Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Adik Ipar


__ADS_3


...***...


Mobil sedan mewah yang di tumpangi oleh Pramono dan Cia, mulai membelah jalanan kota. Meninggalkan Delfin dan Ziya di taman dengan kemesraannya. Tentu saja kemesraan yang hanya di buat-buat oleh Ziya. Namun hal itu malah membawa Cia ke dalam perasaan curiga, sakit, dan benci yang teramat sangat. Meninggalkan kekecewaan yang amat mendalam kepada Delfin yang telah membohonginya. Delfin telah mengingkari setiap ucapannya ketika ia berjanji ingin menjauh dari Ziya, perempuan gatal yang selama ini selalu menempel seperti parasit pada Delfin.


“Cia, sayang, udah dong nangisnya. Nanti mata cucu kesayangan kakek yang cantik ini bengkak. Kakek juga gak mau kalau kamu terus menangisi laki-laki brengsek itu.” Tegas Pramono, yang berusaha menenangkan perasaan Cia. Walau sebenarnya dalam hati, ia merasa bahagia dengan apa yang dilihatnya barusan.


“Tapi Cia, sayang dan cinta sama Delfin, Kek. Cia gak mau kehilangan Delfin. Cia, mau, Kakek urus j****g sialan itu lagi. Kalau perlu Kakek lenyapkan dia dari dunia ini. Biar dia gak terus-terusan mengganggu hubungan Cia dan Delfin.” Cia berkata dengan wajah yang dipenuhi oleh amarah dan aura kebencian yang ia tujukan kepada Ziya.


“Oke, Sayang. Kakek akan turuti semua keinginan kamu itu, tapi sekarang kamu harus berhenti menangis," bujuk Pramono dengan cara mengiyakan semua keinginan Cia, yang belum tentu akan dilakukan oleh Pramono.


Setelah menenangkan Cia, Pramono melanjutkan dengan mengusap buliran bening yang terus membasahi pipi mulus cucu kesayangannya itu.


“Makasih ya, Kek. Cuman Kakek yang bisa ngertiin, Cia,” ucap Cia kemudian memeluk tubuh renta Pramono dengan sayang.


“Iya, Sayang. Apa pun akan kakek lakukan agar cucu kesayangan kakek ini bahagia. Lagian kakek jemput kamu di butik siang ini supaya kakek bisa ngedate berdua sama kamu, terus makan siang dan bersenang-senang bersama. Bukan untuk melihat princess kesayangan kakek ini menangis.” Pramono berkata seraya mengusap lembut ujung kepala Cia dengan sayang dalam pelukannya.


Setelah berhasil membuat Cia tenang dan berhenti menangis Pramono pun mulai memerintahkan Burhan, sekretaris sekaligus orang kepercayaannya untuk melajukan mobilnya menuju Restoran Italia sebagai tempat tujuan mereka.


Di sepanjang perjalanan hanya tercipta keheningan. Cia hanya menatap nanar ke luar jendela mobil. Memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan setelah ini. Namun berulang kali ia berpikir, pun ia tetap tidak mendapatkan jawabannya.


Berbeda dengan Cia yang wajahnya masih nampak murung, Pramono justru tengah tersenyum penuh kemenangan, karena sedikit demi sedikit rencananya mulai berhasil.


“Ini akan jadi kali terakhir kakek melihat kamu menangis, sayang. Setelah ini kakek berjanji akan benar-benar memisahkan kamu dari laki-laki brengsek itu dan mendekatkan kamu pada laki-laki yang baik pilihan kakek, agar kamu bahagia," batin Pramono yang dihiasi dengan senyum smirk-nya.


Tidak butuh waktu lama akhirnya Pramono dan Cia sampailah di restoran yang dituju. Burhan dengan cekatan membukakan pintu untuk Pramono. Kemudian dengan sedikit berlari, Burhan beralih ke arah Cia untuk membukakan pintu untuk Cia juga. Ini merupakan hal yang lumrah di kalangan keluarga konglomerat, jika segala sesuatunya harus dikerjakan oleh seorang asisten.


Saat tiba di depan restoran Pramono dan Cia pun sudah disambut oleh seorang pelayan yang akan mengantarkan mereka ke tempat duduk yang di tuju. Pun ketika Pramono dan Cia tiba di meja mereka. Mereka dikejutkan oleh keberadaan lelaki yang disukai Pramono yang juga sedang makan di restoran yang sama. Siapa lagi kalau bukan Farel Arfani Zaidan—CEO muda, tampan, dan berkarisma pilihan Pramono.


“Apa kabar Farel?” Pram mulai menyapa Farel terlebih dahulu. Membuat Farel yang tengah asik menyantap pasta favoritnya terpaksa harus menghentikan suapannya untuk sejenak, demi melihat seseorang yang tengah berdiri di sisi mejanya.


Farel yang terkejut pun dengan refleks berdiri demi melihat siapa orang yang tengah menyapanya. Dengan wajah yang dihiasi senyum, Farel pun membalas sapaan dari Pram.

__ADS_1


“Kabar baik, Tuan Pram. Silakan duduk!” Dengan senang hati Pramono menerima tawaran dari Farel. Demi memuluskan rencananya untuk mendekatkan Cia dan Farel.


“Terima kasih, ya, Farel. Kebetulan sekali, ya, kita bisa bertemu di sini,” ucap Pramono pada Farel.


“Your welcome, Tuan. Iya, Tuan, saya tidak menyangka bisa bertemu Tuan dan bidadari cantik di tempat ini," ucap Farel yang selalu dihiasi senyum ramahnya. yang membuat Cia dan Pram pun terkekeh mendengar candaan Farel.


