Penggoda Yang Tergoda

Penggoda Yang Tergoda
Secepatnya Bercerai


__ADS_3


...***...


Sementara Kakek Pram merasa senang, Cia justru masih diliputi rasa gelisah, pasalnya ia harus kembali mengingat-ingat kapan terakhir kali berhubungan dengan Delfin. Ia sungguh ingin meyakinkan dirinya jika yang ada dalam kandungannya adalah anak Delfin.


Seringnya bertengkar dengan Delfin dan juga jarang tinggal satu atap, membuatnya lupa kapan terakhir ia datang bulan. Apakah sebelum dengan Farel? Atau sesudah dengan Farel?


Melihat wajah bengong Cia, pram pun memanggilnya. "Ci?" panggil Pram.


"Iya, Kek?" jawab Cia cepat.


Pram membawa kedua tangan Cia kepangkuannya untuk digenggam. Pram usap perlahan punggung tangan Cia yang sedikit gemetar. Ia tahu kegelisahan yang dialami oleh cucunya, ia juga tahu pasti saat ini Cia sedang ketakutan karena sebuah kejujuran yang ia katakan. Namun, ia tidak mau jika kondisi Cia mempengaruhi calon cicitnya.


"Kamu kenapa?" tanya Pram.


"Tidak apa-apa, Kek. Cia hanya kelelahan," jawabnya ragu, lalu memandang manik teduh milik Pram. "Ya, Cia pasti sedang kelelahan, Kek."


Pram melepas genggaman tangannya perlahan, kemudian menangkup wajah Cia. "Sejak orang tuamu meninggal, Kakek yang mengurusmu. Kakek mengenalmu lebih dari siapa pun mengenalmu, jadi kakek bisa menebak bagaimana perasaanmu, Cia. Kamu tidak bisa membohongi Kakek. Ceritalah!"


Air mata Cia pun kembali menetes, kali ini lebih deras. Ia pun langsung memeluk tubuh Pram tanpa menjawab pertanyaannya. Sebenarnya, Pram sungguh senang ketika Cia mengatakan padanya bahwa ia pernah tidur dengan Farel hingga sekarang ia mendengar bahwa Cia dalam keadaan hamil.


Pram bertambah senang saat Cia berpikir bahwa itu adalah anak Farel, karena memang itulah yang dia inginkan sebagai bahan pendukung untuk memisahkannya dengan Delfin.


Namun, melihat tubuh cucunya bergetar di dalam peluknya, dengan suara yang sesenggukan membuat hati Pram ikut sakit. Dadanya ikut sesak saat Cia terus memanggil nama Delfin dalam tangisnya. Pram sungguh tidak tega melihat cucunya dalam keadaan sekalut ini.

__ADS_1


Hilang sudah Cia yang periang, Cia yang sering tertawa bersamanya. Cia yang selalu memanggil namanya saat ia butuh sesuatu. Cia yang selalu mendapat apa yang ia mau tanpa harus menangis dahulu. Berganti dengan wanita yang selalu menangis dan mengeluh tentang pernikahannya.


Sepertinya langkahnya untuk membuatnya bercerai dengan Delfin adalah keputusan yang benar. Lagipula, Delfin pun akhirnya benar-benar tergoda dengan wanita pancingan yang ia bayar. Ia memang tidak pernah salah menduga soal kelakuan lelaki itu.


Pram menarik napas, lalu membuangnya. "Menangislah, Nak. Kakek akan selalu berada di sisimu. Akan kakek singkirkan orang-orang yang membuatmu sedih. Akan kakek buat mereka menderita karena sudah membuatmu kecewa. Terutama suamimu, lelaki yang dengan tidak tau dirinya mendekati wanita lain saat ia masih bersamamu."


Kini, giliran Cia mengurai pelukannya. Ia usap air mata yang tersisa di pipinya, walaupun hampir seluruhnya sudah merembes di permukaan baju kakeknya. "Kakek nggak marah ke Cia? Cia sudah berbuat sesuatu yang sangat memalukan, Kek. Bahkan, merusak harga diri keluarga kita."


