kalinya aku ngajak seseorang buat nonton film di sini," aku Farel pada Cia.
Mereka memilih salah satu film hollywood lama untuk ditonton. Menonton film hollywood bukan ide yang bagus untuk Cia. Ia berpikir pasti banyak adegan-adegan yang mungkin tidak perlu ditonton. Bukan karena umur, melainkan kondisi mereka yang hanya berdua di dalam sana.
Beruntungnya, sampai film selesai diputar, tidak ada sesuatu yang terjadi. Sehingga Cia yakin bahwa apa yang terjadi malam itu tidak sampai sejauh yang Cia pikirkan.
...*** ...
Sudah beberapa hari ini Cia sering jalan berdua dengan Farel. Meninggalkan masalahnya dengan Delfin yang belum juga mendapat titik terang, karena keduanya lebih memilih menghindar. Sedangkan butiknya masih ia pantau perkembangannya melalui ponselnya.
Farel pun selalu membuat Cia tertawa saat bersamanya. Membawa wanita yang dicintainya itu pergi ke beberapa tempat yang membantu Cia untuk lebih rileks.
Selama bersama Cia, Farel tidak pernah membahas tentang Delfin. Ia tidak ingin merusak mood Cia jika ia mendengar nama Delfin, walaupun mereka masih berstatus suami-istri. Setidaknya, untuk saat ini biarkan ia memiliki Cia untuk sementara dan membahagiakan wanita itu.
Cia pun begitu menikmati perjumpaannya dengan Farel. Sesekali Farel memberikan hadiah untuknya. Seperti hari ini, Farel membelikannya sebuah jam tangan keluaran terbaru dari Channal yang baru saja dirilis. Padahal baru saja ia diberikan tas kulit dengan merek yang sama kemarin. Cia merasa disanjung dan diperlakukan seperti ratu saat bersama Farel. Lelaki yang bukan suaminya itu begitu memuja dirinya.
Berbeda dengan Delfin, suaminya itu bahkan tidak menghubunginya sama sekali. Tidak menanyakan kabar atau pun keadaanya sekarang. Apa Delfin tidak merindukan Cia?
Sekarang, salahkah Cia yang menikmati perhatian dari Farel dan menerima hadiah-hadiah yang Farel berikan untuknya?
...***...
__ADS_1
...Dukung terus karya author, ya. Klik tombol like dan favoritnya, komentarnya juga ❤...