“Mbak, saya dan kakek saya akan duduk di meja ini saja. Tolong daftar menunya, ya!" ujar Cia pada pelayan yang dari tadi mendampingi mereka sampai ke tempat duduk.


“Baik, Nona,” jawab si pelayan restoran.


Setelah Cia memesan berbagai menu makanan Italia favoritnya, Cia, Pram, dan Farel pun makan dengan penuh canda tawa. Bahkan Pram pun sampai dibuat heran. Pasalnya, beberapa menit yang lalu, hal yang dilakukan cucu kesayangannya itu hanya menangis dan bersedih. Namun, kehadiran Farel dapat mengubah kegundahan dan kesedihan hati Cia menjadi bahagia dan penuh tawa. Tidak ingin mengganggu kebahagiaan Cia, Pram pun mencoba melihat ke arah jam tangan mewah seharga ratusan juta tersebut, seolah-olah lelaki tua itu sedang diburu waktu. Padahal apa yang dilakukan Pram hanya ingin membuat Cia dan Farel semakin dekat.


“Sayang, maaf, ya, kakek harus meninggalkanmu di sini. Kakek baru ingat jika ada perusahaan star-up yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita," jelas Pramono berbohong.


“Tapi Kakek, kan, belum selesai makan.” Cia mencoba menahan Pramono yang belum menyelesaikan makannya.


“Kakek sudah kenyang, Sayang," kilah Pram.


“Kakek, sudahlah. Jangan merepotkan Farel! Cia bisa pulang naik taksi sendiri, kok.” Cia menolak permintaan sang kakek secara halus karena ia tidak ingin merepotkan Farel. Namun, yang terjadi Farel dengan jelas malah mengiyakan permintaan dari lelaki tua tersebut.


“Baiklah, Tuan Pram, saya akan mengantarkan cucu kesayangan Tuan dengan selamat. Tanpa satu goresan pun yang akan melukai nona Cia yang cantik ini," kekeh Farel, kemudian mengedipkan satu matanya untuk menggoda Cia. Semua hal yang dilalukan Farel pun membuat Cia dan Pram tertawa senang.


Sepeninggalnya Pram dari Restoran Italia tersebut, Cia terus saja tertawa bahagia bersama Farel, hingga sesekali Farel dengan sengaja membersihkan sisa saus pasta yang menempel di ujung bibir Cia. Namun, tanpa Cia dan Farel sadari, kedekatan mereka dari awal masuk Restoran Italia tersebut sudah terekam jelas oleh kamera ponsel gadis cantik bermata indah bernama Farah Karina Zubi. Gadis cantik berusia 22 tahun yang tak lain dan tak bukan adalah adik kesayangan Delfin.


Farah melihat kedekatan Cia dan Farel yang sangat dekat bahkan bisa dibilang sangat mesra. Membuat Farah dengan berani mendatangi Cia di mejanya.


“Hay, Kak Cia. Apa kabar? Apa makanannya begitu enak?” tanya Farah dengan senyum sinisnya. Namun, Cia masih terlihat tenang, karena ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan apa pun pada Farah.


“Hay, Farah. Kamu makan di sini juga? Yuk, makan bareng kakak!" jawab Cia sekalian mengajak adik iparnya tersebut makan bersama. Namun, tanpa Cia sadari Farah sudah menunjukan wajah kesalnya pada Farel.


“Udah, gak usah basa-basi. Kak Cia selingkuh, ya, dari Kak Delfin?” Kata-kata dari Farah sontak membuat Cia teringat akan perbuatan Delfin padanya dan membuat emosinya sedikit meningkat.


"Jangan omong kosong, kamu! Dia Farel, teman kak Cia. Maaf, kakak sudah selesai makan. Sekarang kakak mau pergi, dan Ini uang saku buat kamu. Sampai jumpa, Farah.” Setelah memberikan Farah uang saku dengan nominal yang cukup besar Cia meninggalkan Farah dengan menggandeng tangan Farel. Pun Farah hanya tertegun seorang diri. Melihat kepergian Cia.

__ADS_1


“Hem, Kak Cia mau coba-coba nyogok aku, ya, biar aku nggak buka mulut. Tapi maaf, ya, Kak Cia. Aku nggak bisa. Aku akan tetap mendukung Kak Delfin," gumam Farah kemudian mengambil handphone-nya dan mengirimkan pesan pada Delfin.


Farah: Kak Delfin lagi di mana?


^^^Delfin: Kakak lagi di jalan. Ini baru mau pulang. Ada apa, De?^^^


Farah: Hemmm, Farah cuman mau ngasih tau kakak sesuatu, tapi kakak janji kakak harus kuat.


^^^Delfin: Kamu apa-apaan sih, Dek? Buruan jangan bikin kakak penasaran.^^^


Farah: 📷


📷


📷


Maafin Farah, Kak. Farah cuman gak mau Kak Delfin tersakiti.


Delfin yang baru meninggalkan taman bersama Ziya dan Agus pun seketika membeku sejenak, ketika melihat foto-foto yang dikirimkan Farah kepadanya.


“Cia, kamu sudah berbohong padaku. Kamu bilang kamu akan berhenti berhubungan dengan lelaki itu," batin Delfin kesal dengan amarah yang membuncah sambil menggenggam erat ponsel miliknya.


...***...



👀: Thor, itu kenapa fotonya gambar kamera doang?


🙋🏻: Coba klik aja, kali aja kebuka gambarnya


👀: Othor minta diruqiyah, ya 🙄


🙋🏻: Minta duit aja sama like dan komentarnya 🤣

__ADS_1


__ADS_2