Pram tersenyum. "Kakek tidak memarahimu bukan berarti kakek menerima kejujuran yang kamu utarakan. Kakek tentu sangat marah mendengar kamu berhubungan badan dengan Farel padahal kamu masih berstatus istri Delfin. Walaupun kakek mendukung hubunganmu dengan Farel, bukan berarti kakek membenarkan kelakuan kamu bersama Farel, Cia." Pram menjeda ucapannya. "Tapi, waktu tidak bisa diulang. Semua sudah terjadi. Kamu boleh menyesal, tapi seperlunya. Selebihnya kamu harus mengambil hikmah dari seluruh kejadian tersebut dan jangan berlarut menyelami masalah."


"Tapi Cia masih mencintai Delfin, Kek. Cia tidak mau kehilangan Delfin." Suara serak milik Cia masih terdengar bersama ungkapan cintanya di depan Pram.


"Pikirkan kembali ucapan cinta kamu untuk Delfin. Apa benar itu cinta atau hanya pembuktian untuk manajer Delfin? Tapi kakek tetap menyarankan agar kamu bercerai dengan lelaki yang sudah membuatmu kecewa."


Cia terdiam memikirkan ucapan Pram. "Apa tidak menunggu anak ini lahir, Kek? Apa boleh perceraian dilakukan saat aku sedang hamil?"


Setelah mendengar penuturan Pram, Cia tidak berani menatap mata tajam Pram. Ia terlalu takut untuk membantah apalagi mengubah keputusan yang kakeknya ambil.


Selama ini, hanya kakeknyalah yang tersisa selain Delfin setelah meninggalnya kedua orang tuanya. Namun, kini Delfin juga sudah tidak lagi menganggapnya penting.


Cia akan mengulur sedikit waktunya. Ia ingin melihat di mana posisinya di hati Delfin.


...*** ...


"Bagaimana situasi saat ini? Apakah kamu sudah berhasil menjalankan tugas?" Pram terlihat berbicara melalui ponselnya. Perceraian Delfin dan Cia harus segera diproses agar tidak menghambat rencananya.

__ADS_1


"Semua berjalan seperti biasa. Tapi ...."


"Saya tidak mau mendengar jawaban kamu gagal."


"Bukan itu, Tuan. Saya ingin melaporkan sesuatu sama tuan. Izinkan saya menjelaskan sesuatu yang mungkin tidak Tuan ketahui hingga membuat Tuan salah paham selama ini."


"Lanjutkan!" perintah Pram.


"Sebenarnya apa yang Tuan pikirkan tentangnya salah. Dia bukan laki-laki playboy seperti yang Tuan pikirkan. Selama saya di sampingnya, dia tidak pernah bermain dengan wanita mana pun. Apalagi menyentuhnya."


"Hanya satu pertanyaan saya. Kamu sanggup atau tidak? Kalau tidak, tugas ini akan saya lempar ke orang lain, dan kamu harus siap-siap mencari penampungan untuk semua penghuni panti." Pram sepertinya sudah tidak peduli dengan kebaikan Delfin yang ia dengar. Ia hanya percaya bahwa lelaki itu tidak pantas untuk cucunya.


"Taβ€”"


"Saya rasa, kamu sudah cukup pandai untuk berakting mesra di depan Cia. Saya akan beri kamu bonus untuk itu. Dan sekarang saya kasih kamu kesempatan satu kali lagi."


"Iya, Tuan?"


"Saat ini Cia mungkin sedang menunggu kedatangan Delfin untuk menjemputnya. Tugas kamu sekarang adalah buat lelaki itu sesibuk mungkin, hingga lupa dengan kesedihan Cia. Saya ingin Cia berpikir bahwa suaminya itu sudah benar-benar tidak menginginkannya lagi. Saya tidak peduli jika kamu berkata bahwa dia adalah laki-laki yang setia atau apa pun itu. Yang terpenting bagi saya adalah mereka bercerai." Tanpa mendengar jawaban, Pram langsung menekan tombol warna merah.


Pram meremas ponselnya erat. Sebaik apa pun Delfin di mata orang lain, baginya tidak akan pantas bersanding dengan Cia. Hanya Farel yang pantas untuk Cia. Seorang laki-laki yang akan menjadi calon suami Cia setelah bercerai dengan Delfin.


"Maafkan kakek, Cia. Maaf atas keputusan kakek saat ini. Kakek hanya ingin yang terbaik untuk kamu.m, cucu kesayangan kakek," ucap Pram dalam hati.


...***...

__ADS_1



...Si kakek minta digetok, kayaknya. Udah tua, Kek. Mending banyakin ibadah. Ya, kan, Readers? πŸ˜‚...


__ADS_2